Berita
Belajar Toleransi Beragama lewat Kegiatan Peace Train Indonesia

Dalam kegiatan Peace Train Indonesia yang diadakan oleh ICRP (Indonesian Conference On Religion and Peace) di Kota kelahiran Gus Dur saya mendapatkan banyak hal yang baru baik berupa pemahaman, pengalaman, pembelajaran, dan lainnya, semua itu adalah awal mula bagi yang memilih profil program studi sebagai fasilitator perdamaian. Saya juga berjumpa dengan teman-teman berbagai agama dari Sabang sampai Merauke, yang mana perbedaan tersebut tidak menghalangi pertemanan kita untuk pertama kalinya bertemu. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari dua malam berawal dari tanggal 29-31 Juli 2022, yang di ikuti kurang lebih 50 peserta, yang mana dari Prodi Studi Agama-Agama UIN Sunan Ampel Surabaya sendiri mengirim sebanyak 25 mahasiswanya.

Hari pertama Jumat 29 Juli 2022, pembukaan di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jombang oleh Pdt. Dyah selaku pengurus dan tuan rumah dari GKI. Sebelum dibuka saya memimpin doa bersama. Pembukaan tersebut diawali perbincangan tentang keistimewaan kota Jombang sebagai kota perdamaian dan juga disebut sebagai kota kelahiran Bapak Pluralisme yang bernama KH. Abdurrahman Wachid atau biasa di sapa Gus Dur.

Lokasi berikutnya adalah GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) yang berada di Mojowarno. GKJW ini adalah gereja yang paling tua di Jombang, berdiri pada tahun 1879 dan sekarang gereja tersebut sudah masuk ke dalam data Cagar Budaya. Uniknya dalam gereja ini jika jemaat melakukan ibadah mereka menggunakan bahasa Jawa, dan pencetus pertama yang menerjemahkan syahadatnya serta doa-doa yang ditujukan kepada Bapa adalah Collen. Jemaat gereja ini berbeda dengan yang lainnya, yang mana mereka mengikuti cara pandang Collen dengan mengatakan bahwa “walaupun dia seorang Kristen agama dari luar, namun dia tidak meninggalkan budaya Jawa tempat yang dia tinggali.

Pada hari kedua, 30 Juli 2022, kami berkunjung  ke Gereja Katolik Santa Maria Jombang, untuk beribincang-bincang sedikit dengan pengurus gereja dan Romo. Beliau menjelaskan kurang lebihnya mengenai sejarah berdirinya Gereja Katolik ini dan juga keadaan awal pada saat terbangunnya Gereja ini. Beliau juga menjelaskan perbedaan antara Gereja Katolik ini dengan Gereja lainnya serta menjelaskan tentang bagaimana jemaat Gereja Katolik ini beribadah.

Perjalanan selanjutnya adalah ke Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, pondok ini didirikan pada 1899 oleh Hadratussyaikh K.H Hasyim Asy`ari. Beliau juga dikenal sebagai ulama besar dan juga mempunyai gelar pahlawan nasional yang merupakan pendiri Rais Akbar (pimpinan tertinggi pertama) Nahdlotul Ulama`. Para Ustadz pondok pesantren menjelaskan bahwa santri di sana tidak hanya dari Jawa saja namun juga dari berbagai wilayah Nusantara. Santri di sana diajarkan tentang ukhuwah-ukhuwah yang ada di dalam Islam seperti ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniah, dan ukhuwah basyariah, sebelum belajar tetang kitab-kitab kuning. Para ustadz juga mengajarkan bagaimana sikap toleransi yang beliau-beliau terapkan pada masyarakat yang bisa dilihat oleh santri-santri dan nantinya bisa diterapkan di lingkungan masyaraktnya masing-masing.

Sore harinya kita menuju ketempat selanjutnya yaitu ke Mahavihara Buddha Tidur Trowulan, Mojokerto. Para Biksu menjelaskan tentang filosofi patung Buddha Tidur yang mana itu adalah posisi terakhir saat wafatnya Siddharta Gautama atau Sang Buddha. Ia adalah seorang pangeran dari kerajaan yang berada di India, seorang anak dari Siddhodana yang berasal dari suku Sakya kasta Khasatria. Ia sudah diprediksi bahwa akan menjadi Buddha dengan sifat welas asih, meninggalkan sifat yang duniawi dan masih banyak lagi sifat dalam diri sang Buddha.

Selanjutnya kami beranjak ke Candi Brahu, candi tersebut adalah peninggalan dari kerajaan Majapahit yang biasanya dipakai utuk persembayangan atau bangunan suci yang digunakan berdoa untuk umat Buddha. Orang yang pertama kali merenovasi candi tersebut adalah orang Belanda. Candi Brahu dari peninggalan sampai sekarang dijaga dan dirawat sebagai peninggalan zaman Majapahit dan juga sebagai cagar budaya yang harus dilestarikan. Candi Brahu ini mengalami beberapa kali renovasi sebab bebatuannya mengalami pelapukan yang mana dulunya seseorang yang berkunjung dapat menaiki candi tersebut namun, sekarang ada larangan untuk tidak boleh menaiki takutnya bebatuan itu akan runtuh.

Pada malam hari kami menuju Kelenteng Tri Darma Hong San Kiong Gudo. Menurut penjelasan dari pengurus ketua Kelenteng Buddha, kelenteng tersebut adalah yang tertua di Jombang. Uniknya lagi beliau bercerita bahwa kelenteng ini dikunjungi oleh beberapa orang dari agama lain salah satunya adalah Islam yang mana orang-orang tersebut biasanya meminta bantuan pengobatan atau juga pertolongan. Dan mereka sangat terbuka sekali oleh siapapun yang ingin mengunjungi Kelenteng tersebut.

Di hari terakhir pada 31 Juli 2022, sebelum melanjutkan perjalanan, teman-teman yang beragama Kristen melaksanakan ibadah terlebih dahulu di mana teman-teman Islam diperbolehkan untuk melihat ibadahnya. Selesai itu, kami melanjutkan ke perjalanan selanjutnya yaitu ke makam Gus Dur untuk berziarah. Ada beberapa dari perwakilan agama untuk masuk ke dalam makam tersebut. Terlihat bahwa walaupun berbeda-beda namun dengan acara Peace Train Indonesia ini kami menjadi satu dalam keluarga, yang mana itulah salah satu perjuangan yang ditanamkan dan disebarkan oleh Gus Dur pada konsep toleransi dan pluralisme.

Perjalanan tarkhir sebelum kami berpisah dan pulang ke rumah masing-masing adalah ke penghayat kepercayaan Kapribaden. Untuk pertama kalinya saya mendengar lagi bahwa ada penghayat kepercayaan Kapriden, penghayatan kepercayaan tersebut didirikan atau dikenalkan oleh Semono Sastrodiharjo pada tahun 1900-1981 beliau berdomisili di daerah Gunung Damar dan juga Sejiwa. Dalam kepercayaan ini mereka (selaku penganutnya) akan mencari sendiri dimana eksistensi Tuhan yang sesungguhnya tanpa mendiskripsikannya terlebih dahulu agar mereka melihat wujud-Nya dengan hati bukan dengan pikiran yang sudah terbayangkan wujud-Nya. Mereka menyebut Tuhannya sebagai Gusti Ingkang Moho Suci (yang meliputi sifat Maha-nya, Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Maha segalanya yang mengatur seluruh semesta ini), Dzat Hidup.

Mengikuti acara Peace Train Indonesia ini bagi saya sangat luar biasa sekali berkesannya. Dari mulai berkenalan dengan pemuda berbagai lintas agama, ras ataupun suku, bisa berdialog langsung dengan mereka yang berebeda agama  secara terbuka dan antusias sekali, bisa menemukan hal baru dari setiap acara ataupun penjelasan dari berbagai tokoh agama dari Romo, Pendeta, Gus, Biksu, Xue Shi (atau pemimpin agama Konghuchu).

Di cara ini saya merasa bahwa memiliki keluarga baru yang meskipun berbeda-beda tetapi dapat menerima apa adanya. Saya juga bisa berbagi pemahaman agama dari perspekif teman-teman sendiri, saya juga bisa menerapkan sikap toleransi langsung dengan teman-teman yang mana sudah saya dapatkan dibangku perkuliahan. Dengan adanya kegiatan ini pemikiran atau tindakan diskriminasi bisa pudar dengan sendirinya. Sebab dalam satu kegiatan tersebut bisa melaksanakan langsung sikap toleransi dengan yang berbeda agama dengan kita baik minoritas ataupun mayoritas. Di sini saya melihat akan adanya ketentraman, damai, dan saling menghargai satu sama lain. (Rifatus Sholikhah, Mahasiswa Semester 5 Studi Agama-Agama)