PERINGATI DIES NATALIS KE-61, UINSA TEGUHKAN NILAI KEISLAMAN LEWAT ISTIGHOTSAH DAN DOA BERSAMA

UIN Sunan Ampel Surabaya
July 6, 2026

PERINGATI DIES NATALIS KE-61, UINSA TEGUHKAN NILAI KEISLAMAN LEWAT ISTIGHOTSAH DAN DOA BERSAMA

UINSA Newsroom, Senin (06/07/2026); Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-61 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya yang jatuh pada 5 Juli 2026, digelar Istighotsah dan Doa Bersama di Masjid Raya Ulul Albab, Kampus A. Yani Surabaya pada Senin (6/7/2026). Kegiatan ini menjadi momentum bagi seluruh civitas akademika untuk kembali mengenang perjalanan panjang UINSA. Serta memperkuat komitmen untuk mewujudkan UINSA menjadi perguruan tinggi yang unggul, berkarakter, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Plt. Rektor UINSA, Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D., hadir didampingi seluruh jajaran pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, perwakilan mahasiswa serta Bank mitra di lingkungan UINSA. Kegiatan berlangsung khidmat dengan adanya tausiyah yang disampaikan Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag.

Dalam tausiyahnya, Prof. Ali menyampaikan tentang nilai-nilai dakwah Sunan Ampel yang penting untuk direfleksikan dalam kehidupan modern saat ini, terutama di lingkungan kampus. Prof. Ali berpesan, agar setiap individu tidak mudah terjebak dengan ambisi pribadi yang dapat merugikan orang lain. “Dakwah Sunan Ampel itu mengajarkan kita untuk mengorbankan diri demi menyenangkan orang lain, bukan sebaliknya, mengorbankan orang lain demi kesenangan diri sendiri,” pesan Prof. Ali.

Salah satu ajaran luhur Sunan Ampel yang bisa diterapkan ke dalam konteks aktual di lingkungan kampus saat ini pus, yaitu Moh Limo (pencegahan lima perkara buruk):

  • Moh Main (Tidak Berjudi): Diaktualisasikan sebagai larangan melakukan investasi bodong atau tindakan spekulatif (gambling) yang tidak hati-hati dan dapat merugikan banyak orang.
  • Moh Ngombe (Tidak Mabuk): Diartikan tidak hanya mabuk minuman keras, tetapi juga “mabuk kekuasaan” atau berbicara sembarangan tanpa mengindahkan etika.
  • Moh Madat (Tidak Mengonsumsi Candu): Diaktualisasikan sebagai larangan kecanduan gawai atau ponsel secara berlebihan hingga melalaikan ibadah dan produktivitas kerja/belajar.
  • Moh Maling (Tidak Mencuri): Termasuk di dalamnya larangan keras melakukan plagiarisme (menjiplak karya orang lain) atau memalsukan tanda tangan demi kenaikan pangkat.
  • Moh Madon (Tidak Berzina): Diaktualisasikan sebagai komitmen mutlak untuk menjaga lingkungan kampus agar bersih dari segala bentuk pelecehan dan kekerasan seksual.

Selain itu, di akhir tausiyahnya Prof. Ali mengajak seluruh civitas akademika untuk terus merefleksikan konsep syafaat demi kemajuan UINSA serta mengalirkan keberkahan yang bersumber dari keteladanan Sunan Ampel. “Kalau kita ingin jadi orang baik, salah satunya adalah belajarlah riwayat Sunan Ampel. Itu yang ditekankan sekali lagi, Jasmerah, jangan sampai melupakan sejarah,” pungkas Prof. Ali menutup tausiyahnya.

Melangkah di usia ke-61, UINSA telah menorehkan rekam jejak panjang yang penuh dengan dedikasi, kerja keras dan ketulusan dalam mendidik tunas-tunas bangsa. Dies natalis ini menjadi momentum bagi UINSA memperkuat komitmen untuk terus bertransformasi, meningkatkan mutu Tridharma Perguruan Tinggi. Serta memastikan bahwa UINSA tetap menjadi kiblat bagi integrasi nilai-nilai keislaman dan ilmu pengetahuan. (Nls/Humas)

Redaktur: Nur Hayati
Reportase: Nilasari
Foto: Kamal
Highlight: Rian/Mualam

Tag Post :

Categories