
Oleh: Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D.
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya
“Maaf ya Ibu-Ibu; Mohon maaf sekali.” Begitu seorang lelaki muda usia itu mengawali pembicaraan. Berulang kali permohonan maaf itu diucapkan. Sejatinya memang bukan pernyataan biasa. Melainkan sebuah arahan. Namun, kata maaf itu terus meluncur mengawali pembincangan. Padahal dia sedang menyampaikan sebuah arahan. Dan semua ibu-ibu yang hadir kala itu pasti segera menyimaknya dengan penuh perhatian. Karena dari lelaki muda usia itu, justeru ibu-ibu itu sedang membutuhkan tuntunan. Tapi memang dasarnya anak muda itu sangat santun, kata maaf terus mengalir dari lisannya sebelum memberikan arahan.
Momen itu berlangsung pada sebuah briefing. Di penghujung malam. Menjelang pergantian hari. Di akhir Juli 2026. Lantaran briefing, penyampaiannya pun singkat. Isinya berupa arahan teknis. Dan briefing itu berlangsung di sebuah pintu menuju Kakbah. Seingat ibu-ibu itu, berlangsung di King Abdul Aziz Gate. Yang lebih dikenal dengan istilah Gate 1. Isi briefing itu tentang bagaimana bisa berhasil mencium hajar aswad dengan mulia. Kata “mulia” ini penting disematkan karena substansinya mengenai adab. Ya, tentang akhlaq. Yakni, akhlaq yang harus ditunaikan untuk bisa berhasil mencium hajar aswad. Namun, kesuksesan itu harus mulia. Tak ternodai oleh perilaku apapun yang bisa berujung pada praktik menyakiti sesama. Atau, minimal, membalas karena lebih dulu disakiti.
Di penghujung malam itu, memang bersepakat empat ibu-ibu pimpinan satuan kerja sebuah kementerian. Mereka sedang berada di tempat menginap di kawasan dekat Kakbah. Kaitannya dengan rangkain ibadah umrah bersama sejumlah pimpinan lainnya. Keinginan kuat untuk bisa melakukan praktik cium hajar aswad lalu muncul di internal ibu-ibu yang kebetulan tinggal sekamar itu. Lalu, keinginan itu difasilitasi oleh sang muthawwif untuk bisa terwujud di penghujung malam itu. Lalu sang muthawwif mengutus lelaki muda usia di atas untuk menjadi asisten yang membantu terwujudnya niat untuk bisa melakukan praktik cium hajar aswad itu.
Lalu, saat memberikan briefing sebelum memulai proses menjalani praktik cium hajar aswad itu, sang asisten yang masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Al-Azhar Mesir itu memulai pembicaraannya dengan berkali-berkali meminta maaf. Sebagai bagian dari kesantunan yang sedang dia pertunjukkan kepada rombongan ibu-ibu berempat itu. “Nanti, ibu-ibu, mohon fokus pada niat untuk bisa mencium hajar aswad,” ujarnya memulai pengarahan teknis. “Jika nanti ada yang mendorong-dorong,” lanjutnya memberikan pengandaian, “jangan dibalas.” “Intinya,” lebih lanjut dia menyampaikan, “jangan sampai kita menyakiti orang lain yang juga sama-sama berusaha untuk bisa mencium hajar aswad.” “Jangan pula membalas jika ibu-ibu merasa ada yang menyakiti,” begitu tuntunannya lebih jauh di akhir briefing itu.
Sampai pada titik ini, cerita ulang yang diperdengarkan kepadaku oleh salah seorang jemaah ibu-ibu di atas membuatku terperanjat. “Ahaaaa!!! Cerita ini memang tentang praktik cium hajar aswad,” kataku dalam hati dengan penuh takjub. “Namun,” bisikku lebih lanjut ke dalam hatiku, “banyak pelajaran hidup yang bisa diambil dari kisah yang mungkin kelihatan kecil dan sepele ini.” Demikian yang segera masuk ke pikiranku kala itu. Lalu, untuk siapa pelejaran hidup itu? “Minimal untuk diriku sendiri, dan siapa tahu juga bisa untuk kebanyakan orang,” bisikku lebih jauh untuk meyakinkan.

Ilustrasi Artificial Intelligence
Aksi cium hajar aswad mungkin hal biasa untuk sejumlah orang. Mungkin, lho ya. Mungkin saja. Sebagaimana mungkin orang mempersepsinya sebagai kelaziman yang dilakukan oleh siapapun yang sedang menjalankan ibadah haji atau umrah. Namun, kalimat arahan lelaki muda usia yang menjadi asisten sang muthawwif pada briefing di atas sangat magis sekali. Sangat berenergi sekali. Karena pada hakikatnya, isinya mengandung banyak pelajaran mulia. Tentang akhlak. Tentang adab. Tentang kemuliaan yang bukan saja harus ditularkan. Namun juga diperjuangkan secara bersama-sama.
Karena itu, aku merasa perlu menuliskan kisah di atas. Kepentingannya agar kemuliaan dari pelajaran akhlak di atas bukan saja bisa diterima dan dinikmati oleh empat ibu-ibu dari rombongan isteri pimpinan satuan kerja sebuah kementerian yang berusaha dalam kehendak besar untuk bisa melakukan praktik cium hajar aswad di atas. Melainkan juga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua yang memang harus hidup dalam kemuliaan akhlak. Sebab, dalam derajat yang paling sederhana sekalipun, aku dan kita semua pun yakin, akhlak tak pernah lekang oleh waktu. Dan memang tak boleh lekang. Apalagi lalu hilang. Karena itu, membagikan kisah mulia adalah melestarikan akhlak utama.
Destruksi, Ujian Kemuliaan
Adakah orang hidup tanpa ujian? Adakah di antara manusia yang hidup tanpa dihadapkan pada ujian? Tentu saja, jawabannya tidak ada. Ya, tak pernah ada. Karena itu, kemuliaan bukan diukur dari ada atau tidak adanya ujian. Kemuliaan justeru terletak pada apa reaksi atau respon seseorang saat dihadapkan pada ujian. Reaksi terhadap ujian dimaksud akan menentukan apakah seseorang berada dalam kemuliaan atau tidak. Dengan ungkapan lain, respon terhadap ujian dimaksud akan menentukan keutamaan diri seseorang.
Hidup memang ujian. Karena itu, tak hanya pengalaman lapangan yang penting dijadikan bahan refleksi dan renungan. Kitab suci pun hadir dengan memberikan tuntunan dan sekaligus pengingat tentang pentingnya respon mulia terhadap setiap ujian yang datang di hadapan. Keutamaan akhlak mulia adalah substansi dasarnya. Lihatlah al-Qur’an Surat al-Mulk ayat 2 sebagai contohnya. Ayat ini dihadirkan untuk menjadi panduan penting tentang keutamaan akhlak mulia dalam menghadapi setiap ujian. Begini bunyinya: الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ. Terjemahannya seperti ini: “Yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya; Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.”
Ujian hidup memang beragam bentuknya. Mulai dari fitnah hingga perilaku fisik yang menyakitkan. Ujungnya memang kekejian. Tapi semua bentuk ujian itu sifatnya destruktif. Merusak dan menimbulkan kerugian. Skalanya saja berbeda-beda. Mulai dari merusak dan merugikan nama baik, hingga yang paling ekstrem adalah mengancam jiwa. Bagi pelaku praktik yang merusak dan merugikan itu, yang dilakukan bisa dianggap biasa. Karena itu, biasanya yang bersangkutan tak pernah berpikir atas kerugian yang ditanggung korban. Tapi bagi korban, kerugian yang dirasakan dari kekejian yang dilakukan oleh pelaku tentu jelas dan menyakitkan. Di titik inilah, kekejian pelaku dirasakan sama dengan destruksi yang sengaja dilesatkan.
Saat destruksi adalah ujian kemuliaan, maka akhlak mulia adalah jawaban yang diutamakan. Selainnya tentu bukan pilihan. Akhlak mulia ini bergerak baik pada wilayah hulu maupun muara. Maka, tak salah jika disebut bahwa akhlak mulia itu berawal dari pikiran. Saat pikiran mulia, tak akan muncul agenda yang melahirkan perilaku yang menyakitkan. Maka, akhlak mulia berangkat dari pikiran yang mulia. Sebaliknya, saat pikiran keji, munculnya perilaku yang keji adalah juga konsukensi lanjutan semata dari pikiran yang tak mulia itu. Karena itu, akhlak tak terpuji juga berangkat dari pikiran yang tak terpuji.

Ilustrasi Artificial Intelligence
Nah, praktik cium hajar aswad adalah bagian dari ritual ibadah di sekitar Kakbah. Biasanya dilakukan mereka yang melakukan haji atau umrah. Meskipun ekosistemnya adalah dalam kerangka ibadah, bukan berarti ritual cium hajar aswad nihil dari ujian. Tentu tidak demikian. Alih-alih, tetap saja ada ujian dalam rangkaian praktik itu. Ujian paling sederhananya adalah aksi dorongan dan tekanan fisik dari sesama jemaah yang sedang dalam kehendak yang sama untuk dapat mencium hajar aswad. Ujian yang demikian hampir tak bisa dihindari.
Tentu saja ujian dalam rangkaian praktik cium hajar aswad di atas tak sepatutnya dimaknai sebatas dalam konteks praktik ritual itu. Alih-alih, harus dilakukan pemaknaan lebih jauh ke konteks kehidupan nyata yang lebih luas. Sebab, di sana ada pelajaran akhlak mulia yang penting dipedomani dalam kehidupan bersama. Pada jenis ujian yang muncul pada rangkaian ritual cium hajar aswad saja, tuntunannya adalah tidak menyikiti sesama. Atau, juga tidak boleh membalas praktik menyakiti yang dilakukan oleh sesama jemaah. Tentu pula, tuntunan yang sama juga bisa diberlakukan pada kehidupan lainnya di luar ibadah ritual, seperti praktik cium hajar aswad di atas.
Karena itu, terhadap ujian-ujian kemuliaan di luar ibadah ritual, akhlak mulia tetap menjadi tuntutan yang diutamakan. Ujian hidup mungkin tak bisa dihindari. Termasuk praktik destruktif yang sangat merugikan hidup pribadi atau bersama. Tapi, kemuliaan justeru ada saat akhlak terpuji tetap menjadi tuntunan dalam kehidupan. Dalam bahasa ritual ibadah cium hajar aswad, dorongan fisik jangan dibalas dengan dorongan serupa. Gesekan fisik jangan dibalas dengan praktik menggesek serupa. Bahkan, jika terjadi gerakan tubuh yang menimbulkan rasa sakit jangan sampai dibalas dengan praktik menyakitkan setara. Itulah keagungan akhlak mulia. Dan itulah jawaban atas ujian hidup yang kerap ada. Maka, memperluas pelajaran dari akhlak cium hajar aswad di atas patut diperluas ke konteks kehidupan bersama yang lebih luas.
Lalu Apa Pelajarannya?
Pelajaran yang bisa ditarik dari akhlak cium hajar aswad untuk kehidupan yang lebih luas di atas, minimal, meliputi tiga. Pertama, fokuslah pada niat baik, dan jangan sampai menyakiti orang lain. Membalas saja, jangan. Itu walaupun engkau telah disakiti. Apalagi sampai harus menyakiti lebih dulu. Tentu itu lebih-lebih tak boleh terjadi. Itulah pelajaran akhlak mulia. Dengan kata lain, akhlak mulia mendorong seseorang untuk fokus pada niat baik yang didedahkan sejak dari awal. Sebab, fokus pada niat baik yang demikian harus mengalahkan semua yang sedang berada di hadapan. Termasuk perilaku menyakitkan yang oleh sesama ditimpakan.
Hidup memang ibarat berjalan. Dan niat baik adalah kompas pemberi dan sekaligus penuntun arah. Maka, dalam menempuh perjalanan, selalu menjadikan kebajikan dan atau niat baik sebagai kompas pemberi dan penentu arah adalah kemuliaan. Terjemahan konkretnya lalu seperti ini: Teruslah melangkah dalam kebajikan itu. Jika ada keburukan di hadapan, janganlah sampai keburukan itu mengalihkan perhatian dari keutamaan akhlak mulia. Bagaimana caranya? Tetaplah fokus pada kebajikan dan atau niat baik. Karena hal itu adalah awal dalam menempuh perjalanan hidup nan panjang. Jika prinsip ini menyatu dalam diri, maka seseorang akan sampai kepada tujuan kebajikan dan kemuliaan dalam kehidupan.
Terjemahan lanjutan dari prinsip hidup mulia di atas bisa dirumuskan begini: Jangan pernah membalas saat engkau mendapatkan perlakuan menyakitkan. Keburukan tak patut dibalas dengan keburukan serupa. Perlakuan menyakitkan tak perlu dibalas dengan perlakuan menyakitkan semisal. Bahkan, kekejian tak perlu dibalas dengan kekejian serupa. Sebab, keberadaan hidup adalah untuk kebajikan. Begitulah awal maksud diciptakannya kita manusia di dunia. Maka, kalau tidak bisa berbuat baik, jangan pernah berbuat buruk. Jika tak bisa membahagiakan, maka jangan sampai menyakiti. Itulah prinsip dasar hidup mulia di dunia. Dan setiap kita wajib menjaganya dalam praktik nyata.
Begitu pulalah yang diajarkan oleh praktik cium hajar aswad. Niat awal untuk berada di sekeliling Kakbah adalah untuk bisa menyempurnakan kemuliaan. Yakni, dengan mencium hajar aswad. Niat itu tak boleh ternodai oleh keburukan. Maksud awal nan mulia tak boleh terkotori oleh praktik balas dendam dalam keburukan. Walaupun dalam menjalani niat baik itu, keburukan bisa datang dari lingkungan. Berdesakan adalah situasi paling lazim yang bisa ditemukan. Terdorong oleh pergerakan orang lain adalah kenyataan yang juga tidak bisa dihindarkan. Bahkan, terkena hempasan tangan atau injakan sesama bisa jadi merupakan situasi yang tak bisa dienyahkan dari hadapan.
Tapi, lantaran fokus besarnya justeru pada kehendak untuk bisa melakukan praktik cium hajar aswad secara mulia, maka apapun keburukan di hadapan tak boleh menjadi perhatian utama. Oleh karena itu, prinsip untuk tetap fokus pada kebajikan harus selalu diutamakan. Bentuknya adalah dengan menguatkan diri pada niat awal kemuliaan. Rumus konkretnya bisa seperti ini: Abaikan apapun perlakuan buruk yang ditimpakan dengan cara menyakitkan. Jika itu bisa engkau lakukan, pasti engkau tak akan terjerumus ke dalam keburukan semisal yang oleh lingkungan sekitar, secara sengaja atau tidak, dilesatkan.
Sebab bagaimanapun, niat awal harus dipastikan tumbuh kuat dalam diri. Yakni bahwa hidup adalah untuk kemuliaan. Tak akan ada manfaat jika diri dikerumuni oleh niat dan praktik buruk yang ternistakan. Setiap diri harus menjaga kebajikan dan kemuliaan dalam hidup. Bahwa ada sesama yang sedang berperilaku buruk tak boleh mendorong kita melakukan keburukan serupa. Atau bahkan lebih lagi dari itu dari sisi ukuran. Destruksi bisa saja muncul dari perilaku sesama. Tapi, hal itu tak boleh membuat diri terhanyut dalam praktik destruktif serupa. Itulah sebuah kemuliaan.
Sebagai pelajaran kedua, untuk bisa fokus pada kemuliaan dan atau niat baik, jauhkan diri dari jebakan usia dan gender. Terjemahan lebih konkretnya begini: ambillah nilai kebajikannya, dan abaikan usia, jenis kelamin dan latar belakang pemberinya. Sebab, kebajikan bisa datang dari siapa saja. Tak pandang jenis kelamin. Bahkan juga usia. Laki atau perempuan sama-sama bisa menjadi sumber kebajikan. Tua atau muda atau bahkan anak-anak juga sama-sama bisa menjadi sarana mengalirnya kebajikan. Karena itu, belajar mengenai kebajikan tak mengenal batasan usia dan gender.
Lihatlah profil asisten muthawwif dalam kisah yang kuulas di atas. Dari sisi usia, sang asisten dimaksud masih tergolong dewasa awal. Karena memang dia masih tercatat sebagai mahasiswa S1 di Universitas Al-Azhar Mesir. Tentu karena itu, dari sisi usia dia masih tergolong belia. Sementara itu, jemaah umrah yang dia hadapi dan bantu sudah tergolong emak-emak. Karena semua mereka sudah tergolong usia mapan. Jadi, celah usia antara sang asisten muthawwif dan ibu-ibu jemaah umrah dimaksud cukup jauh. Bahkan, sang asisten itu mengakui bahwa dirinya lebih layak disebut sebagai anak oleh ibu-ibu jemaah umrah itu. Hal itu persis seperti yang dia sendiri jelaskan di uraian di atas.
Tapi toh demikian, sang asisten muthawwif itu mampu menjadi penuntun yang baik. Arahan dan tuntunannya dalam kerangka upaya para jemaah untuk bisa dan berhasil mencium hajar aswad juga diikuti dengan seksama oleh para ibu itu. Dan, akhirnya, berhasillah semua jemaah ibu-ibu itu untuk mencium hajar aswad. Tanpa harus ada praktik menyakiti terhadap sesama saat tertekan-tekan. Juga, tak ada praktik membalas kepada jemaah lain yang sempat mendorong-dorong ibu-ibu itu hingga membuat tubuh ibu-ibu itu terhuyung. Arahan sang asisten saat briefing sebelumnya menjadi penuntun kuat saat masing-masing ibu itu harus berupaya keras untuk sampai ke titik hajar aswad dan berhasil menciumnya dengan seksama secara mulia.
Keberhasilan jemaah umrah ibu-ibu dalam praktik cium hajar aswad dengan mematuhi tuntunan sang asisten muthawwif di atas memberi pelajaran penting tentang pentingnya mengambil nilai kebajikan tanpa melihat latar belakang seperti usia dan jenis kelamin. Atas dasar itu, mengabdi kepada kebajikan, karena itu adalah akhlak mulia. Tak perlu memandang usia, jenis kelamin, dan latar belakang sosial budaya. Kisah briefing dalam rangka untuk cium hajar aswad dalam kisah yang diulas di atas adalah contoh partikular tentang akhlak mulia dalam bentuk pengabdian kepada kebajikan. Kepatuhan jemaah ibu-ibu umrah kepada tuntunan sang asisten muthawwif adalah bukti konkret atas akhlaq kepada nilai kebajikan tanpa melihat jenjang usia yang berbeda. Tentu juga beda jenis kelamin.
Sebagai pelajaran ketiga, jadikan ilmu sebagai pengingat kuat untuk tetap berada dalam kebajikan. Pengalaman berumrah seperti yang disinggung di atas penting menjadi pelajaran. Ritual menjadi pengikat untuk selalu berlaku baik dengan tidak melakukan praktik buruk nan menyakitkan atau bahkan membalaskan perlakukan buruk oleh sesama dengan praktik keburukan serupa. Kalau dalam ibadah ritual saja akhlak diutamakan, maka lebih-lebih pada urusan sosial. Karena itu, dalam skala yang lebih luas, sudah sewajarnya ilmu berfungsi efektif untuk membimbing setiap pemiliknya ke arah kebajikan. Bukan saja ibadah ritual yang menimbulkan energi pendesak kebajikan, melainkan juga ilmu pengetahuan.
Karena itu, kemuliaan ilmu harus dipertunjukkan. Melalui apa? Melalui implementasi ilmu itu dalam kehidupan nyata. Sebab, naiknya indeks akademik seseorang harus pula diikuti dengan naiknya indeks kebajikan perilakunya. Hal itu ditunjukkan oleh keseharian perilaku kepada sesama. Maka, ilmu harus bisa memonitor pergerakan perilaku. Saat kualifikasi akademik makin tinggi namun perilakunya makin buruk, maka sebetulnya ilmu itu tak memberi manfaat apa-apa. Maka, kemuliaan perilaku dalam kehidupan nyata harus diawali oleh berfungsinya ilmu untuk menjadi penggerak kebajikan.
Inspirasi memang bisa dari mana saja. Juga dari apa saja. Tapi, agama dengan berbagai ritual dan tuntunannya seyogyanya memang menjadi sumber dan muara terpenting. Menceramahkannya memang mulia. Karena itu bagian dari edukasi. Tapi, mempraktikannya tetap saja merupakan pekerjaan utama semua penganutnya. Tak peduli jabatan dan profesi apapun yang sedang diemban masing-masing. Karena itu, ritual agama penting dilaksanakan. Tetapi, mengambil pelajaran dari pernik di baliknya adalah kemuliaan. Apalagi, jika kemuliaan yang dikandung tak jauh-jauh dari akhlak publik yang harus dijunjung tinggi adanya. Tentu, semua itu semulia ajaran yang dikandungnya itu sendiri.