Jangan Memiskinkan Diri

UIN Sunan Ampel Surabaya
May 15, 2026

Jangan Memiskinkan Diri

Oleh: Prof. Akh. Muzakki, M.Ag, Grad.Dip.SEA, M.Phil, Ph.D

Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya

Belajar tapi tetap miskin, apakah ada? Belajar tapi tetap saja tak beranjak dari miskin, apakah mungkin? Pertanyaan-pertanyaan ini bisa saja terjadi. Bisa saja muncul. Dan memang penting untuk dimunculkan. Mengapa begitu? Kepentingannya sederhana. Yakni, agar setiap kita bisa menelisik relasi antara belajar dan kemiskinan. Hanya memang, jika disebut kata “kemiskinan”, asosiasi kita langsung menunjuk kepada tiadanya uang. Atau lemahnya ekonomi. Pada diri kita dan atau keluarga. Lalu, pemikiran yang kerap muncul dan berkembang atas isu kemiskinan tak jauh-jauh dari soal itu. Ya, soal ekonomi.

Padahal, belajar sering dirumuskan dalam kepentingan untuk memanusiakan manusia. Dan itu berarti bukan melulu soal ekonomi. Bukan semata-mata berkutat pada persoalan material. Apalagi, secara kolektif, belajar sebagai bagian dari pendidikan dimaksudkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Artinya, belajar itu memberdayakan. Di situ ada urusan nonmaterial ekonomi. Sebut saja urusan kecerdasan. Juga soal kematangan mental. Artinya, kecenderungan pendidikan dan atau pembelajaran justeru bergerak ke arah nonmanterial ekonomi. Bahwa terdapat urusan material ekonomi, bisa saja itu terjadi. Tapi, belajar sebagai bagian dari pendidikan justeru dimaksudkan untuk mengembangkan potensi kecerdasan dan kematangan mental.

Terus, bagaimana memahami fenomena belajar tapi tetap miskin di atas? Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, dalam tausiyahnya di Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, Kamis 16 April 2026, mengatakan begini: “Alangkah miskinnya seseorang jika gurunya hanya orang yang hidup.” Mengapa begitu? Menteri Agama itu menyampaikan alasannya seperti ini: “Sebab, interaksi antara yang hidup dan yang mati itu sangat aktif.” Tentu kata “sangat aktif” di sini patut dimaknai, paling tidak, sebagai interaksi spiritual yang melintasi sekat material. Saat ketersambungan spiritual itu diputus dengan praktik belajar yang dibatasi oleh, dan membatasi pada, guru yang hidup semata, maka kita tak akan pernah belajar dari kemuliaan masa lalu. Lintas generasi.

Sebab bagaimanapun, hidup tak hanya tentang hari ini. Apa yang terjadi hari ini tak akan jauh-jauh dari masa sebelumnya. Juga, hidup bukan hanya tentang yang kasat mata saja. Sebab, hidup tak hanya tentang yang material semata. Lalu pertanyaannya, apa yang harus dilakukan? Apa yang harus dipraktikkan? Kepentingannya agar kehidupan tak jatuh miskin. Minimal, miskin kemuliaan. Nah, begini rumus Menteri Agama itu: “Maka, belajarlah kepada orang yang sudah wafat.” Tapi, “Bagaimana caranya?” kata Menteri Agama itu memberi petunjuk lanjutan. Berikut ini rumus lanjutan yang dia berikan: “Bacalah sejarah para ulama dan wali yang sudah wafat.” Demikiankanlah yang disampaikan Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, dalam tausiyahnya di Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, Kamis 16 April 2026, di atas.

Foto: Menteri Agama sedang Memberi Tausiyah di Haul KH. Abdul Mannan, Tremas, Pacitan (16 April 2026)

Dengan belajar kepada guru yang sudah wafat melalui rekam jejak sejarah hidupnya seperti diarahkan Menteri Agama di atas, di sana pasti bisa ditemukan banyak pelajaran. Pelajaran-pelajaran dari sejarah hidup para insan mulia yang sudah lebih dulu wafat itu akan memperkaya perspektif dalam hidup. Bukan saja perspektif dimaksud berkaitan dengan dimensi material hidup. Melainkan juga tentang dimensi spiritual hidup. Materi bisa berubah. Tapi spirit bisa saja tetap sama. Bisa pula, materi berkembang. Tapi spirit, bagaimanapun, penting untuk mengkerangkai materi itu. Karena itu, belajar dari sejarah hidup para insan mulia yang sudah wafat akan memperkaya pandangan dan pemikiran hidup. 

Belajar Dari Pengalaman

Belajar itu kewajiban. Selama hayat di kandung badan. Tak peduli laki atau perempuan. Semua terkena tanggung jawab kemanusiaan yang sepadan. Tapi, pertanyaannya, kepada siapa belajar harus dilakukan? Pertanyaan ini penting untuk dilontarkan. Demi menjaga setiap kemuliaan. Lintas generasi yang diidamkan. Bahwa hidup harus dalam kebajikan. Termasuk untuk masa depan yang penuh tantangan. Apapun tantangan yang berada di hadapan. Termasuk di sana-sini saat perubahan menjadi bagian dari kehidupan. Tapi, kemuliaan tetap kemuliaan. Kebajikan juga tetap kebajikan. Harus dipertahankan. Bahkan harus pula dilanjutkan. Tentu juga dilestarikan.

Di sinilah pembelajaran dan pengalaman menjadi dua isu yang hangat diperdebatkan dalam dunia pendidikan. Semua sepakat bahwa belajar dari pengalaman penting dilakukan. Sebab, sehebat apapun konsep dirumuskan, pengalaman lapangan akan memberikan pembuktian. Apakah teori itu terkonfirmasi atau justeru terkoreksi. Karena itu, pengalaman selalu menyempurnakan konsep yang terumuskan. Kata “konsep” di sini bisa berarti mulai dari teori hingga sekadar ketentuan. Karena itu, untuk kepentingan yang lebih luas, pembelajaran dan pengalaman selalu menjadi perhatian dalam dunia pendidikan. Apakah pendidikan persekolahan ataukah pendidikan sosial. Di hampir semua peradaban global.

Bahkan, muncul sebuah mutiara hikmah dalam pengalaman sejarah masyarakat Indonesia. Begini bunyinya: Pengalaman adalah guru terbaik. Kalau ditarik lebih luas, bahkan mutiara hikmah ini sejatinya bukan hanya milik kultural masyarakat Indonesia semata. Masyarakat Barat pun juga memiliki mutiara hikmah yang demikian ini. Dalam Bahasa mereka, muncul ungkapan serupa, seperti dalam kalimat berikut ini: Experience is the best teacher. Dalam peradaban masyarakat Arab, juga muncul ungkapan setara, seperti berikut ini: التجربة هي افضل معلم.Kalimat sepadan dengannya berbunyi begini: التجارب خير معلم.

Keberadaan mutiara hikmah dalam berbagai ungkapan di berbagai peradaban dunia di atas mengirimkan pesan penting: bahwa semua gugusan masyarakat di berbagai wilayah di dunia mengafirmasi prinsip pengalaman adalah guru terbaik. Ungkapannya memang berbeda dari satu peradaban ke lainnya. Sesuai dengan instrumen bahasa yang dimiliki masing-masing. Namun pesannya sama: bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Dan setiap diri dalam pandangan mutiara hikmah itu seharusnya belajar dari pengalaman yang ada. Pengalaman tak sepatutnya hanya dijadikan sebatas sebagai catatan sejarah semata. Tanpa makna. Tanpa diambil sebagai pelajaran nan mulia. 

Hanya, pertanyaannya, pengalaman apa dan siapa yang dipandang penting oleh pembelajaran? Mari kita rujuk teori experiential learning. Substansi dasarnya mengajarkan bahwa belajar dengan cara mengalami sendiri jauh lebih baik daripada belajar dari pengalaman orang lain. Sebagai terjemahan dari substansi dasar yang dikandung, teori experiential learning bisa dirumuskan ke dalam tiga tahapan pasal berikut. Pertama berbunyi: If you tell me, I may forget. Jika engkau ceramah, aku mungkin lupa.  Pasal kedua berbunyi: If you show me, I may remember. Jika engkau tunjukkan aku, aku mungkin bisa mengingat. Pasal ketiga berbunyi: If you involve me, I may understand. Jika engkau melibatkanku, maka aku bisa paham.

Rumusan terjemahan dari teori experiential learning di atas menjelaskan bahwa involving (pelibatan) mempersyaratkan peserta didik untuk mengalami sendiri. Bukan belajar dengan cara membaca pengalaman orang lain. Maka, terhadap pertanyaan pengalaman apa dan siapa yang dipandang penting oleh pembelajaran?, teori experiential learning menampatkan pengalaman personal-sendiri di atas segalanya. Karena itu, pendidikan yang baik, dalam perspektif teori experiential learning ini, adalah yang membawa peserta didik untuk bisa mengalami sendiri. Keberadaan strategi pembelajaran, mulai dari role play (bermain peran), case-based learning (pembelajaran berbasis kasus kejadian) serta project-based learning (pembelajaran berbasis project kegiatan) mendapatkan apresiasi yang tinggi oleh teori experiential learning dimaksud.   

Teori di atas memang lazim berkembang di peradaban material. Namun, sejatinya, teori dimaksud juga bisa ditarik masuk ke peradaban nonmaterial. Termasuk dunia spiritual. Karena bagaimanapun, pengalaman personal akan memperkuat kemapanan mental diri. Namun, Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, seperti diuraikan sebelumnya terus mengingatkan bahwa belajar dari pengalaman hidup para insan mulia yang sudah wafat dalam sejarahnya semasa masih hidup akan memperkaya pandangan dan pemikiran hidup.  Bahkan lebih dari itu, belajar dari pengalaman para insan mulia yang sudah wafat melalui sejarah hidupnya mengikatkan secara kuat peradaban kita kepada peradaban lintas generasi. Warisan kultural dan material yang ditinggalkan masa lalu akan memperkaya peradaban terkini yang dijalani oleh generasi terakhir.

Lalu, apa implikasinya jika belajar tidak dilakukan kepada para insan mulia yang telah wafat? Kepada kemuliaan dari pengalaman masa lalu? Kita sama saja dengan memiskinkan diri. Bukan memiskinkan dalam pengertain ekonomi secara terbatas nan langsung. Melainkan memiskinkan dalam pengertian yang lebih luas. Mulai pemikiran, wawasan, hingga peradaban material atas yang pernah tumbuh dan berkembang masa sebelumnya. Itulah yang menjadi kekhawatiran Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, dalam tausiyahnya yang disampaukan di Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, Kamis 16 April 2026, di atas.

Lalu Apa Pelajarannya?

Jika diperas lebih singkat, uraian pembahasan atas tausiyah Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, di atas mengirimkan pesan sederhana: Jangan memiskinkan diri. Pesan ini penting dicamkan oleh orang dewasa, khususnya yang bergerak di dunia pendidikan dan pengasuhan. “Memiskinkan” di sini bukan dibatasi ke dalam makna ekonomi. Melainkan lebih diperluas ke substansi mental spiritual. Itu semua dibutuhkan agar kemuliaan hidup selalu terjaga. Lintas generasi. Lintas diri.

Untuk kepentingan lebih konkret, pesan utama di atas perlu diterjemahkan ke dalam sejumlah pelajaran turunan. Dalam hematku, minimal ada tiga pelajaran mulia yang bisa dipetik dari pesan utama di atas. Pertama, hendaknya setiap kita, khususnya yang terlibat dalam dunia pendidikan, menjauhkan diri dari praktik pemiskinan mental spiritual. Mengingat pendidikan lebih dari sekadar urusan material, maka pengembangan mental spiritual diri menjadi sebuah keharusan. Untuk itu, menyiapkan dan mengembangkan kecakapan teknis memang penting dilakukan. Itu iya. Tapi, menyiapkan dan mengembangkan keberdayaan mental jauh lebih utama untuk dilakukan. Hal itu meskipun urusan kecakapan tenis juga tidak untuk dilupakan. 

Apalagi, apa yang disebut dengan ketahanan mental atau mental security dalam perkembangan terkini menjadi kebutuhan besar yang harus dipenuhi. Ketahanan mental ini menunjuk kepada stabilitas emosional (emotional stability), kesadaran diri (self-awareness), dan kemampuan untuk mengelola tekanan (stress) dan emosi negatif secara efektif. Sementara itu, perubahan yang sangat cepat dengan referensi hidup yang makin terbuka lebar tanpa sekat geografis membuat potensi kerapuhan mental semakin membesar. Karena itu, pelajaran hidup yang ditinggalkan para insan mulia dan atau guru generasi pendahulu penting diasup. Kepentingannya adalah untuk menyiapkan dan mengembangkan ketahanan dan keberdayaan mental di atas. 

Kedua, hendaknya setiap kita, khususnya yang terlibat dalam dunia pendidikan, menjadikan pengalaman lintas generasi sebagai pelajaran kemuliaan. Penting dicatat, kemuliaan bukan hanya milik satu generasi. Apalagi dibatasi hanya pada generasi terkini. Tentu tidak seperti itu. Masing-masing generasi memiliki kemuliannya tersendiri. Apalagi, tantangan hidup yang dihadapi tak selalu sama antara satu generasi dan lainnya. Tantangan yang tak selalu sama ini membuat kemuliaan yang lahir dan tumbuh juga mengalami eksperimentasi yang tidak sama. Karena itu, bukan material hidup semata yang perlu diasup. Melainkan juga spirit yang tumbuh dan berkembang dari nilai kemuliaan dimaksud yang juga harus diseruput.

Karena itu, tidak membatasi diri dengan belajar hanya kepada orang yang masih hidup adalah salah satu langkah awal yang berarti. Kepentingannya sederhana, agar setiap diri terjauh dari praktik pemiskinan mental spiritual. Sebab, sekali lagi, kemuliaan pasti lintas generasi. Setiap generasi memiliki konteks zamannya tersendiri. Khususnya dalam menumbuhkan dan membelajarkan kemuliaan di lingkungan terdekat dan terbaiknya. Maka, kemuliaan masa lalu yang dimiliki oleh para insan mulia, termasuk para guru atau ulama atau wali yang telah wafat, perlu diasup sedemikian rupa. Itu semua agar mental diri makin diperkaya dengan kemuliaan lintas generasi.

 Ketiga, hendaknya setiap orang dewasa, apalagi yang bertugas sebagai pendidik, bisa secara kreatif memperkuat sanad kemuliaan lintas generasi pada kalangan generasi atau peserta didik terkini. Rumus hidup yang diberikan Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, agar setiap diri belajar tak hanya kepada guru yang masih hidup, melainkan juga kepada guru yang sudah wafat merupakan strategi terukur untuk memperkuat secara kreatif sanad keilmuan dimaksud. Material kemuliaan mungkin tak sama antar generasi, tapi spirit kemuliaan yang dikandung selalu dalam nilai yang serupa. Karena itu, sanad kemuliaan menjadi penting untuk diperkuat sebagai pengikat kemulian lintas generasi.

Hidup, sekali lagi, bukan hanya tentang hari ini. Juga bukan semata tentang yang kasat mata saja. Apa yang terjadi hari ini tak akan jauh-jauh dari masa sebelumnya. Kemuliaan hari lalu dan kini penting diasup untuk membangun masa depan yang lebih baik. Juga, hidup tak hanya tentang yang terlihat. Yang tak terlihat pun menjadi bagian dari hidup. Itu tak lebih karena dalam hidup selalu ada dimensi material. Ada pula yang nonmaterial. Termasuk di dalamnya juga spiritual. Bahasa lainnya, ada aspek jasmani. Juga ada pula aspek rohani. Kedua aspek, material-nonmaterial atau jasmani-rohani, hadir dalam hidup.

Maka, membatasi belajar hanya kepada orang yang hidup akan menjauhkan diri dari kemuliaan yang lama tumbuh bersama masa lalu. Termasuk dalam hidup para insan mulia sebelumnya. Juga, membatasai belajar hanya kepada orang yang hidup hanya akan menjauhkan kita dari kemuliaan spiritual yang lama menjadi bagian dari hidup para leluhur mulia masa lalu. Maka, mengaitkan masa kini dengan masa masa lalu adalah kebaikan. Warisan dari masa lalu dan masa kini dibutuhkan dalam hidup secara seimbang nan kreatif untuk masa depan yang lebih baik.

Pendidikan, sekali lagi, adalah upaya sistematis untuk memanusiakan manusia. Ekonomi memang bagian dari aspek yang memperkuat pemanusiaan manusia. Tetapi, pendidikan bukan hanya soal itu. Tak hanya soal ekonomi. Memanusiakan manusia itu seutuhnya. Tak hanya pada dimensi material seperti ekonomi, tapi juga lebih-lebih menyentuh multidimensionalitas manusia dalam seutuhnya. Maka, dalam upaya memanusiakan manusia itu, jangan sampai muncul proses pemiskinan diri. Hingga keadaban diri mengalami defisit sana-sini. Maka, pembelajaran yang memperkaya keadaban diri tidak seyogyanya tercerabut dari akar tradisi. Pengalaman hidup para insan mulia, karena itu, penting dipelajari dan menjadi pelajaran kemuliaan insani.

Tag Post :

Rector Insights

Categories