UINSA: Biaya Terjangkau, Mimpi Tetap Menyala

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
January 7, 2026

UINSA: Biaya Terjangkau, Mimpi Tetap Menyala

Data pendidikan tinggi di Indonesia masih menyimpan ironi. Berbagai laporan resmi pemerintah dan lembaga internasional menunjukkan bahwa Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi Indonesia masih berada di kisaran sepertiga dari total penduduk usia kuliah. Artinya, dari tiga anak Indonesia yang seharusnya melanjutkan ke perguruan tinggi, hanya satu yang benar-benar sampai ke bangku kuliah. Bukan karena kurang kecerdasan atau semangat belajar, melainkan karena faktor ekonomi yang masih menjadi penghalang utama.

Pendidikan tinggi kerap diibaratkan sebagai jalan menuju masa depan. Namun bagi sebagian keluarga, jalan itu tidak selalu rata dan mudah dilalui. Ada yang memulainya dengan kendaraan, ada pula yang harus berjalan kaki sambil membawa beban. Banyak anak berhenti bukan karena tidak sanggup berjalan lebih jauh, tetapi karena ongkos perjalanan terasa terlalu berat. Di titik inilah, kebijakan biaya pendidikan menjadi penentu: apakah pendidikan menjadi hak bersama, atau hanya milik mereka yang mampu.

Dalam konteks inilah, UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) menempatkan diri secara strategis. Sebagai perguruan tinggi Islam negeri, UINSA menerapkan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang berjenjang dan berkeadilan, disesuaikan dengan kemampuan ekonomi mahasiswa dan orang tua. Tidak ada uang gedung, tidak ada pungutan tersembunyi. Belum lagi banyaknya beasiswa yang ditawarkan untuk para calon mahasiswa. Kebijakan ini bukan sekadar administratif, tetapi merupakan bentuk keberpihakan pada akses pendidikan yang lebih luas.

Keterjangkauan biaya di UINSA bukan berarti kompromi terhadap kualitas. Di ruang-ruang kelas, mahasiswa tetap berhadapan dengan pembelajaran yang menuntut berpikir kritis, diskusi aktif, dan penguasaan keilmuan yang relevan dengan tantangan zaman. Banyak mahasiswa UINSA yang berasal dari keluarga sederhana tetap mampu menyelesaikan studi tepat waktu, aktif dalam riset, organisasi, hingga pengabdian masyarakat. Bahkan tak sedikit dari mereka bisa melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi baik di dalam ataupun luar negeri dengan mengukir beragam prestasi. Kisah-kisah ini mungkin sering luput dari sorotan, tetapi nyata dan terus berulang setiap tahun akademik.

Jika pendidikan dianalogikan sebagai benih, maka biaya kuliah adalah tanah tempat benih itu ditanam. Benih unggul tidak akan tumbuh tanpa tanah yang memungkinkan. UINSA berupaya memastikan bahwa tanah itu cukup subur bagi siapa pun—agar potensi mahasiswa tidak gugur hanya karena faktor ekonomi. Dengan biaya yang terjangkau, mahasiswa memiliki ruang bernapas untuk belajar, berkembang, dan merencanakan masa depan tanpa tekanan finansial yang berlebihan.

Pada akhirnya, persoalan pendidikan tinggi bukan hanya soal siapa yang paling pintar dan mampu, tetapi siapa yang paling diberi kesempatan. Di tengah masih rendahnya partisipasi pendidikan tinggi nasional, kehadiran UINSA menjadi bagian dari solusi nyata. Biaya yang terjangkau, dipadukan dengan mutu akademik yang terus dijaga, menjadikan UINSA bukan sekadar tempat kuliah, tetapi jembatan yang memungkinkan lebih banyak mimpi sampai ke tujuan. Di sinilah pendidikan kembali pada hakikatnya: membuka jalan, bukan membatasi langkah.

Spread the love

Tag Post :

Categories

Kolom UINSA