
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya
Dia lagi, dia lagi. Ketemu lagi, ketemu lagi. Tentu kalau itu terjadi, bisa dibilang hal itu sebagai fakta yang mengesankan. Oleh dan bagi siapapun yang mendapatinya dalam praktik kenyataan. Minimal selalu hadir dalam ingatan. Sebab, ungkapan “dia lagi, dia lagi” menandakan bahwa orang dimaksud telah menjadi figur sentral di balik keberadaan sesuatu. Juga, ungkapan “ketemu lagi, ketemu lagi” menggambarkan pentingnya peran yang dimainkan oleh orang dimaksud dalam dan di balik dinamika sesuatu itu. Hingga dia pun selalu berada di dalam dinamika itu.
Kedua ungkapan di atas tak pelak menunjukkan besar dan pentingnya kontribusi orang yang sedang digambarkan di atas terhadap perkembangan sesuatu di tengah masyarakat. Lebih-lebih, pengulangan penyebutan kalimat dalam kedua ungkapan dimaksud menandakan bahwa yang diidentikkan dengan orang dimaksud tidak satu. Melainkan jamak. Juga, pengulangan penyebutan itu melambangkan bahwa kehadiran dan kontribusi orang yang digambarkan dimaksud bisa dijumpai di banyak tempat. Ya, dengan mudahnya. Karena gampang dilihat dan ditemukan.
Itulah yang kudapati dari sosok kalem tapi dari tangannya terlahir kontribusi besar di tengah masyarakat luas. Jalur dan lintasannya ada di bidang pendidikan. Utamanya pendidikan Islam formal. Namanya, Drs. H. Nur Hidayat, M.M. Sosok ini sangat dikenal oleh publik Muslim. Utamanya di perkotaan di wilayah Jawa Timur. Sebab, di tangannya sejumlah sekolah Islam ternama mewujud. Tak hanya di Surabaya sekolah-sekolah Islam terkemuka itu berada. Melainkan juga di sejumlah kota lain seperti Sidoarjo dan Jember. Maka, ungkapan “dia lagi, dia lagi” dan “ketemu lagi, ketemu lagi” di atas kususun untuk menunjuk ke sosok Nur Hidayat. Keberadaannya dalam kepemimpinan di sejumlah lembaga pendidikan identik dengan sukses besar.
Lalu, apa kata dia atas prinsip yang mendasari sukses kepemimpinannya di sejumlah lembaga pendidikan yang dikelolanya? Berikut kalimat yang dia rumuskan secara apik yang bisa dijadikan sebagai jawabannya: “Falsafah kami adalah falsafah sumur: air sumur kalau tidak pernah diambil airnya, airnya maka akan bau. Tapi kalau rutin diambil, maka air tidak akan bau. Justeru air akan bisa memberi berkah.” Demikian filosofi dasar Nur Hidayat yang diungkapkan dalam sambutannya selaku Pembina Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Al Hikmah Surabaya pada Silaturahim Wali Murid Baru Tahun Ajaran 2026/2027 di Kompleks (YLPI) Al Hikmah Surabaya, Sabtu (18 Juli 2026).

Mendengar dan menyakiskan langsung penyampaian filosofi air sumur di Kompleks YLPI Al Hikmah Surabaya di atas, aku pun yang hadir di acara tersebut sebagai penceramah utama langsung terpesona. “Aha!!!, filosofi yang keren,” kataku kala itu. Karena keren itu, aku pun mengingat betul ungkapan filosofi itu. Begitu frase “air sumur” mulai disebut oleh yang bersangkutan sebelum melanjutkan ke kalimat berikutnya, aku pun buru-buru langsung membuka aplikasi note di gawaiku. Kuberbisik dalam hati: “Sayang sekali jika tak didokumentasikan.” Lalu kucatat rapi ungkapan filosofis itu. Kata per kata. Hingga tak satupun substansi dan redaksi yang digunakan untuk menyampaikan substansi itu terlewatkan. Dan, dalam tulisan ini, aku ingin bagikan filosofi dasar oleh Nur Hidayat itu beserta analisis atasnya.
A Big Name
Aku menunjuk sosok Nur Hidayat dengan ungkapan “dia lagi, dia lagi” dan “ketemu lagi, ketemu lagi” di atas bukanlah tanpa alasan. Tidaklah mengada-ada. Bukan make-up story. Bukan kisah bualan. Sebab, memang sekian kali aku ketemu dengannya. Semua dalam forum pendidikan. Kegiatannya pun dilaksanakan di kompleks sekolah. Bukan di hotel. Kala aku diundang sebagai narasumber seminar Pendidikan di Insan Cendekia Mandiri Boarding School (ICMBS) di Sarirogo Sidoarjo (23 Maret 2019), sebagai contoh kecil, aku ketemu dia. Kala itu dia hadir untuk memberi sambutan selaku Ketua Pembina Yayasan Yatim Mandiri yang membawahi ICMBS dimaksud.
Bersama kami berdua, terdapat dua nama lain sebagai pembicara. Yakni, Drs Ec. Asrofi, MM. MH selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo. Juga ada Dr. Margono, M.PD selaku Direktur Sekolah Insan Cendekian Mandiri. Kami berempat membincangkan tema strategis-proyektif: “Merancang Sekolah Masa Depan Untuk Indonesia 4.0.” Di situ, aku mulai mengenal lebih dekat sosok Nur Hidayat. Juga pemikiran-pemikiran strategisnya tentang pengembangan pendidikan di negeri ini. Utamanya yang didasarkan pada prinsip-prinsip tata kelola yang modern. Kepentingannya adalah untuk sebesar-besarnya digunakan untuk kepentingan masyarakat Muslim secara khusus dan bangsa Indonesia secara umum.

Sekian tahun berlalu. Dan saat aku kembali menjadi narasumber di seminar peningkatan mutu SDM, motivasi, serta pembinaan guru dan karyawan Perguruan IslamRaudlatul Jannah, Waru Sidoarjo, di pertengahan tahun 2026 lalu, aku pun juga ketemu lagi sama dia. Kala itu, dia memberi sambutan sebagai pimpinan yayasan. Juga pada perkembangan terbaru, pada saat bertindak sebagai penceramah umum pada Silaturahim Wali Murid Baru Tahun Ajaran 2026/2027 di Kompleks (YLPI) Al Hikmah Surabaya, Sabtu (18 Juli 2026), aku pun juga ketemu sosok itu di kegiatan dimaksud. Dia hadir sebagai Pembina Yayasan YLPI Al Hikmah dimaksud. Dia memberi sambutan tentang proses pendidikan di lembaga pendidikan Islam dimaksud.
Bagiku sendiri, Nur Hidayat bukan nama baru. Sebab, saat aku mengajar sebagai guru Bahasa Arab di SD Al Hikmah Surabaya tahun 1996 usai lulus sarjana, dia sudah menjadi pimpinan dewan pembina. Bahkan, sebelumnya, dia juga tercatat sebagai salah satu figur yang membidani lahirnya Yayasan Pendidikan Islam Al Falah Surabaya. Dalam sejarah sosial kepemimpinan pendidikannya, dia tercatat sebagai sosok penting yang membidani dan sekaligus mengelola sejumlah yayasan dan lembaga pendidikan Islam. Beberapa di antaranya yang bisa disebut adalah Lembaga Pendidikan Islam At-Taqwa Surabaya ( dimana dia menjadi ketua yayasan dan direktur), Sekolah Nurul Hikmah Sidoarjo, dan Sekolah Al Baitul Amien Jember.
Yang menarik dari semua itu, seluruh sekolah Islam yang berada di bawah kepemimpinanya cukup mentereng. Bahkan bisa dibilang terkemuka di wilayah masing-masing. Mulai dari Surabaya, Sidoarjo, hingga Jember. Artinya lalu, sosok Nur Hidayat identik dengan sukses dan majunya sekolah-sekolah Islam di Jawa Timur. Karena itu, pertanyaan penting yang patut diajukan kepada sosok berpengaruh terhadap sekolah-sekolah Islam swtasta di Jawa Timur ini adalah, bagaimanakah pemikiran dan praktik yang dia lakukan hingga sukses membawa sejumlah sekolah Islam menjadi lembaga pendidikan Islam terkemuka.
Filosofi air sumur yang dia kembangkan, seperti diuraikan sebelumnya, telah terbukti menjadi fondasi dasar bagi pemikiran dan praktik pendidikan yang dia jalankan terhadap sekolah-sekolah yang berada di bawah kewenangannya. Fondasi itulah yang mengantarkannya sukses dalam mendirikan dan mengelola sekolah-sekolah di bawah kewenangannya dimaksud. Fakta-fakta di atas bisa digunakan sebagai data untuk menjelaskan rahasia Nur Hidayat hingga menjadi figur penting di balik suksesnya sejumlah lembaga pendidikan yang berada di bawah kepemimpinannya seperti disebutkan sebelumnya.
Maka, tak heran jika Nur Hidayat telah menjadi a big name (sebuah nama besar) dalam dunia pendidikan, khususnya Islam, di Jawa Timur. Dia tak saja menjadi sosok yang terkenal. Melainkan juga penting bagi dunia Pendidikan Islam di Jawa Timur. Karena itu, kiprahnya bisa memilik pengaruh yang kuat terhadap dinamika pengelolan Lembaga Pendidikan Islam di Jawa Timur. Dan atas alasan itu pula, maka dia, suka atau tidak suka, telah tampil sebagai pribadi yang berpengaruh dalam pengembangan tata kelola pendidikan Islam formal. Lalu, dia pun juga bisa menjadi role model bagi kepemimpinan pendidikan di sekolah formal.
Perilaku Personal ke Kinerja Lembaga
Pengalaman yang kuceritakan bersama rumusan filosofi air sumur yang dinyatakan seperti diuraikan di atas kembali terngiang kencang di telinga satu bulan lebih berikutnya. Tepatnya kala aku mengajar mata kuliah ethics and citizenship for professional teachers pada Selasa (1 September 2026) untuk mahasiswa double degree program Master of Teaching English to Speakers of Other Languages (MTESOL) hasil kerjasama Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris (MPBI) UINSA dan Progam Studi Master of TESOL pada The university of Canberra. Pada sesi perkuliahan hari itu, kebetulan aku dan teman-teman mahasiswa program magister itu sedang membahas materi ethics and professional conduct.
Kala sampai pada pembahasan ethics as a foundation for professional conduct, aku pun teringat kembali dengan sosok bernama Nur Hidayat itu. Betapa filosofi air sumur yang diyakini itu menjadi fondasi kuat bagi perilaku personalnya dalam dunia pendidikan. Apa yang diyakini sebagai kebaikan dalam penyelenggaraan pendidikan dikembangkan dan kemudian direplikasi di sejumlah tempat lain. Sekolah satu dibangun dia atas prinsip yang dia yakini dan kembangkan dilanjutkan dengan pembangunan sekolah lainnya. Begitu pula seterusnya. Maka, tak heran nama dia menjadi penanda dari suksesnya sekolah-sekolah itu. Hingga, kalimat ada “dia lagi, dia lagi” dan “ketemu lagi, ketemu lagi”, seperti dikutip di atas, menunjuk ke dirinya.
Dalam perkuliahan program magsiter pada sesi Selasa (1 September 2026) di atas, salah satu bahasan penting adalah kajian mengenai hubungan antara perilaku personal dan kinerja profesional kepemimpinan-organisasi. Kebetulan, teori yang dikembangkan oleh Peter Elisha Mwamwaja & Shadrack Ernest Mwakalinga dalam tulisannya “Ethics and Professional Conduct among Teaching Professionals in the 21st Century: Implications for National Development” (lihat Journal of Research Innovation and Implications in Education, vol. 10, Issue 1 [2026]: hal. 718 – 735) yang mengintegrasikan axiological ethical theory dan ethical leadership theory dikupas tuntas.
Dalam argumennya, pemerhati Mwamwaja & Mwakalinga (2026:721) di atas menyatakan begini: “While Axiological Ethical Theory explains the value-based foundations of ethical behaviour, Ethical Leadership Theory explains how ethical values are reinforced, modeled, and sustained through leadership and institutional culture.” Terjemahannya begini: “Sementara Teori Etika Aksiologis menjelaskan landasan perilaku etis yang berbasis nilai, Teori Kepemimpinan Etis menjelaskan bagaimana nilai-nilai etis diperkuat, dijadikan teladan, dan dipertahankan melalui kepemimpinan serta budaya institusional.”

Kala membahas peran dan pengaruh pemimpin dalam perilaku etis (ethical behaviour), budaya organisasi (organizational culture), dan perilaku profesional (professional conduct) melalui sejumlah praktik baik, aku mencoba menjadikan sosok Nur Hidayat sebagai contoh partikular. Kepentingannya untuk melakukan konkretisasi atas teori. Dengan begitu, pembahasan mengenai hubungan perilaku personal dan kinerja profesional kepemimpinan-organisasi bisa dengan mudah disampaikan dan dibahas dalam sesi perkuliahan program magister double degree di atas.
Aku pun makin yakin terhadap besarnya peran akhlak atau etika terhadap pencapaian kinerja profesional. Dalam konteks kinerja profesional pendidikan sosok Nur Hidayat, tentu banyak prinsip etis yang dimiliki dan dikembangkan sebagai fondasi bagi perilaku personal oleh praktisi pendidikan ini. Tapi, filosofi air sumur sebagai salah satu yang dia kembangkan itu cukup menjadi contoh bagaimana peran akhlak atau etika terhadap pencapaian kinerja profesional. Dalam praktiknya, dia tak saja sukses untuk mengantarkan sejumlah sekolah Islam menjadi terkemuka. Melainkan juga tak pelit untuk berbagi tips dan cerita sukses dalam kepemimpinan pendidikan. Itulah yang disebut dengan terjemahan atas konsep professional conduct.
Lalu Apa Pelajarannya?
Minimal ada tiga pelajaran utama yang bisa dipetik dari pembahasan di atas. Pertama, jangan pelit pada ilmu dan atau pengetahuan. Bagilah ilmu dan pengetahuan itu ke seluas mungkin warga masyarakat. jangan miliki sendiri. Jangan pula nikmati sendiri. Ojo dikekepi dewe, ungkap orang Jawa. Sederhana sekali alasannya. Semakin ilmu dan pengetahuan itu diambil sebagai inspirasi oleh yang lain, semakin bertambah pula kedalaman kajian dan sekaligus kemantapan pengembangan ilmu dan pengetahuan yang ada di dalam pikiran dan diri pemiliknya. Pelit atasnya hanya akan menjauhkan kedalaman kajian dan kemantapan pengembangan darinya.
Pelajaran pertama ini persis seperti kandungan esensial filosofi air sumur yang diungkapkan oleh Nur Hidayat, sebagaimana diulas di atas. Semakin ditimba air sumur, semakin jernih pula airnya. Sebaliknya, semakin didiamkan air sumur dan diendapkan pula, semakin besar pula peluang untuk menimbulkan bau tidak sedap. Persis seperti dikatakan oleh praktisi pendidikan dimaksud: “Kalau rutin diambil, maka air tidak akan bau.” Maka, pelit atas ilmu pengetahuan dan ytak membagikannya kepada sesama hanya akan menjauhkan pemiliknya dari kedalaman kajian dan kemantapan pengembangan.
Kedua, mengajarlah, maka berkah akan mengalir bersama. Jangan pernah punya pikiran bahwa membagikan ilmu dan pengetahuan akan membuat diri kehilangan modal personal. Jauhkan pikiran semacam itu. Justeru, mengajar adalah membagikan kemuliaan kepada sesama. Kemuliaanmu tak akan hilang atau meredup dengan mengajar. Alih-alih, membagikan ilmu dan pengetahuan melalui praktik mengajar akan semakin mempertajam ilmu dan pengetahuan yang dimiliki. Karena itu, mengajar, sejatinya, adalah berbagi kebajikan. Dan membagikan kebajikan adalah mempertebal kemuliaan. Itulah esensi berkah sebagaimana diuraikan sebelumnya.
Filosofi air sumur yang dikembangkan oleh Nur Hidayat secara jelas menggambarkan pentingnya mengajarkan ilmu pengetahuan dimaksud. Ilustrasinya atas ilmu pengetahuan dengan air sumur, sebagaimana dikutip di atas, memberikan pesan teknis: “Kalau rutin diambil, … justeru air akan bisa memberi berkah.” Tentu, berkah di sini berarti kebajikan yang bisa dirasakan dalam hidup. Dan, berkah dalam konteks ilmu pengetahuan adalah bertambahnya kedalaman kajian dan sekaligus kemantapan pengembangan ilmu dan pengetahuan yang ada di dalam pikiran dan diri pemiliknya, sebagaimana diuraikan sebelumnya.
Hanya saja, mengajar dalam pengertian ini bukan terbatas dengan menjadi guru formal di sekolah atau lembaga pendidikan formal. Tapi, makna “mengajar” di sini lebih luas dari sekadar dalam makna profesi guru. Memang, saat guru menjadi profesi, maka mengajar menjadi kegiatan terstruktur dan sistematis. Dampaknya pun bisa diukur. Namun, mengajar dalam pengertian yang dikandung oleh pelajaran pertama dari pembahasan tulisan ini tak hanya dibatas dengan guru sebagai sebuah profesi, melainkan guru sebagai sebagai fungsi dan peran. Konkretnya, fungsi dan peran guru bisa dilakukan oleh siapa saja yang mengabdikan dirinya untuk transfer nilai dan materi pembelajaran ke sesamanya.
Ketiga, jangan pernah kehilangan adab atau akhlakkapan pun dan di mana pun. Lebih-lebih di tempat kerja. Sebab, lagi-lagi kita sudah diingatkan tentang prinsip ethics as a foundation for professional conduct, seperti diuraikan sebelumnya. Yakni, bahwa akhlak atau adab memegang peranan kunci terhadap pencapaian kinerja organisasi. Begini rasionalisasinya: baiknya adab atau akhlak seseorang akan segera menimbulkan perilaku yang baik pula pada diri yang bersangkutan. Sebaliknya, buruknya adab atau akhlak seseorang juga akan segera melahirkan tindak laku yang buruk pula.
Jadi, baik-buruknya adab atau akhlak seseorang akan sangat berpengaruh terhadap kinerja kepemimpinan lembaga dan atau organisasi. Prinsip ini sudah cukup jamak dibahas oleh sejumlah teori akademik. Lebih-lebih, hasil integrasi axiological ethical theory dengan ethical leadership theory, sebagaimana diuraikan sebelumnya, jelas mengafirmasi besarnya peran akhlak atau etika terhadap pencapaian kinerja profesional. Dalam ilustrasi Nur Hidayat melalui filosofi air sumur sebagaimana dibahas sebelumnya juga, jelas tergambar bagaimana peran akhlak atau etika terhadap pencapaian kinerja profesional. Karena itu, setiap diri penting untuk menjaga adab dan akhlak. Karena dampaknya bukan hanya ke dirinya sendiri. Melainkan juga ke lembaga dan atau organisasi secara lebih luas.

Filosofi air sumur yang dibagikan oleh Nur Hidayat di atas memang disampaikan dalm konteks praktik penyelenggaraan pendidikan formal. Namun, sejatinya, cakupannya tak terbatas pada cakupan itu, melainkan bisa ditarik ke cakupan aspek kehidupan lebih luas. Karena itu, praktik berbagi adalah amal ibadah diri. Semaki diperbanyak praktik berbagi itu, maka catatan amal baik akan semakin tinggi. Karena itulah, kemuliaan diri sangat ditentukan oleh sebarapa luas kebermanfaatan diri bisa dibagikan dan dinikmati oleh sesamanya.
Konsep berkah memang sering diterjemahkan dengan makna ziyadatul khair fi kulli hin minal ahyan. Yakni, bertambahnya nilai kebajikan dari waktu ke waktu. Dan, dalam kasus pengalaman konkret Nur Hidayat di atas, berkah dalam makna pertambahan nilai kebajikan dimaksud mewujud dalam bentuk sukses pendirian dna pengelolah sekolah Islam. Dari satu sekolah islam ke sekolah Islam lainnya. Dari tangannya, keberkahan itu lahir dalam bentuk kesuksesan demi kesuksesan dalam mendirikan dan mengelola sejumlah lembaga pendidikan Islam. Maka tak salah jika dia meyakini filosofi air sumur. Makin rutin diambil, makin tidak akan bau. Alih-alih, justeru memberi berkah kepada sesama secara luas.
Berangkat dari filosofi air sumur yang diyakini sebagaimana diuraikan di atas, perilaku profesional (professional conduct) pun menjadi penanda pergerakan sosok Nur Hidayat di atas. Akhlak yang diajarkan oleh filosofi air sumur telah menggerakannya untuk memiliki dna mengembangkan perilaku pribadi (personal conduct) yang baik. Sebab, dengan filosofi itu, dia bisa tampil sebagai pribadi yang baik bagi tumbuhnya perilaku personal yang baik pula. Saat perilaku personal ini baik, maka perilaku profesionalnya pun juga ikut baik. Ujung dari kaitan antara perilaku personal dan perilaku profesional dimaksud adalah terciptanya iklim budaya organisasi yang kondusif bagi lahirnya kinerja organisasi yang jempolan.