Di era disrupsi informasi saat ini, perdebatan mengenai posisi agama, ilmu pengetahuan, dan semangat kebangsaan seringkali terjebak dalam sekat-sekat yang kaku. Banyak yang beranggapan bahwa mengejar kemajuan sains harus menanggalkan nilai-nilai spiritualitas, atau sebaliknya, ketaatan beragama dianggap sebagai penghambat kemajuan negara. Padahal, bagi sebuah bangsa yang besar, ketiga elemen ini, yaitu Ilmu, Islam, dan Negara adalah pilar penyangga peradaban yang tidak boleh dipisahkan. Keselarasan ketiganya menciptakan masyarakat yang tidak hanya cerdas secara logika, tetapi juga memiliki jangkar moral yang kuat serta loyalitas yang tinggi terhadap tanah air. Tanpa integrasi ini, kemajuan ilmu pengetahuan berisiko kehilangan arah etisnya, dan semangat beragama berisiko kehilangan konteks kemanusiaan serta kebangsaannya.
Pentingnya menjaga harmoni ketiga pilar tersebut selaras dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Mujadilah ayat 11: “…Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan martabat seorang manusia, maupun sebuah institusi, ditentukan oleh kombinasi antara kualitas iman dan kedalaman ilmu. Dalam konteks inilah, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) mengambil peran strategis melalui proses Internalisasi Ke-UINSA-an. Topik ini menjadi krusial untuk dibahas karena menyentuh esensi bagaimana sebuah lembaga pendidikan tinggi keagamaan mampu menjaga marwahnya di tengah tantangan global, sembari tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman yang moderat dan komitmen kebangsaan yang utuh.
Secara konseptual, UINSA memandang Ilmu, Islam, dan Negara sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan. Ilmu pengetahuan diposisikan sebagai perangkat untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah SWT di alam semesta, sementara Islam hadir sebagai kompas etis yang memberikan arah agar ilmu tersebut membawa maslahat bagi sesama. Dalam posisi ini, negara menjadi wadah pengabdian di mana ilmu dan nilai agama tersebut diaktualisasikan dalam bingkai NKRI. Oleh karena itu, dalam kampus ini, tidak ada lagi dikotomi antara menjadi seorang ilmuwan yang mumpuni dengan menjadi seorang muslim yang taat, serta warga negara yang cinta tanah air. Ketiganya menyatu dalam satu napas pergerakan akademik yang dinamis.
Implementasi nyata dari konsep ini telah bertransformasi menjadi praktik kerja nyata melalui kebijakan strategis, seperti integrasi keilmuan twin-tower yang mengintegrasikan kematangan spiritual, kekayaan intelektual dan kearifan perilaku, salah satunya dalam bernegara. Melalui pendekatan ini, UINSA menunjukkan mekanisme kerja yang sistematis untuk menunjukkan bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah harus didasari nilai keislaman yang tidak boleh berhenti menjadi wacana, melainkan harus memiliki dampak sosial nyata. Hal ini membuktikan komitmen institusi dalam memberikan solusi bagi problematika umat dan bangsa.
Dampak yang dihasilkan dari konsistensi integrasi nilai Islam, ilmu dan negara secara tidak langsung telah mengangkat marwah, dignity dan visi UINSA di tingkat nasional maupun internasional. Dengan menegaskan nilai kebermanfaatan institusi, UINSA dipandang sebagai lembaga yang memiliki kehormatan karena mampu mencetak generasi yang tangguh secara intelektual namun tetap rendah hati secara spiritual.
Sebagai nilai keunggulan utama, UINSA memiliki kekhasan yang membedakannya secara elegan dari institusi lain, yakni kemampuan menampilkan nilai tambah melalui dialog harmonis antara ilmu pengetahuan, nilai Islam, dan nasionalisme. Inilah yang menjadi marwah UINSA yang memiliki dedikasi tak bertepi untuk melahirkan manusia paripurna bagi Ilmu, Islam, dan Negara.
Novi Puspitasari, S.T., M.P.W.K.
Calon Dosen Asisten Ahli
Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Ampel Surabaya