Column UINSA

Segitiga Cinta Pengabdian Para Pegawai di UIN Sunan Ampel Surabaya

Dr. Nyong Eka Teguh Iman Santosa, M. Fil.I.

Kaprodi Sejarah Peradaban Islam FAHUM UIN Sunan Ampel Surabaya

Di Fakultas Adab dan Humaniora (FAHUM) telah tertradisikan suatu kegiatan diskusi dosen lintas prodi yang dikenal dengan Seminar Reboan. Menurut sejarahnya, kegiatan ini awalnya merupakan sebuah ikhtiar untuk membumikan paradigma keilmuan Twin Towers yang dikembangkan UIN Sunan Ampel Surabaya. Dikatakan, bahwa konsep Twin Towers akan selamanya menjadi konsep yang ‘berumah di atas awan’, atau dengan kata lain, sukar dipraktikkan jika tidak ada instrumentasi yang bisa menjembatani para dosen lintas prodi atau bahkan lintas fakultas untuk secara rutin saling bertemu dan saling menyapa dalam diskusi ilmiah. Nah, dengan kegiatan semacam ini, maka interkoneksitas bahkan integrasi keilmuan menjadi mungkin untuk diwujudkan.

Dalam salah satu sesi Seminar Reboan, sempat seorang dosen menjelaskan bahwa salah satu daya terkuat yang memungkinkan manusia memiliki kekuatan untuk bekerja secara ikhlas, berjuang sepenuh hati, rela berkorban, tangguh menghadapi tantangan, selalu optimis, dan sabar menanggung resiko tanggung jawab, adalah daya Cinta. Pemaparan yang seolah membenarkan ungkapan Khalil Gibran dalam salah satu prosa puitiknya, bahwa di hadapan kematian, kehidupan menjadi tampak lemah; tetapi di hadapan cinta, kematian seolah bukan sesuatu yang perlu ditakutkan keberadaannya.

Ketika ditanya apa itu cinta? Teori Robert J. Sternberg, seorang psikolog dari Cornell University, Amerika Serikat, yang dikenal dengan istilah Teori Segitiga Cinta (the Triangular Theory of Love) dikemukakan di sini. Menurutnya, cinta itu terdiri dari 3 unsur, yaitu (1) Intimacy, rasa kedekatan, keterhubungan, atau keterikatan; (2) Passion, rasa yang bisa memantik semangat dan kegairahan; dan (3) commitment, rasa yang menyatukan untuk bersama-sama merealisasikan suatu tujuan. Tanpa intimacy, aktivitas manusia akan terasa seperti tumpukan beban-beban dalam hidup. Tanpa passion, manusia takkan mendapati keindahan dan kegairahan dalam menjalani aktivitasnya. Dan tanpa commitment, aktivitas manusia takkan dapat mewujudkan suatu cita yang bisa dibanggakan. Meski kemudian ketika ditanya, bagaimana cinta itu lahir? Pepatah Jawa tampak bisa menjadi alternatif jawabannya: witing tresno jalaran saka kulina. Cinta itu dapat tumbuh karena dipantik oleh faktor perjumpaan yang intens. Seminar Reboan menjadi salah satu contoh kongkritnya.

Kisah tersebut di atas lantas dikutip oleh seorang dosen yang tengah mengajarkan di kelasnya tentang salah satu pada (bait syair) dari pupuh (tembang) Pocung dalam manuskrip Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV. Di mana disebutkan:

lila lamun kelangan nora gegetun

trima yen ketaman

sak-serik sameng dumadi

tri legawa nalangsa srah ing Bhatara

Bahwa di antara karakter satria dalam kultur masyarakat Jawa adalah seseorang yang sudah memiliki sifat ikhlas, sabar, dan legawa dalam menghadapi berbagai tantangan dan persoalan dalam hidupnya. Tapi, bagaimana seseorang bisa memiliki kapasitas utama demikian itu? Hal tersebut karena yang bersangkutan telah sampai pada tahapan kepribadian yang dalam istilah filsafat berbunyi, amor fati, cintailah takdirmu! Seseorang yang sudah menerima garis hidupnya dalam bentuk suatu profesi atau tugas. Maka ia akan mencintai profesi dan menjalankan tugasnya itu dengan sepenuh hati dan dedikasi. Ia akan berupaya memberikan versi terbaik dirinya di manapun ia berada. Ibarat seorang ksatria yang berjuang dalam satu barisan. Maka ia akan ‘bertarung’ sungguh-sungguh, berusaha berkontribusi yang terbaik untuk kejayaan dan kemenangan pasukannya. Tak lagi menjadi persoalan baginya, apakah ia ditempatkan di depan, tengah, atau bagian belakang pasukan.

Pelajaran tersebut seharusnya bisa menjadi inspirasi bagi para pegawai di lingkungan UIN Sunan Ampel Surabaya, baik sebagai dosen maupun tenaga kependidikan. Bahwa ketika Allah telah mentakdirkan mereka menjadi pegawai di kampus ini, maka kecintaan pada profesinya tidak lagi hanya sekedar ekspresi aktualisasi diri melalui pelayanan terbaik bagi kemanusiaan, tetapi sekaligus merupakan ekspresi penghambaan diri (ketaatan dan peribadatan) kepada Tuhannya. Dan dengan kecintaan pada profesinya ini, insya Allah, keikhlasan, kesabaran, dan sifat legawa akan menyertai dan menemaninya dalam menunaikan segala tanggung jawab yang diembankan. Bersamanya ada kegembiraan. Dengannya ada keindahan.

 

Surabaya, 22 Januari 2024