
Ponorogo – 29 April 2026, Himpunan Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya telah menyelenggarakan Geschiedenis 2026 dengan agenda napak tilas di empat destinasi, di antaranya Makam Ki Ageng Basyariyah, Makam Bathoro Katong, Makam Agung Kiai Ageng Muhammad Besari, Masjid Jami’ Tegalsari, dan Alun-alun Ponorogo. Kegiatan ini diikuti oleh 65 peserta, 44 panitia, dan didampingi 11 dosen.
Pagi hari pukul 05.00, hujan turun mengguyur Surabaya. Meski demikian, hujan tidak menyurutkan semangat peserta untuk mengikuti rangkaian kegiatan. Setelah semua peserta, panitia, dan dosen berkumpul, pada pukul 06.15 diadakan pembukaan sebelum berangkat ke Ponorogo.

Sambutan disampaikan oleh Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam, Fazar Ramadhan, yang menyampaikan apresiasi atas partisipasi peserta. Dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Pelaksana Geschiedenis 2026, Fahmi Sahal, doa untuk keselamatan seluruh peserta sejak berangkat hingga kembali ke Surabaya.
Sambutan terakhir disampaikan oleh Wakil Dekan III, Dr. Muhammad Khodafi, S.Sos,. M.Si, beliau mengingatkan pentingnya menjaga sikap selama kegiatan. Pembukaan ditutup dengan doa yang dibacakan oleh Achmad Irfan Hamim, anggota Himpunan Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam. Setelah itu, dimulailah perjalanan menuju Ponorogo menggunakan dua bus.
Sesampainya di destinasi pertama, yakni Makam Ki Ageng Basyariyah di Sewulan, peserta disambut oleh Tour Guide sekaligus juru kunci makam, Bapak Drs. Muh. Baidowi. Peserta diajak membaca tahlil bersama lalu eksplorasi area sekitar makam. Di kompleks makam Ki Ageng Basyariyah, terdapat makam keluarga, keturunan, dan kerabat terdekat beliau.
Setelah eksplorasi, peserta diarahkan ke aula untuk mengikuti pemaparan materi. Dalam penyampaian materi, Tour Guide menjelaskan bahwa Ki Ageng Basyariah merupakan murid dari Kiai Ageng Mohammad Hasan Besari yang makamnya menjadi salah satu tujuan perjalanan. Selain itu, disampaikan pula bahwa Ki Ageng Basyariah atau yang dikenal dengan Raden Mas Bagus Harun merupakan leluhur Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Usai penyampaian materi, dilakukan penyerahan sertifikat oleh salah satu dosen Sejarah Peradaban Islam, Dr. Imam Ibnu Hajar, S. Ag., M. Ag. Kemudian sebelum perjalanan ke destinasi kedua dilanjutkan, dilaksanakan dokumentasi seluruh peserta.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke destinasi kedua, yaitu makam Bathoro Katong. Di tengah cuaca berawan, penyampaian materi dilakukan di area depan makam yang teduh oleh Tour Guide, Bapak H. Sunardi, yang menjelaskan peran besar Bathoro Katong dalam perkembangan Ponorogo. Ia memaparkan bahwa “Bathoro” bermakna penguasa, sedangkan “Katong” berarti hadir nyata di dunia.
Bathoro Katong yang bernama asli Raden Jaka Piturun dikenal sebagai adipati wilayah Wengker, yang kemudian mengubah nama daerah tersebut menjadi Ponorogo. Nama ini dimaknai dari kata “Pono” yang berarti mengetahui dan “Rogo” yang berarti jiwa. Kawasan makam Bathoro Katong terawat dengan baik, terlihat dari adanya sejumlah aturan yang harus dipatuhi demi menjaga kenyamanan para peziarah.
Setelah materi selesai, dilaksanakan penyerahan sertifikat kepada Tour Guide oleh Ketua Pelaksana dilanjutkan dengan dokumentasi. Lalu, seluruh peserta, panitia, dan dosen menerima konsumsi, kemudian melaksanakan salat dzuhur di masjid yang masih berada di area kompleks makam.

Perjalanan berlanjut ke Makam Kiai Ageng Muhammad Besari dan Masjid Tegalsari yang berada dalam satu kompleks. Materi disampaikan oleh Bapak Kunto Pramono sebagai Tour Guide destinasi dan materi berlangsung di Dalem Ageng Kiai Ageng Muhammad Besari. Dalem Ageng beliau masih terjaga dengan tanpa banyak perubahan selama tiga abad lamanya, ujar Bapak Kunto Pramono.
Di sebelah rumah Kiai Ageng Muhammad Besari terdapat musala yang didirikan oleh Kiai Ageng Muhammad Besari pada abad ke-18. Sementara itu, dengan menyeberang jalan, akan terlihat Masjid Jami’ Tegalsari yang juga didirikan oleh Kiai Ageng Muhammad Besari sekitar tahun 1724. Di area masjid, terdapat makam Kiai Ageng Muhammad Besari.
Setelah sesi materi di Dalem Ageng, peserta diberi waktu untuk melaksanakan salat ashar dan membersihkan diri sebelum melanjutkan perjalanan menuju destinasi terakhir, yaitu Alun-alun Ponorogo.
Perjalanan ditutup dengan kunjungan ke Alun-alun Ponorogo. Setibanya di lokasi, peserta diberi waktu untuk ishoma serta mengeksplorasi area sekitar alun-alun. Seluruh peserta kemudian kembali ke bus pada pukul 19.20, dan lima menit setelahnya rombongan berangkat kembali menuju Surabaya.
Pewarta: Rahmah Istiqomah.