Tim MBKM FUF UINSA Teliti Variasi Penamaan Surah Mushaf “Senar Bulen”

Fakultas Ushuludin & Filsafat
May 12, 2026

Tim MBKM FUF UINSA Teliti Variasi Penamaan Surah Mushaf “Senar Bulen”

Tim MBKM Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Sunan Ampel Surabaya yang terdiri dari lima mahasiswa, yakni tiga dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir serta dua dari Program Studi Ilmu Hadis, melaksanakan kegiatan identifikasi dan digitalisasi manuskrip mushaf Al-Qur’an milik Samanhudi di Desa Bindang, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan, pada Senin 20 April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian manuskrip sekaligus penguatan kajian akademik terhadap naskah Al-Qur’an kuno yang memiliki nilai historis dan keilmuan tinggi.

Mushaf yang didigitalisasi merupakan naskah kuno berbahan kertas daluwang dengan kondisi fisik yang relatif baik. Berdasarkan hasil identifikasi awal, manuskrip ini menunjukkan sejumlah karakteristik penting, baik dari aspek material, tekstual, maupun visual. Kondisi fisik yang masih terjaga memungkinkan proses digitalisasi dilakukan secara optimal tanpa mengurangi keaslian naskah, sehingga hasil yang diperoleh tetap merepresentasikan kondisi asli manuskrip.

Pada bagian awal mushaf, terdapat keterangan mengenai tujuh imam qira’at beserta para perawi dan romz qira’at-nya. Selain itu, pada sejumlah ayat ditemukan adanya catatan pinggir (scholia) yang berisi penjelasan variasi bacaan. Keberadaan unsur ini menunjukkan bahwa manuskrip tersebut dapat dikategorikan sebagai mushaf qira’at al-sab’ah, yang tidak hanya berfungsi sebagai teks bacaan, tetapi juga sebagai media pembelajaran ilmu qira’at.

 

Dari aspek penulisan, manuskrip ini menggunakan tiga warna tinta yang berbeda, yaitu warna hitam untuk teks utama, warna merah untuk penamaan surah, nomor ayat, serta sebagian catatan pinggir terkait qira’at, dan warna hijau untuk catatan pinggir lainnya yang juga berisi penjelasan qira’at. Sistem penggunaan warna ini menunjukkan adanya metode penandaan yang terstruktur, yang bertujuan untuk memudahkan pembacaan sekaligus memahami variasi bacaan dalam mushaf.

Selain itu, manuskrip ini juga menampilkan unsur estetika melalui iluminasi yang terdapat pada beberapa bagian, di antaranya pada Surah Al-Fatihah, Al-Falaq, dan An-Nas. Kehadiran iluminasi ini menunjukkan bahwa penyalin tidak hanya memperhatikan aspek tekstual, tetapi juga nilai keindahan dalam penulisan mushaf, yang menjadi ciri khas manuskrip Al-Qur’an pada masa lalu.

Salah satu temuan penting dalam kegiatan ini adalah adanya variasi dalam penamaan surah yang berbeda dari mushaf standar saat ini. Berdasarkan hasil identifikasi, ditemukan bahwa al-Fatir ditulis sebagai al-Malaikati, Ghafir sebagai al-Mukmini, al-Qalam menjadi Nun, al-Insyirah ditulis sebagai Alamnasroh, serta al-Lahab sebagai Attabat. Variasi ini menunjukkan adanya tradisi penyalinan yang khas dan kemungkinan keterkaitan dengan praktik transmisi teks Al-Qur’an yang berkembang dalam konteks lokal maupun periwayatan tertentu.

Manuskrip ini saat ini dimiliki oleh Samanhudi, warga setempat, yang memperoleh mushaf tersebut sebagai warisan keluarga. Berdasarkan penuturan yang ia terima dari almarhum ayahnya, mushaf ini ditulis oleh seorang tokoh yang dikenal dengan sebutan Buju’ Toroy. Tradisi penyalinan mushaf ini memiliki keunikan tersendiri, sebagaimana disampaikan dalam keterangan berikut:

Qor’an nekah kocaeh eppak, eolok qor’an senar bulen. Polanah lambe’ buju’ toroy nekah nolessah tak ngangguy dhemar, tapeh ngangguy senarah bulen,” ujar Saman Hudi.

Ia menambahkan bahwa mushaf tersebut dijuluki “Qur’an Senar Bulen” karena proses penulisannya dilakukan pada malam hari tanpa menggunakan lentera, melainkan memanfaatkan cahaya bulan. Tradisi ini menjadi ciri khas tersendiri yang tidak hanya mencerminkan keterbatasan teknologi pada masa itu, tetapi juga menunjukkan dedikasi tinggi dalam proses penyalinan Al-Qur’an.

Penyebutan “Senar Bulen” atau “Sinar Bulan” menjadi identitas khas manuskrip ini. Praktik penyalinan dengan memanfaatkan cahaya bulan menggambarkan kondisi sosial dan budaya pada masa penulisan, sekaligus memperlihatkan bagaimana proses transmisi teks suci dilakukan dengan penuh ketekunan meskipun dalam keterbatasan sarana.

Melalui kegiatan ini, Tim MBKM FUF UIN Sunan Ampel Surabaya tidak hanya melakukan digitalisasi sebagai upaya preservasi, tetapi juga melakukan kajian mendalam terhadap aspek tekstual dan kodikologis manuskrip. Hasil digitalisasi diharapkan dapat menjaga kelestarian naskah secara jangka panjang serta membuka akses yang lebih luas bagi peneliti, akademisi, dan masyarakat dalam mengkaji manuskrip Al-Qur’an Nusantara.

Dengan adanya dokumentasi dan identifikasi yang sistematis, manuskrip “Qur’an Senar Bulen” diharapkan dapat menjadi salah satu sumber penting dalam pengembangan studi filologi, ilmu qira’at, serta sejarah transmisi Al-Qur’an di Indonesia. Selain itu, kegiatan ini juga menunjukkan peran aktif mahasiswa dalam menjaga warisan intelektual Islam melalui pendekatan ilmiah dan teknologi digital.

Tag Post :

FUFUINSA, MBKM FUF

Categories