
Oleh: Prof. Akh. Muzakki, M.Ag, Grad.Dip.SEA, M.Phil, Ph.D
Plt Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya
Lama sekali pengalaman itu tak berulang. Lebih dari sepuluh tahunan. Tapi, petang itu, Sabtu (4 Juli 2026), kucoba lagi. Bersama isteri dan anakku. Menikmati Mie Ayam yang maknyus sekali. Di daerah dekat tempat tinggalku. Di kampung Jasem, namanya. Di Sidoarjo, Jawa Timur. Tiba-tiba, pandanganku terhenti. Karena ada sebuah tulisan di kaos pegawai kedai Pangsit Mie Ayam Jasem itu. Aku terpesona sekali. Lalu kubukalah kamera gawaiku. Kuambillah gambar atas tulisan yang berada di punggung kaos sang pegawai itu. Aku tak mau kehilangan momen itu. Karena bagiku, ada pesan penting yang bisa dibagikan dan disebarkan ke banyak orang dari tulisan yang ada di punggung kaos sang pegawai itu. Begini bunyi kalimat pada tulisan itu: “Teruslah berbuat baik, sampai orang mengira kamu nyaleg.” Memang di bagian depan atau dada pada kaos sang pegawai itu, ada tulisan yang berbunyi begini: “Masyarakat (no) partai.” Tapi, aku lebih tertarik dengan kalimat yang justeru ada di punggung kaos sang pegawai itu. Sambil menikmati Mie Ayam yang berasa enak sekali di kedai itu, aku cukup terhenyak. Tertegun. Dan lalu terdiam. Aku hentikan sepintas makan itu. Karena pesan kalimat di punggung kaos sang pegawai itu ke hati banget. Bener-bener masuk hati banget. Karena isi pesannya berkaitan dengan urusan kebajikan.

Foto: Tampak Depan Kedai Pangsit Mie Ayam Jasem dan Gambar Punggung Kaos Pegawai (4 Juli 2026)
Apalagi, berbuat baik ditandemkan dengan nyaleg. Kontrasnya tajam banget. Begini terjemahan konkretnya: Berbuat baik berarti perilaku mulia. Tak ada pamrih. Tak butuh kembalian. Tak perlu kebaikan balikan. Itulah ukuran normal dari berbuat baik. Lalu, kalau nyaleg? Baiknya penuh pamrih. Sarat dengan tujuan kembalian. Ngasih sesuatu, sebagai contoh, berharap dukungan suara dan suara dukungan. Saat tak ada dukungan suara yang diberikan, ngasih sesuatu kepada sesama dinilainya sia-sia. Bahkan, bisa dianggap merugikan. Itu salah satu contoh saja dari praktik yang biasa dilakukan seseorang saat nyaleg.
Saat berbuat baik dikontraskan dengan nyaleg, tentu pesannya pun sangat tajam. Menabrakkan secara langsung membuat praktik kontras itu menjadi faktor penyebab utama munculnya pesan yang tajam itu. Nah, pesan tajam dimaksud diusung oleh kata-kata yang terangkai dalam kalimat pendek. Mudah diingat dan dikenali. Alasan yang terbangun juga sederhana sekali. Lebih-lebih, tulisannya dikemas dengan jenis huruf atau font yang cantik. Tidak norak. Pula Dibalur dengan warna yang menyolok. Dan yang tak kalah pentingnya lagi, kalimat itu bisa ditemui dengan mudahnya di bagian punggung kaos. Kadang juga ditempatkan di bagian dada kaos. Saya menyebut kaos-kaos dengan karakter yang demikian itu dengan istilah kaos berkata. Yakni, kaos yang mengandung kata-kata mutiara. Kaos yang memuat kata-kata hikmah. Kaos yang mengusung pesan-pesan moral. Semua itu bisa menjadi panduan hidup. Sebab, substansinya biasanya menyangkut hajat hidup banyak orang. Atau, minimal mengenai hajat hidup lintas individu. Karena itu, kaos berkata ini bisa mewakili pikiran, perasaan, atau perilaku hidup banyak orang. Karena itu pula, kaos yang demikian itu cepat popular dan menyebar ke kalangan warga masyarakat.

Pemandangan kaos berkata seperti di atas cukup menggejala di banyak tempat. Mulai tempat wisata hingga tempat beraktivitas sehari-hari. Aku pun lalu menyebut pemandangan-pemandangan itu dengan istilah fenomena kaos berkata. Ya, sebagai sebuah fenomena tentang kaos berkata yang kini semakin mudah saja ditemui di banyak tempat. Saat berada di kota besar, fenomena itu mudah dijumpai. Sebagaimana juga gampang ditemui di kota-kota lain yang lebih kecil. Makin belakangan, pemandangan seperti ini kini makin banyak menjamur. Di banyak tempat. Dikenakan oleh anak-anak muda. Seakan menjadi penanda identitas mereka. Itulah gambaran dari fenomena kaos berkata dimaksud.
Independent Clothing
Fenomena kaos berkata memang bukan barang baru. Gejala naiknya produksi dan konsumsi pakaian dalam jenis kaos dengan karakter dimaksud sudah mulai tumbuh pada awal dekade 1980an. Joger (Bali) adalah brand lokal yang harus disebut sebagai pionir fesyen jenis ini. Mulai diproduksi di awal 1980an, Joger menandai kebangkitan pertama kali produk fesyen yang menjual kata-kata dan logika di balik kata-kata sebagai komoditas penting di atas produksi pakaian berjenis kaos dimaksud. Memang di dekade awal 1980an, juga berkembang brand C59 (Bandung). Tapi, pencirinya hanya mengandalkan desain yang ekspresif dengan kekuatan pada warna tulisan.
Suksesnya Joger sebagai pelopor awal fesyen yang mengandalkan kata-kata dan logika di balik kata-kata membuat brand ini menjadi trendsetter fesyen kreatif berbasis kata-kata sebagai komoditas utamanya. Positifnya serapan pasar menjadi faktor utamanya. Lalu lahir setelah itu produk fesyen serupa di sejumlah daerah di Indonesia. Yang paling menyolok adalah Dagadu (Yogyakarta). Brand ini didirikan dan dikelola oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) sejak awal tahun 1994. Serupa dengan Joger, produk Dagadu meramaikan pasar fesyen kreatif berbasis kata-kata.
Hanya, yang membedakan dari Joger, seluruh produk kaos Dagadu ini menjadikan penanda berikut sebagai komoditas utamanya: plesetan kata berbahasa Jawa dalam bentuk walikan (atau kebalikan). Ada lagi, penggunaan ungkapan sindiran. Dua karakter tulisan yang menjadi komoditas pentingnya menjadikan Dagadu sebagai trendsetter baru. Dengan kekuatan pada eksploitasi kata dalam karakter yang demikian, Dagadu lalu menjadi penanda identitas kaos Yogyakarta. Maka, pernah muncul guyonan seperti ini: Jangan mengaku pernah ke Yogyakarta jika belum membeli Dagadu.
Marketabilitas yang tinggi dari brand ternama serperti Joger, C59, dan Dagadu menandai kebangkitan jenis fesyen yang lebih dikenal dengan istilah independent clothing. Yakni, genre pakaian yang mengandalkan desain khusus sesuai selera tersendiri. Biasanya juga diikuti dengan kata-kata yang bisa menunjukkan rumusan opini yang dikehendaki. Atas kecenderungan itu, independent clothing dikenal pula dengan istilah fesyen indie. Pemantiknya satu: memuaskan selera dan atau kehendak sesuai tujuan yang dituju melalui produksi pakaian sesuai dengan selera dan kehendak tersendiri itu.
Karena bergenre indie atau independent di atas, tentu produk fesyen yang lahir atasnya mengutamakan pengiriman pesan-pesan penting yang kerap terlewat dari perhatian publik. Dari sinilah, muncul kecenderungan baru dari fenomena kaos berkata. Yakni, dalam mengeksploitasi kata-kata memasukkan substansi pesan moral publik. Kepentingannya untuk bisa menjadi pengingat publik (public reminder) atas sebuah nilai yang harus dipegangi bersama di ruang publik. Di titik inilah, munculnya kaos berkata yang dikenakan oleh pegawai kedai Pangsit Mie Ayam Jasem yang diuraikan di atas menjadi penguat dari perkembangan baru fenomena kaos berkata dimaksud.
Menolak Antisosial
Fenomena kaos berkata di atas menjelaskan secara partikular bahwa anak muda tidak antisosial. Alih-alih, mereka memiliki perhatian yang besar pada urusan publik. Buktinya, fenomena kaos berkata mengalami kecenderungan baru. Dalam perkembangan belakangan, seperti yang diuraikan di atas, jelas tergambar bahwa pada kaos berkata yang mereka produksi dan konsumsi semakin ke belakang semakin menyentuh moral publik. Kita pun lalu diingatkan dengan kebajikan menjaga moral publik melalui pesan-pesan yang disampaikan melalui kaos-kaos berkata mereka.
Jika ditarik lebih jauh, kecenderungan baru dari fenomena kaos berkata bisa digunakan untuk menegaskan bahwa anak muda tak identik dengan menurunnya akhlak. Alih-alih, perhatian anak muda terhadap moral publik tetap besar, atau bahkan bisa dibilang semakin membesar. Artinya, jika akhlak dimaksudkan secara partikular sebagai moral publik, anak muda ternyta memiliki semangat dan perhatian yang besar terhadapnya. Mereka menunjukkan semangat dan perhatian besar itu pada ekspresi kreatif melalui produksi dan konsumsi kaos berkata.
Berbuat baik kepada sesama adalah bagian dari moral publik. Prinsip itu yang menjadi perhatian utama dari kata-kata yang ada pada berbagai produk kaos berkata. Dan prinsip itu pula yang menjadi pesan seperti yang diserukan oleh kaos berkata yang dikenakan pegawai kedai Pangsit Mie Ayam Jasem di atas. Tentu, ada banyak produk kaos berkata yang memiliki perhatian utama terhadap moral publik dimaksud. Produk-produk kaos berkata tersebut mengingatkan kita bersama untuk tak kehilangan moral publik. Salah satu cara yang patut ditegaskan adalah selalu berbuat baik kepada sesama. Apapun kondisi yang dihadapi.
Baiknya kita di ruang privat memang penting. Hanya, baiknya kita di ruang privat ini tak boleh menghentikan langkah kita untuk juga baik di ruang publik. Bahkan, sebuah keharusan bagi setiap individu untuk naik kelas kepada pemenuhan standar kebajikan di ruang publik. Sebagai contoh, shalat dan puasa adalah praktik baik individu. Setiap diri sudah seharusnya melaksanakan ibadah jenis ini. Hanya, kebajikan di ruang privat ini harus disempurnakan dengan perwujudan kebajikan di ruang publik, seperti menjaga diri dari korupsi dan berbagai bentuk penyelewengan amanah publik.
Di sisi lain, produksi kaos berkata juga sedang melakukan kritik publik kepada kecenderungan ketidaksejatian perilaku di ruang publik. Sebagai contoh, kaos berkata yang dikenakan pegawai kedai Pangsit Mie Ayam Jasem, seperti diuraikan di atas, sedang melakukan kritik publik dengan menabrakkan praktik berbuat baik dengan praktik nyaleg. Seperti menjadi pemahaman bersama, praktik nyaleg selalu berimplikasi pada kepada kecenderungan praktik ketidaksejatian di ruang publik. Praktik berbuat baik selalu diikuti dengan kepentingan perengkuhan dukungan politik. Saat dukungan politik akhirnya tak diraih, proses berbuat baik kepada sesame itu disesalkan.
Akhirnya, haruslah disebut, fenomena kaos berkata menjadi bukti bahwa anak muda tidak antisosial. Alih-alih, mereka memberi perhatian besar kepada urusan publik. Moral publik menjadi ukuran. Bentuknya, bukan sekadar menebar kebajikan kepada sesama. Melainkan sekaligus juga mengirim kritik ke masyarakat luas agar moral publik tak tercederai oleh kepentingan personal nan sesaat. Penyebutan kata nyaleg, seperti pada kaos berkata yang dikenakan pegawai kedai Pangsit Mie Ayam Jasem sebagaimana dibahas sebelumnya, hanya contoh saja dari praktik publik yang perlu menjadi perhatian bersama. Kebaikan yang lahir darinya sarat dengan ketidaksejatian di ruang publik.
Lalu Apa Pelajarannya?
Fenomena kaos berkata memang contoh saja. Ya, contoh dari kebajikan yang harus diperjuangkan. Namun, di balik fenomena itu terdapat tiga pelajaran mulia. Pertama, jangan hidup semata untuk diri sendiri. Alih-alih, hiduplah juga untuk kebajikan bersama. Memikirkan kebajikan pribadi itu tidak salah. Tapi, semata hanya untuk kepentingan itu, nah itu yang tidak tepat. Sebab, baiknya ruang privat tak selalu diikuti dengan membaiknya ruang publik. Baiknya hidup pribadi tak selalu disertai secara otomatis dengan membaiknya hidup di ruang bersama. Memang, individu bagian dari warga masyarakat. Tapi, baik-tidaknya ruang hidup bersama warga masyarakat tak otomatis tercipta begitu juga.
Dibutuhkan, karena itu, sikap hidup sosial yang baik. Bukan antisosial. Itu pintu masuk untuk penciptaan ruang publik yang baik. Sikap hidup sosial mendorong setiap diri untuk berpikir kebaikan bersama. Bukan kebaikan pribadi semata. Sebaliknya, sikap hidup antisosial justeru ditandai dengan keputusan diri untuk cuek bebek terhadap kehidupan bersama. Alih-alih, muncul keputusan seperti ini: “yang penting diriku bahagia,” atau “yang penting aku tak sengsara.” Tentu saja keputusan hidup yang dicontohkan terakhir ini membuat diri setiap individu pelakunya kehilangan kepedulian sosial. Tak pernah peduli atas apa yang terjadi dalam kehidupan di ruang publik. Mau baik atau tidak, tak pernah peduli. Yang dipedulikan hanya kebaikan dirinya sendiri.
Kedua, jangan pernah berhenti berbuat baik hanya karena nyinyiran orang lain. Sebab, praktik hidup apapun tak pernah sepi dari komentar dan respon sesama. Engkau bergerak atau bahkan diam, pasti komentar dan respon dari sesama itu akan selalu ada. Membayangkan tiadanya komentar dan respon sesama hanya kemustahilan belaka. Nah, dalam kaitan ini, yang penting bukan ada atau tidaknya komentar atau respon orang terhadap praktik hidup kita. Melainkan, apa yang harus disiapkan sebagai basis mental untuk menghadapi apapun yang datang. Termasuk nyinyiran dari orang lain. Jangan kepada yang buruk, kepada yang baik saja komentar, respon, atau bahkan nyinyiran selalu mengemuka.
Untuk naik kelas, seseorang pasti harus melewati check point. Yang sering, check point itu bentuknya adalah ujian. Maka, saat hidup dihadapkan pada ujian, yakinlah bahwa itu kesempatan untuk naik kelas. Maka, apapun bentuk ujian yang berada di hadapan, yakinlah pasti di baliknya ada kesempatan untuk naik kelas dimaksud. Munculnya komentar, respon dan atau bahkan yang berbentuk nyinyiran sekalipun adalah bagian dari check point itu. Anggap saja itu semua ujian. Tapi, di balik semua itu ada kesempatan untuk memuliakan diri melalui praktik naik kelas kemuliaan.
Ketiga, yakinlah akan selalu ada yang tak suka walau engkau berbuat baik. Membayangkan semua orang suka hanya kemustahilan belaka. Membayangkan semua orang sepakat, hanya impian semata. Apalagi, membayangkan semua orang selalu setuju, tentu itu imaginasi semata. Itulah hati. Ya, itu semua soal hati. Tak selalu berurusan dengan beda pikiran. Ada kemungkinan perbedaan muncul karena beda perasaan. Maka, suka atau tidak suka adalah biasa. Setuju atau tidak setuju adalah perihal lumrah. Bahkan, cinta dan benci bisa lahir beriringan. Kadang bisa pula bergantian. Atau bahkan, kadang pula bersamaan.
Maka, sikap hidup yang paling positif dalam menghadapi potensi ketidaksepakatan dalam keseharian adalah: tetaplah berbuat baik kepada sesama. Itu persis seperti yang digambarkan oleh kaos berkata yang dikenakan oleh pegawai kedai Pangsit Mie Ayam Jasem yang menjadi kasus pembahasan pada tulisan ini. Sebagaimana dibahas sebelumnya, bunyi kalimat pada punggung kaos berkata pegawai kedai Mie dimaksud adalah: “Teruslah berbuat baik, sampai orang mengira kamu nyaleg.” Akhirnya, kesadaran baru harus ditanamkan: Sikap hidup antisosial tak ada manis-manisnya. Jauh dari harapan. Jangankan dinilai baik, dianggap untuk diterima saja sama sekali tidak. Karena itu, kebajikan bersama harus selalu disertakan dalam sikap hidup. Itulah sikap sosial. Maka, “jangan hidup semata untuk diri sendiri” adalah rumus hidup mulia. Fenomena kaos berkata di kalangan anak muda, seperti yang dikenakan oleh pegawai kedai Pangsit Mie Ayam Jasem sebagaimana diuraikan di atas, memberi pelajaran penting agar hidup tak antisosial. Potongan kalimat “teruslah berbuat baik” pada punggung kaos yang dikenakan pegawai dimaksud mengirimkan pesan kuat. Yakni, agar setiap diri selalu berbuat dan menjaga kebajikan kepada sesama. Itulah pesan sosial dari kaos berkata.