Kisah Oktami Nur Fadila, Mahasiswi Prodi Sosiologi FISIP UINSA yang Tembus Student Outbound Mobility ke Malaysia

Fakultas Ilmu Sosial & Politik
May 27, 2026

Kisah Oktami Nur Fadila, Mahasiswi Prodi Sosiologi FISIP UINSA yang Tembus Student Outbound Mobility ke Malaysia

SURABAYA, 25 Mei 2026 – Keberhasilan sejati tidak melulu milik mereka yang paling pintar, melainkan milik mereka yang menolak untuk menyerah pada kegagalan. Prinsip hidup inilah yang mengantarkan Oktami Nur Fadila, mahasiswi Program Studi Sosiologi semester 6 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Ampel Surabaya, sukses lolos dalam seleksi internasional Student Outbound Mobility 2026 ke Universiti Pertahanan Nasional Malaysia (UPNM).

Pencapaian ini memperpanjang daftar prestasi internasional yang diraih oleh mahasiswa FISIP UINSA sekaligus pembuktian bahwa ketekunan mampu mendobrak dinding keraguan.

Oktami, yang akrab disapa Tami, bukanlah nama asing dalam jajaran mahasiswa berprestasi di fakultasnya. Semester lalu, ia berhasil menobatkan diri sebagai mahasiswa berprestasi dengan raihan IPK tertinggi di tingkat fakultas. Prestasi akademik ini linear dengan produktivitasnya di luar kelas. Tami baru saja menyelesaikan program Magang MBKM selama empat bulan di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Surabaya.

Di lingkungan kampus, Tami dikenal sebagai sosok yang haus akan pengalaman baru. Ia aktif membagi waktunya sebagai asisten laboratorium FISIP, asisten peneliti dosen, aktif dalam kegiatan pengabdian masyarakat, hingga mengikuti berbagai seminar, lokakarya, dan konferensi internasional.

“Saya bukan orang yang paling pintar, tetapi saya adalah orang yang tidak pernah menyerah dan selalu mencoba memberikan yang terbaik,” ungkap Tami mantap, merefleksikan etos kerjanya selama ini.

Bangkit dari Kegagalan dan Menembus Persaingan Ketat

Di balik senyum kemenangannya hari ini, perjalanan Tami menuju Malaysia dipenuhi dengan ujian mental yang berat. Tantangan pertama muncul dari segi teknis jadwal, di mana pelaksanaan Student Mobility ini berbenturan langsung dengan agenda Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang akan diikutinya pada Juni mendatang. Sempat ragu untuk melangkah, dukungan penuh dari Ketua Program Studi (Kaprodi) Sosiologi yang merekomendasikannya untuk tetap mendaftar akhirnya menjadi angin segar yang membakar kembali semangatnya.

Namun, ujian sesungguhnya terletak pada benteng psikologisnya sendiri. Tami mengaku sempat didera rasa pesimis dan overthinking yang hebat saat proses seleksi berlangsung. Bagaimana tidak, ia harus berkompetisi dengan lebih dari 90 pendaftar dari berbagai jenjang semester.

“Tantangan terbesar adalah saat wawancara. Salah satu kandidat yang kebetulan satu ruangan Zoom dengan saya adalah mahasiswa program S2 yang juga menjadi tutor IBI (Intensive British Institute) di UINSA. Hal itu sempat membuat saya sangat gugup dan pesimis takut gagal lagi,” kenang Tami.

Rasa takut gagal itu bukan tanpa alasan. Pada semester-semester sebelumnya, Tami pernah merasakan pahitnya ditolak dalam seleksi ASEAN Universities Exhibition and Forum yang digelar oleh International Office (IO), serta sempat gagal pada seleksi Student Mobility tingkat fakultas.

“Meskipun pengalaman gagal beruntun itu membuat saya ragu, saya selalu meyakinkan diri bahwa keberhasilan akan datang di waktu yang tepat. Orang tua saya juga selalu berpesan agar saya melakukan yang terbaik, apa pun hasilnya,” tambahnya. Berbekal latihan wawancara yang matang, doa, serta penyusunan motivation letter dan CV yang komprehensif, Tami akhirnya berhasil membalikkan rasa pesimisnya menjadi tiket menuju Malaysia.

Membangun Personal Branding dan Visi Riset Kolaboratif

Bagi Tami, mengikuti program internasional di UPNM Malaysia bukan sekadar untuk menambah portofolio di atas kertas. Ada tiga motivasi besar yang ia usung: pengembangan personal branding untuk membuka peluang karier masa depan, memperluas jejaring (networking) internasional dengan mahasiswa serta dosen lintas negara, dan mengasah kemampuan komunikasi bahasa Inggris lisan secara langsung di lingkungan akademik global.

Sebagai mahasiswi Sosiologi yang kritis, ia juga telah merancang target matang mengenai apa yang akan ia bawa pulang ke tanah air pasca-program.

“Saya berharap dapat memperdalam kemampuan analisis sosiologis saya melalui pengamatan sosial langsung terhadap dinamika masyarakat di sana. Selain itu, relasi internasional yang saya peroleh nantinya diharapkan bisa membuka peluang besar untuk melakukan kolaborasi riset bersama mahasiswa asing,” pungkas Tami penuh optimisme.

Kisah Oktami Nur Fadila menjadi refleksi berharga bagi seluruh mahasiswa UINSA. Kegagalan di masa lalu bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah anak tangga yang harus dilewati untuk mencapai puncak prestasi yang lebih tinggi di kancah internasional.(ASE)

Tag Post :

Categories