Sokhi Huda
(Guru Besar Dakwah Sufistik FDK UIN Sunan Ampel Surabaya)
Kebebasan berekspresi kini berbaur erat dengan ledakan informasi. Media—dari media sosial sampai platform berita daring—berfungsi sebagai wadah dan pipa yang mempercepat arus suara: memberi panggung bagi suara yang sebelumnya tidak terdengar tetapi juga mengalirkan desakan, provokasi, dan klaim yang belum terverifikasi. Ketika kebebasan ekspresi terseret dalam pusaran informasi yang deras, ada kecenderungan kebebasan itu menjadi jubah fisik—tampilan luar untuk menarik perhatian—tanpa disertai kemuliaan moral sebagai jubah hati.
Penting bagi kita semua, setiap individu publik, untuk menyadari bahwa media hanyalah sarana. Menyadari tidak berarti menutup suara melainkan menahan diri agar tidak hanyut dalam arus sensasi. Jubah hati hadir sebagai penyeimbang: menuntun niat, kebenaran, dan empati agar kebebasan fisik tidak mereduksi martabat kemanusiaan.
1. Media sebagai Wadah, bukan Pembenar
Media adalah pipa yang menyalurkan suara; ia bukan pengadil moral atas isi suara itu. Kecepatan dan jangkauan platform digital memudahkan pesan menyebar tanpa proses refleksi. Unggahan viral sering dinilai dari hitungan like atau share, bukan dari kedalaman niat atau kebenaran fakta. Bila kita menganggap media sebagai pembenar, risiko munculnya ujaran sembrono dan disinformasi meningkat. Mengenali fungsi media sebagai alat—bukan pembenaran moral—menjadi langkah awal mengenakan jubah hati.
Contoh singkat: sebuah klaim viral tentang peristiwa sosial dapat menyulut kecaman horisontal sebelum fakta diverifikasi; ketika terbukti keliru, reputasi dan rasa aman kelompok tertentu sudah tergerus. Di sinilah perbedaan jubah fisik (viralitas tanpa tanggung jawab) dan jubah hati (ketelitian dan niat memperbaiki) tampak jelas.
2. Niat dan Kebenaran sebagai Lapisan Jubah Hati
Niat membedakan ekspresi yang membangun dari ekspresi yang merusak. Kritik yang lahir dari keinginan memperbaiki berbeda esensinya dengan serangan yang mencari sensasi. Di era informasi, verifikasi menjadi bagian integral dari niat baik; menyebarkan klaim tanpa bukti sama saja meletakkan konten yang tidak teruji sebagai jubah fisik yang menipu publik. Praktik pengecekan fakta, keterbukaan sumber, dan kesediaan mengoreksi ketika keliru merupakan manifestasi jubah hati yang menegakkan integritas ruang publik.
Langkah praktisnya: biasakan jeda 10 menit sebelum mengunggah—tanya tujuan unggahan dan periksa sumber utama. Jika ada niat menyebarkan informasi faktual, lampirkan sumber atau catatan singkat tentang cara verifikasi.
3. Empati dan Tanggung Jawab Kolektif
Empati menjadikan kata-kata berwajah lebih manusiawi. Media mempermudah kita menembus batas sekaligus menghapus jarak emosional yang perlu ada untuk menjaga rasa hormat. Kritik yang efektif adalah yang tajam pada masalah namun tetap menjaga martabat pihak lain. Di sisi kolektif, ketika pengguna internet membangun kebiasaan literasi media dan etika berbicara, ruang publik menjadi lebih tahan terhadap gelombang ujaran kebencian dan hoaks. Jubah hati di sini bukan beban individu semata melainkan praktik bersama untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan ekspresi dan kemuliaan moral.
Langkah praktis kedua: terapkan prinsip “klarifikasi sebelum reaksi.” Bila sebuah pernyataan provokatif muncul, upayakan klarifikasi atau dialog singkat sebelum ikut menyebarkan. Hal ini dapat mengurangi kemungkinan memperbesar kesalahpahaman.
4. Menjaga Keseimbangan tanpa Membungkam
Seruan untuk memakai jubah hati bukanlah seruan untuk membungkam. Ada risiko penyalahgunaan tanggung jawab menjadi alat sensor yang menekan kritik penting. Oleh karena itu, keseimbangan diperlukan: mempertahankan kebebasan berekspresi sambil menanamkan disiplin moral. Regulasi platform mungkin membantu menahan konten berbahaya, tetapi kualitas wacana bergantung pada kesadaran tiap individu untuk tidak menukar jubah hati dengan jubah fisik yang kosong.
Dalam perspektif spiritual dan etika, berbicara adalah amanah. Tradisi yang menekankan kejernihan batin sebelum berbicara mengingatkan kita bahwa media hanya memperbesar apa yang sudah ada di dalam diri. Jika hati terlatih pada niat yang baik, kebenaran, dan empati, maka kebebasan ekspresi menjadi kekuatan konstruktif, bukan destruktif.
Akhirnya, jubah hati memungkinkan kebebasan menjadi bermartabat. Di pusaran kebebasan ekspresi yang ditopang oleh kebebasan informasi, publik diajak untuk tidak hanyut oleh arus wadah tetapi selalu memasangkan jubah fisik kebebasan dengan jubah hati moral. Dengan cara itu, ruang publik dapat menjadi arena dialog yang dewasa, produktif, dan manusiawi. Sekedar muhasabah (koreksi diri) bersama, mari kita sempatkan suatu saat keseharian: meletakkan hp-memutar tasbih, masuk ke ruang sunyi-membaca kitab suci, agar jubah fisik terpupuk oleh energi jubah hati. Betapa setiap hembus nafas sangat berarti. Tentu, kita tidak mempertaruhkannya untuk sesuatu yang tidak pasti. Wa Alah a’lam.