
(Sekretaris Pusat Ma’had al-Jami’ah,
Dosen FAH UINSA)
“The good life is using your signature strengths every day to produce authentic happiness and abundant gratification.” (Martin Seligman)
Disetiap aktivitas “Ngampus”, penulis tidak jarang bertemu penjual di jalan menuju kampus UIN Sunan Ampel Gunung Anyar Surabaya. Kali ini, sengaja penulis berhenti, hanya ingin memastikan, kok ada ramai-ramai para pembeli, sementara penjualnya berada di jalan lintasan utama Pondok Candra-Gunung Anyar. Sebenarnya ada apa dan jual apa? tanya dalam hati. Setelah berhenti, penulispun baru tahu, yang dijual adalah “Getuk Lindri, salah satu kue khas lokal yang rasanya masih seperti dulu sejak akrab memaknanya sekitar 30tahunan lebih, ketika masih tercatat sebagai siswa Madrasah Ibtidaiyah di Wonocolo Surabaya.
Untuk diketahui, Getuk Lindri adalah kue tradisional berbahan pokok dari singkong, yang rasanya kenyal dan manis. Menariknya, ia selalu dibuat dengan warna yang berbeda-beda, dan disuguhkan dengan menambah parutan kelapa sehingga citarasanya semakin khas. Kue ini tetap eksis di tengah berkembangnya jenis kue dan makanan pasaran yang semakin beragam di jual. Itulah Getuk Lindri, kue tradisional yang masih bertahan menyapa para penikmatnya di tengah modernitas dengan wajah makanannya yang juga beragam. Soal cita rasa Getuk Lindri sulit didefinisikan, kecuali membelinya dan rasakan sendiri nikmatnya.
Setelah antri menunggu pembeli lainnya selesai, penulispun akhirnya mendapat giliran untuk membeli Getuk Lindri. Momentum ini dimanfaatkan untuk bincang-bincang kaitan hal tentang kehidupan penjualnya, yang bernama Pak Totok dari Boyolali. Ia menegaskan, saya berjualan Getuk Lindri sudah 25 tahun, sangat enjoy dan menikmati hidup. Hari ini ia masih kontrak rumah di Wadung Asri Waru Sidoarjo. Pastinya, ia menegaskan bahwa istri dan anaknya berada di desa. Ini pilihan hidup, biar tidak terlalu banyak biaya, kalau semua ikut tinggal di kota mas, tegas Pak Totok. Sebelum bergeser, penulispun ijin kepada Pak Totok untuk berphoto selfie sebagai tanda berpisah.
Cerita tentang Pak Totok ini mungkin ditemukan di tempat yang berbeda, bisa jadi profesi yang berbeda pula. Tapi untuk cerita Pak Totok, bagi penulis mengajarkan banyak hal tentang rizki, hidup dan tentang hakekat kebahagiaan. Apa yang dialami Pak Totok bukan kejadian biasa di tengah tidak sedikit orang memilih jalan pintas untuk mencari rizki, dan tidak sedikit pula rakus sebagai jalan hidupnya. Pastinya, tindakan jalan pintas selalu dihubungkan dengan hedonisme sesaat agar terkesan lebih bahagia dengan harta melimpah dan berkecukupan. Benarkah untuk tujuan ini? Ataukah hanya karena penyakit “kemarok sosial” sebab yang dicari bukan sekedar nasi sepiring, tapi lebih dari itu agar terlihat kaya raya di depan orang lain, walau akhirnya harus bersusah payah “menginjak” kaki orang lain pula.
Dari sini, kita menyaksikan adanya pandangan kontradiktif dalam proses pemaknaan tentang menikmati hidup, sekaligus memaknai kebahagiaan. Di satu sisi, Pak Totok menikmati betul dan sangat bahagia bertahan selama 25 tahun berjualan Getuk Lindri sambil berkeliling dengan cuara panas dan dinginnya “menyapa” tubuhnya setiap hari. Sementara di tempat yang berbeda terdapat orang yang menggebu-gebu memilih jalan pintas untuk sekedar menjadi kaya di ruang ber-AC sampai akhirnya melalukan “flexing” bebas di medsos. Parahnya, tidak sedikit pelakunya berasal dari mereka yang telah terdidik, dan gemar menyebarkan kegiatannya di medsos sebagai bentuk agar hidupnya dibilang tetap eksis.
Mencari Kebahagiaan?
Konsep kebahagian memang telah menjadi perbincangan para pemikir dalam waktu yang sangat panjang seiring dengan perjalanan panjang umat manusia. Setiap pemikir memiliki pandangan dan kesimpulannya sendiri-sendiri dalam memahaminya sebab konsep kebahagiaan itu sendiri adalah bersifat abstrak-emosionalistik berkaitan dengan cita rasa para penikmatnya yang setiap orang berbeda-beda. Karenanya, kebahagiaan tidak bisa dibanding-bandingkan antara yang satu dengan yang lain sebab ia juga dibentuk oleh realitas sosial dan budaya dalam mendefinisikannya.
Orang yang hidup kaya raya, misalnya, nampak terlihat hidupnya sangat bahagia. Apa yang diinginkan bisa dibeli, bahkan bukan hanya bisa dibeli, tapi juga bisa bersenang-senang dapat berjalan tamasya setiap saat dari satu tempat ke tempat lain untuk sekedar mencari hiburan (baca: hedonis). Bagi mereka, kebahagiaan adalah punya uang sehingga apapun dilakukan untuk tujuan ini, walau harus memanipulasi kekuasaan yang diembannya untuk kepentingan pribadi.
Di tempat yang berbeda, di desa yang jauh dari kota, terdapat orang sangat menikmati apa yang dimilikinya bersama keluarga, walau di mata orang kota bisa dikatakan kurang mapan. Keteduhan dan kesejukan alam telah mengajarkan ia untuk memaknai kebahagiaan dengan lebih bijak dan lebih bisa qona’ah, tidak terpangku pada materi. Walau tidak bergelimang harta, ia merasakan tenang dan bahagia bersama keluarga. Baginya, harta bukan satu-satunya pemantik kebahagiaan, tapi jiwa yang tenang bersama keluarga terdekat adalah bentuk kebahagiaan tertentu yang tidak semua orang kaya merasakannya.
Dari sini, kutipan di awal tulisan ini memiliki konteksnya, di mana Martin Seligman mengatakan: The good life is using your signature strengths every day to produce authentic happiness and abundant gratification. “Kehidupan yang baik adalah menggunakan kekuatan khasmu setiap hari untuk menghasilkan kebahagiaan sejati dan kepuasan yang melimpah.” Sebagai tokoh penting dari lahirnya psikologi positif, Seligman mengajarkan tentang pentingnya kemandirian sebagai penentu sumber kebahagiaan dan kepuasan, bukan definisi yang berasal dari luar.
Kemandirian yang menentukan kebahagiaan itu, tegas Seligman, harus tercipta dari memanfaatkan kekuatan dan kebajikan khas diri sendiri (from engaging our strengths and virtues). Pasalnya, mereka yang mencapai kebahagiaan, tapi dicapai dengan cara-cara yang merugikan orang lain, bisa jadi kebahagiaan itu bersifat semu dan jangka pendek sebab ada perasaan bersalah secara sosial yang terus mengganggu psikisnya.
Jadi, kemampuan Pak Totok bertahan dalam waktu yang lama sebagai penjual Getuk Lindri __di tengah kuatnya individulisme kehidupan modern__ bisa dimaknai sebagai bagian dari keunikannya membingkai rasa bahagia. Ia telah mengajarkan bahwa kemandirian proses adalah sumber dari kebahagiaan, asal tetap bersabar menebarkan kebaikan pada yang lain, walau sekedar tersenyum lebar kepada para pembelinya setiap hari.
Dalam dunia Islam, penulis teringat dengan perkataan Ibnu Maskawih (w. 1030 M) bahwa kebahagiaan itu harus berkaitan dengan fisik, sekaligus spiritual secara bersamaan. Tidaklah cukup kebahagiaan yang hanya dibentuk oleh kenyamanan badani (alladzdaat al-badaniyyah). Itu artinya, mereka yang menjadi budak untuk kebahagiaan badani akan mudah terperosok jauh dari kebahagiaan abadi, selama-lamanya.
Akhirnya, cerita Pak Totok bisa jadi sederhana, tapi hikmahnya sangat melimpah sebab hikmah tidak sedikit muncul dari hal-hal yang dianggap remeh temeh dalam kehidupan sehari-hari. Kata bijak mengatakan: ambillah hikmah, tak akan merugikanmu, dari manapun ia lahir (khudz al-hikmat wala yadhurruka min ayyi wi’ain kharajat). Wallahu a’lamu