Berita

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,  Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) orang yang sesat” (QS. Al Fatihah [1]: 1-7)

Surat Al Fatihah artinya surat pembuka kitab suci Al Qur’an. Nama lain surat ini adalah Ummul Kitab atau Ummul Qur’an, artinya surat ini adalah induk Al Qur’an, yaitu memuat pokok-pokok isi Al Qur’an. Dalam Surat Al Hijr [15]: 87, surat ini juga disebut As Sab‘ul Matsani, artinya tujuh ayat yang diulang-ulang setiap hari dalam shalat. Shalat adalah ibadah paling penting, dan surat Al Fatihah adalah doa paling pokok di dalamnya. Nabi SAW bersabda,  

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidaklah (sah) shalat bagi orang yang tidak membaca Al Fatihah  (HR. Al  Jama’ah, dari Ubadah bin as-Shamit, r.a)

Surat Al Fatihah adalah surat yang pertama kali turun secara lengkap dengan semua ayatnya. Sedangkan iqra’ bismi rabbik …. dst (QS. Al Alaq [96]: 1-5) adalah ayat yang pertama kali turun, tapi tidak lengkap satu surat.    

Sekarang perhatikan, mengapa Al Fatihah diawali dengan basmalah (bismillahirrahmainrahim)? Mengapa sifat Allah Yang Maha pengasih dan Maha Penyayang itu yang disebutkan pertama kali oleh Allah? Mengapa Allah tidak menyebutkan sifat-Nya yang lain, misalnya Yang Maha Menyiksa, Maha Perkasa, Maha Memaksa ? Sebab, dengan perkenalan Allah pertama kali sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, diharapkan tidak ada manusia yang bersedih dan pesimis, karena yang paling terkesan dalam otaknya adalah sifat Allah Yang Maha Pengasih, Tuhan yang selalu hadir menyertainya, serta menolong apa pun yang dimintanya. Bandingkan, jika otak seseorang terpenuhi dengan kesan sifat Allah Yang Maha Menyiksa dan Maha Memaksa? Al Fatihah mengajak manusia untuk selalu berpikir positif dalam segala hal.   

Menurut psikolog, pebisnis, dan motivator, kesan pertama amat menentukan penilaian orang terhadap seseorang. Kelly Millar (2020) mengatakan, First impressions are crucial. They can make or break an opportunity. It’s human nature to make a judgement about someone when you first meet them, but did you know that people can formulate an opinion about you in less than 20 seconds!? (Kesan pertama amatlah penting. Ia bisa menciptakan atau menghancurkan kesempatan (emas). Sudah menjadi kodrat manusia untuk menilai seseorang ketika pertama kali berjumpa. Tapi, tahukah Anda bahwa orang membuat keputusan tentang diri Anda dalam waktu kurang dari 20 detik?).

Bergembiralah dan optimislah dengan kasih Allah, meskipun Anda dalam cobaan hidup yang bertubi-tubi, atau sedang memikul dosa yang telah menggunung. Sambungkan jiwa Anda dengan otak yang telah terpenuhi sifat Allah Yang Maha Pengasih, yang kasih-Nya jauh melampaui kasih ibu kandung sendiri.     

Jika Anda bersedih, jangan ceritakan kesedihan itu kepada orang lain. Sebab, ia makhluk yang tidak bisa berbuat banyak untuk menolong Anda. Bahkan, manusia seringkali bosan mendengarkan curahan hati Anda. Lebih baik, berwudulah dan shalatlah, lalu bacalah Al Fatihah secara perlahan-lahan dengan renungan mendalam, sebab semua bacaan Anda dalam Al Fatihah itu dijawab langsung oleh Allah. Betapa, saat itu, Anda menjadi orang paling terhormat, sebab bisa berdialog langsung dengan Tuhan Yang Maha Besar, melebihi kebanggaan Anda ketika mendapat kehormatan berbicara langsung dengan kepala negara. Ketika Anda membaca Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, Allah menjawab, “(Aku senang), engkau, hamba-Ku, telah menyanjung-Ku).  Ketika, Anda memohon petunjuk jalan yang lurus, Allah juga menjawab, “Inilah permintaanmu wahai hamba-Ku. Sekarang, adalah tugas-Ku untuk memenuhinya) (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a). Atas dasar itulah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah (2008: 30) berpesan, “Berhentilah setelah membaca satu ayat. Tunggulah jawaban Allah. Setelah itu, lanjutkan ayat berikutnya”

Sekarang, kita menghitung persentase dari tujuh ayat dalam Al Fatihah berdasar kandungannya. Ayat 1-5 (71.43 %) berisi sanjungan untuk Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengatur alam, Maha Penguasa pada hari pembalasan, Maha Mulia untuk disembah, dan Maha Pemberi Pertolongan. Sedangkan, ayat 6-7 (28.57%) berisi permohonan kepada Allah bimbingan ke jalan yang lurus.

Persentase di atas memberi inspirasi kita. Pertama, dalam beragama, kita harus mengedepankan hak-hak Allah untuk dipuji dan disanjung, daripada hak kita untuk meminta. Kedua, sebelum meminta, sebaiknya kita tunjukkan terlebih dahulu sejauhmana ibadah yang telah kita lakukan. Ketiga, jika ingin lebih berakhlak dan bahagia, maka perbanyaklah (70%) memuja, menyanjung, dan berpasrah kepada Allah, lalu gunakan sisanya (30%) untuk meminta. Inilah etika utama dan kunci kebahagiaan.

Berikut ini contoh doa yang berisi sanjungan kepada Allah, ”Wahai Allah, aku yakin, Engkau pasti, pasti, Maha Kuasa menolong aku. Engkaulah Tuhan, yang pasti, pasti, Maha Mengasihi aku. Engkaulah Tuhan Yang Maha Kuasa mengatur alam semesta, maka betapa mudahnya Engkau merubah keadaanku. Kepada-Mu, aku pasrah, pasrah, menyerahkan nasibku.” Sanjungan kepada Allah juga bisa dilakukan dengan membaca tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan kalimat-kalimat thayyibah lainnya. Andaikan Anda hanyut dalam sanjungan, sampai lupa meminta apa pun, maka Allah berjanji memberi Anda lebih banyak daripada orang yang hanyut dalam permintaannya.    

Doa yang penuh sanjungan dan kepasrahan di atas pasti lebih berakhlak dan lebih membahagiakan daripada doa yang hanya berisi permintaan. Misalnya, ”Wahai Allah, tolonglah aku untuk mengatasi kesulitan ini,  sembuhkan penyakitku, dan lunakkan hati pasanganku.”

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar Juz 1, p. 67-71; (2) M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah Vol 1: 3-17; (3) Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 446-449); (4) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, cet 12, p.46-49.