
Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya
Kagum, itu pasti. Apresiatif, apalagi. Semua menarik hati. Enak dipandangi lagi. Bikin decak tak pernah berhenti. Semakin dimasuki, semakin decak kagum itu tak kuasa kusembunyikan lagi. Ruang demi ruang kutemukan sungguh indah sekali. Kala itu, aku memang sedang beruntung sekali. Di pagi Hari Jumat (02 Januari 2026) itu, bersama sejumlah pimpinan kampusku aku mengunjungi Kantor Kementerian Agama RI di Fatmawati. Tempat berkantornya Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Agama RI. Kepentingannya adalah untuk konsultasi. Atas berbagai tugas yang harus ditunaikan dengan baik sekali.
Di pagi itu, aku merasa mulia sekali. Sebab, aku dan rombongan diajak melakukan office tour. Langsung oleh Pak Inspektur Jenderal (Irjen) Pak Khairunas bersama sejumlah pejabat utama. Naik-turun lantai kulalui. Keluar-masuk ruangan juga kususuri. Sambil diberi penjelasan tentang itu dan ini. Selesai gedung satu, pindah ke gedung satunya lagi. Aku dan rombongan betul-betul termuliakan sekali. Karena Pak Irjen dan sejumlah pejabat utama mengajakku dan rombongan untuk keliling berbagai ruangan yang tampak baru sama sekali. Ada ruangan yang desainnya baru jadi. Ada pula yang memang belum ditempati. Karena memang pengerjaannya betul-betul baru tuntas awal tahun ini.
“Desainnya memang dibuat supaya kita betah di kantor,” ujar Pak Irjen. Dan aku pun sepenuhnya mengamini pernyataan Pak Irjen itu. Karena memang seluruh ruangan dilengkapi dengan desain interior yang sangat modern. Bikin sangat lega dan leluasa. Hanya, kala itu aku punya pertanyaan begini: “Mengapa untuk masing-masing lantai desain interiornya beda-beda?” Begitulah tanyaku dengan penuh penasaran. Kebetulan memang, satu lantai gedung ditempati oleh satu inspektorat wilayah, mulai dari pimpinan hingga auditor. “Kalau soal desain ruangan tentu mengikuti keinginan masing-masing pengguna ruangan,” jawab Pak Irjen yang juga diamini oleh Pak Inspektur Wilayah II Pak Ali Irfan dalam perjalanan keliling kantor itu. Ada juga kala itu Pak Inspektur Wilayah V Pak Iqbal. Lalu selanjutnya juga hadir Pak Sekretaris Inspektorat Jenderal Pak Khoirul Huda Basyir.

Aku memang sangat terkesan dengan desain interior perkantoran di Itjen Kemenag itu. “Desain interiornya istimewa, dan sungguh tak biasa untuk kantor pemerintahan,” ujarku dalam hati untuk menggambarkan kesan dan kagumku pada desain ruangan perkantoran itu. Tata letak ruangan bikin lega dan leluasa. Pemilihan warnanya sangat hidup. Mebelernya sangat kekinian. Bahkan, pemanfaatan ruangan dengan sangat efektif dan efisien bisa ditemukan di semua lantai. Lampu-lampu yang terpasang di hampir semua ruangan terbuat dari lampu LED. Bahkan, sejumlah di antaranya LED yang kristal. Singkatnya, desain interiornya sangat muda, updated, dan gaul banget.
Desain interior itu memang bisa saja ditiru. Oleh siapa saja. Engkau lihat, dan engkau bisa pula menirunya. Persis seperti slogan ATM dalam pelatihan: amati, tiru, lalu modifikasi. Dan aku bersama rombongan, sekali lagi, menaruh rasa kagum terhadap seluruh desain ruangan perkantoran itu. Tentu beserta desain interior yang bikin betah dan nyaman itu. Tapi, di luar kekagumanku pada desain ruangan dan interior perkantoran itu, ada satu hal yang bikin aku tertarik untuk menginvestigasinya lebih jauh. Apa itu? Adanya berbagai kutipan yang menempel di dinding. Kadang berupa kalimat. Ada pula yang berupa kata. Tapi kata itu tidak satu. Melainkan beberapa kata yang di layout dengan desain atau tata letak yang sangat indah.
Aku mencatat kuat, untaian kalimat mutiara dan juga kata-kata kunci yang ada di berbagai dinding ruangan perkantoran itu menunjuk kepada nilai dan prinsip kerja tugas pengawasan. Seperti kata “professional,” “accountable,” dan “transparent”. Ada pula kalimat hikmah yang berbunyi begini: Lead by Example. Memimpinlah dengan Contoh. Artinya, memimpinlah dengan keteladanan. Dan tentu masih banyak lagi yang lainnya. Tapi, satu yang pasti: tak pernah ada yang sama antara untaian kalimat hikmah satu dan lainnya. Di ruangan satu dan lainnya. Juga kata-kata kunci yang menempel di dinding. Tak pernah ada yang serupa. Keren sekali. Istimewa!

Aku pun lalu bertanya, “Siapa yang membuat untaian kalimat atau rangkaian kata mulia seperti ini?” “Ya, itu hasil usulan para pegawai di masing-masing ruangan,” jawab Pak Inspektur Wilayah II. Karena kala itu pertanyaan itu aku lemparkan saat berada di ruangan Pak Irwil II itu. “Siapa saja boleh mengusulkan, namun nanti dipilih yang terbaik untuk ditampilkan di dinding-dinding ruangan,” tambah Pak Irjen untuk memperkuat penjelasan Pak Irwil II itu. Artinya, substansi pada untaian kata dan rangkaian kata mulia yang berada di banyak ruangan di setiap lantai itu hasil kerja partisipatoris. Berasal dari pegawai untuk kinerja pegawai dan lembaga yang memayungi.
Motivational Quotes
Apa yang kutemui di dinding-dinding ruangan perkantoran Itjen Kemenag di atas dikenal secara popular dalam Bahasa Inggris dengan istilah inspirational quotes. Apa itu? Inspirational quotes adalah kalimat atau kata-kata bijak (wisdom), nilai filosofis, dan atau pemikiran yang berkontribusi pada pengembangan kualitas diri. Isinya, rata-rata, adalah motivasi. Karena itulah, istilah inspirational quotes dikenal juga dengan istilah motivational quotes. Kadang inspirational quotes bisa berasal dari para tokoh atau pemikir ternama. Kadang juga berasal dari nilai yang sedang diperjuangkan bersama.
Pertanyaan pentingnya adalah, mengapa hidup perlu inspirational quotes? Sederhana sekali alasannya. Aku mencatat, minimal ada dua alasan utama. Pertama, masing-masing pribadi dari kita semua butuh untuk sukses. Tak ada satu pun di antara kita yang tak menginginkan sukses dalam hidup. Termasuk dalam urusannya dengan tugas pekerjaan. Dan untuk kepentingan itu, tentu dibutuhkan juga tuntunan praktis untuk menavigasi kesuksesan. Dan untuk itu, setiap diri dari kita butuh inspirasi. Dari siapa? Dari orang-orang yang telah terlebih dulu menapaki dan meraih sukses dalam hidup. Siapakah mereka? Tokoh atau pemikir ternama.
Kedua, masing-masing diri dan juga institusi yang menaungi punya kepentingan yang sama untuk menjamin suksesnya kinerja. Maka, menerjemahkan secara konkret nilai-nilai yang diperjuangkan bersama ke dalam bentuk kalimat mutiara hikmah dan kata-kata kunci adalah langkah strategis yang dibutuhkan. Aku menyebut langkah ini dalam karyaku sebelumnya (lihat Instrumentasi Nilai Dalam Pembelajaran: 2015), seperti terlihat di bagian bawah, dengan istilah instrumentasi nilai. Karena itulah, nilai-nilai yang diperjuangkan bersama itu dibuat untuk dikemas menjadi inspirational quotes. Dengan kekuatan inspirasi yang dikandung oleh kalimat mutiara dan kata-kata hikmah dimaksud, diharapkan muncul motivasi yang dibutuhkan sebagai kekuatan pendorong bagi lahirnya kinerja utama.

Karena itu, saat dihadirkan inspirational quote yang berbunyi “Lead by Example”, sebagaimana disebut sebelumnya, harapan munculnya motivasi sebagai kekuatan pendorong kinerja pengawasan sangat jelas tergambar. Sebab, dalam inspirational quote itu terkandung nilai motivasi dalam menunaikan tugas dan fungsi pengawasan dimaksud melalui keteladanan dalam kepemimpinan. Hal yang sama juga berlaku dengan dihadirkannya kata demi kata kunci ke dalam ruangan di setiap bangunan perkantoran gedung inspektorat itu. Sebagai contoh, dihadirkannya kata-kata hikmah seperti “professional,” “accountable,” dan “transparent”, juga diharapkan bisa menjadi kekuatan motivasi dalam kinerja. Yakni, bahwa kerja pengawasan selalu diingatkan agar ditunaikan dengan penuh kemuliaan sesuai dengan kekuatan motivasi yang dikandung oleh tiga kata mulia dimaksud.
Intinya, melalui inspirasi yang dikandungnya, quotes bisa memberikan kekuatan motivasi. Syaratnya cuma satu: bisa diterapkan (actionable). Sebagai sebuah rumusan kalimat mutiara hikmah, quotes harus memiliki kapasitas untuk bisa membuat nilai yang masih bersifat prinsipil menjadi panduan uraian yang lebih konkret. Ini semua tak lepas dari posisi quote sebagai salah satu bentuk media strategi instrumentasi nilai. Maka, ketentuan actionable menjadi syarat yang tak bisa ditawar. Sebab, kalau masih belum bisa memiliki kapasitas actionable itu, berarti uraian kalimat hikmah itu baru berhenti di level nilai prinsipil semata, dan belum ke bentuk praktis-konkret sebagai penerjemahan langsung dari nilai prinsipil itu.
Pertanyaannya kemudian, sebegitu pentingkah motivasi bagi sukses diri? Juga, sebegitu pentingkah motivasi itu untuk sukses lembaga yang menaungi individu-individu itu? Jawabannya singkat: tentu, begitu penting sekali. Motivasi akan meningkatkan rasa percaya diri. Semua individu butuh untuk memiliki rasa percaya diri setinggi mungkin agar terhampar kehendak kerja keras untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Lembaga atau institusi yang menaungi individu-individu dalam pekerjaan pasti memiliki kepentingan dengan tingginya motivasi pada setiap pegawai yang ada di dalamnya. Karena bagaimanapun, tinggi atau tidaknya motivasi individu pegawai akan berkorelasi langsung pada tinggi-tidaknya kinerja insitusi.
Termasuk bagian sentral dari motivasi dengan kekuatan kehendak kerja keras, sebagaimana dijelaskan di atas, adalah kemauan untuk mengatasi tantangan, rintangan, dan bahkan halangan yang mungkin dihadapi dalam proses menuju sukses. Sebab, tantangan, rintangan, dan bahkan halangan adalah bagian dari cerita hidup. Maka, cerita sukses juga tak jauh-jauh dari tantangan, rintangan, dan bahkan halangan dimaksud. Karena itulah, dibutuhkan motivasi yang kuat pada diri setiap individu untuk mengatasi tantangan, rintangan, dan bahkan halangan itu menuju sukses yang diimpikan. Lembaga atau institusi, sekali lagi, tentu memiliki kepentingan dengan urusan tingginya motivasi setiap pegawai yang ada di dalamnya.
Lalu Apa Pelajarannya?
Semua individu dan gugusan individu pasti memiliki nilai yang diyakini sebagai pedoman hidup. Termasuk dalam hal ini adalah nilai dalam kerja. Prinsip itu terlepas dari perbedaan kelompok sosial. Bahkan, perbedaan etnisitas sekalipun. Atau, bahkan juga perbedaan zaman. Sebab, nilai hidup itu akan membentuk identitas sosial dari masing-masing individu atau gugusan individu itu. Maka, pergerakan nilai itulah yang akan membedakan apakah identitas itu akan terlembagakan dan terawat secara berkelanjutan ataukah tidak. Prinsip ini berlaku umum. Berlaku universal. Lintas zaman. Juga lintas batas sosial.
Nah, apa yang ditampilkan oleh pimpinan Inspektorat Jenderal Kemenag RI melalui inspirational quotes di serangkaian ruangan perkantorannya di atas memberi pelajaran penting. Yakni, betapa nilai begitu sentralnya bagi penunaian tugas pekerjaan pengawasan. Saking pentingnya, inspirational quotes itu ditebar ke hampir semua ruang kerja. Tak sama pula isinya satu sama lain, seperti diuraikan sebelumnya. Bahkan, desain dan layout-nya pun juga tak seragam. Keberagaman ini tentu menandakan kuatnya semangat untuk menjadikan inspirational quotes dimaksud menjadi perhatian setiap diri yang berada di gedung perkantoran itu. Tentu saja, siapa saja yang berkesempatan untuk mendapati inspirational quotes itu juga bisa mengambil hikmah mulianya.
Secara teknis, hikmah mulia yang bisa ditarik dari kebijakan penebaran inspirational quotes oleh pimpinan Inspektorat Jenderal Kemenag RI di atas bisa diterjemahkan, minimal, ke dalam tiga rumusan pelajaran praktis. Pertama, nilai itu diperjuangkan. Tidak bisa dibiarkan begitu saja untuk muncul atau berlalu dalam kehidupan. Sebab, jika nilai tidak diperjuangkan, maka ia akan mudah timbul dan tenggelam. Bahasa Inggrisnya, upside down. Pergerakannya sangat bergantung sekali pada trend kehidupan. Jika hal itu terjadi, maka nilai justru akan mudah terombang-ambing oleh kecenderungan perilaku individu-individu di tengah masyarakat. Jika kondisi ini yang berlangsung berketerusan, maka bukan nilai yang akan memandu praktik hidup. Alih-alih, justru nilai yang akan terdorong, tergencet, dan bahkan teredupkan oleh kecenderungan praktik hidup individu-individu di tengah masyarakat itu.
Kalau sudah begitu, maka nilai kehilangan kekuatannya untuk memandu hidup. Pada ujungnya, nilai tak lagi kuat untuk mengkerangkai dan bahkan melindungi identitas individu dan atau gugusan individu yang dilingkupinya. Di ujung yang lain, tergerusnya identitas individu dan atau gugusan individu kerap diawali oleh lunturnya nilai yang sebelumnya mendasari cara berpikir dan bertindak mereka. Oleh karena itu, agar nilai bisa tetap efektif, ia harus diperjuangkan. Konsekuensinya, setiap individu dan juga gugusan individu yang dilingkupi selama ini memiliki kewajiban yang sama untuk mempertahankan dan sekaligus mengembangkan nilai itu.
Kedua, nilai itu harus hidup. Tak boleh redup. Apalagi mati. Karena itu, nilai harus menjiwai seluruh gerak hidup. Dalam perspektif kerja profesional, nilai itu harus menjadi ruh penunaian tugas pekerjaan. Karena itu, tugas dan fungsi yang menjadi tanggung jawab pekerjaan tak boleh jauh-jauh dari nilai itu. Maka, agar hidup (living), nilai-nilai itu harus dekat dan selalu ada dalam diri pegawai. Tak boleh muncul nilai yang hanya ada di atas kertas, namun tak efektif di dunia nyata. Sebab, jika itu terjadi, nilai akan menjadi mati. Bahasa Inggrisnya, extinct values.
Tentu semua institusi tak menghendaki nilai-nilai kerja menjadi mati atau extinct. Sebab, hal itu akan bisa secara kontan mengancam kinerja dan sekaligus keberlangsungan institusi secara sekaligus nan bersamaan. Yang justru dimaui oleh semua institusi adalah keberlanjutan nilai sebagai basis kerja. Nilai-nilai kerja itu tetap terjaga dalam keseharian penunaian tugas pekerjaan. Artinya, bukan extinct values yang diharapkan mengemuka, melainkan living values. Ya, nilai yang terus hidup dalam alam nyata kehidupan sumber daya manusia institusi. Sebab, jika tak lagi hidup senyatanya di alam material keseharian pegawai, maka nilai itu telah kehilangan elan vitalnya untuk bisa menjadi working values.

Ketiga, nilai itu harus diterjemahkan ke dalam ukuran yang konkret. Sebab, nilai itu berada di level prinsip. Agar bisa diterapkan dengan baik, maka nilai harus diturunkan ke dalam indikator. Di sinilah, inspirational quotes menjadi medium menarik untuk menurunkan nilai ke dalam uraian dan rumusan yang konkret. Melalui kriteria actionable yang dipersyaratkan, inspirational quotes memiliki kapasitas yang cukup tinggi untuk menerjemahkan nilai yang berada pada tataran prinsip itu ke dalam rumusan yang bisa diterapkan, di antaranya melalui indikator yang relevan.
Akhirnya, hiduplah di atas nilai. Itu prinsip penting untuk melengkapi prinsip “hiduplah dengan nilai”. Hidup dengan nilai berarti hidup tak boleh jauh-jauh dari nilai sebagai standarnya. Sebab, kalau menjauh dari nilai, maka hidup tak akan memiliki standar kebajikan. Juga, prinsip “hiduplah di atas nilai” mengandung arti bahwa nilai harus menjadi ruh untuk hidup. Karena itu, inspirational quotes bukan sekadar untaian kata dan atau kalimat biasa semata. Dengan kekuatan inspirasi dan motivasi yang dimiliki, inspirational quotes telah memberi instrumen untuk menavigasi sukses di masa kini dan mendatang.