UINSA adalah Darah Saya

Fakultas Adab & Humaniora
January 6, 2026

UINSA adalah Darah Saya

Oleh: Hanun Khiyarotun Nisa’, M.Hum.
CPNS Dosen Asisten Ahli pada Prodi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora.

UIN Sunan Ampel Surabaya kini menjadi tempat aktualisasi keilmuan yang saya tekuni. UINSA adalah ruang tumbuh, tempat saya belajar memberi arti tentang profesi dan pengabdian. Sebagai CPNS yang mengabdi di UINSA dan menerima amanah penghasilan dari institusi ini, saya memaknai UINSA sebagai bagian penting dari perjalanan profesional dan akademik saya.

Setiap tanggung jawab yang saya emban, setiap kelas yang saya masuki, dan setiap tugas akademik yang saya Jalani, saya maknai sebagai kepercayaan yang diberikan UINSA kepada saya. Gaji yang saya terima bukan sekadar hanya tentang angka yang ditransfer setiap bulan, tetapi ia juga amanah yang mengikat saya pada nilai tanggungjawab dan kejujuran. Keberlangsungan hidup saya secara profesional ditopang oleh institusi ini, dan karenanya, sudah semestinya pengabdian saya pun seharusnya kembali saya persembahkan kepada UINSA. Karena darah yang mengalir di dalam tubuh ini adalah darah UINSA.

UINSA telah memberi saya ruang untuk berkembang sebagai akademisi, pendidik, dan pembelajar. Di kampus ini, saya mengajar, belajar dan juga dibentuk. Mulai dari cara berpikir, cara bersikap, dan cara memaknai ilmu dalam bingkai keislaman dan keindonesiaan. Nilai-nilai itu perlahan mengalir dan menyatu dalam keseharian saya, seperti darah yang menghidupi tubuh.

Lebih dari sekadar institusi, UINSA telah menjelma menjadi rumah kedua bagi kami yang menghidupinya setiap hari. Di sinilah pagi sering dimulai dan sore kerap berakhir. Lorong-lorong kampus menjadi saksi langkah yang berulang, sementara ruang kelas menjadi tempat bertukar gagasan dan harapan. Di UINSA, kami menjalani kehidupan dengan berdiskusi, berdebat dengan hangat, berbeda pendapat, saling menguatkan, lalu kembali duduk bersama sebagai satu komunitas akademik.

Sebagai rumah kedua, UINSA menghadirkan rasa memiliki. Ia memberi ruang aman untuk bertumbuh, termasuk untuk keliru dan belajar kembali. Dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa yang hadir bukan semata-mata karena fungsi strukturalnya, tetapi mereka adalah penghuni rumah besar UINSA yang saling menyapa, saling mengenal, dan berbagi tanggung jawab demi menjaga suasana akademik yang sehat, humanis, dan juga kadang diselingi humor atau bias akita sebut guyon. Di sinilah nilai keilmuan tidak berdiri kering karena bertaut dengan nilai kemanusiaan.

Karena itu, mengatakan “UINSA adalah darah saya” bukanlah ungkapan emosional yang berlebihan. Ia lahir dari kesadaran dan refleksi Panjang. Ia lahir dari pengalaman keseharian yang berulang dan dari kesadaran bahwa sebagian besar energi hidup saya dicurahkan di ruang ini. Ia adalah pernyataan kesetiaan dan sebentuk rasa tanggung jawab moral untuk turut menjaga marwah institusi tercinta. Selama darah ini mengalir, saya ingin terus berkontribusi, saya ingin mengabdi dengan tulus, dan menjaga marwah akademik UINSA dengan cara yang saya miliki melalui aktualisasi diri di bidang Bahasa dan Sastra Arab yang saya tekuni.

Di tengah tantangan pendidikan tinggi yang semakin kompleks, sebut saja misalnya mulai dari tuntutan mutu, transparansi, hingga daya saing global, loyalitas terhadap institusi perlu diterjemahkan dalam kerja nyata. Karena dalam pemaknaannya secara kaffah, loyal tidak berarti sebatas hanya retorika, tetapi ia meminta diwujudkan dalam kedisiplinan sehari-hari, etos kerja, dan kesediaan untuk terus belajar serta beradaptasi. Pada akhirnya, loyalitas terhadap UINSA tidak harus diekspresikan dengan slogan, tetapi dengan kerja yang konsisten, sikap yang bertanggung jawab, serta komitmen untuk terus belajar dan berkontribusi. Bagi saya, loyal kepada UINSA berarti merawat rumah kedua ini dengan menjaga nilai-nilainya dan menguatkan fondasinya.

Semoga nilai-nilai kebaikan Sunan Ampel serta prinsip keilmuan dan keislaman yang dijunjung UINSA dapat terinternalisasi dalam diri kami semua, sebagaimana nilai-nilai itu terus kami jaga dalam pengabdian kami kepada institusi ini. Semoga UINSA akan terus menjadi rumah kedua yang hangat dan bermartabat bagi seluruh civitas akademikanya, menjadi rumah yang menumbuhkan ilmu, menjaga nilai, dan melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan berdampak pada kemaslahatan bangsa dan kemanusiaan. Aamiin.

Spread the love

Tag Post :

Categories

Artikel, Kolom UINSA