Membaca Titik-Titik di Ujung Doa

UIN Sunan Ampel Surabaya
May 1, 2026

Membaca Titik-Titik di Ujung Doa

Oleh: Prof. Akh. Muzakki, M.Ag, Grad.Dip.SEA, M.Phil, Ph.D.
Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya

Dirilis pertama pada 30 April 2024, popular di awal tahun 2006. Itulah perjalanan lagu Ada Titik-Titik Di Ujung Doa. Karya Sal Priadi. Seorang penyanyi, penulis lagu, dan sekaligus aktor asal Malang, Jawa Timur. Begitu popularnya lagu itu hingga hampir setiap hari terdengar di telinga. Diputar di sejumlah kanal radio. Pagi. Siang. Bahkan malam pun diputar. Di sejumlah aplikasi percakapan media sosial, seperti TikTok, lagu itu bahkan menjadi musik latar atas video unggahan. Banyak sekali akun yang melakukannya. Tak peduli apapun konteks dan kepentingan dari isi unggahan itu.

Bahkan saat ku bersantai di mal di sejumlah kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, lagu itu beberapa kali diputar melalui saluran sound system pusat perbelanjaan itu. Karenanya, telinga pun menjadi akrab dengan lagu itu. Aku pun lalu terangsang untuk menelitinya. Khususnya mengenai apa yang membuat lagu itu begitu popular. Cara paling cepat yang kulakukan untuk kepentingan itu adalah dengan membuka aplikasi YouTube. Karena di situ pasti banyak komentar sebagai respon terhadap lagu itu. Aku sendiri memang ingin tahu komentar para konsumen lagu itu.

Kubukalah aplikasi YouTube itu. Kuketikkan judul lagu itu. Lalu kupilih video musik resmi (official) yang dirilis pertama kali (premiered) pada 11 Maret 2026. Sebab, di sana ada sejumlah versi video yang beredar. Tapi, tetap kupilih yang official itu di laman atau URL: https://www.youtube.com/watch?v=63H7pcUUm6s&list=RD63H7. Kunikmati betul setiap kata pada liriknya. Sambil tentu kunikmati pula latar video musik lagu itu. Begitu usai video musik lagu itu kuputar, tanganku tergerak untuk memutar kembali. Begitulah akhirnya video musik lagu Ada Titik-Titik Di Ujung Doa itu kuputar beberapa kali dalam satu kali membuka kanal YouTube itu.

Aku pun sangat penasaran. Ingin segera menelisik jumlah penikmat yang menonton (view) video musik lagu itu. Tentu juga komentar mereka terhadapnya. Mulailah kugeser krusor laptopku ke bagian lain dari video musik itu. Mulai kolom jumlah view. Hingga kolom komentar. Ahaa!!, hanya dalam waktu 1 bulan, lagu itu telah di-view oleh 9 M atau sembilan juta penonton, seperti bisa terlihat di gambar hasil screenshot di bawah. Pada titik itu saja, aku mulai sulit menyembunyikan kekagumanku pada video musik lagu itu. Video musik lagu itu telah berhasil membetot perhatian penonton. Jumlah sebanyak itu tentu sebuah pemandangan menarik yang bikin kagum.

Foto: Hasil Screenshot Video Musik Lagu Ada Titik-Titik Di Ujung Doa (25 April 2026)

Rasa kagum itu makin membuncah saat mataku mulai menyusuri isi tanggapan demi tanggapan. Kubaca satu persatu tanggapan yang terunggah pada kolom komentar atas video musik itu. Kusisir substansi komentar demi komentar. Satu persatu. Lalu kucoba petakan yang menunjuk kepada substansi yang sama dan juga yang berbeda. Itu kulakukan untuk mengetahui pola yang muncul atas isi komentar-komentar yang jumlahnya sangat banyak itu. Usai menelisik mereka, aku pun sampai pada simpulan: komentar-komentar itu sangat menyentuh hati. Melibatkan emosi terdalam. Hingga tak terasa air mataku pun mulai ikut meleleh sedikit demi sedikit.  Aku pun lalu berujar: “Pantes saja lagu ini begitu popular karena isi liriknya mewakili hati dan perasaan konsumen.”

 

Apa Yang Membuat Ngetop?

Sejatinya, ada jeda waktu dua tahun sejak dirilis hingga keluar video musiknya. Seperti dijelaskan di awal tulisan ini, lagu Ada Titik-Titik Di Ujung Doa itu untuk pertama kalinya dirilis pada 30 April 2024. Ia diluncurkan sebagai bagian dari album utuh bertitel Makers and Such Penes Flashdisks. Disingkat MSPF. Singkatan ini menjadi penanda menyolok atas album dimaksud. Namun, lagu tersebut ngetop lagi dua tahun kemudian. Seakan-akan ia terasa lagu baru sama sekali. Padahal, telingaku dan mungkin banyak orang juga sudah pernah akrab dengan lagu itu sebelumnya.

Pertanyaannya lalu, mengapa lagu tersebut nge-hits kembali usai dua tahun dirilis? Diluncurkannya video musik atas lagu itu pada 11 Maret 2026 memberi kontribusi besar pada kembali naik daunnya lagu itu di tahun berjalan. Ya, tahun 2026 ini. Kekuatan video musik yang mampu menerjemahkan emosi lagu ke dalam visual nada yang kuat menjadi faktor penentu spesifiknya. Itu yang harus diakui. Dan itu salah satu kontribusi orang-orang kreatif yang berada di balik produksi video musik atas lagu Ada Titik-Titik Di Ujung Doa itu.

Sebut saja, di sana ada Bernardus Raka. Seniman kreatif yang sukses bertindak sebagai sutradara video musik lagu Ada Titik-Titik Di Ujung Doa itu. Juga ada nama Anya Anggarda. Dia adalah seorang manajer yang mengantarkan sejumlah seniman tarik suara sukses menjalani karirnya. Sebut saja nama-nama beken seperti Petra Sihombing, Sivia Azizah, dan Nadin Amizah. Untuk video musik lagu Ada Titik-Titik Di Ujung Doa karya Sal Priadi dimaksud, Anya Anggarda bertindak sebagai project manager. Selain itu, ada pula nama Theo Maulana. Berbekal pengalamannya sebagai dosen ilmu komunikasi Universitas Airlangga dan sekaligus pelaku industri kreatif, Theo Maulana terbukti cakap dalam memainkan fungsi dan perannya sebagai produser untuk video musik lagu karya Sal Priadi itu. Hingga video musik lagu itu berhasil mendapatkan tempat di hati para panikmat.

Dalam video musik lagu itu, hubungan yang penuh emosi antara orang yang mencinta dan orang yang dicinta yang dirangkai oleh cerita lagu itu divisualisasikan secara apik oleh video musik lagu itu. Plot atau jalan cerita video itu berpusat pada kisah seorang ayah yang berprofesi sebagai sopir truk. Tentu bersamanya ada anak-isterinya yang setia menunggunya di rumah. Detailnya, video musik lagu itu memusatkan perhatian pada seorang ayah yang bekerja sebagai sopir truk dengan seluruh masalah hidup yang dihadapi. Mulai kerja keras yang dilakukan hingga tampak tak ada waktu tersisa untuk anak dan isterinya. Hingga masalah kesehatan diri yang akhirnya merenggut nyawanya.

Dan, anak-isterinya akhirnya merindukannya. Dan rasa rindu itu diwujudkan dalam bentuk doa-doa di penghujung malam. Emosi lagu pun makin kuat tertanam. Hingga hasilnya pun bisa ditebak: emosi para penikmat lagu itu pun makin diobok-obok, dihuyung, dan diguncang oleh pesan emosi lagu itu. Isi hati dan perasaan para penikmat-penonton terbawa masuk ke dalam pesan emosi oleh video musik itu. Emosi mereka pun akhirnya cenderung terwakili oleh isi pesan yang dikandung lagu itu. Visualisasi nada oleh video musik itu menambah kuatnya pesan emosi lagu itu untuk sampai ke dalam pikiran dan perasaan [ara penikmat itu.

Jadi, jika ditanya, apa yang menjadi pemantik emosi lagu itu hingga membuatnya makin ngetop? Kekuatan cerita dalam ilustrasi lirik lagu Ada Titik-Titik Di Ujung Doa itu menjadi jawaban awalnya. Kekuatan dari lagu itu, utamanya, adalah ciamiknya susunan liriknya yang mampu merangkai dan sekaligus menyuguhkan cerita konkret yang jamak dialami oleh banyak individu di tengah masyarakat dalam kehidupan riil mereka. Hingga, mereka para individu di tengah masyarakat itu bisa merasakan apa yang diusung dan dikandung oleh cerita yang terangkai dalam lagu itu. Dan itulah kekuatan karya-karya lagu Sal Priadi pada lazimnya. Hampir semuanya dibalut oleh kepasitas perangkaian cerita dalam lagu.

 

Dari Relate ke Engage

Uraian komentarku “Pantes saja lagu ini begitu popular karena isi liriknya mewakili hati dan perasaan konsumen” di bagian sebelumnya adalah uraian konkret atas konsep relate. Frase “mewakili hati dan perasaan konsumen” pada lirik lagu Ada Titik-Titik Di Ujung Doa adalah bagian paling dekat dengan konsep relate itu. Lagu itu mewakili isi perasaan publik. Lagu itu dapat menggambarkan isi hati mereka. Perhatikanlah komentar-komentar yang bertebaran di kolom komentar pada kanal YouTube atas video musik lagu tersebut pada laman atau URL: https://www.youtube.com/watch?v=63H7pcUUm6s&list=RD63H7, seperti yang juga disebut sebelumnya.

Komentar-komentar di bagian bawah ini hanya mewakili saja dari sekian banyak isi komentar yang memunculkan pola yang sama: teriris hati. Seorang pemilik akun @indahpratiwi3480 mengirim komentar, yang mendapatkan respon berupa reaction suka atau like (👍) sebanyak delapan belas ribu (18K) dari netizen, sebagaimana berikut ini:

sal namaku indah pratiwi dipangil (tiwi). papah ku juga supir truck pasir dan bangunan antar kota, dan kisah ini bener bener relate banget sama aku, sewaktu kecil papahku pernah ga pulang bermingu minggu demi beliin hp impian ku, pas sampai rumah wajah lelahnya hilang berganti sumringah karna berhasil ngumpulin uang recehan itu buat beliin hp impian ku. dan masih banyak mimpiku lainnya yang beliau aminkan buat aku. mv ini bener bener bikin aku nangis kejer sekali sedari awal nonton. Aku gabisa sehebat sekarang tanpa ada beliau, dunia ku dan hidupku ga bakal seseru ini tanpa papah . Doain semoga papahku sehat selalu ya sal. Terimakasih ya sal udah buat cerita dan karya indah.

Pesan emosi lagu Ada Titik-Titik Di Ujung Doa oleh Sal Priadi beserta video musiknya di atas telah menyita perasaan dan isi hati penikmat. Untuk memahami lebih dekat bagaimana perasaan dan isi hati penikmat dimaksud bekerja, lihatlah unggahan pemilik @JoyMaila berikut ini:

Sal … namaku Joy Maila, aku jadi yatim pasif sejak 2008, bapakku pergi meninggalkan aku dan ibuku karena wanita lain, tapi di 2026 dia kembali ke pelukanku bersama ibuku, meski dalam keadaan sakit ( kanker paru2 ) tapi ini adalah yang ibuku inginkan, ramadhan kali ini adalah ramadhan pertama sejak 2008 tidak bersama bapak, btw ibuku stroke sejak 2020 lalu, dan bapakku pulang dalam keadaan sakit di tahun 2026, aku selalu menitipkan doa dan ku isi nama bapakku di titik – titik penghujung doa malam ku agar beliau pulang dalam keadaan apapun itu aku dan ibuku menerima, dan yes i did it sal!! Tuhan menjawab doa – doaku sejak 2008 silam. Ramadhan 2026 penuh berkah bagiku, allah menakdirkanku untuk jadi care giver kedua org tuaku insha allah ladang pahala dan akan jd tiket vip ke surga bismillah, tolong doakan ya teman2 untuk kedua orang tuaku SAIN MAILA bin Maila dan TRI UTAMI Binti Anwar idris. Bismillah ku rakit hatiku kembali meski telah hancur berkeping2 dan ku maafkan diri ini yang masih nakal jadi anak.

Konsep relate seperti pada lagu di atas selanjutnya melahirkan prinsip engagement. Yakni, “melibatkan”. Engagement ini merupakan kata kunci yang bisa digunakan untuk menjelaskan istimewanya lagu Ada Titik-Titik Di Ujung Doa itu. Sebagai konsekuensi logisnya, lirik beserta video musik lagu itu membuat lagu itu nge-hits kembali. Titik kekuatan lagu itu, di antara utamanya, terletak pada kekuatan liriknya. Liriknya sangat berenergi. Karena lekat dengan isi hati konsumen. Dekat dengan apa yang mereka rasakan. Poin ini persis seperti argumenku pada analisisku atas lagu Gala Bunga Matahari pada tulisanku sebelumnya  tertanggal 8 November 2024 yang berujudul Sal Priadi, Mahalini, dan Pelajaran Prestasi (lihat URL: https://uinsa.ac.id/sal-priadi-mahalini-dan-pelajaran-prestasi). Dalam tulisan itu, argumenku “dekatnya substansi lirik yang diusung lagu tersebut dengan kehidupan riil setiap konsumen” telah menjadi kekuatan lagu Sal Priadi itu.

Dengan begitu, lagu Ada Titik-Titik Di Ujung Doa, seperti lagu-lagu karya Sal Priadi lainnya, sangat melibatkan emosi dan isi hati konsumen. Melalui lirik-liriknya, lagu itu membuat konsumen merasakan bahwa isi hatinya terwakili. Perasaannya terlibatkan. Apalagi, kala lirik-lirik itu bila dirangkai ke dalam susunan cerita, jalan ceritanya dirasakan oleh konsumen sebagai gue banget. Mereka pun seakan ingin mengatakan: “hidupku ada di lagu itu.” Atau, “lagu itu tahu aja isi hatiku.” Poin yang ingin kukatakan dengan mengandaian-pengandaian ungkapan ini adalah bahwa lagu itu sungguh dekat dengan isi hati dan perasaan konsumen. Maka, antara lirik lagu dan emosi konsumen tampak berkelindan kuat.

Maka, lengkaplah sudah kekuatan dari lagu Ada Titik-Titik Di Ujung Doa itu. Lirik lagu itu mengusung cerita yang berkutat pada masalah hubungan erat antara yang menicnta dan yang dicinta. Romantika di balik hubungan lalu dilukiskan dengan baik sekali melalui untaian kata yang menjadi lirik lagu itu. Lalu, rimantika itu melahirkan hubungan manis hingga bisa diwakili oleh untaian lirik berikut: Ada Titik-Titik Di Ujung Doa, Doa Keselamatan Penutup Malam.  Lalu, rangkaian cerita dalam lagu itu divisualkan bersama nada indah dalam video musik atas lagu itu. Kekuatan visualisasi nada itu menjadi pemantik emosi lagu itu di hati penikmatnya. Akhirnya harus disebut, kekuatan cerita dalam ilustrasi lirik lagu Ada Titik-Titik Di Ujung Doa disempurnakan dengan visualisasi bersama nada indah oleh video musik itu. Hingga akhirnya, terciptalah lalu  titik temu antara lirik lagu dengan video musik lagu.

Kekuatan cerita di balik lagu yang khas milik karya-karya lagu Sal Priadi di atas melahirkan kesempatan untuk munculnya refleksi mendalam (deep reflection) di kalangan para penikmat. Refleksi yang demikian ini lalu menjadi langkah konkret yang langsung dilakukan oleh para penikmat saat memutar video musik lagu itu. Sebab, para penikmat lagu itu merasakan adanya irisan substantif antara pesan lagu dan isi hati mereka. Hingga emosi personal masing-masing dari para penikmat lagu itu tersentuh dibuatnya. Dengan proses refleksi yang demikian itu, ada proses perenungan dan pengambilan makna atas pesan lagu dimaksud.

Lihatlah sejumlah komentar atas video muski itu di laman YouTube yang kukutip di atas. Tampak sekali bahwa video musik itu memberikan ruang bagi para penikmat untuk melakukan refeksi mendalam atas apa yang sudah dan atau bahkan sedang mereka alami dalam hidup.  Refleksi itu akhirnya melahirkan perasaan dan emosi keserupaan dari substansi lagu dan isi hati-perasaan mereka. Posisi komentar-komentar yang hanya mewakili atau representatif saja atas substansi komentar serupa yang banyak sekali jumlahnya menandakan bahwa pesan lagu yang divisualisasikan dalam nada melalui video musiknya di atas begitu engaging. Begitu melibatkan. Begitu menyentuh. Pada para penikmat.

 

Lalu Apa Pelajarannya?

Ada Titik-Titik Di Ujung Doa memang sebuah lagu. Video musik atasnya juga merupakan visualisasi nada saja atas pesan emosi lagu. Tapi, kita tak sepatutnya melihat Ada Titik-Titik Di Ujung Doa itu hanya sebagai sebuah karya musik semata. Tak seharusnya menangkapnya hanya sebatas karya lagu semata. Tentu, tak sepatutnya seperti itu. Sebab, melihatnya sebatas sebagai sebuah lagu dan atau sebatas karya musik hanya akan membatasi kesadaran kita untuk belajar kemuliaan. Termasuk dari karya seni. Padahal, di sana ada sejumlah pelajaran penting yang bisa diasup. Minimal oleh para pendidik. Baik pendidik persekolahan maupun pendidik sosial. Tentu entitas sosial lainnya juga dapat mengambil makna atas pelajaran-pelajaran itu. Seluas-luasnya.

Pertanyaannya kemudian, mengapa kita penting untuk mengasup pelajaran dari lagu bertitel Ada Titik-Titik Di Ujung Doa beserta video musiknya itu? Sederhana sekali alasannya. Sebab, di sana ada sejumlah pelajaran yang bisa ditarik dari lagu itu. Ada sejumlah pelajaran yang bisa diambil dari video musik yang memvisualisasikan emosi lagu itu dalam nada. Pelajaran-pelajaran itu bisa memberikan inspirasi untuk penunaian tanggung jawab dan atau tugas pekerjaan. Minimal, inspirasi bagi penunaian tugas pendidikan dan pekerjaan pengasuhan anak.

Dalam hematku, minimal ada dua pelajaran utama dari lagu Ada Titik-Titik Di Ujung Doa beserta video musiknya itu. Pertama, libatkan hati peserta didik dalam pembelajaran, dan jangan hanya berhenti pada pengembangan pikiran mereka semata. Sebab, belajar itu soal deep memory. Mengingat secara mendalam. Yakni, proses penanaman materi ajar seefektif mungkin agar bisa masuk ke dalam ingatan panjang peserta didik. Karena itu, menyentuh dan melibatkan hati peserta didik akan membuat pikiran bisa terkerangkai untuk bertahan dalam waktu yang lama. Di situlah konsep deep memory bersemayam.

Dan, di situ pula pembelajaran itu seharusnya engaging. Melibatkan. Menyentuh. Terus, apa yang dilibatkan dan disentuh? Emosi peserta didik secara setara dengan pikirannya. Persis seperti inspirasi yang diberikan oleh lagu Ada Titik-Titik Di Ujung Doa beserta video musiknya itu. Dengan begitu, deep memory melekat dan tertanam kuat di kalangan penikmat lagu Ada Titik-Titik Di Ujung Doa beserta video musiknya itu. Refleksi hingga tangis kejer pun bisa terjadi dan melanda para penikmat.

Maka, dalam penyelenggaraan pembelajaran, bukan hanya pikiran yang diisi. Melainkan juga emosi yang perlu disentuh. Menyentuh dan melibatkan hati adalah langkah awal untuk memperkuat pengembangan emosi peserta didik secara positif. Langkah ini akan menyempurnakan pengembangan pikiran peserta didik secara bersamaan. Jika pikiran dan hati terkembangan secara simultan dalam keseimbangan, maka praktik pembelajaran semacam ini bisa membuat memori penerimaan atas materi pembelajaran bisa selalu hidup dalam waktu yang panjang (long lasting). Jika itu yang terjadi, maka pembelajaran itu bisa menemukan kata sukses dan efektivitasnya.

Kedua, dekatkanlah materi pembelajaran dengan kehidupan keseharian peserta didik. Dan jangan sampai sebaliknya, menyelenggarakan pembelajaran beserta penyampaian materinya dengan jarak yang jauh dari kehidupan keseharian mereka. Sebab, jika hal itu terjadi, akan terdapat kesenjangan antara praktik pembelajaran dan ekspektasi-kebutuhan peserta didik.  Sebagai konsekuensi buruk lanjutannya, peserta didik pun akan segera merasa bahwa pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru atau pendidik bukanlah apa yang mereka butuhkan. Alih-alih, praktik pembelajaran itu dianggap paket kepentingan pemangku kepentingan eksternal di luar diri mereka.

Lalu, bagaimana caranya agar materi pembelajaran bisa dekat dengan kehidupan keseharian peserta didik? Project-based learning serta case-based learning menjadi strategi menarik yang bisa dioptimalisasikan pemanfaatannya untuk pembelajaran. Project-based learning akan mengantarkan peserta didik dapat merangkai jalan sukses hidupnya melalui inspirasi aktivitas project yang dikerjakan. Dengan begitu, mereka akan selaku disadarkan bahwa hidup mereka harus direncanakan, dilaksanakan, dan diukur unuk kepentingan efektivitas dan suksesnya.

Begitu pula halnya dengan case-based learning. Peserta didik akan dibawa langsung masuk ke pengalaman konkret. Bisa saja pengalaman konkret itu dihadapi oleh sesama. Bisa pula didesain untuk dialami sendiri. Lalu, peserta didik digerakkan untuk melakukan analisis dan pembahasan mendalam terhadap pengalaman konkret itu. Lalu di ujung proses analisis dan pembahasan mendalam itu, peserta didik bisa mengambil pelajaran dan makna hidup atas pengalaman konkret yang dibahas itu. Dengan begitu, mereka pun akan bisa memperkuat kematangan diri.

Strategi-strategi seperti project-based learning serta case-based learning di atas akan membuat pembelajaran relate dengan kehidupan peserta didik. Peserta didik pun juga akan segera bisa merasakan bahwa pembelajaran yang mereka ikuti sangat dekat dengan kebutuhan yang mereka miliki. Respon mereka pun akan bisa dipastikan positif terhadap pembelajaran. Persis seperti bagaimana para penikmat merespon positif lagu Ada Titik-Titik Di Ujung Doa beserta video musiknya di atas. Maka, belajar dari bagaimana lagu dimaksud bisa mencapai popularitasnya, sebagaimana diuraikan di atas, sepatutnya mengilhami cara para orang tua dan pendidik menyelenggarakan praktik pengasuhan dan pendidikan anak di era perubahan yang sangat cepat.

 

Tag Post :

Rector Insights

Categories