Saya adalah lulusan pesantren yang menempuh pendidikan sarjana di salah satu universitas negeri di Kota Surabaya. Dari aspek akademik, institusi tersebut memberikan kontribusi yang signifikan dalam membentuk kedisiplinan ilmiah, kebebasan berpikir, serta penguatan wawasan keilmuan. Namun sejak awal masa perkuliahan, terdapat satu hal yang saya rasakan kurang terpenuhi, yakni suasana pendidikan ala pesantren yang menempatkan pembentukan karakter, ketenangan batin, dan nilai-nilai spiritual sebagai bagian integral dari proses belajar.
Perasaan tersebut semakin menguat setelah saya menyelesaikan pendidikan sarjana. Ketika memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang magister, saya dihadapkan pada dua pilihan yang lazim: melanjutkan pendidikan di almamater sebelumnya atau memilih lingkungan akademik yang berbeda. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk melanjutkan studi di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Pilihan ini tidak serta-merta dipahami oleh lingkungan sekitar. Beberapa rekan, baik dari jenjang pendidikan sebelumnya maupun dari lingkungan akademik baru, termasuk dosen, sempat mempertanyakan alasan saya tidak kembali melanjutkan studi di universitas negeri tempat saya menempuh pendidikan sarjana.
Reputasi dan akreditasi sering dipersepsikan sebagai label administratif. Padahal, keduanya merupakan hasil dari proses panjang dalam menjaga mutu dan kepercayaan publik. Raihan Akreditasi Unggul oleh UINSA menunjukkan bahwa kualitas pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta tata kelola institusi telah memenuhi standar tertinggi secara nasional.
Lebih dari itu, UINSA juga masuk dalam 10 Kampus Islam Terbaik Dunia. Capaian ini menegaskan bahwa perguruan tinggi Islam mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitasnya. UINSA membuktikan bahwa integrasi keilmuan Islam, sosial-humaniora, dan sains-teknologi dapat menghasilkan kualitas yang diakui secara internasional.
Dalam konteks ini, reputasi UINSA tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari konsistensi visi, pengembangan sumber daya manusia, serta komitmen institusi terhadap pendidikan yang relevan dengan tantangan zaman.
Keunggulan UINSA tidak berhenti pada capaian formal. Reputasi dan akreditasi tersebut dihidupkan dalam praktik nyata. Di ruang kelas, pembelajaran berlangsung kritis dan terbuka, namun tetap menjunjung adab dan etika. Diskusi akademik tidak memisahkan kecerdasan intelektual dari kepekaan moral.
UINSA juga terus mengembangkan layanan akademik dan administrasi berbasis digital. Transformasi ini mendukung efisiensi dan kualitas layanan, tanpa menghilangkan nuansa religius yang menjadi ciri kampus. Bagi saya, inilah keunggulan UINSA: modern dan adaptif, tetapi tetap berakar pada nilai.
Kolaborasi nasional dan internasional juga menjadi bagian dari ekosistem kampus. Sivitas akademika didorong untuk berpikir global, berjejaring luas, dan menghasilkan karya yang berdampak, sekaligus tetap membawa perspektif keislaman.
Dampak reputasi dan akreditasi UINSA terasa bagi banyak pihak. Mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang utuh. Tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kepekaan sosial. Dosen dan tenaga kependidikan terdorong untuk terus meningkatkan kualitas dan kontribusinya. Sementara itu, masyarakat memperoleh manfaat dari kehadiran UINSA melalui lulusan dan program pengabdian yang relevan.
Keunggulan utama UINSA terletak pada kemampuannya menyatukan kualitas dan nilai. Reputasi global dan akreditasi unggul menjadi fondasi mutu, sementara nilai-nilai keislaman menjadi ruh yang menghidupkannya. Bagi civitas akademika, UINSA adalah ruang bertumbuh dan berkontribusi. Bagi mahasiswa, UINSA adalah tempat belajar yang memanusiakan. Dan bagi calon mahasiswa, UINSA menawarkan pilihan strategis: kampus Islam bereputasi, berdaya saing global, dan bermakna.
Oleh: Hurin Hayati Alin