Jaga Jarimu Untuk Marwah Uinsa

pustipd
January 6, 2026

Jaga Jarimu Untuk Marwah Uinsa

Oleh: Bramasta Kurnia Aji, S.Kom

CPNS – PRANATA KOMPUTER AHLI PERTAMA PUSAT SISTEM TEKNOLOGI INFORMASI DAN PANGKALAN DATA UINSA

Saat ini, kita hidup dalam dua realitas yang berjalan beriringan: dunia nyata dan dunia maya. Keduanya saling terhubung dan saling memengaruhi. Apa yang terjadi di ruang digital dapat berdampak nyata dalam kehidupan sehari-hari, begitu pula sebaliknya. Bahkan, kabar tentang teman yang telah lama tidak kita jumpai sering kali lebih dahulu kita ketahui melalui media sosial.

Apa yang sedang mereka lakukan?

Apa yang sedang mereka kejar?

hingga hal-hal apa yang tengah mereka ragukan.

Media sosial kini bukan lagi sekadar ruang personal. Ia telah bertransformasi menjadi branding sikap, nilai, dan karakter diri kita. Jika di dunia nyata ucapan merupakan representasi dari pikiran, maka di dunia maya, ketikan jari menjadi wujud nyatanya. Setiap kata yang ditulis, setiap komentar yang dibagikan, meninggalkan jejak yang mencerminkan siapa kita sebenarnya.

Jari dapat diibaratkan seperti sebilah pisau. Di tangan seorang ibu, pisau menjadi alat untuk menghadirkan hidangan penuh kasih sayang bagi keluarga. Namun di tangan seorang pelaku kejahatan, pisau yang sama dapat berubah menjadi sumber petaka. Demikian pula dengan jari di ruang digital: ia bisa menjadi sarana menyebarkan kebaikan, ilmu, dakwah, atau sebaliknya, menjadi alat yang melukai dan merusak.

Sebagai bagian dari sebuah lembaga, narasi, ucapan, perilaku kerap dipersepsikan publik sebagai cerminan sikap institusi tempat kita bernaung. Tanpa disadari, narasi yang dibangun dapat memengaruhi cara publik memandang UINSA secara keseluruhan. Kesadaran inilah yang menuntut tanggung jawab kolektif yaitu Menjaga agar ruang digital tetap menjadi media penyebaran gagasan yang mencerdaskan, beretika, dan bermartabat. Dengan demikian, peran sivitas akademika tidak hanya berhenti pada produksi pengetahuan, tetapi juga pada keteladanan dalam berkomunikasi dan bersikap di era digital. 

Karena itu, menjaga jari kita tidak dimaksudkan untuk membatasi kebebasan berekspresi, melainkan mengarahkan agar kebebasan tersebut tetap berjalan seiring dengan filter nilai keilmuan, adab, dan tanggung jawab moral. Pada akhirnya, etika digital akan selalu berbanding lurus dengan tingkat literasi digital kita. Semakin baik pemahaman kita terhadap dampak dan konsekuensi aktivitas digital, semakin bijak pula kita dalam menggunakan jari-jari kita. Di situlah kebebasan dan tanggung jawab bertemu, membentuk karakter individu sekaligus citra kolektif di era digital.

Apa yang kita tulis hari ini merupakan respons sesaat, dan mungkin dapat muncul kembali di masa depan dalam konteks yang berbeda. Oleh karena itu, kesadaran akan jejak digital menjadi penting, terutama bagi sivitas akademika yang kelak akan berperan di ruang publik yang lebih luas. Kehati-hatian dalam bermedia bukan bentuk ketakutan, melainkan wujud kedewasaan dan tanggung jawab terhadap diri sendiri serta institusi. Tingkat kecerdasan seseorang tidak hanya diukur dari apa yang kita ketahui, tetapi bagaimana cara kita menyampaikannya.

“Jari yang tenang, lahir dari pikiran yang matang.”

Spread the love

Tag Post :

Categories

Artikel, Kolom UINSA