Di tengah semangat UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya yang sedang berlari kencang menuju panggung internasional, tak jarang kita merasa terjebak dalam tumpukan beban kerja dan tuntutan profesionalitas yang menguras energi. Banyak dari kita berpikir, “Kalau pekerjaan selesai dan target tercapai, barulah saya bahagia.” Namun, mari kita balik logikanya, kebahagiaan bukanlah hadiah di garis pencapaian, melainkan bahan bakar di garis memulai. Topik ini sangat krusial bagi kita semua di UINSA agar rutinitas bekerja tidak hanya menjadi sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan ekspresi dari hati yang gembira. Mengapa artikel ini perlu untuk dibaca ? Karena kebahagiaan adalah fondasi internalisasi nilai ke-UINSA-an yang inklusif sebuah perubahan besar yang dimulai dari ketenangan batin setiap pegawainya.
Shawn Achor dalam bukunya yang fenomenal, The Happiness Advantage, mengungkapkan fakta ilmiah yang menarik, yaitu otak manusia bekerja jauh lebih optimal saat berada dalam kondisi positif dibandingkan saat stres atau netral. Ketika kita bahagia, kecerdasan kita meningkat, kreativitas melonjak, dan level energi kita bertambah berkali-kali lipat. Di lingkungan UINSA, bekerja dengan gembira bukan berarti kita mengabaikan tugas atau bersikap santai berlebihan. Justru, ini adalah upaya sadar untuk menciptakan ekosistem kerja yang saling mendukung dan menjaga kesehatan mental. Memahami perihal perihal produktivitas berarti menyadari bahwa kebahagiaan adalah sebuah keterampilan yang bisa kita latih setiap hari, bukan sekadar respons terhadap situasi di luar sana.
Untuk mewujudkan hal tersebut, UINSA kini mulai menerapkan langkah-langkah nyata yang sederhana namun berdampak besar. Salah satunya adalah melalui Praktik Syukur; kita didorong untuk memulai rapat atau pekan kerja dengan berbagi satu hal positif yang terjadi. Hal sederhana ini terbukti secara medis mampu memicu hormon dopamin yang membuat kita lebih fokus. Selain itu, penguatan jejaring dukungan sosial antar staf menjadi prioritas, di mana hubungan kita bukan lagi sekadar atasan dan bawahan, melainkan komunitas yang saling peduli. Kita juga diajak melatih pikiran melalui The Tetris Effect yang positif, yaitu membiasakan mata kita untuk mencari hal-hal baik yang telah berjalan, alih-alih hanya terpaku pada kekurangan administratif. Ini bukan sekadar wacana, setiap fakultas kini menjadi ruang bagi lahirnya kebahagiaan melalui apresiasi tulus antar rekan kerja.
Dampak dari kegembiraan yang menular ini sangat luar biasa bagi marwah dan martabat UINSA. Saat pegawai merasa bahagia, pelayanan publik pun akan terasa lebih ramah dan hangat. Dosen yang mengajar dengan hati yang senang akan jauh lebih inspiratif di mata mahasiswa, dan para peneliti yang bekerja dengan pikiran tenang akan melahirkan inovasi-inovasi hebat. Inilah bukti nyata nilai kebermanfaatan UINSA bagi masyarakat luas. Kita tidak hanya ingin dikenal sebagai kampus yang mencetak lulusan pintar secara akademik, tetapi juga sebagai institusi yang manusiawi dan memancarkan energi positif dalam setiap geraknya. Keunggulan utama UINSA terletak pada kemampuannya menyatukan nilai spiritualitas dengan sains modern secara harmonis. Di saat institusi lain mungkin hanya mengejar target capaian (KPI) secara kaku, UINSA menawarkan pendekatan yang lebih mendalam: bekerja adalah bagian dari ibadah yang membahagiakan. Budaya kerja yang kita bangun adalah budaya yang merayakan keberhasilan bersama dan menghadapi kegagalan dengan ketangguhan, bukan dengan saling menyalahkan. Institusi yang bahagia secara internal secara otomatis akan memiliki daya tarik yang kuat bagi calon mahasiswa maupun mitra internasional. Mari kita mulai menularkan kegembiraan ini, karena di UINSA, kerja keras dan hati yang gembira adalah dua sisi koin yang tak terpisahkan.
[Siti Alfia Ayu Rohmayanti]