Menjadi Pembelajar Sejati

UIN Sunan Ampel Surabaya
July 31, 2026

Menjadi Pembelajar Sejati

Oleh: Prof. Akh. Muzakki, M.Ag, Grad.Dip.SEA, M.Phil, Ph.D

Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya

Kemuliaan itu harus dibagikan. Agar bisa menjadi pelajaran. Untuk kepentingan melangsungkan hidup dalam kebajikan. Begini ceritanya. Pada 22-26 Juli 2026, berlangsunglah sebuah kegiatan upgrading kapasitas. Bentuknya Pelatihan. Namanya Pendidikan Menengah Kepemimpinan (PMK) NU. Bertempat di Hotel Horison, Gresik, Jawa Timur. Diselenggarakan oleh PCNU Gresik dan PBNU Jakarta. Sore itu (22 Juli 2026), berlangsung acara pembukaan. Tiga tokoh besar ada di acara itu. Dalam kapasitasnya masing-masing. Ada KH. Masyhuri Malik. Seorang kyai ahli pelatihan dari PBNU. Ada juga KH Kikin Abdul Hakim selaku Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur.

Selain kedua kyai tersebut di atas, ada pula Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA. Selain sedang menjabat sebagai Menteri Agama RI, tokoh ini kini juga menjadi Rais Syuriyah PBNU. Sebelumnya, pernah menjabat sebagai Katib Aam PBNU. Tentu, jabatan-jabatan itu begitu dimuliakan di organisasi keulamaan itu. Apalagi, perjalanan karir keorganisasiannya secara personal di NU itu selalu berada di jajaran Syuriyah. Yaitu, bagian kepemimpinan yang sangat dihormati. Itu karena Syuriyah merupakan pimpinan struktural tertinggi di NU. Lebih dari itu, isinya adalah para kyai kenamaan. Yang sudah terakui kredibilitasnya.  

Bedanya dengan Kyai Masyhuri Malik selaku instruktur dan Kyai Kinin selaku pemberi sambutan pembukaan, di kegiatan PMKNU itu Prof Nasaruddin Umar justeru menjadi peserta aktif. Bukan pemberi sambutan. Apalagi instruktur. Bukan. Sama sekali bukan. Namun, lantaran sederet pengalaman jabatan terhormat di NU itu, penghormatan pun mengalir. Kyai Kikin dalam sambutannya selaku Ketua PWNU Jawa Timur, sebagai misal, menyampaikan begini: “PMKNU kali ini istimewa, karena pesertanya ada yang istimewa, Prof Nasaruddin Umar.” Peserta pun tepuk tangan. Karena mereka pun juga tak pernah membayangkan bahwa mereka berada satu forum bersama Prof Nasaruddin Umar. Sama-sama sebagai peserta aktif PMKNU itu.   Lalu, usai menyebut nilai istimewa dari keberadaan PMKNU di Gresik itu, Kyai Kikin dalam sambutannya sore itu melanjutkan pernyataannya sebagai berikut: “Harusnya, Prof Nasar ini mendapat privilege, nggak perlu ikut PMKNU.” Privilege ini berarti perlakuan khusus yang tampak dipandang oleh Kyai Kikin bisa menggugurkan kewajiban mengikuti kegiatan kaderisasi PMKNU. Lalu dalam hitungan detik, Kyai Masyhuri Malik yang duduk di deretan kursi pimpinan di bagian depan dan bersebelahan dengan Kyai Kikin itu pun menyahut: “Beliau nyontohin. Ya, nyontohin [semua kader NU].” Prof Nasaruddin Umar yang duduk di deretan kursi peserta hanya tersenyum. Lalu, sejurus kemudian, dia merespon apresiasi Kyai Kikin dan Kyai Masyhuri Malik itu dengan kalimat: “[Saya] menimba ilmu, nambah ilmu.”

Foto: KH Kikin Sedang Memberi Sambutan [Kiri] dan Pose Peserta PMKNU Gresik (22 Juli 2026)

Allah karim. Subhanallah. Sore itu, saya menjadi saksi mulianya tiga kyai hebat itu. Begitu utama dan terpujinya akhlaq ketiga kyai besar itu. Saya beruntung sekali berada di kegiatan PMKNU kali itu. Sebab, privilege atau perlakuan khusus yang disebut-sebut oleh Kyai Kikin dan juga Kyai Masyhuri Malik seharusnya tersedia untuk Prof. Nasaruddin Umar tak diambilnya. Tak digunakannya. Tak dinikmatinya. Padahal, rekam jejak dan pengalaman jabatan tingginya di PBNU memungkinkan untuk mendapatkannya. Tapi toh, tetap saja Prof. Nasaruddin Umar tak menempuh jalan itu.

Alih-alih, bahkan, dalam realitasnya dia hadir untuk mengikuti rangkaian kegiatan PMKNU itu seluruhnya. Ya, semuanya. Sepenuhnya. Dari awal hingga akhir. A to Z, kata orang Barat. Tak ada satu sesi pun terlewatkan. Dari registrasi awal sebelum pembukaan hingga penutupan. Tanpa bolong satu pun. Bahkan, kepesertaan Prof. Nasaruddin Umar di kegiatan PMKNU kala itu bukan tiba-tiba. Bukan diselip-selipkan. Bukan dipaksa-paksakan. Apalagi hingga harus menggeser calon peserta lain. Tidak. Dan sama sekali bukan. Semua dilakukan sebagaimana lazimnya. Seluruh prosesnya diikuti. Sesuai prosedur normal. Mulai pendaftaran sebagai calon peserta. Bahkan, namanya tercatat di deretan calon peserta bagian tengah ke awal. Itu artinya, tak ada yang main sulap. Semua dilakukan sebagaimana lazimnya. Diniatkan dari permulaannya.   

Keteladanan Itu Dari Atas

Hal yang menarik secara spesifik dan penting untuk diulas adalah bagaimana Kyai Masyhuri Malik dan Prof. Nasaruddin Umar sendiri merespon pernyataan Kyai Kikin di atas. Mengkonversi privilege dengan kesediaan untuk hadir secara penuh sebagai peserta aktif PMKNU dinilai oleh Kyai Masyhuri Malik sebagai tindakan nyontohin. Dengan kalimat “nyontohin [semua kader NU]”, seakan Kyai Masyhuri Malik itu ingin mengatakan begini: “Wahai seluruh kader NU, jangan pernah enggan, apalagi males-malesan untuk ikut PMKNU. Lihatlah Prof. Nasaruddin Umar. Meskipun rekam jejaknya sebagai pemimpin elit di PBNU terjaga, lebih-lebih kini menjabat sebagai Menteri Agama, tetap saja dia menyerahkan diri untuk ikut dan terlibat menjadi peserta aktif PMKNU.”     

Meskipun kutipan pernyataan di atas adalah kalimat pengandaian, satu hal yang tampak pasti ingin dipesankan oleh Kyai Masyhuri Malik: hadirnya Prof. Nasaruddin Umar sebagai peserta aktif PMKNU itu patut diteladani oleh semua kader NU. Tindakannya dinilai patut menjadi contoh bersama. Tapi toh demikian, tokoh NU yang sedang menjabat sebagai Menteri Agama itu tidak tampak jumawa. Apresiasi dua kyai besar terhadap dirinya tak membuatnya tinggi hati. Apalagi congkak. Alih-alih, dia tampak tetap andap asor. Tetap merendah. Tetap tawadlu’. Itu jelas sekali tergambar dari responnya. Baik dalam bentuk gestur tubuh maupun kalimat yang diungkapkan. Itulah keteladan dari atas. Ya, dari figur yang sudah sukses dalam karir organisasi dan jabatan profesional.  

Hanya saja, secara partikular, kalimat yang keluar dari Prof. Nasaruddin Umar sebagai respon terhadap apresiasi dan penghormatan dua kyai terhadapnya di atas justeru membuat praktik konversi privilege yang dilakukan dengan kehadiran sebagai peserta aktif PMKNU semakin menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Menarik untuk apa? Menarik untuk menjadi pelajaran bagi dunia pendidikan. Sebab, di dalam peristiwa itu terdapat muatan materi yang sangat bagus sekali untuk kepentingan edukasi publik. Kalimat “[Saya] menimba ilmu, nambah ilmu” yang diungkapkan justeru memberi bukti konkret atas daya tariknya bagi dunia pendidikan dimaksud.        Apalagi, bukan kali ini saja Prof. Nasaruddin Umar menyatakan prinsip itu. Minimal, saya mencatat satu peristiwa lebih dulu sebagai bukti bahwa dia pengamal langsung atas prinsip itu. Dalam catatanku, substansi spirit hidup serupa sebelumnya telah pula dia kampanyekan. “Jangan pernah berhenti jadi santri.” Begitu salah satu kalimat yang menjadi pesan hidup itu. Aku mencatat betul kalimat ini. Jelas terdengar saat disampaikan. Dan aku pun mencatatnya di note HP-ku. Kalimat itu disampaikan dalam pertemuan silaturahim dan pembelajaran umum di sebuah aula pertemuan di Hari Sabtu, 20 Juni 2026. Di sebuah pesantren besar. Pesantren Ar-Risalah Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Begitu nama pesantren itu luas dikenal. Kata “santri” itu disebut untuk menunjuk kepada aktivitas belajar tanpa henti. Ya, belajar yang berkelanjutan.

Pesan “belajar tanpa henti” dan atau “belajar yang berkelanjutan” di atas tampak kuat menjadi perhatian besar Prof. Nasaruddin Umar itu. Digelorakan dalam lebih dari satu kesempatan. Pertanda ada atensi di situ. Bahkan lebih jauh, dia melanjutkan pesan “Jangan pernah berhenti jadi santri” yang disampaikan di Pesantren Ar-Risalah Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, di atas dengan arahan konkret berikut ini: “Meskipun menjadi pejabat, termasuk menjadi rektor, jangan pernah berhenti belajar.” Begitu lebih lanjut Menteri Agama itu mengingatkan semua yang hadir di aula pesantren dimaksud.

Lebih jauh, Prof. Nasaruddin Umar melihat prinsip hidup yang demikian itu sungguh sangat penting diamalkan. Sangat mendesak dipraktikkan. Hanya pertanyaannya, mengapa dan untuk apa pentingnya? Menteri Agama itu pun memberikan jawaban panduan seperti ini: “Agar kita tidak pernah berpuas diri.” Sebab, ujarnya lebih lanjut, jika sikap berpuas diri itu telah menjangkiti, maka “lalu lahir congkak diri.” Sederhana sekali penjelasannya. Berpuas diri berarti berhenti belajar. Orang yang berhenti belajar, implikasinya jelas ganda: ilmunya tak bertambah, dan sebagai gantinya tumbuhlah kecongkakan akibat perasaan cukupnya padahal ilmunya telah stagnan.

Panggilan Pembelajar Sejati

Apa yang disampaikan dan sekaligus diamalkan secara langsung oleh Prof. Nasaruddin Umar di atas, sejatinya, merupakan pesan panggilan untuk menjadi pembelajar sejati. Secara partikular, tanda dari pembelajar sejati adalah profil seorang individu yang senantiasa “belajar tanpa henti” dan “belajar yang berkelanjutan”. Sikap hidup seperti ini diibaratkannya dengan figur santri. Seperti diuraikan sebelumnya, santri adalah simbol belajar tanpa henti. Simbol belajar yang berkelanjutan terus-menerus. Penyebutan kalimat “jangan pernah berhenti jadi santri” adalah panggilan untuk terus belajar tanpa henti. Dan, itu pesan mulia untuk menyempurnakan kebajikan diri.    

Itulah rumus konkret dari pembelajar sejati. Sejumlah contoh terukur bisa diturunkan untuk memudahkan penerjemahan nyatanya. Meskipun sudah menjadi kyai, sebagai contoh, jiwa santrinya tak sepatutnya luntur. Jiwa pengembara ilmunya tak pernah hanyut. Jiwa pembelajar berkelanjutannya tak pernah hilang. Juga, meskipun sudah menjadi pejabat, sebagai contoh lain, tak boleh berhenti belajar. Tak boleh males-malesan untuk upgrade kapasitas diri. Tak boleh menolak untuk selalu belajar. Sebab, ilmu selalu berkembang. Cepat sekali pula. Contoh lain bisa saja juga dikutip di sini. Tapi pesannya satu: jangan pernah berhenti belajar.

Maka, kalau seseorang berhenti belajar, maka ilmunya akan makin terbatas. Dan itu sangat berbahaya sekali bagi diri yang bersangkutan. Sebab, perubahan begitu cepat. Di bidang apapun. Termasuk yang berdampak pada perkembangan ilmu pengetahuan. Langsung atau tidak langsung. Karena itu, kalau seseorang berhenti belajar, dia akan ketinggalan zaman beserta perkembangan terkininya. Yang tersisa pada diri orang yang demikian hanya perasaan saja bahwa dia pernah punya ilmu. Padahal, ilmu itu bisa saja telah usang atau telah mengalami perubahan yang signifikan. Akhirnya, tak ada updating dan upgrading atasnya.  

Maka, pembelajar sejati adalah mereka yang melakukan praktik belajar secara terus-menerus melintasi batas usia dan sekat jenjang jabatan profesional. Praktik belajar berkelanjutan tanpa henti senantiasa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ideal dalam hidup. Yakni, sukses untuk menjadi pembelajar sejati. Dalam kaitan itu, maka usia bukanlah penghalang. Pertambahan umur tak akan menghalangi diri untuk selalu menambah ilmu. Hal ini berarti bahwa senioritas tak lalu membuat seseorang layak untuk berhenti belajar. Juga, jabatan tinggi yang telah diraih tak lalu membuatnya “halal” untuk berhenti belajar. 

Praktik yang diamalkan oleh Prof. Nasaruddin Umar seperti diuraikan di atas menjadi bukti konkret bagaimana menjadi pembelajar sejati. Yakni, bagaimana usia dan jenjang jabatan profesional tak harus menghalangi kehendak untuk terus belajar. Kepentingannya adalah untuk meng-upgrade kapasitas diri. Meminjam bahasa Prof. Nasaruddin Umar seperti dijelaskan sebelumnya, kepentingan untuk meng-upgrade kapasitas diri dimaksud digambarkan dengan praktik menimba dan menambah ilmu. Diksi “menimba” dan “menambah” ini menandakan kehendak untuk meningkatkan kapasitas diri.

Itulah substansi dasar dari pembelajar sejati. Yakni, pembelajar yang tak pernah mengenal kata henti. Pembelajar yang tak pernah mengenal kata emoh untuk belajar kembali. Pembelajar yang tak pernah mengenal kata cukup, atau bahkan enggan, untuk terus-menerus melakukan praktik upgrade kapasitas diri. Tak pernah ada alasan pembenaran yang bisa digunakan untuk melegitimasi praktik henti belajar. Termasuk utamanya adalah usia dan jenjang jabatan profesional.

Dan, sekali lagi, pelajaran hidup itu telah dipertunjukkan oleh Prof. Nasaruddin Umar. Meskipun jabatannya top dan segudang, yakni mulai dari Imam Besar Masjid Istiqlal sampai Menteri Agama, dia tetap menyediakan diri untuk ikut sebagai peserta aktif pelatihan. Tanpa bolong. Tanpa bolos. Tanpa telat. Satu sesi pun. Juga, meskipun usianya sangat senior dan telah mendekati usia 70 tahun, tapi dia tak pernah mengendorkan semangatnya untuk terus belajar dengan mengikuti pelatihan yang menghabiskan waktu lima hari berturut-turut itu. Itulah contoh konkret dari praktik pembelajar sejati. Tak kenal usia dan jenjang jabatan profesional. Terus-menerus. Tanpa henti.

Lalu Apa Pelajarannya?

Dengan senioritas usia dan tingginya jabatan yang sedang diemban Prof. Nasaruddin Umar seperti disinggung di atas, siapapun pasti tahu bahwa para instrukur pelatihan PMKNU di atas usianya lebih muda atau minimal setara dengannya. Bahkan, sebagian malah pernah menjadi murid dan atau yuniornya di organisasi. Juga menjadi bawahannya dalam struktur jabatan publik. Tapi toh, dia tak pernah enggan untuk belajar dari mereka-mereka itu. Tetap menyediakan diri menjadi peserta aktif. Tanpa bolos. Tanpa bolong. Satu sesi pun, seperti diuraikan di atas.

Maka, dari kisah di atas, penting diambil pelajaran tentang bagaimana menjadi pembelajar sejati. Praktik menirunya tentu juga gampang sekali. Sebab, semua itu sudah dicontohkan langsung oleh Prof. Nasaruddin Umar sebagai figur panutan. Mungkin bisa juga oleh yang lain-lain. Tapi, kisah yang diulas dalam tulisan ini berbasis pengalaman konkret. Pelaku utamanya adalah orang yang dari sisi usia sangat senior. Jabatannya pun segudang. Top-top pula semuanya. Lebih dari itu, figur itu sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Karena dia adalah Menteri Agama yang juga Imam Besar masjid nasional Istiqlal serta Guru Besar dari kampus Islam negeri terbaik di tanah air. Juga masih tercatat sebagai rektor kampus Islam spesialis pengkaji al-Qur’an.

Minimal, ada tiga pelajaran utama yang bisa dipetik dari kisah mengenai pembelajar sejati di atas. Pertama, tetaplah belajar meski sedang memangku jabatan tinggi sekalipun. Membaca buku tetap penting. Menuliskan gagasan ke dalam bentuk tulisan runtut nan akademis juga perlu. Bahkan, mengikuti kegiatan pelatihan yang dapat meningkatkan kapasitas internal diri sendiri juga sangat dibutuhkan. Tak ada kata berhenti belajar. Sesibuk dan setinggi apapun jabatan. Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar, telah memberi pelajaran. Kehadirannya sebagai peserta aktif di PMKNU di Gresik tak bisa ditolak sebagai contoh dari praktik baik tentang rumus tak pernah berhenti belajar itu.

Praktik terus belajar di atas adalah bentuk perwujudan dari karakter pembelajar sejati. Sebaliknya, berhenti belajar justeru akan menjauhkan seseorang dari idealisme sebagai pembelajar sejati itu. Sederhana sekali penjelasannya. Hidup itu selalu berkembang. Bukan ke belakang, melainkan ke depan. Bukan ke masa lalu, melainkan ke masa depan. Bukan sekadar mengenang, melainkan lebih-lebih merencanakan. Saat perkembangan hidup itu bergerak ke perubahan yang besar, maka tak ada cara lain kecuali melakukan dua hal: beradaptasi dengan perkembangan baru dan sekaligus menavigasi perkembangan baru itu ke arah yang lebih baik. Berhenti belajar hanya akan membuat seseorang telat atau bahkan gagal sama sekali untuk memenangi masa depan.     Kedua, untuk optimalisasi usaha menjadi pembelajar sejati, jangan pernah mengandalkan orang lain. Semua seharusnya dilalui sendiri. Dialami sendiri. Dipraktikkan sendiri. Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar, memberikan keteladanan kepada kita semua. Seluruh tugas pekerjaan pembelajaran di PMKNU dilahapnya. Bahkan, tugas-tugas kelompok selesai di tangannya. Atau selesai dengan kekuatan gagasan dan tindakannya. Hingga seluruh anggota kelompok itu selalu bahagia jika bersama lagi dengan Prof. Nasaruddin Umar dalam tugas kelompok pembelajaran berikutnya.

Foto: Gambar Contoh Kegiatan Tugas Kelompok di PMKNU Gresik (22 Juli 2026)

Untuk menjadi pembelajar sejati, tak perlu ada proses yang di-skip hanya karena jabatan tinggi yang sedang diemban. Menyerahkan pekerjaan teknis kepada struktur di bawahnya hanya akan menjauhkan seseorang dari proses mengalami sendiri. Padahal, pembelajar sejati justeru membutuhkan pengalaman langsung. Sebab, pengalaman langsung itu akan memberikan insight (pemahaman atau wawasan mendalam) untuk lahirnya kesadaran baru menuju kematangan perilaku.  Mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan tak membantu mewujudkan kematangan perilaku itu. Dan, itu bukan ajaran pembelajar sejati.

Ketiga, tetaplah santun dan tawadlu’ dalam mengikuti proses pembelajaran apapun meskipun sedang mengembang amanah jabatan tinggi. Prinsip ini dibutuhkan untuk mengkondisikan diri menjadi pembelajar sejati. Sebab, bagian dari kesejatian itu adalah kematangan perilaku. Lalu, bagian penting dari kematangan perilaku itu adalah kesantunan. Maka, tetap tawadlu dan andap asor adalah terjemahan langsung dari kebutuhan terhadap pemenuhan prinsip kesantunan dimaksud. Tetap rendah hati adalah kunci bagi lahirnya kesantunan di ruang publik.

Hanya saja, saat kesantunan justeru berasal dari, dan atau dilakukan oleh, mereka yang dalam posisi di atas, tentu makna yang ditimbulkan akan sangat jauh melebihi praktik yang sama oleh mereka yang tidak dalam posisi itu. Sebab, kesantunan akan diuji secara kuat justeru saat amanah jabatan ada di tangan. Lebih-lebih jabatan tinggi. Lulus berarti santun sejati. Gagal bisa dimaknai sebagai kegagalan biasa. Ya, dinilai lazim sebagai konsekuensi jabatan publik yang sedang diemban. Frase “posisi di atas” berarti posisi dominan dalam struktur organisasi dan jabatan. Dia bisa memengaruhi orang-orang yang berada di bawah struktur kepemimpinanya.     

Semua orang bisa menjadi pembelajar. Tapi tidak setiap mereka bisa menjadi pembelajar sejati. Sebab, ketentuan berlaku. Conditions apply, begitu ungkapan lazimnya dalam dunia pemasaran. Yang paling mendasar, pembelajar sejati tak pernah mengenal kata henti dalam berilmu. Alih-alih, belajar terus diberlanjutkan. Melintasi batas usia dan sekat jenjang jabatan profesional. Selalu “menimba” dan “menambah” ilmu, seperti dipertunjukkan oleh Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar, adalah langkah konkret yang bisa digambarkan untuk menjadi pembelajar sejati itu.

Tag Post :

uinsa, UINSAHebat

Categories