Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Muhammad Farhan Rahardian, mahasiswa semester 7 Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, berhasil mempublikasikan artikel ilmiahnya pada AL-BAYAN: Jurnal Studi Al-Qur’an dan Tafsir, jurnal nasional terakreditasi SINTA 3. Artikel tersebut berjudul “Between Reformation and Over-fitting: A Critical Evaluation of Holger M. Zellentin’s Qur’anic Intertextuality.” Karya ini mengangkat kajian kritis terhadap pemikiran Holger M. Zellentin, seorang akademisi asal Jerman yang banyak membahas hubungan Al-Qur’an dengan tradisi Yahudi dan Kristen dalam konteks Late Antiquity.

Farhan, mahasiswa asal Jember, mengaku mulai serius menekuni dunia kepenulisan sejak semester 3. Ketertarikannya bermula ketika para dosen di kelas kerap menceritakan kebanggaan memiliki karya yang berhasil dipublikasikan pada jurnal terakreditasi SINTA. Hal tersebut kemudian menjadi salah satu motivasi bagi Farhan untuk mulai membangun rekam jejak akademiknya sejak berada di jenjang sarjana.
Keinginan untuk melanjutkan studi magister pada bidang yang sama juga menjadi motivasi terbesar Farhan dalam menekuni dunia publikasi ilmiah. Menurutnya, memiliki portofolio akademik sejak S1 merupakan bekal penting untuk mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. “Mulai sekitar semester 3, karena waktu itu dosen di kelas selalu cerita betapa bangganya kalau punya tulisan yang publish di jurnal akreditasi SINTA. Karena aku ingin lanjut studi S2 di program studi yang sama, aku merasa perlu membangun portofolio yang bagus mulai dari sekarang. Itu motivasi terbesar saya,” ungkap Farhan.
Sebelum berhasil menembus jurnal SINTA 3, Farhan sebenarnya telah memiliki pengalaman dalam publikasi ilmiah. Ia sebelumnya pernah menerbitkan tulisan pada jurnal terakreditasi SINTA 5. Selain itu, ia juga pernah menulis artikel populer pada media keislaman tatsqif.com. Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal baginya untuk terus meningkatkan kualitas tulisan dan memperluas eksplorasi akademiknya.
Artikel yang berhasil diterbitkan di AL-BAYAN: Jurnal Studi Al-Qur’an dan Tafsir berangkat dari ketertarikan Farhan terhadap kajian Al-Qur’an di dunia Barat. Ia kemudian menemukan karya-karya Holger M. Zellentin dan tertarik untuk mengkaji pemikirannya secara lebih mendalam. Dalam penelitiannya, Farhan menjelaskan bahwa Zellentin menawarkan paradigma baru dalam dinamika kajian Al-Qur’an di Barat. Paradigma tersebut menempatkan Al-Qur’an sebagai kitab yang aktif berdialog dengan budaya Yahudi dan Kristen pada masa Late Antiquity. Pandangan ini berbeda dengan paradigma orientalis klasik yang cenderung menganggap Al-Qur’an sekadar menyalin atau menjiplak kitab-kitab Yahudi dan Kristen.
Namun, menurut Farhan, paradigma yang ditawarkan Zellentin tetap memiliki ruang untuk dikritisi. Meskipun terlihat lebih positif dan tidak secara langsung menempatkan Al-Qur’an sebagai sekadar hasil peniruan kitab sebelumnya, terdapat kecenderungan untuk menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan teks-teks terdahulu secara berlebihan. Hal inilah yang kemudian menjadi fokus kritik dalam artikel Farhan.
Kajian tersebut dinilai relevan dengan perkembangan studi Al-Qur’an kontemporer. Farhan melihat bahwa studi Al-Qur’an di Barat saat ini tengah mengalami pergeseran paradigma yang cukup signifikan. Pergeseran tersebut memang menunjukkan kecenderungan menuju pendekatan yang lebih netral dan tidak terlalu menyudutkan Islam. Namun, menurutnya, sarjana Muslim tetap perlu membaca perkembangan tersebut secara kritis dan hati-hati. “Studi Qur’an di Barat sedang mengalami pergeseran paradigma besar-besaran. Walaupun tampaknya mengarah ke paradigma yang lebih netral dan tidak menyudutkan Islam, kita sebagai sarjana Muslim tetap perlu menganalisisnya secara mendalam dan hati-hati, karena ternyata masih banyak unsur yang tidak sesuai dengan rambu-rambu yang ditetapkan oleh mufassir Muslim klasik,” jelasnya.
Dalam proses penelitian dan penulisan, Farhan menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu kendala terbesar adalah keterbatasan referensi yang secara khusus membahas pemikiran Holger M. Zellentin. Karena belum banyak penelitian yang mengangkat tokoh tersebut, Farhan harus merujuk langsung pada karya-karya asli Zellentin yang sebagian besar ditulis dalam bahasa Inggris. Proses membaca, memahami, serta menganalisis sumber primer tersebut menjadi bagian yang cukup menantang selama penelitian.
Farhan pertama kali menemukan karya-karya Holger M. Zellentin pada Oktober 2025. Saat itu, ia masih belum menentukan secara pasti topik yang akan diteliti. Setelah melakukan beberapa kali konsultasi dengan Ketua Program Studi, Farhan akhirnya memutuskan untuk mengembangkan penelitian berupa kritik terhadap pemikiran Zellentin. Proses penulisan artikel kemudian dimulai pada akhir Maret dan berhasil diselesaikan pada awal Mei. Menurutnya, proses paling sulit dalam penyusunan artikel tersebut adalah ketika mencari data dan referensi yang relevan.
Dalam proses penyusunan artikel, Farhan juga mendapatkan dukungan dari penulis kedua dan ketiga. Keduanya tidak hanya memberikan bantuan dalam proses penulisan, tetapi juga turut membantu dalam aspek pendanaan penelitian. Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu proses penelitian hingga artikel berhasil diselesaikan dan dipublikasikan.
Bagi mahasiswa yang ingin mulai menekuni dunia kepenulisan ilmiah, Farhan menyarankan agar memperbanyak membaca artikel dari jurnal berkualitas, khususnya jurnal yang telah terakreditasi SINTA maupun terindeks Scopus. Menurutnya, kebiasaan membaca jurnal berkualitas dapat membantu mahasiswa memahami karakteristik dan pola penulisan artikel ilmiah yang baik. “Harus banyak-banyak baca jurnal akreditasi tinggi seperti SINTA atau Scopus, jadi nanti bisa hafal pola artikel yang bagus seperti apa,” tuturnya.
Farhan juga berpesan kepada mahasiswa yang sedang berproses agar tidak mudah menyerah. Menurutnya, proses menghasilkan karya ilmiah hingga berhasil dipublikasikan membutuhkan ketekunan dan semangat yang terus dijaga. “Terus pupuk semangatnya, jangan sampai putus di tengah jalan, karena semuanya akan terbayar ketika sudah tercapai,” pesannya.
Keberhasilan Muhammad Farhan Rahardian menembus jurnal SINTA 3 menjadi bukti bahwa mahasiswa memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam pengembangan kajian Al-Qur’an melalui penelitian yang kritis dan relevan dengan perkembangan akademik global. Prestasi tersebut sekaligus diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk berani memulai, konsisten dalam proses, dan terus meningkatkan kualitas karya ilmiah.
Oleh: A. Solihein Ridha