
Oleh: Prof. Akh. Muzakki, M.Ag, Grad.Dip.SEA, M.Phil, Ph.D
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya
“Sudah 35 artikel selesai saya buat selama empat hari di sini,” begitu kalimat itu dibisikkan ke telingaku. Oleh lelaki berusia 67 tahun. Di penghujung hari keempat dari total lima hari kegiatan Pendidikan Menengah Kepemimpinan (PMK) NU. Bertempat di Hotel Horison, Gresik, Jawa Timur. Diselenggarakan oleh PCNU Gresik dan PBNU Jakarta. Tentu kalimat itu bikin aku takjub. Karena empat hari yang dia maksud adalah durasi waktu kegiatan dimaksud. Yakni dari tanggal 22 hingga 26 Juli 2026. Berlangsung setiap hari dari jam 07:30 WIB pagi hingga 01:00 WIB keesokan pagi harinya. Karena memang itu sebuah kegiatan upgrading kapasitas. Bentuknya pelatihan.
Tentu, dengan usia 67 itu, lelaki itu tak lagi bisa disebut muda. Tapi di pelatihan itu, lelaki itu menjadi peserta aktif. Dari awal hingga akhir. Tanpa ada yang bolong. Sama sekali. Terlambat pun juga tidak. Datang ke ruang setiap sesi sebelum waktu dimulai. Dan hanya akan meninggalkan ruangan saat semua sesi beres dituntaskan. Bahkan, sejatinya sejak awal acara PMKNU itu berlangsung, sejumlah peserta juga sudah mengapresiasi tingkat rajinnya lelaki itu. “Rajin sekali beliau, dan semua tugas di PMKNU dikerjakan sendiri, lho,” ujar seorang peserta. Ungkapan serupa juga kerap terdengar dengan tegasnya. Dari satu rekan peserta ke rekan lainnya. Di acara pelatihan itu. Bergantian. Satu persatu.
Disiplin yang tinggi itu sungguh pertanda teladan baik yang patut ditiru. Maka tak aneh jika lelaki itu dinobatkan sebagai peserta terbaik. Terajin. Penobatan itu diberikan saat acara penutupan. Sang MC acara penutupan itu menyampaikan begini: “Pesan dan kesan berikutnya adalah dari peserta paling rajin. Yakni Yang Terhormat Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.” Demikian yang disampaikan oleh Pak Ali Mujib, MC dan sekaligus panitia penyelenggara PMK NU pada penutupan acara pengkaderan itu di aula maqbarah Sunan Giri, Gresik, Jawa Timur. Dini hari itu pun menjadi saksi. Tepat pukul 01:40 di Hari Ahad (26 Juli 2026) itu, pengukuhan sebagai peserta paling rajin itu terjadi. Dan, lelaki yang dimaksud adalah Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA yang juga Menteri Agama RI itu.
Dan kalimat pernyataan “sudah 35 artikel selesai saya buat selama empat hari di sini” semakin melengkapi keteladanan yang diberikan. Bukan saja rajin mengikuti setiap sesi dan tahapan seperti yang menjadi keutamaan dalam mengikuti PMKNU di atas. Melainkan juga produktif dalam menyampaikan gagasan dalam bentuk tulisan. Jika dibagi ke dalam empat hari, berarti Prof. Nasaruddin Umar itu berhasil memproduksi tulisan perhari mencapai sekitar sembilan tulisan artikel. Tentu angka itu bikin takjub. Apalagi, temanya tak ada yang sama. Karena itu, tentu saja, lelaki itu pasti memutar otak kencang-kencang untuk mencari dan menuliskan tema itu untuk menjadi artikel.
Lalu, siapakah Prof. Nasaruddin Umar, lelaki yang disebut-sebut dalam uraian di atas? Jabatannya seabrek. Pasti kesibukannya juga tak terkirakan. Sebab, melekat dalam dirinya sejumlah posisi jabatan superpenting. Sebut saja jabatan Menteri Agama RI sebagai contoh paling menyolok. Di luar itu masih ada segudang jabatan mentereng lainnya. Sebut saja mulai Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Rektor Universitas PTIQ Jakarta, hingga Rais Syuriyah PBNU. Tentu, amanah jabatan itu bukan biasa-biasa. Bukan kaleng-kaleng. Masing-masing menuntut kinerja terbaiknya.
Tapi, di tengah tugas dan kewajiban yang seabrek itu, tetap saja dia mampu mempertahankan produktivitasnya dalam tulisan. Maka, pesan konkret dari praktik baik Prof. Nasaruddin Umar di atas adalah: Menulislah! Jangan malas! Dan jangan ada ghostwriter! Penulis hantu. Yakni orang yang dipekerjakan untuk membuatkan tulisan atas nama orang lain. Dia dibayar secara profesional untuk pekerjaan itu. Dan hasil pekerjaan itu ditaribusikan kepada nama yang memberinya pekerjaan itu. Dan dia sendiri tak boleh bocor ke mana-mana soal klaim kepenulisan (authorship) atas tulisan itu. Dan, Menteri Agama itu menyusun dan menuliskan sendiri gagasan-gagasannya ke dalam bentuk tulisan artikel. Tak ada ghostwriter itu.
Menulis dan Membaca
Pertanyaan pentingnya, bagaimana bisa Prof. Nasaruddin Umar seproduktif itu dalam menulis? Eiiit, sabar dulu. Tentu itu tak terjadi begitu saja. Tentu itu tak sekonyong-konyong ada. Tentu pula kecakapan mengungkapkan gagasan dalam tulisan itu tak maujud tiba-tiba. Tak ada istilah bim salabim di sana. Juga tak ada abakadabra. Yakni, kata ajaib yang layaknya ada dalam pertunjukan sulap. Atau mantra yang lazim ada dalam seni pertunjukan kaum ilusionis ternama. Ada proses yang cukup panjang. Semua dilalui bukan saja untuk masa yang telah usang. Tapi juga pada masa yang sedang dijalani. Lima hari lamanya saya punya pengalaman menawan soal praktik baik Prof. Nasaruddin Umar dalam kaitan di atas. Itu terjadi saat saya berkhidmat ke kyai yang akademisi itu dalam kegiatan PMKNU tahun 2026 di Gresik, seperti disinggung sebelumnya. Dalam lima hari itu, kebiasaan membaca dan menulis kusaksikan kuat dalam keseharian Prof. Nasaruddin Umar. Baik lewat buku cetakan maupun electronic book. Bahkan, di hadapannya selalu terdapat tiga perangkat: satu laptop dan dua tab. Satu tab untuk electronic book yang berbahasa Arab, dan satu lagi untuk yang berbahasa Inggris. Di luar itu, masih ada satu buku cetakan. Kegiatannya tak lepas dari membaca dan menulis.

Foto: Prof. KH. Nasaruddin Umar dalam Kegiatan PMKNU di Gresik (25 Juli 2026)
Kalimat simpul yang bisa kukatakan tentang keseharian Prof. Nasaruddin Umar adalah seperti ini: kecakapan untuk memproduksi tulisan dalam diri yang bersangkutan bergerak seiring dengan kemampuan untuk meresepsi pengetahuan. Kecakapan untuk memproduksi tulisan diwujudkan dengan produktivitas tulisan. Dan kemampuan untuk meresepsi pengetahuan direalisasikan melalui intensitas pembacaan yang produktif atas buku rujukan. Kedua kapasitas personal dimaksud berjalan seiring. Mengalirnya produktivitas tulisan bergerak sepadan dengan instensnya pembacaan atas ilmu pengetahuan.
Pesan implikatif dari kalimat simpulan di atas sesederhana berikut ini: Membaca saja tak cukup. Membaca itu memperkuat basis kognitif. Memperkuat modal materi dalam otak. Kalau modal materi itu tak dikeluarkan? Tentu saja tak akan muncul gagasan terstruktur dalam bentuk tulisan yang bisa dibaca orang lain. Bagaimana dengan ceramah? Ya, tentu saja ceramah itu juga menjadi sarana dan sekaligus bentuk pengungkapan gagasan. Bisa saja disebut terstruktur. Karena pasti isinya mudah juga dimengerti. Materi yang diungkapkan juga macam-macam. Itu semua pertanda bahwa ceramah bisa menjadi wujud lain dari pengungkapan gagasan terstruktur itu.
Hanya, untuk posisi sebagai kyai, orang selevel Prof. Nasaruddin Umar tak ada kesulitan sama sekali untuk mengungkapkan gagasan dalan bentuk ceramah. Karena memang siapapun bisa mendapati dan menikmati ceramahnya. Dengan mudah sekali. Di berbagai kesempatan pula. Mulai di kanal TV hingga pertemuan fisik. Beragam pula jenisnya. Mulai ceramah Jumat hingga momen keagamaan privat seperti perkawainan. Semua itu menjadi saksi betapa Prof. Nasaruddin Umar memiliki jam terbang yang tinggi dalam urusan ceramah keagamaan.
Tapi, untuk menuliskan gagasan, nah ini baru keteladanan yang patut menjadi perhatian bersama. Apa itu? Mampu membuat tulisan secara cepat dan istiqamah namun mengandung materi yang mapan serta relevan dengan kebutuhan terkini. Nah, itu yang top. Itu yang luar biasa. Di tengah mengikuti kegiatan PMKNU yang superpadat saja, masih mampu membuat tulisan sebanyak 35 buah. Dalam waktu empat hari pula. Tentu itu produktivitas tulisan yang membanggakan sekali. Patut menjadi teladan semua profesi. Tak perlu ada yang terkecuali.
Role Model
Mungkin ada yang akan bilang begini: “Aaah, dia kan dosen? Dia kan orang kampus? Wajarlah bisa bikin tulisan sebenyak itu dalam waktu singkat!” Eiiit, entar dulu. Tenang. Justeru dari pertanyaan ini, pembahasan menjadi makin menarik. Sebab, tak semua dosen memiliki daya tulis yang baik. Tak semua orang kampus memiliki kecakapan menulis yang baik. Tak semua akademisi memiliki produktivitas tulisan yang tinggi. Buktinya, tak sedikit menulis itu hanya dianggap sebagai beban. Melakukannya hanya untuk menggugurkan kewajiban. Mungkin saja, jika tak ada kewajiban publikasi, mereka tak merasa harus untuk menulis. Tak merasa perlu lagi untuk membuat tulisan.
Karena itu, keberadaan sang dosen yang demikian tak terwakili dalam tulisan. Itu walaupun menulis menjadi awal untuk publikasi. Dan publikasi sendiri menjadi ruh akademisi. Tapi, faktanya, tak selalu seperti semestinya itu. Tentu saja ini ironi besar. Lalu, pertanyaannya, jika ada orang atau warga masyarakat ingin mengetahui atau mencari informasi tentang bagaimanakah pikiran-pikiran sang dosen, ke mana harus pergi? Ke tempat ibadah? Ke toko buku? Atau ke warung kopi? Di mana warga masyarakat bisa mengetahui pikiran-pikiran sang akademisi itu jika menulis tak menjadi ruh aktivitas sang akademisi itu?
Maka, praktik menulis secara produktif Prof. Nasaruddin Umar yang bisa kurekam dalam pembahasan tulisan ini seakan mengirimkan pesan sesingkat ini: Menulislah sesibuk apapun! Bahkan, jadikan kebiasaan menulis sebagai bagian dari kedirian! Karena itu, perlu dicamkan dalam diri masing-masing prinsip berikut ini: “Menulislah, maka engkau ada.” Berhenti menulis atau bahkan tak menulis sama sekali sama dengan meniadakan diri. Prinsip ini harus kuat ditunaikan. Sesibuk dan setinggi apapun aktivitas keseharian. Adapun membaca menjadi bagian integral dari praktik menulis yang diidamkan. Kepentingannya agar kemampuan reseptif dalam bentuk membaca dan produktif dalam bentuk menulis bisa bergerak seiring.
Tentu, kemampuan reseptif dan produktif di atas tak ayal menempatkan Prof. Nasaruddin Umar sebagai role model. Tentu, role model bagi akademisi. Serta bagi kita semua. Karena, bagaimanapun, tugas dan kewajiban akademisi secara partikular tak jauh-jauh dari dua unsur ini: membaca dan menulis. Meneliti dan mempublikasi adalah konsekuensi logis dari kecakapan membaca dan menulis dimaksud. Apalagi, posisi Prof. Nasaruddin Umar sebagai seorang kyai membuatnya juga tak bisa jauh-jauh dari ceramah agama. Artinya, sebagai pribadi yang memerankan dua fungsi, kyai dan akademisi, Prof. Nasaruddin Umar itu mampu menampilkan diri untuk keduanya secara apik.
Mencari role model, karena itu, tak perlu jauh-jauh. Carilah dari lingkungan terdekat. Dan untuk kepentingan itu, Prof. Nasaruddin Umar bisa menjadi teladan. Di lingkungan terdekat kita, yang bersangkutan bisa menjadi dan menampilkan diri sebagai role model itu. Mungkin bisa jadi ada figur-fugur lain di lingkungan terdekat kita masing-masing. Dan mereka bisa menjadi role model kita. Dan, Prof. Nasaruddin Umar bisa menjadi pengisi daftar salah satu figure terdekat yang memenuhi kriteria role model itu. Tuga skita berikutnya, menjadikan praktik baik dari role model itu sebagai rujukan dalam tindakan keseharian.
Lalu Apa Pelajarannya?
Pelajarannya, minimal, meliputi tiga. Pertama, jangan pernah berhenti menuliskan apa yang menjadi celah di antara yang ada. Jika berhenti menulis, maka berhenti pula kontribusi akademik kepada penciptaan kemaslahatan bersama. Menulis itu, pada hakikatnya, kerja untuk melanjutkan tingkat kebermanfaatan diri untuk kemaslahatan bersama. Terlepas apapun bidang dan materi yang dituliskan. Tingkat kebermanfaatan itu mungkin dirasakan kala tulisan itu dilahirkan. Mungkin juga baru akan dirasakan saat tertentu di kemudian hari. Mungkin bagi sebagian orang, tingkat kebermanfaatan dimaksud dinilai biasa-biasa saja. Tapi, bagi sebagian lainnya, tingkat kebermanfaatan itu dirasakan tinggi sekali. Maka, menulislah, dan biarkan orang lain yang merasakan manfaat isinya.
Karena itu, jangan pernah terbebani dengan soal isi. Asal, yang ditulis dalam kerangka promosi atau kampanye nilai positif. Jika materi yang ditulis mengandung nilai positif, maka sejarah yang akan mencatatnya sebagai penumbuh kebajikan. Tengoklah praktik baik Prof. Nasaruddin Umar. Sejumlah 35 artikel yang dia tulis dan selesaikan dalam empat dari total lima hari selama mengikuti kegiatan PMKNU di Gresik seperti diuraikan sebelumnya, tentu, meliputi materi dan tema yang beragam. Cakupannya pun, bahkan, sangat luas. Semua artikel itu disusun untuk merespon masalah atau isu tersendiri. Dan tentu pula, artikel-atikel itu dihadirkan untuk memberi solusi atas permasalahan keagamaan, kemasyarakatan dan kebangsaan yang selama ini menjadi perhatian besar dalam hidupnya.
Kedua, jadikan membaca dan menulis sebagai irama hidup yang seimbang. Membaca, tentu saja, baik. Tapi belum sempurna. Karena, membaca hanya mempertebal isi otak saja. Nah, saat isi otak makin memadai dan bahkan cenderung menuju penuh, maka apa yang ada dalam otak perlu dilakukan reproduksi. Caranya adalah diwujudkan dalam bentuk produksi gagasan. Bisa dalam versi tulisan maupun ceramah lisan. Itu juga yang dicontohkan Prof. Nasaruddin Umar dengan intensitas membaca dan produktivitas tulisan selama mengikuti kegiatan lima hari PMKNU di Gresik seperti diuraikan sebelumnya. Hanya saja, produksi gagasan dalam bentuk tulisan dapat memberikan ruang yang lebih leluasa kepada mereka yang mengkonsumsi untuk melakukan refleksi mendalam (deep reflection).
Namun ceramah terus dan atau menulis terus juga tidak lengkap meskipun sudah baik. Sebab, diri sendiri perlu untuk mengasup gizi kebajikan dari sesama. Minimal, meng-update apa yang telah ada. Sebab, perkembangan ilmu pengetahuan sangat cepat sekali. Saat update telat dilakukan, diri akan merasa benar sendiri. Karena yang dimiliki akan dianggap sebagai perihal yang sudah final. Akhirnya, akan timbul kecongkakan intelektual. Minimal, akan muncul penyakit self-pride yang berlebihan. Padahal, setiap diri perlu melakukan update informasi dan sekaligus refleksi diri tanpa henti. Karena itu, membaca dan menulis perlu diseimbangkan dalam kapasitas yang sama-sama besar.
Ketiga, jangan jadikan kesibukan sebagai alasan pemakluman untuk malas menulis. Bukankah makin sibuk berarti akan makin banyak materi yang bisa ditulis? Bukankah makin banyak masalah, akan makin banyak input materi yang bisa ditulis? Tentu prinsip ini sangat ideal sekali. Mungkin isu sentralnya selalu dikaitkan dengan persoalan keterbatasan waktu. Sering akhirnya terdengar omongan seperti ini: makin sibuk, makin nggak punya waktu. Makin banyak jabatan, makin terbatas waktu. Atau bahkan, makin tinggi kesibukan atau makin banyak jabatan, makin hilang waktu luang. Lalu, kesibukan dan atau jabatan dijadikan sebagai excuse atau alasan pembenar untuk malas menulis. Sebagai gantinya, ghostwriter menjadi andalan. Praktik baik yang dilakukan Prof. Nasaruddin Umar dengan intensitas bacaan dan produktivitas tulisan selama mengikuti kegiatan lima hari PMKNU di Gresik seperti diuraikan sebelumnya memberikan pelajaran menarik. Yakni bahwa kesibukan bukan alasan untuk malas menulis. Tingginya jabatan bukan alasan untuk tidak produktif dalam melahirkan gagasan. Lahirnya 35 artikel dari tangannya selama empat hari dari total lima hari berkegiatan di PMKNU du Gresik di atas adalah bukti bahwa melahirkan gagasan dalam bentuk tulisan tak dapat dihalangi oleh kesibukan. Apalagi, di antara praktik menulis itu, yang bersangkutan juga sangat intens membaca karya-karya dalam Bahasa Indonesia, Arab dan Inggris.

Masihkah ada di antara kita yang malas menulis? Masihkah ada yang menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk malas menulis? Masihkan ada yang menjadikan jabatan sebagai excuse untuk tidak produktif menulis? Jika jawaban atas semua pertanyaan itu iya, maka lihatlah figur-figur semacam Prof. Nasaruddin Umar. Perhatikanlah praktik baik mereka. Selalu aktif menulis. Bahkan, kesibukan tak menjadi alasan untuk malas menulis. Jabatan juga bukanlah excuse untuk untuk tidak produktif menulis. Sibuk tapi tetap menulis. Memiliki jabatan tinggi tapi juga tetap memproduksi tulisan.
Kalau masih ada yang beralasan sibuk atau sedang menjabat hingga menjadi malas menulis atau lemah dalam produksi tulisan, lihatlah Prof. Nasaruddin Umar di atas. Sudah barang tentu juga figur-figur lain yang serupa. Nama yang disebut secara partikular dalam kaitan ini adalah seorang Menteri. Dia juga Imam Besar Masjid Nasional Istiqlal Jakarta. Dia masih tercatat sebagai rektor Universitas PTIQ Jakarta. Dia juga masih menjadi Ketua BP4 (Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan), organisasi sosial keagamaan yang menjadi mitra resmi Kementerian Agama RI. Tapi, hanya dalam waktu empat hari saja selama mengikuti pendidikan menengah kepemimpinan, 35 artikel lahir dari tangannya.
Lalu, apa lagi yang layak menjadi alasan bagi kita untuk tidak produktif dalam menulis? Tentu saja jawabannya tak ada yang layak jadi alasan. Maka, tak perlu lagi menunggu harus diperingatkan. Tak perlu lagi menanti untuk diberi teguran. Jika kemuliaan itu bisa ditingkatkan. Melalui praktik menuliskan gagasan. Apalagi, kemuliaan menulis telah lama menjadi penyemai mutiara hikmah yang menjadi pegangan. Dari dulu hingga waktu belakangan. Lihatlah sejumlah quote yang beredar popular. Dari kalangan ulama terdahulu, sebagai misal, al-Imam al-Gazhali (lahir 450 H / 1058 M; wafat 505 H/1111 M) menyatakan: “Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.” Ini berarti, produktif menulis akan mengangkat harkat dan martabat pelakunya di tengah masyarakat.
Maka, pantas sasterawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer (lahir 6 Februari 1925; wafat 30 April 2006) menurunkan resep kemuliaan begini: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Kata mutiara ini tak ayal mengirimkan pesan penting: menulis akan mencatatkan nama pelakunya ke dalam sejarah kemanusiaan, dan meninggalkannya akan menenggelamkan pelakunya ke dalam lapisan dasar laut sejarah. Karena itu, “menulislah, maka engkau akan abadi,” kata Taufiq Ismail yang dikenal sebagai penyair Indonesia Angkatan 66. Maka, jika membaca itu bekerja untuk kelangsungan, menulis itu bekerja untuk keabadian.