
SIdoarjo, 10/01/2026
Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) terus memperkuat kualitas pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru (PPG) melalui penyelesaian bank soal tryout PPG Batch 4. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim Induksi LPTK UINSA bersama Tim Dekanat Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) sebagai bagian dari upaya penjaminan mutu akademik dan evaluasi pembelajaran calon guru profesional.
Pertemuan koordinatif tersebut menjadi agenda strategis untuk melakukan review menyeluruh terhadap soal-soal tryout yang telah disusun oleh Tim Induksi. Fokus utama pembahasan diarahkan pada aspek keterbacaan soal, guna memastikan bahwa setiap butir soal dapat dipahami dengan baik oleh peserta PPG tanpa mengurangi tingkat kompleksitas dan kedalaman materi yang diujikan.
Koordinasi ini difasilitasi langsung oleh Ketua Tim Induksi, Dr. Taufiq, bersama Ketua Program Studi PPG, Dr. Ainun Syarifah. Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari pimpinan FTK UINSA, di antaranya Wakil Dekan II FTK, Prof. Jauharoti Alfin, yang turut hadir dan memberikan arahan terkait pentingnya kualitas instrumen evaluasi dalam program PPG.
Dalam forum tersebut, Tim Induksi memaparkan hasil penyusunan soal-soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang dirancang untuk mengukur kemampuan analitis, evaluatif, dan reflektif peserta PPG. Soal-soal tryout yang disusun mencakup berbagai bidang keilmuan inti dalam PPG, antara lain Pendidikan Agama Islam (PAI), Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Al-Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, soal untuk Guru Kelas Madrasah Ibtidaiyah (GKMI), serta soal untuk Guru Kelas Raudlatul Athfal (GKRA).
Keberagaman materi tersebut mencerminkan karakter PPG sebagai program yang menuntut penguasaan substansi keilmuan sekaligus kompetensi pedagogik yang terintegrasi. Oleh karena itu, penyusunan bank soal tidak hanya menekankan keluasan materi, tetapi juga kedalaman pemahaman serta kemampuan peserta dalam mengaitkan konsep dengan konteks pembelajaran nyata.
Agenda utama pertemuan difokuskan pada dua aspek penting, yakni keterbacaan soal dan kesesuaian antara soal dengan indikator esensial yang telah ditetapkan. Dalam pembahasan keterbacaan, tim secara cermat menelaah redaksi soal, kejelasan kalimat, ketepatan istilah, serta potensi ambiguitas yang dapat menimbulkan multitafsir. Hal ini dipandang krusial agar soal mampu mengukur kompetensi peserta secara adil dan objektif.

Sementara itu, kesesuaian soal dengan indikator esensial dibahas untuk memastikan bahwa setiap butir soal benar-benar merepresentasikan capaian pembelajaran yang diharapkan. Soal tryout tidak boleh lepas dari indikator kompetensi, baik kompetensi profesional, pedagogik, sosial, maupun kepribadian yang menjadi standar dalam PPG. Dengan demikian, tryout dapat berfungsi sebagai instrumen latihan sekaligus pemetaan kesiapan peserta secara komprehensif.
Dalam arahannya, para pimpinan FTK menegaskan bahwa kualitas soal tryout sangat menentukan efektivitas pembinaan peserta PPG. Soal yang baik tidak hanya menguji hafalan, tetapi mendorong peserta untuk berpikir kritis, mengambil keputusan pedagogis, dan merefleksikan praktik pembelajaran yang kontekstual. Oleh karena itu, penyusunan dan review soal harus dilakukan secara kolaboratif dan berlapis.
Diskusi berlangsung dinamis dengan melibatkan masukan dari berbagai pihak, baik dari Tim Induksi maupun unsur pimpinan. Setiap saran diarahkan untuk menyempurnakan kualitas soal agar selaras dengan standar evaluasi nasional PPG serta kebutuhan riil calon guru di lapangan.
Melalui kegiatan ini, LPTK UINSA menegaskan komitmennya dalam menjaga mutu pelaksanaan PPG, tidak hanya pada aspek proses pembelajaran, tetapi juga pada kualitas evaluasi akademik. Penyelesaian bank soal tryout PPG Batch 4 diharapkan dapat menjadi instrumen yang efektif dalam membantu peserta mempersiapkan diri menghadapi asesmen PPG secara lebih matang dan terarah.
Dengan sinergi antara Tim Induksi, Prodi PPG, dan pimpinan FTK, UINSA optimis dapat terus berkontribusi dalam mencetak guru-guru profesional yang memiliki kompetensi akademik kuat, kemampuan berpikir tingkat tinggi, serta kesiapan menghadapi tantangan pendidikan di era yang terus berkembang.