Prodi Studi Agama-agama
June 5, 2024

Memperluas Wawasan Agama dan Budaya di Klenteng Sukhaloka

Memperluas Wawasan Agama dan Budaya di Klenteng Sukhaloka

Pada Selasa (28/5) mahasiswa Prodi Studi Agama Agama (SAA) kelas B2, semester 4 melakukan kunjungan ke klenteng Sukhaloka yang beralamat di Jl. Coklat No. 2, Bongkaran, Kec. Pabean Cantikan, Surabaya. Kunjungan tersebut berguna untuk memperluas wawasan agama dan budaya terkait agama Konghucu, selain itu juga untuk menyelesaikan Ujian Akhir Semester. Kunjungan ke klenteng ini juga didampingi oleh Feryani Umi Rosidah, S.Ag., M.FiI.I., selaku dosen mata kuliah studi agama Konghucu dan dikoordinasikan oleh Roudlotun Nadiyyah selaku penanggung jawab mata kuliah.

Klenteng tersebut berawal dari Makcho, sebuah patung yang dibawa oleh saudagar dari Tiongkok ke Surabaya pada 1 Mei 1830. Makcho dipercayai sebagai pelindung lautan, sebab dalam proses perjalanan membawanya melewati lautan yang panjang. Pada tahun 2013 klenteng Sukhaloka diresmikan sebagai Cagar Budaya. Dengan desain arsiteknya yang autentik dilapisi warna merah dan tiap sisinya terdapat cahaya lilin, bangunannya belum pernah direnovasi dari awal berdiri hingga sekarang.

Pemilik dari klenteng ini adalah Than Siang Sing Boo. Kedatangan kami disambut baik oleh pengurus klenteng Sukhaloka yakni Tan Tjing Hwa Nio dan Eva Deka Octavianty. Klenteng Sukhaloka ini terdapat tiga aliran atau disebut Tri Dharma yakni Tao, Buddhis, dan Konghucu. Klenteng Sukhaloka sangat bersejarah bagi umat Konghucu, sebab klenteng tertua di Surabaya, bahkan telah berdiri sebelum Indonesia merdeka. 

Penjelasan Mengenai Ornamen di Klenteng Sukhaloka. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Seperti pada umumnya rumah ibadah, klenteng Sukhaloka dijadikan tempat ibadah sekaligus tempat pemohon bantuan atas kebimbangan, seperti jika umat Konghucu mengalami kebimbangan dalam hidupnya, klenteng Sukhaloka menyediakan jawaban dengan mengocok beberapa lidi yang bernomor lalu dikeluarkan satu, nomor yang keluar dipercaya sebagai jawaban atas kegelisahannya yang berupa motivasi.

Kunjungan ke klenteng ini merupakan kesempatan berharga bagi mahasiswa SAA untuk bertanya dan memahami secara langsung terkait praktik, keagamaan, tradisi, dan nilai-nilai keagamaan yang dianut oleh umat Konghucu. Dalam kesempatan ini, mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan pengurus klenteng, serta mendengarkan penjelasan yang dilontarkan oleh pengurus terkait sejarah awal klenteng Sukhaloka. 

Kami juga diajakan keliling klenteng untuk melihat tempat ibadah umat Konghucu. Disela-sela penjelasan, kami juga melontarkan banyak pertanyaan terkait patung-patung atau ornamen yang ada di klenteng tersebut. Pengurus klenteng juga menjelaskan terkait bagaimana melakukan upacara sembahyang dalam agama Konghucu. Terdapat 23 patung sebagai simbol perwujudan leluhur yang dipercaya sebagai pelindung dan media komunikasi untuk sembahyang. Ternyata setiap klenteng memiliki patung yang berbeda-beda bentuk, namun hanya saja memiliki arti yang sama.

Selain untuk memperluas pengetahuan agama dan budaya, kunjungan ke klenteng juga dianggap sebagai sarana untuk memperkuat toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Melalui pengalaman ini, mahasiswa SAA dapat belajar untuk menghargai perbedaan dan membangun hubungan yang harmonis dengan umat beragama lain.

Kunjungan ke klenteng ini juga mendapat dukungan dari pihak Prodi akan pentingnya dialog antar agama dan kerukunan umat beragama. Kegaiatan kunjungan ini diharapkan untuk memperkuat toleransi dan saling pengertian ditengah masyarakat yang multikultural. Kami pribadi mengakui bahwa banyak pengetahuan yang kami dapatkan dari pemaparan Tan Tjing Hwa Nio dan Eva Deka Octavianty, beliau menjelaskan dengan sangat detail dan dari bahasanya pun mudah untuk dimengerti. 

Selesai penjelesan dan keliling ke tempat ibadah klenteng Sukhaloka yang menghabiskan waktu sekitar dua jam, dilanjut dengan penyerahan sertifikat yang dibuat oleh dekan kepada pengurus yang dilakukan oleh Feryani Umi Rosidah, S.Ag., M.FiI.I., selaku dosen studi agama Konghucu. Dan terakhir ditutup dengan sesi foto bersama. (Siti Uswatun Khasanah dan Nur Lailatus Solikhah – Mahasiswi Prodi Studi Agama-Agama)

Spread the love

Tag Post :

Media Center FUF

Categories

Berita, News