Mengulik Identitas Perempuan Madura Pesisir dalam Ragam FGD Penelitian MoRA 2026 Seri Tapal Kuda

UIN Sunan Ampel Surabaya
July 20, 2026

Mengulik Identitas Perempuan Madura Pesisir dalam Ragam FGD Penelitian MoRA 2026 Seri Tapal Kuda

Oleh; Wahyu Ilaihi

Sepanjang bulan Juni hingga Juli 2026, tim peneliti MoRA UIN Sunan Ampel sukses menggelar rangkaian Focus Group Discussion (FGD) lapangan di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur, tepatnya di Banyuwangi, Probolinggo, dan Situbondo. Agenda intensif ini merupakan bagian pertama dari penelitian dua seri besar yang dirancang untuk memotret realitas sosial masyarakat pesisir. Setelah merampungkan seri Tapal Kuda, tim peneliti dijadwalkan untuk melanjutkan seri kedua di jantung Pulau Madura pesisir, yang mencakup wilayah Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Penelitian ini secara khusus memotret dinamika sosial yang dinamis melalui topik besar: “Identitas Perempuan Madura Pesisir dalam Ruang Domestik dan Publik: Gender, Pendidikan, Kepemimpinan, Tradisi Bekerja, Digitalisasi dan Perubahan Sosial di Tengah Kontestasi Otoritas Keagamaan di Pesisir Pulau Madura dan Tapal Kuda Jawa Timur.” Rangkaian diskusi ini menjadi jembatan penting untuk memahami bagaimana nilai-nilai kultural dan modernitas saling berkelindan di kehidupan sehari-hari mereka.

Dari Ruang Publik hingga Panggung Seni Muncar

Melalui diskusi gayeng di seri Tapal Kuda, tim peneliti berhasil menghimpun data berharga mengenai kuatnya etos kerja perempuan pesisir. Di kawasan ini, peran perempuan tidak lagi terbatas pada ranah domestik semata, melainkan telah meluas dan mewarnai ruang publik secara signifikan.

Menariknya, saat berada di Banyuwangi, tim peneliti juga berkesempatan langsung mengikuti perhelatan budaya Tradisi Petik Laut di Bulan Suro 2026 yang digelar di kawasan pesisir Muncar. Di sana, tim menemukan fenomena unik yang memperkaya data penelitian: keterlibatan aktif para perempuan pesisir etnis Madura yang bekerja di ruang seni. Mereka hadir memeriahkan ritus tahunan tersebut, membuktikan bahwa ruang aktualisasi diri perempuan Madura pesisir telah merambah dunia estetika performatif dan pelestarian budaya di tengah masyarakat.

Di sisi lain, proses adat dan penyerapan arus digitalisasi mulai berjalan beriringan dengan nilai-nilai tradisional. Meskipun keterbukaan informasi dan ekonomi digital berdenyut kencang melalui gawai, otoritas keagamaan lokal serta struktur budaya paternalistik rupanya masih mengakar kuat dan menjadi kompas moral masyarakat dalam bertindak. Perempuan pesisir dituntut cerdas menempatkan diri agar kemandirian yang mereka bangun tetap mendapat legitimasi sosial dari lingkungannya.

Suara Nyata dari Pinggir Pantai

Dalam salah satu sesi wawancara mendalam yang identitasnya disamarkan demi privasi, seorang perwakilan perempuan pesisir menuturkan bagaimana mereka menyikapi arus perubahan zaman dan tuntutan ekonomi ini dengan sangat bijak:

“Bagi kami di pesisir, perempuan bekerja itu sudah menjadi urat nadi yang diwariskan dari generasi ke generasi untuk menopang ekonomi keluarga. Perempuan tangguh pesisir tidak boleh menyerah pada keadaan.”

Petikan wawancara ini mencerminkan potret riil di mana digitalisasi maupun keterlibatan dalam ruang seni pertunjukan diadopsi bukan untuk mendobrak tatanan lama, melainkan sebagai bentuk resiliensi demi menjaga keseimbangan hidup.

Secara keseluruhan, rangkaian FGD Seri Tapal Kuda ini mempertegas bahwa perempuan Madura pesisir memiliki tingkat ketangguhan yang luar biasa menghadapi gempuran modernitas. Mereka tidak sekadar menjadi objek pasif yang terhanyut dalam derasnya perubahan zaman, melainkan menjelma sebagai agen aktif yang lihai bernegosiasi demi memperjuangkan hak pendidikan yang lebih tinggi, mengambil peran strategis dalam kepemimpinan lokal, serta memperkuat kemandirian ekonomi keluarga. Langkah kaki mereka yang kokoh di pesisir Tapal Kuda kini bersiap menyongsong temuan-temuan baru yang tidak kalah menarik pada seri kedua di Pulau Madura mendatang.[]

Tag Post :

Categories