Berita
HYPNOSIS DAPAT MENGATASI MENTAL BLOCK YANG MENGHAMBAT KESUKSESAN DAN KEBAHAGIAAN SESEORANG

Surabaya (sabtu,5 November 2022), saya Dr. Arif Ainur Rofiq,S.Sos.I,S.Pd.,MPd.,Kons.,CH. Dosen Program Studi Bimbingan dan konseling Islam UIN Sunan Ampel Surabaya dan juga ketua Ikatan Konselor Indonesia (IKI) PD Jawa Timur, mengikuti Pelatihan Fundamental Hypnosis oleh  trainer yang sangat Expert yaitu Ir. Avifi Arka, MM.,CHT.,CI. Sekaligus Ketua umum DPP PKHI (Perhimpunan Komunitas Hipnosis Indonesia) dan Direktur LKP Indonesian Hypnosis  Centre, di hotel Holiday Inn Express Kedung Doro. Bersama 14 Peserta yang berlatar  profesinya heterogen, antara lain ada seorang dokter, bidan, dosen, pegawai bank, terapis, dan pedagang, ini kebanyakan motivasi nya ingin bisa memberikan terapi untuk dirinya, keluarga dan orang lain di sekitarnya. Bagi saya pribadi, Belajar Hypnosis ternyata tidak hanya bisa mensugesti orang lain, tapi lebih utama pada diri sendiri. Kita bisa lebih percaya diri dalam menghadapi permasalahan hidup, karena kita menjadi orang yang optimistis, rasionalis,  memiliki integritas, dinamis, dan komunikatif. Sehingga, kita bisa terbebas dari mental block. mental block adalah hambatan mental yang menghalangi seseorang untuk mencapai tujuan atau perkembangan yang lebih maju untuk sekarang dan masa depan. 
Mental block terjadi,  karena trauma di masa lalu, atau karena adanya pendidikan (pembinaan), atau nasihat (taujih) yang keliru yang terus diulang secara terus menerus sehingga menjadi semacam program bawah sadar sistem hidup yang terbawa hingga terbentuk pada diri seseorang, lalu menjadi semacam blokade terhadap kemampuan dirinya.

Dalam Islam, mental block seperti ini, dalam pandangan Imam Syafi’i dalam untaian syi’ir nya  sangat cocok untuk menghancurkan mental block seperti ini.

Pada baris pertama dari syi’ir Imam Syafi’i, beliau menjelaskan bahwa bertahan terus menerus pada zona aman itu tidak cocok bagi mereka yang berakal dan beradab. Beliau berkata:

مَا فِي الْمَقَامِ لِذِيْ عَقْلٍ وَذِيْ أَدَبِ مِنْ رَاحَةٍ فَدَعِ الْأَوْطَانَ وَاغْتَرِبِ

“Tidak ada tempat bagi setiap orang yang mempunyai akal dan adab untuk berleha-leha (bersantai), menikmati zona amannya. Oleh karena itu, hendaklah ia meninggalkan kampung halamannya dan hidup mengembara!”

Selanjutnya beliau berkata:

سَافِرْ تَجِدْ عِوَضًا عَمَّنْ تُفَارِقُهُ ÷ وَانْصَبْ فَإِنَّ لَذِيْذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ

“Maka pergilah! Niscaya engkau akan mendapatkan pengganti orang yang engkau berpisah dengannya.”

Memang, pergi mengembara, meninggalkan kampung halaman dan berpisah dengan orang-orang yang dicintai, adalah sesuatu yang berat dan melelahkan, baik secara raga, maupun secara psikologis. Namun hikmahnya akan mendapatkan kebebasan psikologis, suasana hati yang gembira karena akan banyak ditemukan relasi baru dan pengalaman baru, serta hidup dinamis tidak statis. Karena membatasi diri dari kegiatan dinamis akan menjadi kan kita terpenjarah dalam pikiran yang sempit ,irasionalis, dan menghambat kesuksesan seseorang.