MENGAMBIL HIKMAH DARI KISAH HIDUP SUNAN AMPEL

UIN Sunan Ampel Surabaya
July 6, 2026

MENGAMBIL HIKMAH DARI KISAH HIDUP SUNAN AMPEL

Disampaikan pada Dies Natalis UINSA ke 61

Di Masjid Ulul Albab UINSA, 6-7-2026, oleh Moh. Ali Aziz

Saya awali ceramah saya dengan menyampaikan kisah Hatim Al Asham, ulama yang hidup pada abad ke 9 M di Bahgdad. Kisah ini bersumber dari Tadzkiratul Awliya’, karya Fariduddin Al Athar. Suatu hari, datanglah wanita lansia berkonsultasi. Di depan Syekh, ia buang angin dengan suara kencang. Syekh kemudian berkata, “Mohon ibu bicara yang keras. Pendengarankau kurang tajam.” Semata-mata, agar si tamu tidak malu. Selama wanita itu hidup (kurang lebih 15 tahun), syekh berpura-pura tuli. Setelah wanita itu meninggal, barulah ia menunjukkan ke publik bahwa pendengarannya kembali normal. Oleh karena itu, ia mendapat julukan Al Asham yang artinya tuli.

Barangkali, dengan ilham kisah itulah Sunan Ampel menggunakan pendekatan dakwah yang simpatik selama kepemimpinannya dengan amat berhati-hati, jangan sampai perubahan yang akan dilakukan pada masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, membuat tidak nyaman, apalagi membuat mereka tersinggung atau tersakiti. Prinsip jawani ia pegang teguh. Siapa pun yang berjuang di Jawa harus menyesuaikan kultur Jawa, tidak peduli ia berasal dari daerah atau negara mana pun. Dalam konteks sekarang, mungkin bisa kita aplikasikan, bahwa teori-teori dari negara manapun, termasuk teori kepemimpinan tidak boleh sepenuhnya dikembangkan di kampus UINSA, tanpa usaha penyesuaian dengan budaya Jawa.

Saya berterima kasih kepada rektor yang telah memberi kehormatan saya sebagai narsum pada acara ini melalui surat rektor nomor: B-1849/un-07/01/R/PP09/07/2026 tanggal 2-6-2026. Saya dengan senang hati mempersiapkannya, apalagi terkait dengan pengalamana sebelumnya.  Pada bulan Februari yang lalu, saya mendapat kritik dari peserta PTSB (Pelatihan Terapi Shalat Bahagia) di Masjid Jamik Madiun, mengapa dalam tasyahud, saya hanya mengajarkan bersalawat kepada semua Nabi, keluarga dan sahabatnya, dan tidak bersalawat kepada wali songo, padahal mereka ini termasuk ‘wa’ala ‘ibadillahis shalihin” dalam doa tasyahud. Sejak itu, saya mempelajari sekilas perjuangan para wali, dan membaca salawat untuk para wali itu dalam setiap tasyahud. Dalam beberapa kajian Islam, saya juga mengajak audiens untuk belajar sejarah, sebab hal itu sebuah kewajiban yang disebutkan dalam QS. Al Fatihah ayat terakhir. Mengenal sejarah akan menambah kekhusyukan shalat, dan memperkaya wawasan dalam mencari teladan kebaikan. Inilah juga yang ditekankan Rektor dalam kata pengantar Buku Pengaruh Sunan Ampel halaman x. Ia mengutip pesan penting Presiden Soekarno, JAS MERAH (jangan sekali-kali melupakan sejarah).

       Pengalaman saya itu membenarkan teori Law of Attarction (LoA) atau teori daya tarik yang dipopulerkan para tokoh mulai abad 19 sampai sekarang, bahwa pikiran positif memengaruhi vibrasi energi seseorang. Paul Coelho, penulis novel legendaris, The Alchemist mengatakan, “Jika seseorang bertekad untuk meraih sesuatu, maka seluruh alam semesta berkonspirasi membantu untuk mewujudkannya.”  Artinya, saya sedang mempelajari kisah hidup para wali, dan sekarang mendapat penghormatan untuk berdiri di sini untuk berbicara tentang wali.

Saya memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada rektor yang telah menggagas sampai terbitnya empat buku tentang Sunan Ampel yang disebutnya Tetralogi Sunan Ampel, yaitu buku 1: Sejarah Sunan Ampel, buku 2: Pengaruh Sunan Ampel, buku 3: Pesantren Sunan Ampel, dan buku 4: Arsitektur Sunan Ampel.  Apresiasi juga saya berikan kepada 4 tim penulis yang ditunjuk rektor untuk masing-masing buku. Semua buku itu rupanya dipersembahkan untuk Dies Natalis UINSA ke 61 M atau ke 63 H. Sebagaimana diketahui, IAIN yang sekarang UINSA berdiri pada tanggal 6 Juli 1965, ketika saya berumur 6 tahun, menjelang masuk sekolah dasar.

Untuk mengupas Tetralogi Sunan Ampel, saya tidak membaca secara tuntas empat buku tersebut. Saya hanya membaca berulang-ulang kata pengantar yang lengkap oleh rektor (Prof. Dr. Akh. Muzakki, M.Ag, Grad.Dip.SEA; M.Phil, Ph.D), dan kata pengantar tim penulis. Senang sekali, dua kata pengantar pada setiap buku tersebut amat menarik dan membantu saya memahami pokok-pokok isi buku.

Membaca buku kesatu, saya tertarik dengan kata Prof rektor, bahwa “what is in a name” oleh William Shakespiare tidak selalu benar. Sebab dalam Islam dikenal walimah tasmiyah atau selametan memberi nama anak dengan nama terbaik, yang berisi harapan sesuai dengan ajaran Nabi SAW. Nama Sunan Ampel yang dipilih oleh ulama untuk IAIN atau UINSA bukan tanpa makna dan tanpa harapan. Dipastikan, para ulama berharap akhlak dan jiwa juang Sunan Ampel bisa diwarisi oleh tricivitas akademika dalam tatanan akademik dan penyelenggaraan pendidikan. Sunan Ampel pejuang besar tanpa pamrih di tengah lintasan tiga budaya besar dunia saat itu, yaitu Cina, India, dan Persia. Oleh sebab itu, berbicara perkembangan Islam di Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan sejarah Sunan Ampel. Jadilah warga UINSA yang tetap hidup sekalipun sudah tak hidup.  

Buku kedua berbicara bagaimana pengaruh Sunan Ampel dalam perkembangan Islam di Nusantara, khususnya di Jawa pada pertengahan abad ke 15. Ia berhasil membangun tatanan yang baik dalam pendidikan, dakwah, politik dan sosial. Masyarakat telah belajar bagaimana cara berdagang di pasar, dipelabuhan dan sebagainya, bermusyawarah, mencari solusi konflik, dsb. Ia tidak hanya tokoh agama, tapi juga tokoh poleksosbud di Jawa dan mencerdaskan masyarakat dengan akulturasi yang cantik, penuh kedamaian, sama sekali tidak menimbulkan gejolak.

Buku ketiga menceritakan, Sunan Ampel menikah dengan Putri Tumenggung Wilatikta, lalu mendirikan pendidikan berasrama di Ampel Denta. Inilah cikal bakal adanya pendidikan pesantren di Indonesia. Sunan Ampel sendiri terinspirasi pendidikan berasrama yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Hindu dan Budha dengan tokoh kharismatik di dalamnya. Sayang sekali, pesantren ini kemudian tergusur oleh kepentingan ekonomi. Yang tertinggal hanyalah masjid.

Buku keempat berbicara tentang arsitektur Sunan Ampel. Dari sinilah kita mengetahui bentuk arsitektur, identitas budaya, rekam jejak peradaban, dan media dakwah yang digunakan Sunan Ampel. Ia membangun klaster ibadah, perdagangan, dakwah, dan pemukiman di sekitar masjid yang menjadi sentra peradaban.

Sunan Ampel sangat cerdas bagaimana menyisipkan ajaran Islam pada budaya Jawa dengan memilih istilah-istilah yang sudah dikenal. Misalnya, pada budaya Jawa kuno, peninggalan Hindu Budha, dikenal Panca Makra (lima kebebasan), yaitu madya (anggur atau tuwak), mansa (daging), matsya (ikan), maithuna (hubungan seksual), dan mudra (semedi). Dalam ritual ini, mereka membuat lingkaran bersama dalam keadaan telanjang. Di tengah lingkaran itu telah tersedia anggur, daging, dan ikan. Setelah mengonsumsi hidangan itu, mereka melakukan hubungan seks, dan diakhiri dengan semedi. Saat itulah, para dewa diyakini memberi keberkahan. Sunan Ampel tidak melarangnya, tapi menggantinya dengan moh limo, yaitu moh main (berjudi, atau sekarang dalam bentuk berinvestasi tanpa hati-hati), moh ngombe (minum yang memabukkan, atau sekarang berbicara seenaknya seperti orang mabuk, atau ambisi kekuasaan dan jabatan akademik atau struktural dengan cara-cara illegal seperti orang yang sedang mabuk berat), madat (menghisap candu, sehingga kecanduan, tak bisa lepas, atau mungkin sekarang terlalu lengket dengan HP, sampai lupa membaca buku dan menulis, atau bahkan terseret dalam tindakan asusila), moh madon (berzina, atau pelecehan atau kekerasan seksual di kampus atau dimana saja), dan moh maling (mencuri atau korupsi, atau menolak mengembalikan uang negara yang bukan miliknya)

Beberapa kritik terhadap Tetralogi Sunan Ampel: (1) setiap buku seharusnya diberi nomor, sehingga pembaca mengetahui mana yang seharusnya dibaca paling awal, dan seterusnya, (2) Pada kata pengantar rektor dalam buku keempat, tertulis di dalamnya buku ketiga, (3) pada buku kesatu, profil penulis tidak perlu begron Sunan Ampel, seperti tiga buku lainnya, (4) mengenai substansi isi buku menyusul.

Surabaya, 6 Juli 2026.  MAA.

Tag Post :

kolom uinsa

Categories