Frasa “Hidup Masih Koma” bukanlah suatu alasan untuk pesimis, melainkan upaya untuk terus bertumbuh menyelaraskan diri dengan visi-misi institusi. UINSA memang telah tumbuh menjadi salah satu institusi terkemuka di tingkat dunia, namun pertumbuhan tersebut tentunya tidak akan lepas dari kesadaran seluruh civitas akademikanya. Topik ini penting untuk diangkat sebagai alasan logis bahwa di UINSA seluruh civitas akademikanya harus terus berkembang tanpa membeda-bedakan latar belakangnya.
Bagi sebagian CPNS yang berasal dari prodi non keagamaan, termasuk saya dari pendidikan matematika, tentu merupakan tantangan tersendiri untuk mengajar dan mendidik di UIN Sunan Ampel Surabaya. Kampus ini memiliki semboyan “Twin Tower” yaitu mengintegrasikan antara keislaman dan keilmuan, artinya keduanya harus saling berkaitan dan terpadu satu sama lain. Tentu saja seluruh dosen harus mengembangkan kapabilitasnya baik di bidang keilmuan maupun di sisi keagamaannya, agar selaras dengan arah tujuan dari UINSA.
“Hidup Masih Koma” dapat dimaknai bahwa setiap pegawai UINSA selalu memiliki peluang dan potensi untuk terus berkembang. Hal ini juga menunjukkan bahwa kita tidak boleh merasa puas atas apa yang telah dicapai. Pada hakikatnya belajar adalah sepanjang hayat, sehingga tumbuh dan berkembang harusnya tidak berhenti jua. Melalui kegiatan Internalisasi Ke-UINSA-an ini, kita semua harus menyadari bahwa UINSA selalu membuka ruang lebar bagi kita untuk terus meningkatkan kecintaan terhadap kampus ini.
“Hidup Masih Koma” menawarkan dua perspektif: pertama, jika kita merasa masih kurang mampu maka teruslah belajar dan tumbuh sebagai bentuk cinta pada UINSA. Kedua, apabila ilmu kita sudah mumpuni maka janganlah merasa sombong sebab ilmu tidak ada batasnya semua masih ada komanya. Terakhir, sebagai bagian dari UINSA “Marilah terus menginternalisasikan nilai-nilai Ke-UINSA-an, jika hari ini belum mampu tenang saja masih ada hari esok, sebab hidup masih koma.” Begitulah kira-kira ungkapan bijak dari Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag.
“Merasa Belum Bisa? Tenang, Hidup Masih Koma”
Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag.