Soroti Fatalisme dan Taqlid, Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Tembus Sinta 3 Lewat Kajian Tafsir Rahmat

Fakultas Ushuludin & Filsafat
August 26, 2026

Soroti Fatalisme dan Taqlid, Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Tembus Sinta 3 Lewat Kajian Tafsir Rahmat

Surabaya — Muhammad Dhiya’ul Umam, mahasiswa semester 7 Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), berhasil mempublikasikan artikel ilmiahnya pada jurnal terakreditasi SINTA 3. Artikel berjudul “Rationalizing Revelation in the Malay-Indonesian World: The Deconstruction of Fatalism and Taqlīd in Oemar Bakry’s Tafsir Rahmat tersebut mengkaji pemikiran Oemar Bakry dalam Tafsir Rahmat, khususnya mengenai konstruksi pemahaman terhadap fatalisme dan taqlid dalam konteks pemikiran Islam di Indonesia.

Penelitian tersebut berangkat dari ketertarikan Umam terhadap pemikiran Oemar Bakry yang dinilainya memiliki kecenderungan modernis. Latar belakang pendidikan, rekam jejak intelektual, serta sumber-sumber yang digunakan Oemar Bakry dalam karya-karyanya mendorong Umam untuk menelaah bagaimana sang mufasir merespons persoalan keagamaan yang berkembang pada konteks Indonesia, terutama terkait pemahaman fatalistik dan praktik taqlid. “Awalnya saya berpikir bahwa Oemar Bakry merupakan seorang yang dapat dikatakan modernis dalam pemikirannya. Dari sana saya penasaran bagaimana beliau menanggapi persoalan mengenai paham fatalistik dan taqlīd buta dalam konteks Indonesia pada saat itu,” ungkap Umam.

Secara substantif, penelitian tersebut menganalisis bagaimana Oemar Bakry mendekonstruksi pemahaman fatalisme melalui penafsiran sejumlah ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan takdir, kehendak, ikhtiar, serta kontribusi manusia dalam menentukan kehidupannya. Kajian ini menempatkan manusia bukan sekadar sebagai objek yang pasif terhadap takdir, tetapi sebagai subjek yang memiliki peran dan tanggung jawab dalam menentukan tindakan serta menghadapi konsekuensi dari pilihan yang dilakukan.

Selain fatalisme, penelitian tersebut juga menyoroti persoalan taqlid, terutama kecenderungan mengikuti pandangan keagamaan secara tidak kritis. Melalui Tafsir Rahmat, Umam berupaya melihat bagaimana pemikiran Oemar Bakry membangun pemahaman keagamaan yang lebih rasional dalam merespons persoalan tersebut.

Menurut Umam, kajian tafsir tidak dapat dilepaskan dari konteks intelektual dan sosial mufasir. Hal tersebut terlihat dalam karya-karya tafsir Nusantara yang kerap memperlihatkan keterkaitan antara latar belakang penafsir, kondisi masyarakat, dan produk penafsiran yang dihasilkan. Dalam Tafsir Rahmat, ia menemukan aspek vernakularisasi yang memperlihatkan adanya proses adaptasi penafsiran dengan konteks masyarakat Melayu-Indonesia. “Kalau berbicara mengenai tafsir, sering kali ditemukan, terutama dalam karya-karya Nusantara, keterkaitan antara latar belakang penafsir dan apa yang ditafsirkan. Dalam Tafsir Rahmat, saya menemukan beberapa hal menarik, di antaranya terdapat vernakularisasi,” jelasnya.

Dalam proses penelitian, Umam menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam menentukan teknik analisis dan arah pembahasan. Ia juga harus mengeksplorasi literatur lintas bahasa karena keterbatasan referensi berbahasa Indonesia. Kondisi tersebut mengharuskannya menerjemahkan sejumlah sumber yang relevan dengan penelitian. Selain itu, penyusunan kerangka pembahasan dan penentuan titik awal analisis juga menjadi bagian dari proses yang harus dilalui.

Persoalan biaya publikasi sempat menjadi tantangan tersendiri. Setelah memperoleh informasi mengenai biaya penerbitan dari pihak jurnal, Umam sempat mempertimbangkan untuk menunda publikasi ke volume berikutnya. Namun, ia kemudian memperoleh bantuan biaya publikasi sehingga artikel tersebut dapat diterbitkan.

Minimnya kajian terhadap Tafsir Rahmat justru menjadi peluang bagi Umam untuk mengembangkan penelitian. Menurutnya, keterbatasan penelitian sebelumnya memberikan ruang untuk mengeksplorasi lebih jauh pemikiran Oemar Bakry, khususnya dalam kaitannya dengan rasionalisasi wahyu, fatalisme, dan taqlid dalam konteks intelektual Islam Indonesia.

Menutup wawancara, Umam menyampaikan pesan kepada mahasiswa agar tidak terlalu lama menunda sesuatu yang ingin dicapai. “Segera kejar atau lakukan apa yang ingin dicapai. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Tidak ada yang dapat menjanjikan hari esok akan baik-baik saja sebagaimana hari ini,” tuturnya. Publikasi tersebut menunjukkan bahwa kajian tafsir Nusantara memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan melalui pendekatan kritis dan kontekstual. Penelitian Umam sekaligus memperlihatkan bahwa studi Al-Qur’an dapat berkontribusi dalam membaca dinamika pemikiran Islam, khususnya melalui dialog antara teks, konteks historis, dan realitas sosial masyarakat.

Penulis: A. Solihein Ridha

Tag Post :

FUF Uinsa, Media Center FUF, uinsa, UINSAHebat, uinsajaya

Categories