FTIK UINSA Bersama Diktis Bahas Masa Depan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
September 28, 2026

FTIK UINSA Bersama Diktis Bahas Masa Depan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam

Bojonegoro, 20 September 2026 — Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga nilai-nilai agama dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan yang digelar Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Sunan Ampel Surabaya bersama Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis), Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, di Hotel Dewarna, Bojonegoro, Minggu (20/9/2026).

Hadir sebagai narasumber, Prof. Dr. Phil. Sahiron, MA., Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Dalam sesi yang dimoderatori Dr. M. Yusuf Aminuddin, S.Pd.I., M.Pd., Prof. Sahiron mengajak peserta melihat pendidikan tinggi sebagai bagian penting dalam menyiapkan generasi menuju golden age Indonesia.

Menurutnya, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kehidupan beragama. Kemajuan bangsa tidak cukup hanya ditandai dengan kecanggihan teknologi, tetapi juga perlu diwujudkan melalui kehidupan yang damai dan membawa kemaslahatan, tanpa konflik antarkelompok, umat, aliran, maupun suku. Cita-cita tersebut, menurut Prof. Sahiron, sangat bergantung pada usaha yang dilakukan bersama.

Dalam konteks itu, perguruan tinggi memiliki peran strategis. Prof. Sahiron menjelaskan bahwa keberadaan PTKIN dan PTKIS sama-sama dibutuhkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi. PTKIN tidak mungkin menampung seluruh calon mahasiswa, sehingga keberadaan PTKIS menjadi bagian penting dalam memberikan kesempatan kepada lebih banyak generasi muda untuk melanjutkan pendidikan.

Pembahasan kemudian mengarah pada penguatan tata kelola PTKI, mulai dari bidang akademik, ketenagaan, sarana dan prasarana, hingga kemahasiswaan. Penguatan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Diktis yang menempatkan Good University Governance, digitalisasi proses akademik dan kelembagaan, serta peningkatan kualitas dosen dan tenaga kependidikan sebagai bagian dari upaya membangun perguruan tinggi yang bermutu.

Dialog bersama peserta pun berlangsung cukup dekat dengan persoalan yang mereka hadapi. Zeni Farida, misalnya, menanyakan langkah konkret agar masyarakat tidak tertinggal perkembangan teknologi, tetapi juga tidak terbawa arus. Menanggapi hal tersebut, Prof. Sahiron menekankan pentingnya menggunakan teknologi untuk kemaslahatan. Termasuk dalam pemanfaatan artificial intelligence (AI), pengguna perlu bersikap bijak dan memperhatikan sumber informasi yang digunakan.

Pertanyaan lain datang dari Milania Shopi mengenai peluang melanjutkan pendidikan ke jenjang magister dan doktor bagi guru. Prof. Sahiron menyampaikan adanya program BIB yang dapat menjadi salah satu peluang untuk mendukung keberlanjutan pendidikan tersebut. Ia juga menyebut bahwa proporsi anak muda yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi masih sekitar 34 persen, sehingga perlu terus dibuka akses pendidikan tinggi bagi generasi muda.

Setelah sesi Prof. Sahiron, kegiatan dilanjutkan dengan materi “Pemantauan dan Evaluasi Program Peningkatan Mutu dan Layanan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam” yang disampaikan Wahyu Mulyana Putra, M.Si., mewakili Dr. H. Abidin Fikri, S.H., M.H. Sesi yang dimoderatori Sammy Ramadhan tersebut memberikan penguatan mengenai pentingnya pemantauan dan evaluasi dalam memastikan program peningkatan mutu dan layanan pendidikan tinggi berjalan secara berkelanjutan.

Penguatan mutu tersebut mencakup pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Bahan paparan juga menekankan pembelajaran berbasis case method dan team-based project, penelitian yang memiliki roadmap terarah, serta pengabdian yang bergerak dari pola charity menuju pemberdayaan masyarakat.

Melalui kegiatan bersama Diktis ini, FTIK UINSA tidak hanya menghadirkan ruang untuk memahami kebijakan pendidikan tinggi keagamaan Islam, tetapi juga membuka ruang dialog antara pemangku kebijakan dan peserta. Pertanyaan tentang teknologi, pendidikan lanjutan, hingga akses pendidikan tinggi menunjukkan bahwa isu kebijakan pendidikan selalu berkelindan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Bagi FTIK UINSA, ruang dialog semacam ini menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring sekaligus memperluas wawasan peserta mengenai arah pendidikan tinggi keagamaan Islam. Sebab, sebagaimana ditekankan dalam materi penguatan tata kelola PTKI, mutu bukan sekadar sebuah program, melainkan budaya yang perlu dibangun dan dijalankan secara konsisten

Tag Post :

FTIKUINSA, uinsa, UINSAHebat

Categories