Sambut Semester Gasal 2026/2027, Plt. Dekan FISIP UINSA Ajak Dosen Rawat Tradisi Berpikir Kritis Perguruan Tinggi

Fakultas Ilmu Sosial & Politik
August 5, 2026

Sambut Semester Gasal 2026/2027, Plt. Dekan FISIP UINSA Ajak Dosen Rawat Tradisi Berpikir Kritis Perguruan Tinggi

Surabaya – Pada Hari Selasa (4/8), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar Rapat Persiapan Pelaksanaan Pembelajaran Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027 di Ruang Utama Lantai 5 GreenSA UIN Sunan Ampel Surabaya. Agenda penting yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB ini diwarnai dengan pengarahan akademis yang sangat komprehensif dari Plt. Dekan FISIP UINSA, Prof. Dr. H. Abd. Chalik, M.Ag., di hadapan jajaran pimpinan dekanat dan seluruh dosen pengampu mata kuliah.

Mengangkat pilar utama pengarahan bertajuk “Tradisi Berpikir Kritis: Cara Menempatkan Ilmu Sosial Tetap Relevan di Era Disrupsi”, Prof. Abd. Chalik menekankan urgensi peran perguruan tinggi dalam mengawal dinamika perubahan zaman. Menurutnya, di tengah pusaran arus disrupsi informasi, teknologi, dan transformasi global yang pesat, disiplin ilmu sosial tidak boleh kehilangan tajinya dan harus senantiasa hadir sebagai pemandu arah serta kompas moral peradaban.

Dalam paparan awalnya, Prof. Chalik menguraikan secara mendalam esensi mendasar dari paradigma ilmu sosial kritis. Ia menegaskan bahwa ilmu sosial kritis lahir dan berangkat dari kesadaran mendasar bahwa berbagai bentuk ketidakadilan di tengah masyarakat bukanlah fenomena kebetulan semata. Sebaliknya, ketidakadilan sosial senantiasa bersifat berpola, terstruktur, serta terpelihara oleh relasi-relasi kekuasaan tertentu yang perlu dibongkar secara ilmiah.

Oleh karena itu, Prof. Chalik mendorong para dosen FISIP UINSA untuk senantiasa mentransmisikan nalar kritis tersebut ke dalam ruang-ruang kelas perkuliahan. Insan akademis ilmu sosial dituntut untuk terus giat mempertanyakan kebenaran yang terformulasikan secara dominan, secara konsisten berpihak kepada kelompok-kelompok yang didominasi, serta memiliki keberanian intelektual yang teguh saat berhadapan dengan tembok kekuasaan.

Guna memperkuat argumen keilmuan tersebut, Prof. Chalik mengutip peringatan tegas dari sosiolog ternama Indonesia, Vedi Hadiz. Ia mengingatkan bahwa apabila ilmu sosial tidak lagi memiliki keberanian untuk menggugat realitas yang timpang, maka yang akan terjadi adalah birokratisasi ilmu sosial. Dalam kondisi birokratisasi ini, ilmu sosial menjadi amat tumpul, cenderung berjalan “lurus-lurus saja”, bersikap pasif, serta sekadar menerima kenyataan tanpa memberikan tawaran solusi transformatif.

Menanggapi tantangan kelembagaan di mana posisi kampus saat ini berada dalam ruang transisi antara Teaching University dan Research University, Prof. Chalik mengakui realitas objektif yang dihadapi oleh para pengajar. Beban dosen saat ini diakui masih sangat didominasi oleh kewajiban mengajar di dalam kelas yang padat serta pemenuhan tuntutan administrasi rutin yang cukup menyita waktu dan energi.

Namun demikian, Prof. Chalik menegaskan bahwa keterbatasan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk menyurutkan semangat akademis. Peluang besar tetap terbuka lebar melalui pembagian fokus riset kampus yang terarah dan sistematis, dorongan kolaborasi antarpeneliti berbasis kompetensi keahlian, serta pembentukan kemitraan internasional yang setara, produktif, dan bermartabat.

Sebagai langkah konkret dalam menghidupkan iklim akademik di lingkungan fakultas, Prof. Chalik mengusulkan penyelenggaraan agenda berkala bertajuk Research Weeks. Program ini diproyeksikan dapat menjadi panggung diseminasi hasil-hasil penelitian terkini para dosen dan mahasiswa, sekaligus menjadi motor penggerak utama dalam mengakselerasi langkah FISIP UINSA menuju kualifikasi Research University.

Lebih jauh, Plt. Dekan menggarisbawahi salah satu keunggulan khas yang dimiliki oleh Indonesia, yaitu tradisi intelektual publik yang sangat kuat. Dalam konteks sosial ini, para cendekiawan dan ilmuwan sosial di Indonesia masih memiliki panggung, akses langsung, serta tanggung jawab moral yang besar untuk berbicara, mengedukasi, dan memberikan pencerahan secara langsung kepada masyarakat luas.

Prof. Chalik juga menegaskan kembali filosofi mendasar bahwa ilmu sosial pada hakikatnya adalah “ilmu para pemimpin”. Oleh karena itu, profil utama lulusan FISIP UINSA harus didesain secara cermat untuk mencetak para calon pemimpin masa depan. Kurikulum perkuliahan pun harus berani merespons dinamika kontemporer, seperti politik sumber daya, perkembangan politik kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan digitalisasi, hingga fenomena rekayasa perilaku sosial.

Mengakhiri pengarahannya, Prof. Abd. Chalik menyimpulkan bahwa kunci utama relevansi ilmu sosial di era disrupsi terletak pada keberanian untuk memperluas objek kajian melalui tiga tahapan sistematis: identifikasi tajam terhadap fenomena baru, analisis teoretis mendalam, dan perumusan solusi kepemimpinan. Dengan menjadikan setiap fenomena baru sebagai pintu masuk keilmuan serta memegang teguh prinsip “Berani Kritis dan Tetap Relevan”, FISIP UINSA siap mengawal pelaksanaan pembelajaran Semester Gasal TA 2026/2027 secara optimal.

Tag Post :

Categories