
Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya
Hidup itu tak selalu baik-baik saja. Bahkan, hidup tak selalu bisa membaik dengan sendirinya. Sebab, di sana pasti ada tantangan. Bisa saja nama lainnya hambatan. Atau kesulitan. Atau bahkan juga rintangan. Yang jelas, semua itu menandakan situasi yang tidak selalu baik-baik saja. Tapi, ada tips hidup yang keren dari Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Sesidtjen Pendis), Prof. Arskal Salim. Begini tips yang dia berikan: “Kalau menemui di depan ada sungai, jangan mundur, tapi bangunlah jembatan.” Tips ini dia sampaikan sebagai arahan pada acara launching perubahan bentuk kelembagaan dari Sekolah Tinggi Islam Blambangan (STIB) menjadi Universitas Dr. H. Sumarno (Unismar) Banyuwangi, Sabtu (17 Januari 2026).
Kalimat tips di atas memang disampaikan dalam konteks dan situasi yang dihadapi oleh sebuah kampus Islam non-negeri. Tantangan, kesulitan, hambatan atau rintangan yang dihadapi kampus milik masyarakat pasti berbeda dengan kampus milik pemerintah. Dan, mengapa arahan Sesdirjen di atas begitu penting? Begini alasan Sesdirjen itu: “Selama ini kampus Islam yang maju adalah yang milik pesantren dan milik ormas. Nah Unismar ini kampus milik yayasan. Maka, kampus ini adalah kampus pembuktian bahwa kampus milik yayasan bisa berkembang pesat dan maju.” Kalimat jawaban ini sekaligus juga dimaksudkan untuk menyemangati manajemen universitas milik yayasan dimaksud untuk bergerak cepat menuju kemajuan.

Jadi, kalimat tips di atas memang disampaikan dalam konteks untuk menyambut tantangan yang dihadapi oleh kampus Islam milik masyarakat seperti Unismar secara partikular di atas. Konteksnya memang itu. Untuk kampus Islam milik yayasan itu. Namun, sejatinya, kalimat tips itu bisa berlaku luas. Bahkan bisa lebih diperluas. Kalimat tips itu bisa berlaku untuk konteks dan tantangan apa saja. Apakah kelembagaan. Ataukah personal. Apakah berkaitan dengan urusan lembaga ataukah urusan pribadi. Semua bisa disasar oleh kalimat tips di atas.
Maka, saat sebuah lembaga dihadapkan pada tantangan, tips di atas bisa digunakan sebagai solusi. Minimal pengingat untuk mendapatkan kemudahan. Begitu pula halnya dengan kehidupan pribadi. Siapapun kita, saat dihadapkan pada tantangan, ingatlah kalimat tips di atas bisa dijadikan sebagai petunjuk awal untuk lahirnya kemudahan dan bahkan inisiatif solusi. Karena pada hakikatnya, kalimat tips di atas adalah kebutuhan universal. Ya, menjadi kebutuhan semua individu, gugusan individu, maupun lembaga yang menaungi individu dan atau gugusan individu dalam memenuhi kebutuhan materialnya itu.
Pesan Hidup
Dalam menyampaikan pesan yang dikandung, kalimat yang disampaikan Sesdirjen Pendis di atas mengambil bentuk ilustrasi. Tentu, penggunaan ilustrasi ini dalam maksud besar untuk memudahkan pemahaman. Sekaligus mendekatkan pemahaman kepada pesan yang ingin disampaikan. Kata “sungai” dan “jembatan”, secara spesifik, digunakan untuk menggambarkan adanya tantangan dan solusi yang berada atau bisa terhampar di hadapan. Kata “sungai” secara partikular digunakan sebagai ilustrasi untuk menggambarkan keberadaan tantangan. Kata “jembatan” dihadirkan sebagai gambaran untuk menguraikan solusi yang seharusnya bisa dihadirkan.
Kalimat ilustratif di atas diberikan oleh Sedirjen Pendis sebagai tips lugas. Yakni, dorongan agar tidak mudah menyerah saat ada tantangan dalam hidup. Menyerah saja, jangan. Apalagi, mundur. Menyerah menandakan kerapuhan. Tak ada daya tahan. Tak ada ketangguhan. Apalagi mundur. Lebih-lebih lagi. Sebab, di sana berarti ada pengingkaran terhadap potensi diri. Ada semacam pengkhianatan terhadap nikmat yang Tuhan berikan dalam bentuk potensi kecakapan. Sebagai gantinya, tips di atas mendorong kita semua untuk melakukan ini: Jika tantangan ada di hadapan, maka sambut tantangan itu dengan inovasi dan solusi jitu sebagai jawaban.
Untuk menyederhanakan makna, pesan utama yang bisa ditarik dari kalimat tips Sesdirjen di atas adalah ini: Jangan cemen! Kalimat “Kalau menemui di depan ada sungai, jangan mundur” yang dia sampaikan adalah tips untuk selalu menjadi pribadi yang kuat dan tahan terhadap tantangan yang hadir di hadapan. Kalimat lanjutan yang berbunyi “tapi bangunlah jembatan” adalah kalimat untuk menggambarkan bahwa kuat dan tahannya sikap hidup dimaksud harus disempurnakan dengan kecakapan untuk berinovasi secara terukur. Kepentingannya adalah untuk menemukan solusi yang efektif atas tantangan yang dihadapi.
Dalam konteks lebih luas, inovasi untuk solusi inilah yang akan menentukan sukses tidaknya kepemimpinan seseorang. Sebab, tantangan bisa saja hadir dalam waktu dan situasi apapun. Tapi, kecakapan untuk mendatangkan solusi tak boleh rapuh oleh hadirnya tantangan itu. Di situlah, kecakapan berinovasi menjadi taruhan. Kecakapan untuk melahirkan inisiatif solusi menjadi keharusan. Menjadi faktor penentu sukses kepemimpinan. Bahkan, dalam banyak hal, tantangan justru mengandung potensi untuk semakin mempertajam daya inovasi. Sebab, tak sedikit, inovasi membuat pikiran makin berputar kencang. Pengalaman yang sebelumnya dilalui dan dimiliki membuat kencangnya perputaran pikiran itu akan menemukan arah menuju solusi yang dibutuhkan. Maka, pengalaman menjadi faktor penting untuk penguatan daya inovasi itu.
Faktor penentu lainnya adalah ilmu. Pengalaman memang memberi pelajaran lapangan yang konkret. Bahkan, dalam skala tertentu, pengalaman bisa melahirkan prior-knowledge atau pengetahuan awal atas sesuatu berbasis pada apa yang dialami masa lalu. Tapi, ilmu memandu ketajaman analisis dan telaah atas tantangan terkini pada satu sisi, dan juga kecakapan dalam menemukan solusi atas tantangan terkini itu. Karena itu, saat ilmu bertemu dengan pengalaman lapangan, maka yang lahir pada diri seseorang adalah kematangan berpikir dan bertindak atas urusan konkret hidupnya.
Signifikansi Pesan
Tentu pesan utama Jangan cemen! dari kisah beserta pembahasannya di atas patut menjadi perhatian bersama. Sederhana sekali alasannya. Yakni, karena, isi pesan itu menjadi kebutuhan semua. Bisa mengenai siapa saja. Bisa dialami juga oleh siapa saja. Atau bisa terjadi kepada siapa saja. Masalah dan konteksnya saja yang bisa bermacam-macam. Maka, pesan utama tersebut bisa diterjemahkan ke dalam beberapa ungkapan lain. Kepentingannya hanya untuk mewadahi keragaman itu. Begini di antara sejumlah ungkapan lain itu: Jangan mutungan! Atau juga: Jangan gampang menyerah! Bisa juga dengan kalimat lainnya: Jangan mudah putus harapan! Masih ada lagi lainnya seperti ini: Jangan gampang putus asa!
Semua ungkapan di atas berarti mendorong setiap diri agar tidak menjadi pribadi yang rapuh. Pribadi yang secara mental mudah ambruk. Pribadi yang angin-anginan. Pribadi yang kala ada angin kencang, badan langsung masuk angin. Meriang. Demam. Nggreges, kata Orang Jawa. Dan ungkapan-ungkapan lain yang mungkin popular di satu komunitas atas lainnya. Tentu, semua ungkapan atas kondisi badan dimaksud menandakan badan sedang tidak sehat. Atau pribadi yang secara psikologis tidak begitu “sehat”. Sedang tidak baik-baik saja. Karena gampang rapuh.
Pribadi yang cemen atau dengan istilah lain seperti mutungan, gampang menyerah, mudah putus harapan, dan gampang putus asa seperti diuraikan di atas tentu tak ada baik-baiknya sama sekali. Secara personalitas, tak ada manis-manisnya. Tak ada yang bisa diharapkan. Bukan hanya oleh dan untuk orang lain. Bahkan untuk dirinya sendiri juga tidak. Sebab, pribadi cemen dengan berbagai ungkapan setaranya di atas menandakan bahwa ia adalah pribadi yang tak tahan banting. Pribadi yang tak punya daya tahan saat ada tekanan. Pribadi yang gampang runtuh saat dihadapkan kepada tantangan. Tentu, semua itu pertanda bahwa situasi diri sedang tidak baik-baik saja.
Lebih-lebih, hidup memang tak selalu baik-baik saja. Tak selalu nikmat-nikmat saja. Tak selalu lurus-lurus saja. Sebab, memang begitulah hidup. Ada dinamika. Ada romantika. Bahkan, jika mau berpikir positif, justru situasi tidak baik-baik saja itu bisa menjadi momentum untuk memperkuat ketangguhan diri. Justru, situasi yang tak selalu nikmat-nikmat saja itu bisa menjadi ruang personal yang baik untuk naik kelas. Justru, situasi yang tak lurus-lurus saja itu membuat diri semakin tertempa untuk menjadi pribadi yang kuat. Bahkan, lebih ekstremnya lagi, penderitaan sekalipun bisa menjadi poin kesempatan untuk mendedar diri menuju pribadi yang unggul.

Pribadi yang unggul dalam pengertian spesifik tangguh nan kuat di atas bukan saja memberi dampak positif kepada pemiliknya secara khusus, melainkan kepada institusi yang menjadi afiliasi kesehariannya secara umum. Pribadi yang demikian, dalam pengertian minimalnya, tahan banting pada satu sisi, dan cermat membaca setiap peluang yang terjadi di hadapannya. Kepribadian yang demikian ini sangat dibutuhkan oleh institusi afiliasinya. Atau lembaga tempatnya beraktifikas profesional dan sosial. Lebih-lebih, bagi sebuah institusi, apapun jenis dan bidang layanannya, pribadi yang unggul dengan kriteria spesifik di atas akan langsung berdampak positif pada kinerja lembaga.
Rumusan Operasional Pesan
Maka, terjemahan konkret dari pesan jangan cemen! di atas harus diterjemahkan ke dalam sejumlah rumusan terukur. Kepentingannya, biar pesan tersebut bisa lebih operasional untuk dilaksanakan. Minimal, ada tiga rumusan penting sebagai terjemahan dari pesan dimaksud. Pertama, yakinlah bahwa engkau tak sendirian dalam hidup. Khususnya saat ditempa oleh masalah dan kesulitan. Ada banyak selain diri sendiri yang juga menghadapi situasi sulit seperti di atas. Ada banyak individu selain kita yang dihadapkan pada sejumlah dinamika dan romantika hidup yang tak selalu baik-baik saja. Maka, jangan pernah merasa sendirian. Bangunlah perasaan, pemikiran dan sikap bahwa semua bisa menghadapi situasi sulit yang sama.
Perasaan untuk tak merasa sendirian di atas penting diperkuat agar diri tak mudah putus asa. Alih-alih, perasaan itu akan membangun kekuatan mental dari dalam diri sendiri. Orang Barat menyebutnya building strength from within. Nah, penguatan mental dari dalam diri sendiri ini memainkan peranan yang sangat penting untuk keberlanjutan kekuatan mental hidup. Sebab, jika di internal diri sudah muncul mentalitas internal yang kuat seperti ini, maka sejatinya telah tercipta separuh modal sukses. Separuh sisanya adalah cerdas membaca peluang. Salah satu indikatornya adalah kerja keras dan kerja cermat dalam membaca setiap peluang yang datang.
Sebagai rumusan kedua, kedepankan sikap bahwa kesulitan atau situasi sulit yang datang ke hadapan bukanlah kutukan, melainkan cobaan dan atau ujian untuk naik kelas. Jangan pernah terpikir soal kutukan. Sebab, jika itu yang mengemuka, maka mental hidup akan terjatuh. Bahkan tersungkur. Minimal cenderung stagnan dan lalu berhenti. Kedepankanlah pikiran dan sikap bahwa kesulitan atau situasi sulit yang datang ke hadapan adalah cobaan dan atau ujian yang harus direspon secara cerdas. Doronglah ke depan sebuah keyakinan yang lebih positif bahwa tak ada yang sia-sia dalam hidup. Yakinlah, pasti akan ada cahaya di ujung lorong gelap. There is light at the of the tunnel, kata Orang Barat.
Mengapa mentalitas di atas harus diyakini dan dipraktikkan secara kuat? karena, jelas ada beda antara cobaan/ujian dan kutukan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan kata “cobaan” sebagai “sesuatu yang dipakai untuk menguji (ketabahan, iman, dan sebagainya)”. Serupa meski tak persis sama, KBBI juga menguraikan makna kata ujian sebagai “sesuatu yang dipakai untuk menguji mutu sesuatu (kepandaian, kemampuan, hasil belajar, dan sebagainya)”. Sementara “kutukan” dalam pemaknaan KBBI berarti “sumpah (makian, nista, dan sebagainya); laknat (Tuhan)”. Jadi, tampak jelas bahwa kalau cobaan/ujian menyediakan ruang dan atau kesempatan untuk naik kelas, sedangkan kutukan hanya berarti hukuman dan penimpaan celaka.
Karena itu, situasi sulit yang muncul harus dipahami sebagai ruang yang disediakan untuk naik kelas. Atau, kesulitan yang datang ke hadapan harus diyakini sebagai kesempatan yang terhamparkan untuk naik kelas. Apapun jenis dan level kesulitan itu. Syaratnya satu: ketahanan mental dalam menghadapinya terjaga. Itu mutlak harus ada. Rumus Jangan cemen! seperti yang disampaikan oleh Sesdirjen dalam kalimat tips sebagaimana diuraikan sebelumnya adalah langkah strategis nan jitu yang harus diambil untuk membangun dan mengembangkan ketahanan mental itu.
Mudah menyerah, apalagi mundur, saat ada tantangan dalam hidup justru kontraproduktif terhadap pembangunan ketahanan mental itu. Sebab, sekali lagi, mudah menyerah menandai awal kerapuhan. Lebih-lebih, mundur saat dihadapkan pada tantangan hanya menggambarkan tiadanya daya tahan terhadap tantangan. Padahal, hanya ketahanan mental yang terjaga kuat yang akan memenangkan masa depan. Masa depan bukan milik mereka yang mentalnya rapuh. Tandanya, dikit-dikit lempar handuk. Dikit-dikit menyerah. Dikit-dikit masuk angin.
Sebagai rumusan ketiga, jadikan setiap kesulitan yang datang sebagai peluang perbaikan. Bahkan, manfaatkan kesulitan itu sebagai peluang untuk sebuah kemajuan. Karena itu, konversilah setiap masalah yang datang sebagai kesempatan untuk naik kelas. Dalam ungkapan pengandaian “bangunlah jembatan” oleh Sesdirjen Pendis seperti yang dikutip di awal tulisan ini memberi pesan kepada kita semua untuk selalu berpikir positif. Bahwa kesulitan yang datang adalah peluang untuk melahirkan kemajuan. Ya dalam berpikir maupun tindakan. Kalimat “bangunlah jembatan” itu adalah ilustrasi atas berpikir dan bertindak maju dalam menyambut masa depan.
Optimisme adalah rumus hidup yang menempel pada berpikir dan bertindak maju. Masalah yang datang ke hadapan justru diyakini sebagai penyedia tumbuhnya peluang baru untuk maju di tengah situasi yang bercampur aduk di tengah masyarakat. Optimisme memberi energi positif dalam merespon setiap yang datang. Jangankan terhadap perihal yang mudah nan positif, terhadap perihal yang sulit nan cenderung negatif saja optimisme selalu memberi kesadaran penting tentang peluang mana yang hadir bersama perihal yang disebut terakhir itu. Maka, optimisme akan memperkuat kecakapan untuk menjadikan kesulitan yang datang sebagai peluang perbaikan dan kemajuan.
Lalu Apa Pelajarannya?
Rumus jangan cemen! yang menjadi pesan tulisan ini sangat instrumental bagi langkah penting menuju sukses. Sebab, bagaimanapun, cerita sukses dalam hidup tak ada yang dapat dilalui dengan leha-leha. Air mata dan keringat adalah bagian dari kerja keras untuk melengkapi doa menuju sukses. Karena itu, rumus lapangan jangan cemen! ini penting dicamkan untuk mendampingi rumus mendasar lainnya: Bahwa prestasi itu diawali oleh adanya kebutuhan untuk berprestasi. Bahasa Inggrisnya, need for achievement.
Saat seseorang tak lagi memiliki need for achievement, itu isyarat mentalitas hidup harus dikoreksi besar-besaran. Sebab, saat kebutuhan untuk berprestasi absen, jangankan kesulitan yang datang, kemudahan pun tak akan dipandang sebagai fasilitasi untuk berprestasi. Mengapa bisa begitu? Tiadanya need for achievement membuat diri tak lagi merasa ada kebutuhan untuk maju. Tak lagi ada motivasi. Padahal motivasi ini memompa dan sekaligus mendorong munculnya energi untuk maju. Untuk sukses. Karena itu, tiadanya need for achievement adalah awal celakanya diri dalam hidup.
Setiap kita harus sadar, sukses itu diawali dari dalam diri. Oleh mentalitas hidup berprestasi. Rumus jangan cemen! mendorong setiap diri untuk memperkuat mentalitas hidup berprestasi ini. Tidak mundur saat di hadapan ada sungai, seperti yang diilustrasikan dalam kutipan di awal tulisan ini, adalah prinsip untuk tegar menghadapi setiap kesulitan atau situasi sulit yang datang ke hadapan. Membangun jembatan, seperti juga menjadi ungkapan ilustratif di awal tulisan di atas, adalah contoh langkah inovatif untuk merespon setiap kesulitan atau situasi sulit yang datang ke hadapan dengan kecemerlangan gagasan dan aksi tindakan. Sebagai inisiatif solusi yang diharapkan.