
Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya
Ramadan 1447 H/2026 M segera meninggalkan kita semua. Pertanyaan yang patut diajukan secara retorik kepada masing-masing kita adalah, apa yang menjadi peninggalan yang bersifat masif dari Ramadan? Puasa? Tentu saja iya. Tapi ada yang lainnya. Salah satunya adalah ibadah shalat berjamaah. Cara mengetahuinya adalah dengan membandingkannya dengan praktik ibadah serupa di bulan-bulan selain Ramadan. Sebab, adakah momen sepanjang sebulan penuh selain Ramadan yang mendorong setiap diri untuk melakukan shalat berjamaah? Faktanya memang sulit ditemukan. Atau bahkan tidak bisa ditemukan.
Karena itu, segera beralihnya Ramadan harus membuat setiap kita mengambil inspirasi darinya. Shalat berjamaah adalah contoh utamanya. Dilaksanakan di masjid, tentu saja itu utama. Substansinya, Ramadan telah menggerakkan umat Islam untuk melaksanakan shalat secara berjamaah lebih dari bulan-bulan lainnya. Tentu saja, ada makna yang bersifat personal. Tapi ada juga dimensi publik yang bisa ditarik sebagai inspirasi dari shalat berjamaah itu. Dan, inspirasi serta makna yang berdimensi publik ini penting untuk dibahas lebih lanjut. Tentu hal itu patut dikaitkan pula dengan urusan publik.
Pembahasan lebih detail atas inspirasi serta makna yang berdimensi publik dari shalat berjamaah di atas memiliki signifikansi yang tinggi. Utamanya adalah untuk membuktikan bahwa ritual agama, bahkan yang bersifat mahdlah (atau berketentuan ketat; strictly stipulated) sekalipun, berkontribusi secara berarti untuk penciptaan ruang publik yang baik. Tentu, inspirasi bisa diambil dari signifikansi publik dimaksud. Dan, tentu pula, inspirasi itu harus kemudian dikonkretkan lebih lanjut ke dalam bentuk kebijakan teknis implementatif. Tapi, paling tidak, inspirasi dengan signifikansi publik dari shalat berjamaah itu penting menjadi kesadaran bersama.
Harapannya, dengan menarik inspirasi di atas, ada kesempatan yang terhampar untuk penciptaan tata kelola ruang publik yang baik. Nah, salah satu isu sentral yang berkaitan dengan kepentingan publik yang penting untuk dibahas lebih detail nan konkret adalah inspirasi kepemimpinan (leadership) di balik ajaran shalat berjamaah. Tentu ada aspek-aspek substantif lain yang mungkin tersedia untuk ditarik. Itu tentu saja tak dinafikan. Tapi, tulisan ini lebih menitikberatkan pada substansi inspiratif kepemimpinan di balik ajaran shalat berjamaah dimaksud.
Inspirasi Leadership
Substansi dasar leadership adalah kecakapan untuk menggerakkan sumber daya manusia menuju cita-cita lembaga. Kata “lembaga” di sini berarti menyangkut kepentingan bersama. Bukan kepentingan personal. Yakni, orang-perorang. Karena menyangkut kepentingan bersama dalam pengertian tersebut, maka dalam bahasa manajemen modern, substansi leadership dimaksud diungkapkan dengan frase aligning the vision. Terjemahannya, membariskan visi. Dalam bahasa shalat berjamaah, itulah yang disebut dengan istilah taswiyatush shufuf. Merapikan barisan.
Setiap imam shalat jamaah selalu dianjurkan untuk menyebut ungkapan taswiyatush shufuf itu. Di awal. Ya, hanya di awal. Sebelum memulai tahapan takbirotul ihram. Takbir untuk memulai ritual shalat. Ungkapan persis dalam Bahasa Arab yang lazim diucapkan sang imam adalah seperti ini: sawwuw shufufakum. Sebagian imam di sejumlah daerah di Indonesia lalu menyebut terjemahannya dalam Bahasa Indonesia, seperti: “rapikan shaf” atau “rapikan barisan.” Atau ada juga ungkapan lain dalam Bahasa Arab yang lazim pula digunakan dan atau diucapkan sang imam. Begini ungkapan lain itu: istawwu. Artinya, rapikan. Berbarislah secara tertib. Berdirilah secara rapi.
Tentu, untuk suksesnya taswiyatush shufuf dalam shalat berjamaah itu, sang imam tak sendirian. Ada muadzin yang menandai masuknya waktu shalat dan memanggil warga masyarakat untuk datang ke masjid atau musholla untuk shalat berjamaah. Ada juga “tukang” qomat (atau pelantun lafal iqamah) yang membacakan kalimat iqamah untuk menandai bahwa shalat jamaah sudah akan segera dilaksanakan. Dan jamaah pun pasti lalu berdiri untuk mengambil shaf (atau barisan) yang lebih depan. Itu karena shalat jamaah segera dilaksanakan.
Untuk suksesnya shalat berjamaah itu juga, jamaah pun melaksanakan semua rangkaian shalat itu dengan baik. Mulai dari berdiri mengambil barisan terdepan. Lalu mengikuti seluruh “perintah” sang imam dari awal takbiratul ihram hingga salam penutup. Artinya, di situ ada “kepatuhan” terhadap “perintah” sang imam yang disampaikan melalui bacaan yang dikeraskan dalam setiap tahapan ritual shalat jamaah. Kata “kepatuhan” jamaah disimbolkan dengan kepengikutannya secara kuat terhadap setiap gerakan shalat sang imam. Bergerak sendirian dalam tahapan ritual shalat jamaah hanya akan berarti keluar dari shalat jamaah itu sendiri.
Artinya, di balik suksesnya sang imam dalam memimpin shalat jamaah itu, ada sejumlah petugas dan bahkan juga jamaah yang menunjukkan kepatuhan dalam bershalat secara berjamaah itu. Imam tak bisa sendirian. Bahkan ekstremnya begini: bagaimana imam bisa memimpin shalat jamaah jika tak ada yang lain. Mungkin, muadzdzin dan “tukang” qomat bisa dirangkap. Bahkan oleh sang imam sendiri. Dan dalam kasus ini, sang imam lalu menjadi superman, seperti yang kuindikasikan pada tulisanku sebelumnya (lihat “Superman, Superteam, dan Superhero,” pada URL: https://uinsa.ac.id/superman-superteam-dan-superhero). Tapi, jika tanpa jamaah, tak akan terwujud shalat jamaah. Juga, tak akan terjadi shalat jamaah itu jika di sana tak ada kepatuhan dari banyak pihak terhadap perintah shalat berjamaah itu. Minimal seperti yang dikumandangkan oleh muadzin dan “tukang” qamat. Juga seperti juga yang dikomando oleh sang imam dalam seluruh rangkaian shalat berjamaah itu.
Inspirasi Superteam
Suksesnya pelaksanaan shalat berjamaah itu tak lain karena semua pemangku kepentingan shalat jamaah tersebut telah menjadi superteam shalat jamaah. Dan sejatinya, orang yang mampu mencetak superteam dengan kecakapan tertentu, seperti yang di antaranya diidealisasikan oleh konsep superman sebagaimana kuuraikan dalam tulisanku sebelumnya (lihat “Superman, Superteam, dan Superhero,” pada URL: https://uinsa.ac.id/superman-superteam-dan-superhero), bisa difigurisasikan ke dalam sosok imam shalat jamaah. Sang imam mampu merapikan barisan jamaah. Setiap dia berdiri sebelum memulai memimpin shalat, dia menghadap ke belakang dan meminta semua jamaah shalat untuk merapikan barisan. Mengisi shaf yang berada di depan terlebih dulu. Hingga tak ada jamaah yang datang belakangan lalu harus melangkahi jamaah di depannya untuk mengisi shaf yang masih kosong di depannya.
Dengan begitu, bagaimanapun, sang imam shalat jamaah itu adalah sosok penting yang mampu mencetak superteam. Siapakah superteam itu? Yakni, semua yang hadir dan melaksanakan shalat berjamaah di masjid atau musholla. Sang imam membuat semua jamaah bisa berdiri tertib dan rapi. Tak ada sela di antara jamaah yang hadir. Dan juga tak ada anggota shalat berjamaah itu yang melakukan gerakan sendiri-sendiri dan terpisah dari gerakan imam. Hingga shalat jamaah pun berakhir dengan sempurna. Bahkan, di sejumlah kelompok, shalat berjamaah itu dilanjutkan pula dengan ritual wiridan berjamaah.
Jadi, sejatinya, sosok yang cakap mencetak superteam telah dicontohkan oleh imam shalat jamaah. Meski begitu, bukan berarti bahwa siapa saja berkelayakan untuk menjadi imam shalat berjamaah. Sebab di sana ada kriteria. Ada ketentuan. Tentu kepentingannya untuk mempertahankan idealisme. Sebab bagaimanapun, tugas sang imam adalah mengantarkan semua yang hadir untuk dapat melaksanakan shalat berjamaah dengan merasa aman dari sisi ketentuan fiqhiyah dan tenang dari sisi spiritual. Maka, kriteria tentu menempatkan yang utama di atas yang ada. Memprioritas yang baik di atas yang biasa-biasa saja.
Keutamaan selalu menjadi prinsip dasar dari penentuan jabatan apapun. Tak terkecuali jabatan imam dalam shalat berjamaah. Karena itu, fiqih pun memberikan petunjuk tentang kriteria imam shalat berjamaah. Salah satunya, fiqih menjelaskan bahwa ketentuan untuk dapat menjadi imam shalat berjamaah adalah yang paling fasih di antara jamaah shalat yang hadir. Dalam bahasa teknisnya, sejumlah kitab fiqih menyebut kriteria aqra’uhum. Yakni orang yang paling fasih atau paling bagus bacaan al-Qura’nnya. Kriteria ini tentu untuk menyempurnakan terjaganya prinsip aman dari sisi ketentuan fiqhiyah. Sebab, kriteria aqra’uhum menempatkan yang terbaik dalam hal bacaan al-Qura’n di antara yang ada sebagai prioritas.
Lebih dari itu, kriteria jaminan ketenangan dari sisi spiritual memberikan dorongan kriteria tambahan bagi jabatan imam shalat berjamaah. Tentu, dalam kaitan ini, mereka yang memiliki rekam jejak personal yang baik nan terjaga dari sisi nilai dan praktik hidup privat dan publik bisa memenuhi kriteria pemberian jaminan ketenangan dari sisi spiritual dimaksud. Sebaliknya, mereka yang rekam jejak spiritual personal dan sosialnya buruk tentu tak bisa memberikan jaminan ketenangan spiritual jamaah. Tentu karena itu pula, siapapun jamaah yang hadir untuk shalat berjamaah tak akan bisa merasa tenang secara spiritual saat mereka harus diimami oleh orang yang rekam jejak spiritual personal dan sosialnya buruk.
Lalu Apa Pelajarannya?
Shalat jamaah itu ibarat, dan sekaligus simbol, sebuah institusi. Bahkan, shalat jamaah adalah institusi itu sendiri. Maka, inspirasi shalat jamaah bisa dijadikan sebagai pintu masuk untuk menelaah lebih mendalam tentang substansi dan sekaligus signifikansi leadership dan tentu juga followership yang menjadi substansi dasar pembahasan tulisan yang berada di hadapan pembaca ini. Karena itu, sejatinya, inspirasi untuk mendalami makna besar isu-isu ikutannya, seperti superteam dan superman, tak harus diambil dari lokasi atau konteks jauh-jauh. Shalat jamaah telah memberi inspirasi top untuk menerjemahkan konsep leadership dan tentu followership, beserta superteam dan superman yang menjadi isu ikutannya itu.
Nah, aku mencatat dua pelajaran utama dari shalat berjamaah untuk konteks dan kepentingan di atas. Pertama, shalat berjamaah mengajarkan, followership itu sepenting leadership. Tak pernah ada shalat berjamaah jika tak ada imam dan juga tak ada makmum. Ada imam, tapi tak ada makmum, tak terpenuhi ketentuan shalat berjamaah itu. Begitu pula sebaliknya. Ada makmum, tapi tak ada imam, juga tak akan tercipta shalat berjamaah itu. Keberadaan imam dan makmum, karena itu, sama-sama penting dalam terselenggaranya shalat berjamaah itu. Keduanya bak dua sisi mata uang. Bisa dibedakan tapi tak bisa dipisahkan.

Karena itu, shalat berjamaah mengajarkan: adanya leadership itu akibat adanya followership. Sebaliknya, followership membutuhkan leadership. Leadership dimaksud disimbolkan oleh keberadaan imam. Dan followership disimbolkan oleh keberadaan makmum. Maka, perhatian kita semua tak boleh hanya melulu pada keberadaan imam. Alih-alih, juga harus ditujukan kepada makmum. Karena itu, postulat berikut sering diberlakukan: jangan pernah bermimpi menjadi imam yang baik jika saat menjadi makmum tak mampu melaksanakan tugas sebagai makmum dengan baik. Atau, dalam ungkapan lainnya, tak mampu berperilaku baik sebagai makmum.
Bahkan, suksesnya kepemimpinan dalam shalat jamaah juga disumbang oleh kepatuhan makmum. Tak akan ada shalat jamaah yang sukses saat makmum tak mau mengikuti imam. Imam melakukan gerakan sesuai urutan, tapi makmum tak mau mengikuti gerakan shalat sang imam. Karena itu, menjadi makmum yang baik adalah kewajiban “syar’i”. Kata “baik” di sini menunjuk tidak saja kepada terpenuhinya syarat rukun shalat semata oleh sang makmum secara personal. Melainkan juga meliputi kepatuhan terhadap sang imam dalam hal gerakan shalat secara berurutan sesuai dengan ketentuan syariat.
Perkara di luar shalat jamaah, atau bahkan di luar masjid, sang makmum ngata-ngatain jelek sang imam, shalatnya tetap sah. Itu walaupun tentu saja praktik makmum yang seperti itu menjadi catatan atas perilaku kesehariannya. Dalam bahasa birokrasi kepegawaian instansi pemerintah, itulah yang disebut dengan perilaku kerja. Cara mengukur perilaku kerja pegawai paling mudah bisa dilakukan dengan menelaah apa yang terucap dan terpraktikkan oleh sang pegawai itu di luar keberadaan atau kehadiran pimpinan instansinya, atau yang dalam bahasa shalat jamaah disebut dengan imam shalat.
Sebagai pelajaran kedua, shalat berjamaah mengajarkan: sukses membutuhkan adanya superteam. Karena itu, keberadaan superteam tak boleh dinafikan. Sebagaimana halnya shalat jamaah yang mempersyaratkan satunya visi dan misi dalam bentuk gerakan dalam tahapan ritualnya, suksesnya sebuah institusi juga mempersyaratkan keberadaan superteam yang sama yang terbentuk dari seluruh unsur sumber daya manusia internal. Dari level leadership hingga followership. Maka, nasehat berikut ini menjadi penting: jangan pernah melupakan pentingnya keberadaan superteam jika ingin membangun kinerja lembaga.
Semua yakin betapa pentingnya superteam. Begitu sentralnya superteam. Sederhana sekali penjelasannya. Keberadaan superteam sangat dibutuhkan untuk mengantarkan insitusi meraih kinerja terbaiknya. Sebab, saat sebuah institusi sudah mendesain dan memutuskan target kinerjanya, maka semua individu dari sumber daya manusia di internalnya harus merujuk kepada target kinerja yang dicita-citakan itu. Bukan hanya masing-masing individu itu menunjukkan kinerja terbaiknya, melainkan juga mempersembahkan kinerja terbaiknya itu untuk dan sekaligus inline dengan kebutuhan lembaga.
Kalimat yang disebut terakhir di atas menjelaskan bahwa yang harus ada dalam mindset sumber daya manusia internal institusi adalah kinerja lembaga. Karena itu, perilaku kerja mereka harus seirama dengan ketentuan institusinya. Sebab, bisa jadi ada individu tertentu di internal sebuah institusi yang hanya memikirkan kinerja pribadinya tanpa pernah hirau pada kinerja lembaga. Padahal, setiap individu di internal institusi dimaksud dipekerjakan justru untuk membantu insitusi meraih kinerja terbaiknya. Jika kepentingan pribadi atau kinerja yang ditonjolkan, maka sejatinya lembaga sudah tak membutuhkan lagi tenaga dan pikirannya. Itulah yang diinspirasikan oleh kepatuhan makmum kepada gerakan shalat sang imam, seperti diuraikan di atas.
Shalat berjamaah memang urusan ibadah. Tapi, ia sejatinya bukan sekadar perkara ritual personal. Melainkan juga mengandung inspirasi untuk masalah sosiospiritual. Termasuk di antaranya untuk kepentingan urusan kinerja tata kelola institusional. Hadirnya Ramadan, termasuk untuk tahun 1447 H/2026 M ini, memberi ruang yang luas kepada setiap Muslim untuk terekspos ke dalam situasi yang memungkinkan, dan bahkan mendorong, semakin tingginya intensitas shalat secara berjamaah. Maka, selepas Ramadan, implikasi pelaksanaan shalat berjamaah yang dibiasakan selama sebulan penuh dimaksud sepatutnya bisa melampaui sekat ritual personal hingga sampai dan berdampak pada tata kelola ruang publik. Termasuk perbaikan kinerja lembaga yang menaungi banyak pekerja.