
Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya
Berdialoglah dua kyai ternama. Keduanya adalah Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA., Menteri Agama RI, dan al-Mukarram KH. Moh. Zuhri Zaini, pengasuh utama Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo Jawa Timur. Dialog itu berlangsung di ruang tamu utama pesantren. Di sebuah siang menjelang sore. Tepatnya pukul 14:15-14:14:35 WIB. Di Hari Jumat, 17 April 2026. Tentu, karena berlangsung di Hari Jumat itu, ada kemuliaan tersendiri dari dialog itu. Apalagi bagi mereka yang hadir dan berada di ruangan itu, tentu kemuliaan itu tak bisa disembunyikan. Lebih-lebih berkesempatan menyimak isi dialog itu, tentu di sana ada sekian banyak kemuliaan yang bisa didapatkan.
Aku sendiri merasa sangat beruntung sekali. Karena, aku berada di ruang tempat berlangsungnya dialog itu kala itu. Apalagi dari tempat yang sangat dekat dengan kedua kyai ternama itu. Sebab, aku langsung bisa menyimak secara jelas substansi dialog antara dua kyai kenamaan itu. “Mohon bimbingan kyai sebagai kyai senior,” ujar Menteri Agama RI untuk mengawali substansi pembicaraan dari pertemuan siang menjelang sore itu. Istilah “kyai senior” ini tentu dimaksudkan untuk menunjuk ke Kyai Zuhri (sapaan KH Moh. Zuhri Zaini) itu. Permohonan bimbingan itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan sang Menteri kepada sang kyai pengasuh pesantren itu. Dijawablah lalu penyampaian permintaan bimbingan Menteri Agama RI itu oleh Kyai Zuhri dengan ungkapan begini: “Saya ini senior dari sisi usia, tapi yunior dari pengalaman.”

Mendengar dialog dua kyai ternama di atas, aku pun langsung berucap dalam hati: “Subhanallah, dua kyai sehebat beliau berdua itu masih tetap merendah hati satu sama lain.” Meskipun menjabat sebagai Menteri Agama, sebagai contoh, Prof. Nasaruddin tetap saja menunjukkan sikap tawadlu’ dan kesantunannya kepada Kyai Zuhri. Tak ada ungkapan dan tindak tanduk yang mempertontonkan kebesaran namanya di hadapan Kyai Zuhri itu. Posisinya sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar keislaman, dan sekaligus Menteri Agama tak mendorongnya sama sekali keluar dari nilai tawadlu’ dan kesantunan kepada kyai sepuh. Permohonannya kepada Kyai Zuhri untuk berkenan memberi bimbingan menunjukkan kesantunan dan keluhuran budinya.
Begitu pula dengan Kyai Zuhri. Atas permohonan bimbingan oleh Menteri Agama RI itu, Kyai Zuhri juga tetap menunjukkan praktik tawadlu’ dan kesantunannya. Pernyataannya “saya ini senior dari sisi usia, tapi yunior dari pengalaman” jelas menunjukkan keluhuran budi sang kyai sepuh itu. Sebab, Kyai Zuhri sendiri adalah kyai besar nan ternama. Pengasuh utama pesantren kenamaan yang bernama Nurul Jadid. Dari sisi genealogis, Kyai Zuhri adalah putera kelima dari pasangan KH Zaini Mun’im dan ibunda Nyai Hj Nafi’ah. Kyai Zaini Mun’im sendiri adalah pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid yang terkenal itu. Jadi, Kyai Zuhri lahir dari keluarga kyai ternama pula.
Lebih dari itu, pengalaman sosial keagamaan Kyai Zuhri juga sangat tinggi. Baik melalui organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi induk maupun Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) sebagai lembaga di bawahnya. Apalagi, pengalaman panjangnya menjadi pengasuh utama Pondok Pesantren Nurul Jadid sepeninggal tiga kyai yang dikenal sebagai “trisula Nurul Jadid”, yakni KH Wahid (wafat 2000), KH Abdul Haq (wafat 2009) dan KH Nur Chotim (wafat 2013), menjadikannya sebagai salah satu kyai besar, ternama, dan sangat dihormati. Namun demikian, tetap saja beliau selalu tawadlu’ dengan segala praktik kesantunannya. Pernyataan yang disampaikan kepada Menteri Agama RI di atas menjadi bukti konkretnya.
Bukan Hanya Itu
Perhatikanlah bukti konkret lainnya dari praktik tawadlu’ dan kesantunan Kyai Zuhri. Bukti itu bisa dijumpai kala memberi sambutan selaku pengasuh pada acara seremonial Silaturahim dan Halal Bihalal Menteri Agama RI di ruang pertemuan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Persis beberapa menit usai ramah tamah di ruang tamu utama pesantren dimaksud. Kala harus menyebut dan memberi ucapan penghormatan pada sambutannya itu, Kyai Zuhri melakukan hal yang menarik. Aku catat betul kalimat yang keluar dari lisan Kyai Zuhri itu. Kucatat di fitur note pada gawai yang sengaja kubuka untuk mengabadikan ungkapan penting dari Kyai Zuhri itu.
Kala itu, Kyai Zuhri menyampaikan begini: “Yang saya hormati Bapak Wakil Bupati Lora Fahmi.” Demikianlah Kyai Zuhri itu menyampaikan ungkapan penghormatan saat tiba menyapa Wakil Bupati Probolinggo, Lora Fahmi Abdul Haq Zaini. Ucapan penghormatan itu oleh Kyai Zuhri disampaikan usai menyebut kalimat penghormatan serupa kepada Menteri Agama RI. Sesuai urutan. Sebagaimana mestinya pada protokoler seremonial. “Saya harus menyebut ‘Bapak’ meskipun beliau keponakan saya, tapi beliau sekarang Wakil Bupati sehingga saya harus menyebut ‘Bapak’,” begitu penjelasan Kyai Zuhri sambil melemparkan senyumnya ke hadirin semua. Hadirin pun ikut tersenyum lebar menyimak penjelasan Kyai Zuhri itu.

Meskipun diiringi dengan lemparan senyuman, penyebutan kata “Bapak” oleh Kyai Zuhri kepada sang keponakan tersebut dilakukan bukan sebagai sebuah guyonan. Beliau tentu tidak sedang bercanda. Beliau lakukan itu dengan penuh kesengajaan. Buktinya, kalimat akhir “tapi beliau sekarang Wakil Bupati sehingga saya harus menyebut ‘Bapak’” dari ucapan lengkap penghormatan itu menunjukkan bahwa Kyai Zuhri mengeluarkan ucapan itu dengan segala penghormatan atas jabatan yang sedang disandang oleh keponakannya sendiri itu. Ya, Lora Fahmi. Putera dari Kyai Abdul Haq yang tak lain adalah adik kandung Kyai Zuhri sendiri.
Senyum yang keluar dari Kyai Zuhri saat menyampaikan ucapan penghormatan secara partikular di atas bukan sesuatu yang baru. Sebab, sepanjang yang saya tahu dalam sekian kali bertemu dalam berbagai kesempatan, Kyai Zuhri adalah senyum, dan senyum adalah Kyai Zuhri. Karena, wajah yang selalu berseri dan tersenyum adalah bagian dari penanda diri Kyai Zuhri. Tak hanya kepada sesama kyai. Kepada santri dan mereka yang usianya lebih muda saat bersilaturahim dan sowan kepadanya, Kyai Zuhri selalu tampil dengan wajah yang berseri dan tersenyum itu.
Karena itu, tampilan yang selalu berseri dan tersenyum itu melengkapi praktik tawadlu’ dan kesantunan yang selalu melekat pada dirinya. Persis seperti yang dilakukan kepada Menteri Agama RI dan Wakil Bupati Probolinggo dalam kisah yang diuraikan di atas. Bahkan, sepanjang pertemuan dengan Menteri Agama dalam kunjungan ke pesantren itu, senyum itu selalu kulihat pada wajah Kyai Zuhri. Senyum itu selalu merekah. Mengiringi setiap kata yang akan disampaikan. Dan bahkan, saat mengakhiri kalimat yang dikeluarkan pun, senyum itu selalu mengembang pada wajah sang kyai sepuh itu. Pemandangan ini menyempurnakan praktik tawadlu’ dan kesantunan yang menjadi bagian dari penanda diri kyai sepuh ini.
Life Lesson Tentang Kemuliaan
Kisah beserta uraiannya di atas adalah soal moral. Ya, soal akhlak. Soal adab. Lebih khusus lagi soal kesantunan. Soal penghormatan. Ditunjukkan oleh dua kyai ternama. Dua kyai yang telah memiliki nama besar di hadapan umat. Dua kyai yang sama-sama menjadi panutan banyak kalangan. Keduanya adalah Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. dan Kyai Zuhri. Sebagai contoh partikular kasus pembahasan, keilmuannya yang tinggi tak menghalangi Prof. Nasaruddin itu untuk selalu menjaga adab nan mulia kepada Kyai Zuhri. Pula, jabatannya yang tinggi tak membuat kyai dan Guru Besar yang Menteri Agama itu kehilangan akhlak, kesantunan, dan penghormatan kepada sang kyai sepuh itu.
Begitu pula dengan Kyai Zuhri sebagai kyai sepuh. Akhlak, kesantunan, dan penghormatan serupa juga diberikan secara sama kepada sang Menteri. Ucapan Menteri Agama RI “mohon bimbingan kyai sebagai kyai senior” kepadanya, sebagaimana diuraikan sebelumnya, memang sebuah adab dan kesantunan sang Menteri. Tapi, disebut sebagai “kyai senior” oleh Menteri Agama itu tetap tak menghalangi sang kyai sepuh itu untuk memberi penghormatan yang tak kalah tinggi kepada sang Menteri. Melalui ungkapan “saya ini senior dari sisi usia, tapi yunior dari pengalaman” sebagaimana diuraikan di atas, Kyai Zuhri itu tetap menunjukkan kesantunan penuh penghormatan kepada sang Menteri.
Bahkan, tak hanya kepada sesama kyai yang dari sisi usia masih jauh di bawahnya, Kyai Zuhri tetap menunjukkan kesantunan kepada tokoh yang sedang memegang amanah publik lokal. Seperti yang diuraikan sebelumnya, contoh partikular dipertontonkan oleh Kyai Zuhri melalui penyebutan kata “Bapak” kepada Lora Fahmi. Itu walaupun Lora Fahmi adalah keponakan sendiri. Tapi, saat hadir di acara Silaturahim dan Halal Bihalal bersama Menteri Agama RI itu, bagaimanapun Lora Fahmi hadir dalam kapasitasnya sebagai Wakil Bupati. Itu, lebih-lebih, walaupun pula Lora Fahmi adalah keluarga ndalem pesantren sendiri. Semua itu tak menghalangi Kyai Zuhri untuk memberikan ucapan penghormatan yang terbaik nan tinggi kepada Lora Fahmi itu.
Saling menghormat, akhirnya, bisa disebut menjadi penanda penting pembicaraan atau dialog antara Menteri Agama dan Kyai Zuhri itu. Bahkan juga oleh Kyai Zuhri kepada Wakil Bupati yang masih keponakannya sendiri itu. Semua ini menunjukkan bahwa akhlak, adab, kesantunan, dan penghormatan sedang saling dipertunjukkan oleh praktik hidup Prof. Nasaruddin dan Kyai Zuhri. Memang praktik kesantunan dan penghormatan itu dilakukan secara khusus antara kedua kyai besar itu satu sama lain. Tapi, sejatinya, semua pelajaran tentang adab itu juga ditujukan kepada kita semua. Juga sekaligus berlaku untuk kita semua.
Jadi, kisah yang diuraikan di atas bukan sekadar dialog. Bukan sekadar pembicaraan. Juga bukan sekadar soal sambutan. Tapi semua itu soal adab. Soal sopan santun. Soal ketawadluan. Antara dua kyai besar yang menjadi panutan umat. Tentu, semua itu adalah pelajaran mulia. Konteksnya memang terjadi saat ramah tamah menyambut kehadiran Menteri Agama RI di ruang tamu utama dan di ruang pertemuan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Tapi, ajaran kemuliaan itu sejatinya berlaku universal. Yakni, betapa menjaga akhlak, adab, kesantunan, dan penghormatan harus tetap dilakukan dalam situasi dan konteks apapun.
Dialog dan atau pembicaraan bermuatan moral, adab, kesantunan dan penghormatan di atas adalah sebuah life lesson. Seorang pengarang buku motivasi pengembangan diri (self-improvement) dan sekaligus konsultan public relation di New York dan Atlanta, Barrie Davenport, mengingatkan kita semua tentang life lesson dimaksud (lihat URL: https://liveboldandbloom.com/06/self-awareness/important-life-lessons) dengan definisi sebagai berikut: A life lesson is a powerful piece of wisdom, knowledge, insight, or self-awareness that you adopt to improve yourself, your relationships, and your life in general.
Dalam Bahasa Indonesia, definisi mengenai life lesson di atas dapat dimaknai dengan padanan seperti ini: “life lesson atau pelajaran hidup adalah potongan kebijaksanaan, pengetahuan, wawasan, atau kesadaran diri yang kuat yang dapat diadopsi untuk meningkatkan kualitas diri sendiri, kualitas hubungan dengan sesama, dan kualitas hidup secara umum.” Jadi, merujuk kepada pemaknaan ini, life lesson selalu dibutuhkan dalam hidup. Sebab, bukan saja ia memberi nilai tambah pada ranah pengetahuan. Tapi juga pada ranah praktik diri melalui muatan kebijaksanaan dan kesadaran untuk peningkatan kualitas hidup. Karena itu, setiap diri membutuhkan life lesson ini. Demi menuju hidup yang lebih baik. Demi meraih kemuliaan dalam hidup.
Lalu Apa Pelajarannya?
Siapa saja bisa mengambil makna dari life lesson di atas. Hanya saja, orang tua dan pendidik penting disebut secara spesifik dalam kaitan ini. Sebab, mereka secara khusus memiliki kewajiban untuk menjamin tumbuhnya akhlak mulia pada diri anak dan atau peserta didik yang berada dalam pengasuhan dan atau pendampingannya. Memang, semua orang dewasa di tengah masyarakat memiliki tanggung jawab kewargaan dan bahkan kemanusiaan serupa terhadap generasi penerus. Dan tanggung jawab itu harus ditunaikan sebaik mungkin juga. Tapi, orang tua dan pendidik memiliki kewajiban spesifik atas pertumbuhan adab pada diri anak dan atau peserta didik. Itu menyusul posisi masing-masing sebagai sumber informasi dan teladan terdekat nan langsung.
Karena itu, orang tua dan pendidik secara khusus penting untuk mengambil pelajaran dari kisah berbasis dialog antara dua kyai besar di atas. Minimal, ada tiga pelajaran utama di situ. Pertama, jadilah lingkungan terbaik yang bisa dialami langsung oleh anak dan atau peserta didik. Pengalaman langsung memang bisa saja didapatkan anak dan atau peserta didik dari lingkungan sekitar. Tapi, orang tua dan pendidik penting untuk menampilkan diri sebagai lingkungan terdekat namun terbaik bagi penguatan pengalaman anak dan atau peserta didik. Itu yang spesifik dari orang tua dan pendidik.
Lebih-lebih, akhlak dan atau adab tak berada di ruang kosong. Dibutuhkan lingkungan nyata yang dapat mengkondisikannya. Saat lingkungan itu baik, terbukalah ruang bagi pengalaman positif untuk menguat pada diri anak dan atau peserta didik. Sebaliknya, saat lingkungan tak lagi kondusif bagi penguatan pengalaman positif anak dan atau peserta didik, tak ada yang bisa diharapkan. Karena itu, orang tua dan pendidik sudah seharusnya dapat memerankan diri sebagai lingkungan terdekat yang terbaik bagi anak dan atau peserta didik. Peran ini tak boleh melemah hingga terkalahkan oleh peran selain mereka.

Kedua, hadirlah sebagai teladan baik dalam hidup keseharian anak dan atau peserta didik. Itu terkhusus untuk urusan akhlak dan adab. Sebab, anak dan atau peserta didik butuh teladan mulia itu dari lingkungan terdekatnya. Jika orang tua dan pendidik gagal menampilkan diri sebagai teladan baik nan terdekat, maka anak dan atau peserta didik akan mencari teladan dengan caranya sendiri. Termasuk dari sumber lain selain orang tua dan pendidik. Salah satunya dari sumber digital. Padahal, sumber-sumber lain itu tak semuanya terverifikasi baik. Tak semuanya terkonfirmasi mulia.
Sebab bagaimanapun, anak dan atau peserta didik sangat butuh the living role model atau teladan hidup. Orang tua dan pendidik secara khusus wajib menampilkan diri sebagai teladan hidup ini. Mengapa begitu? Karena, masing-masing mereka adalah lingkungan terdekat bagi anak dan peserta didik. Dalam praktiknya, anak dan peserta didik pasti akan mencari teladan hidup dari lingkungan terdekatnya. Pengaruh dari luar mungkin masih bisa hadir. Tapi, kala teladan hidup bisa didapatkan dari lingkungan terdekatnya, pengaruh dari luar itu bisa tersaring. Ya, minimal tidak menembus masuk begitu saja. Sebaliknya, kala teladan hidup tak bisa diperoleh dari orang tua dan atau pendidik sebagai lingkungan terdekatnya, maka anak pasti akan mudah terkondisikan oleh pengaruh dari luar. Tentu, na’udzubillah, jika pengaruh luar itu betul-betul buruk.
Ketiga, bawalah anak dan atau peserta didik untuk mengalami langsung setiap kejadian mulia di lingkungan terbaik. Sebab, Barrie Davenport dalam lanjutan nasehatnya di laman rujukan seperti disitir di atas mengatakan begini: You often need to experience life in order to learn the lesson. And the more life you experience, the more lessons you accumulate. Begini terjemahannya: “Seringkali kita perlu mengalami kehidupan untuk mempelajari pelajaran tersebut. Dan semakin banyak kehidupan yang kita alami, semakin banyak pelajaran yang kita kumpulkan.” Karena itu, pengalaman langsung atas nilai dan praktik kemuliaan akan memunculkan banyak pelajaran hidup positif yang bisa diasup.
Apalagi, saat pelajaran hidup itu berasal dari tokoh kenamaan, tentu pelajaran mulia itu semakin bisa menjadi rujukan. Persis seperti yang terjadi pada dialog atau pembicaraan antara dua kyai besar, yakni Prof. Nasaruddin dan Kyai Zuhri, di atas. Kedua kyai dimaksud bisa menjadi panutan. Hidup dalam kemuliaan pun bisa diciptakan. Melalui praktik tawadlu’ dan kesantunan. Hingga tawadlu’ dan kesantunan itu bisa menjadi pedoman. Konkretnya, hidup yang lebih baik itu akan semakin terfasilitasi saat ada kesadaran dan sekaligus kehendak untuk belajar dari kandungan life lesson dimaksud. Apalagi, jika life lesson itu dialami sendiri dari pelajaran hidup yang diberikan secara langsung oleh tokoh kenamaan. Termasuk apa yang terjadi pada dialog dan pembicaraan antara dua kyai ternama di atas.
Kisah yang diulas di atas adalah pelajaran hidup. Kebetulan bersumber dari dua kyai ternama: Prof. Nasaruddin dan Kyai Zuhri. Keduanya saling menunjukkan praktik kesantunan dan ketawadluan kepada satu sama lain. Maka, untuk kepentingan kemaslahatan yang berkesinambungan, orang tua dan pendidik sepatutnya menjadikan praktik kesantunan dua kyai panutan di atas sebagai rujukan pendidikan. Konkretnya, anak dan atau peserta didik sebagai generasi penerus penting untuk dibiasakan hidup dalam adab dan akhlak mulia. Memang, semua orang dewasa di tengah masyarakat sudah seharusnya menciptakan lingkungan terbaik bagi tumbuhnya adab dan akhlak mulia itu pada diri anak bangsa. Namun, orang tua dan pendidik secara partikular penting tampil sebagai the living role model bagi anak dan atau peserta didik.