Surabaya — Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) kembali menunjukkan produktivitas akademiknya melalui publikasi karya ilmiah pada jurnal terakreditasi SINTA 3. Masgun Arifin, mahasiswa semester 7 asal Lumajang, berhasil mempublikasikan artikel ilmiah berjudul “Epistemic and Chronological Criticism in the Safīnah Kallā Saya‘lamūn Exegesis Surah Ar-Rūm [30]:1–5”. Artikel tersebut mengkaji secara kritis aspek epistemologis dan kronologis dalam penafsiran Surah Ar-Rūm ayat 1–5 pada karya tafsir Safīnah Kallā Saya‘lamūn.

Ketertarikan Masgun terhadap penelitian ilmiah bermula ketika ia mengikuti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Program tersebut menjadi ruang akademik yang mempertemukannya secara intensif dengan aktivitas penelitian. Sebelum mengikuti program tersebut, Masgun mengakui bahwa pemahamannya mengenai metodologi penulisan penelitian ilmiah masih terbatas. Melalui proses pembelajaran dan pendampingan dari dosen pamong, Gus Nabilul Maram, ketertarikannya terhadap penelitian dan kepenulisan ilmiah mulai berkembang.
Bagi Masgun, keinginan untuk menghasilkan karya ilmiah tidak hanya berorientasi pada publikasi, tetapi juga menjadi instrumen untuk membangun tradisi intelektual melalui aktivitas membaca dan berpikir kritis. Keinginan tersebut secara bertahap membentuk kebiasaan akademik yang sebelumnya belum ia miliki. “Dengan kita mempunyai keinginan menulis, di situ mendorong kita untuk suka membaca. Awalnya saya masih belum ada keinginan untuk membaca. Kemudian, dengan adanya keinginan memiliki tulisan ilmiah, akhirnya saya terdorong untuk banyak membaca dan secara otomatis harus berpikir kritis,” ungkapnya.
Artikel yang berhasil dipublikasikan tersebut berangkat dari kajian terhadap kitab Safīnah Kallā Saya‘lamūn, yang sebelumnya telah dipelajari Masgun dalam salah satu mata kuliah pada semester lima. Ketika mengikuti MBKM, kajian tersebut kemudian dikembangkan menjadi objek penelitian yang lebih spesifik dengan menempatkan penafsiran Surah Ar-Rum ayat 1–5 sebagai fokus kajian.
Penelitian tersebut secara khusus menyoroti kecenderungan pembacaan sejarah yang bersifat anachronistic atau tidak selaras dengan kronologi historis dalam penafsiran Safinah Kalla Saya‘lamun. Salah satu persoalan yang dikaji adalah klaim yang menghubungkan kemenangan bangsa Romawi sebagaimana disebutkan dalam Surah Ar-Rum dengan momentum kemerdekaan Indonesia, khususnya melalui kesamaan tanggal 17 Ramadan dan 17 Agustus.
Berdasarkan analisis yang dilakukan, Masgun menunjukkan bahwa kesesuaian kronologis tersebut tidak dapat dipertahankan apabila diuji melalui pendekatan historis dan metodologis. Persoalan tersebut memperlihatkan adanya kecenderungan untuk membangun hubungan antara narasi Al-Qur’an dengan peristiwa sejarah tertentu tanpa terlebih dahulu memastikan validitas data dan kesesuaian kronologinya.
Menurut Masgun, persoalan utama bukan semata-mata terletak pada penggunaan analogi dalam penafsiran, melainkan pada ketika konstruksi simbolis (majaz) diposisikan sebagai fakta empiris (haqiqah). Oleh karena itu, penelitian tersebut menekankan pentingnya distingsi metodologis antara pesan simbolis yang memiliki fungsi moral dan klaim historis yang membutuhkan verifikasi berdasarkan data empiris.
Atas persoalan tersebut, penelitian Masgun menawarkan pentingnya penerapan mekanisme validasi terhadap klaim-klaim historis dalam penafsiran Al-Qur’an. Setiap klaim yang berkaitan dengan peristiwa sejarah perlu diuji melalui pendekatan yang mempertimbangkan validitas sumber, ketepatan kronologi, serta koherensi antara teks dan konteks historis. Pendekatan tersebut diperlukan untuk menjaga integritas akademik dalam studi tafsir sekaligus mencegah terjadinya konstruksi penafsiran yang hanya didasarkan pada kesesuaian temporal yang bersifat spekulatif.
Dalam proses penyusunan penelitian, salah satu tantangan yang dihadapi Masgun adalah memperoleh data yang relevan dan memadai untuk mendukung argumentasi penelitian. Proses tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan kemampuan akademiknya, khususnya dalam melakukan penelusuran sumber, menguji data, serta menyusun argumentasi secara sistematis. Pengalaman tersebut juga menjadi refleksi bahwa keterampilan penelitian ilmiah tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses pembiasaan dan keterlibatan langsung dalam aktivitas akademik. Program MBKM menjadi salah satu momentum yang mempertemukan Masgun dengan pengalaman penelitian sekaligus mendorongnya menghasilkan karya ilmiah yang dapat dipublikasikan pada jurnal terakreditasi SINTA 3. Di tengah proses tersebut, Masgun menekankan pentingnya membangun budaya membaca dan keterbukaan terhadap proses pembelajaran. Ia mendorong mahasiswa yang baru memulai penelitian agar tidak menjadikan keterbatasan pengetahuan sebagai hambatan untuk memulai.
Penulis: A. Solihein Ridha