
Plt. Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya
Engaging Teaching Methods
Siang itu aku siap-siap mencari jawaban. Untuk memastikan nilai keajegan. Jika, jawabannya ya, maka aku segera bisa pastikan adanya regularitas di balik praktik itu. Ya, praktik mengajar. Tapi, jika jawabannya tidak, maka aku tidak bisa simpulkan adanya regularitas atau keajegan itu. Dan jika tak ada keajegan atau regulaitas itu, maka implikasi berikutnya harus kuberi catatan tebal: bahwa praktik yang sedang dilakukan itu bukan menjadi perhatian besar. Tidak menjadi atensi penting. Karena itu, mata dan telingaku kala itu kupasang lebar-lebar. Kepentingannya satu: untuk memastikan nilai keajegan itu.
Mengapa kumerasa penting untuk mendapatkan jawaban soal keajegan itu? Karena sudah di empat tempat sebelumnya aku mendapatkan pemandangan yang sama. Dan aku butuh satu kali lagi untuk memastikan keajegan itu. Sebelumnya, saat manyampaikan materi di hadapan para santri di Pesantren Termas, Pacitan, Jawa Timur, Kamis (16 April 2026), dia melakukan strategi pembelajaran itu. Saat memberi materi di Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, Jawa Timur, Jumat (17 April 2026), praktik yang sama juga dia lakukan. Aku pun mencatat betul kesamaan strategi pembelajaran yang ada di dua tempat tersebut. Itu walaupun materinya tak sama.
Begitu pula saat memberi materi di hadapan santri di Pesantren Salafaliyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur pada Jumat (17 April 2026). Kala itu, lelaki itu juga mempraktikkan gaya pembelajaran yang serupa. Bahkan jauh hari sebelumnya, saat berada di hadapan ribuan santri penghafal al-Qur’an jenjang pendidikan dasar di Masjid Agung Jombang pada Minggu (22 Desember 2024), dia juga juga melakukan gaya pembelajaran yang serupa dengan yang dilakukan pada momen-momen setelahnya di atas. Maka, kala itu, aku pun dalam hati bertekad, aku arus mendapatkan data sekali lagi tentang bagaimana lelaki itu melakukan praktik mengajar.

Lalu, datanglah momen mengajar yang kutunggu-tunggu itu. Tentu dari orang yang yang mempraktikkan gaya mengajar yang sama di atas. Yakni, momen praktik mengajar yang dilakukan oleh Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA. Tepatnya di Hari Sabtu, 20 Juni 2026 yang lalu. Ya, dialah lelaki yang kucatat melakukan praktik mengajar dengan gaya yang sama seperti pada empat rangkaian kegiatan penyampaian materi pembelajaran yang kukutip dan kuuraikan sebelumnya di atas. Di Pesantren Ar-Risalah Lirboyo ini, Menteri Agama kala itu menyampaikan materi di hadapan para santri laki-laki dan perempuan. Persisnya di aula pesantren dimaksud. Sekitar dua jam lamanya, sang Menteri manyampaikan materi itu.
Acara itu didahului dengan silaturahim sang Menteri dengan keluarga ndalem pengasuh utama Pondok Pesantren Lirboyo Kediri bersama al-mukarram KH. Anwar Manshur. Kala itu, kyai pengasuh utama itu didampingi sejumlah putera-puterinya. Usai silaturahim itu, Menteri Agama lalu menyampaikan materi di hadapan santri Pesantren Ar-Risalah Lirboyo yang dipimpin oleh Neng Aina (Dr. Nyai Hj. Aina ‘Ainaul Mardliyah Anwar, S.H.I., M.Pd.I), puteri Mbah Yai Anwar Manshur itu. Nah, praktik penyampaian materi sebagai pembelajaran bagi para santri inilah yang membuatku semakin tertarik untuk membuat catatan khusus atasnya.
Jalannya Pembelajaran
Dari lima momen pembelajaran di atas, aku mencatat perihal keajegan yang menarik. Yakni, tentang jalannya pembelajaran itu sendiri. Dari pertama kali aku mendapati praktik pembelajaran itu di hadapan ribuan santri penghafal al-Qur’an jenjang pendidikan dasar di Masjid Agung Jombang pada Minggu (22 Desember 2024), aku sudah mulai mencatat tahapan pembelajaran yang diselenggarakan oleh Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA., di atas. Dan catatanku itu tak berubah atas tahapan-tahapan pembelajaran itu kala aku juga menjadi saksi langsung drai praktik pembelajaran serupa untuk empat momen setelahnya. Ya, hingga terjadi praktik pembelajaran di Pesantren Ar-Risalah Lirboyo, Kediri, pada Hari Sabtu, 20 Juni 2026, seperti diuraikan sebelumnya.

Begitu muqaddimah usai disampaikan, sang Menteri lalu memberi satu pertanyaan kepada seluruh santri yang hadir di aula itu. Dilontarkanlah sebuah pertanyaan. “Ayo silakan, siapa yang bisa menjawab pertanyaan tadi, silakan ke depan,” kata Menteri Agama itu usai memberi pertanyaan. Mengangkat tanganlah sejumlah santri. Sang Menteri lalu memilih satu di antara mereka untuk maju. Terjadilah dialog di atas panggung itu. Sang santri pun menjawab pertanyaan sang Menteri. Jawaban sang santri langsung diapresiasi oleh Menteri Agama itu dengan hadiah. Dalam bentuk uang saku. Lalu, dari pertanyaan itu, sang Menteri menjelaskan uraian isi materi pertanyaan secara panjang lebar.
Proses seperti dijelaskan di atas, bahkan, dilakukan oleh sang Menteri tidak hanya satu kali saja dalam satu kali penyelenggaraan pembelajarannya. Aku mencatat, di Pesantren Ar-Risalah Lirboyo itu, sebagai contoh, tujuh kali Menteri Agama itu menyampaikan materi dengan gaya seperti di atas. Diawali dengan pertanyaan. Lalu diikuti dengan mengundang santri untuk maju ke depan guna menjawabnya. Saat santri yang ditunjuk itu berada di hadapan, dialog dan tanya jawab pun makin mendetail. Santri lalu diberi hadiah atas keberaniannnya maju ke hadapannya serta jawaban yang disampaikan. Diakhiri dengan penjelasan panjang lebar mengenai isi materi pertanyaan. Begitulah materi disampaikan dengan proses yang kusebutkan barusan. Semua santri pun memberi perhatian. Dan, materi pun secara panjang lebar diuraikan.
Aku mencatat gaya mengajar seperti di atas ajeg dilakukan Menteri Agama itu selama lima kali kesempatan. Secara konsisten. Tak pernah berubah. Kebetulan aku berada di acara-acara itu dalam berkhidmat membersamai sang Menteri. Mulai dari acasa safarinya ke Pesantren Tremas pada Hari Kamis (16 April 2026) hingga ke Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, pada Jumat (17 April 2026), seperti diuriakan sebelumnya. Bahkan, saat melangsungkan ceramah di Pesantren Ar-Risalah Lirboyo, Kediri, pada Hari Sabtu, 20 Juni 2026 yang lalu, gaya pembelajaran itu ajeg dia lakukan.
Jadi, aku menyaksikan langsung gaya mengajar yang dilakukan sang Menteri itu. Aku merasa sangat beruntung sekali karenanya. Mengapa kumerasa beruntung? Pertama, aku menjadi saksi mata (syahid al-‘iyan) atas praktik pembelajaran yang dilakukan Menteri Agama di atas. Bukan katanya, katanya! Bukan hasil omongan orang! Bukan hasil informasi tangan kedua! Aku beruntung bisa menjadi penerima langsung dari berkah praktik pembelajaran itu. Menjadi tangan pertama yang menyaksikan langsung bagaimana praktik dan atau teknik pembelajaran itu dilakukan oleh sang Menteri. Tentu, karena menjadi tangan pertama, aku bukan saja bisa memahami, melainkan hingga bisa menhagayati dan menceritakan ulang secara mendalam bagaimana sang Menteri itu melangsungkan praktik pembelajarannya.
Kedua, aku bisa belajar langsung bagaimana mengelola kelas superbesar. Sebab, praktik pembelajaran yang diselenggarakan oleh sang Menteri di atas bukan dalam pengertian kelas pembelajaran konvensional yang muridnya hanya 30 orang. Itu jumlah anggota kelas yang biasa ditemukan di kelas konvensional sekolah. Dan bukan dalam jumlah itu yang dihadapi oleh sang Menteri. Tapi, pembelajaran yang dia selenggarakan jauh melampaui dari angka itu. Kalau boleh dibilang, kelas superbesar. Karena, pesertanya mencapai lebih dari seribu orang. Bahkan cenderung ribuan di sejumlah tempat.
Ruang kelasnya pun, karena itu, tentu jauh lebih besar dari ruang kelas konvensional sekolah. Alih-alih, aula pertemuan besar menjadi ruang kelas pembelajarannya. Tentu, cara untuk mengelola kelas dengan jumlah peserta didik yang snagat besar sangat berbeda. Juga, menyelenggarakan pembelajaran di ruang pertemuan yang luasnya jauh melebihi ruang kelas pembelajaran konvensional juga sangat berlainan dari pembelajaran regular pada galibnya. Sukses mengelola kelas pembelajaran kecil tidak otomatis mampu mengantarkan seseorang pada sukses yang sama kala mengelola kelas pembelajaran besar, apalagi superbesar.
Karena itulah, penting belajar dari sang Menteri di atas untuk dua aspek penting. Yakni, jalannya pembelajaran dan sekaligus pengelolaan kelas pembelajaran. Dua aspek ini memang bisa dibedakan tapi tak bisa dipisahkan. Kelihatannya berbeda, tapi sejatinya keduanya berada dalam satu tarikan nafas yang sama. Kala berusaha memahami jalannya pembelajaran, seseorang juga harus berupaya untuk mendalami bagaimanakah kelas pembelajaran dikelola. Constrain atau kondisi pembedanya adalah superbesarnya jumlah peserta didik dan sekaligus ruang pembelajaran yang harus dikelola secara apik nan efektif.
Libatkan Murid
Menyaksikan langsung pemandangan di atas, rasa penasaranku atas tantangan pendidikan kala celah generasi makin melebar terjawab. Sebab, salah satu tantangan paling menyolok terkini adalah kala beda usia antara pendidik dan yang terdidik makin lebar. Bukan lebarnya jarak usia yang penting dibahas. Tapi implikasi konkretnya. Yakni tentang kecenderungan berproduksi dan berkonsumsi dalam pembelajaran yang makin berjarak akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi digital. Sebab, kalau sekadar lebarnya jarak usia, sepanjang perjalanan sejarah manusia, kondisi itu selalu dan mesti terjadi. Tapi, perubahan cepat akibat kemajuan teknologi digital dalam perkembangan terkini telah membuat jarak usia yang lebar itu makin terbebani.
Gurunya makin tua usia. Muridnya tetap muda usia sesuai jenjangnya. Jaraknya pun makin lebar. Tentu, usia tua tak mungkin sama dengan usia muda saat berhadapan dengan teknologi digital. Mereka para pendidik itu tumbuh di era konvensional non digital. Siswanya sebalinya; makin ke generasi alpha, makin digital technology heavy. Dalam kecenderungan digital itu, siswa bisa mencari guru dengan caranya sendiri melalui banyak aplikasi digital. Referensi mereka pun makin meluas akibat konsumsi atas produk informasi melalui aplikasi digital itu. Maka, posisi guru tertantang langsung oleh kemajuan teknologi digital yang membuat makin cepat dan meluasnya referensi dan preferensi siswa.
Maka, kalau pendidik tidak hadir secara inovatif dengan kecenderungan baru itu, mereka bisa ditinggalkan siswa. Tentu, itu utamanya karena kecenderungan berproduksi dan berkonsumsi yang sangat berbeda. Maka, ikhtiar pendidik dalam merespon perkembangan dan kecenderungan baru itu menarik untuk diteliti. Lalu, semua pendidik penting untuk saling berbagi. Atas inovasi pembelajaran yang diakrabi. Agar, setiap pendidik bisa belajar atas kebaikan sesamanya. Yakni, dalam membelajarkan materi dengan inovasi tinggi. Semua itu dibutuhkan agar pmbelajaran efektif kala peserta didik sudah kuat terekspos ke dunia digital.
Apa yang dilakukan Menteri Agama dengan gaya mengajarnya pada lima momen pembelajaran di tempat dan waktu berbeda di atas sungguh patut diapresiasi dan diteladani. Bayangkan, sang Menteri kala itu sudah menginjak usia 66 akhir menuju ke-67 tahun. Tengoklah usia santri di lima momen pembelajaran di atas. Usia mereka antara 10 tahun hingga 16 tahun. Tentu celah usianya lebar banget. Selesihnya antara 50 hingga menyentuh 56 tahun. Tentu celah umur yang begitu lebar mengandung tantangan yang tidak sedikit. Dan, praktik pembelajaran oleh Menteri Agama di lima momen di atas memberi inspirasi betapa ikhtiar inovatif wajib dilakukan dalam melangsungkan pembelajaran terkini.
Celah usia memang memunculkan celah generasi. Dan realitas itu memang suatu hal. Tapi, hal itu bukan berarti bahwa celah generasi selalu dan pasti melahirkan pembelajaran yang penuh kendala akibat beda usia yang sangat jauh itu. Bukan. Sekali lagi bukan begitu. Beda usia yang makin jauh hanya untuk menjelaskan bahwa jika tak hati-hati, pembelajaran akan berjalan dengan tak menyenangkan. Sebab, beda generasi bisa segera terkonversi menjadi beda kecenderungan dan atau preferensi. Itu jika pembelajaran di antara fakta celah generasi itu tak dilakukan dengan penuh kewaspadaan dan kehati-hatian yang tinggi.
Maka, kata kunci penting dalam menyelesaikan problem celah generasi yang lebar dari sisi usia adalah: libatkan! Ya, libatkanlah secara aktif peserta didik ke dalam proses pembelajaran yang diberlangsungkan. Jangan biarkan mereka hanya menjadi sekadar pendengar pasif. Alih-alih, doronglah masing-masing mereka untuk sebesar mungkin mengambil peran aktif di dalamnya. Itulah yang menjadi esensi dari konsep engaging teaching methods. Bentuk teknisnya bisa macam-macam. Turunan teknisnya bisa beragam. Ada yang disebut dengan metode interaktif. Praktik pembelajaran Menteri Agama seperti diuraikan di atas bisa masuk ke dalam kategori metode ini.

Tentu, di luar metode interaktif di atas, masih ada sejumlah bentuk dan atau turunan teknis lainnya dari engaging teaching methods itu. Saat seorang pendidik melibatkan secara aktif muridnya ke dalam pembelajaran berbasis project (atau project-based teaching), sebagai misal, dia bisa disebut sedang mempraktikkan engaging teaching methods itu. Saat seorang pendidik mendorong kuat muridnya untuk terlibat secara aktif ke dalam penyelesaian masalah (problem-based teaching), sebagai contoh lain, dia juga bisa disebut telah melaksanakan engaging teaching methods itu. Pula, saat seorang guru menyelenggarakan pembelajaran yang merangsang keingintahuan murid melalui telaah secara aktif atas kasus tertentu (case-based teaching), sebagai contoh lainnya lagi, maka dia juga bisa disebut telah melaksanakan engaging teaching methods dimaksud.
Lalu Apa Pelajarannya?
Penjelasan mengenai engaging teaching methods beserta ilustrasi yang membersamai di atas memberikan empat pelajaran penting. Pertama, hendaknya pendidik tidak mengandalkan pengalaman mengikuti pembelajaran masa lalu atau pengalaman saat dulu diajari sebagai inspirasi utama, atau bahkan satu-satunya, dalam memberlangsungkan pembelajaran hari ini. Kita semua para pendidik tidak boleh berhenti untuk berinovasi dan berkreasi untuk melakukan praktik baik hari ini. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan selalu membaca secara sungguh-sungguh kecenderungan peserta didik hari ini. Kita patut untuk paham betul dunia mereka hari ini. Kepentingannya agar yang kita belajarkan kepada mereka bisa mereka absorbsi, resepsi, dan konsumsi sebagai bekal menyambut masa depannya.
Kedua, hendaknya pendidik selalu betul-betul menyadari potensi tantangan di balik beda generasi beserta segala perbedaan kecenderungan yang menyertai, terutama di era kemajuan teknologi digital. Langkah ini sangat mendasar yang seharusnya selalu dilakukan oleh pendidik. Tak semestinya ada sikap abai terhadap kesadaran ini. Sebab, jika sikap abai terhadap tantangan beda generasi ini mengemuka, potensi masalah berikut bisa sangat kuat muncul: semakin tidak dianggapnya kehadiran guru oleh murid menyusul kuatnya perasaan mereka untuk mampu menghadirkan guru dengan caranya sendiri melalui berbagai produk dan atau aplikasi digital.
Ketiga, hendaknya pendidik selalu menindaklanjuti dan mewujudkan kesadaran lintas generasi di atas melalui inovasi pembelajaran. Unsur paling minimalnya adalah perbaikan strategi pembelajaran sesuai dengan perkembangan terkini situasi kehidupan. Termasuk dalam perkembangan terkini yang paling utama dari situasi kehidupan dimaksud adalah perubahan yang cepat pada kecenderungan pola produksi dan konsumsi di kalangan peserta didik. Maka, cerdas membaca perubahan dimaksud adalah sebuah kelebihan. Meresponnya secara inovatif adalah kemuliaan. Wujud konkretnya adalah praktik penyelenggaraan pembelajaran yang dekat dengan kebutuhan peserta didik dengan segala kecenderungan terkini yang dimiliki.
Keempat, hendaknya pendidik selalu melibatkan secara aktif peserta didik ke dalam proses dan atau kegiatan pembelajaran. Ini langkah konkret yang penting hari ini. Dan tentu langkah dimaksud harus dilakukan di tengah kecenderungan makin kuatnya desakan kemajuan teknologi digital. Secara rinci, kemajuan teknologi digital mendesakkan dua hal utama: memfasilitasi murid untuk semakin mudah dan leluasa mencari dan atau mendapatkan informasi dengan caranya sendiri pada satu sisi, dan sebagai akibatnya membuat mereka cenderung mager (malas gerak) akibat fasilitasi teknologi digital itu di sisi lainnya. Karena itu, melibatkan secara aktif murid ke dalam proses dan atau kegiatan pembelajaran akan membantu mereka untuk memperkuat kecakapan personal melalui praktik mengalami sendiri secara langsung.
Terkadang penting untuk bertanya kepada diri sendiri: Pernahkah Anda diomongin melulu? Yakni, tak pernah diberi kesempatan untuk berbicara. Tak pernah diberi ruang untuk menyampaikan pendapat. Jika iya, tentu Anda tidak terlalu bahagia. Respon Anda tentu tak menunjukkan kenyamanan. Mengapa begitu? Karena posisi Anda hanya mendengar saja. Tak lebih dari itu. Padahal, jika Anda diberi ruang untuk berpendapat, Anda pasti lebih senang. Jika Anda diberi kesempatan untuk menyampaikan pemikiran, tentu respon yang akan Anda berikan akan lebih positif.
Karena itulah, lahir prinsip berikut ini: Diajak ngomong lebih baik daripada diomongin. Prinsip hidup keseharian seperti ini saja terbukti sangat efektif dalam komunikasi sehari-hari, apalagi untuk tugas dan tanggung jawab penyelengaraan pembelajaran. Karena itulah, engaging teaching methods penting diperkuat dalam praktik penyelenggaraan pembelajaran. Pengalaman keseharian telah memberi bukti konkretnya. Hal itu lebih-lebih terjadi dalam perkembangan terkini. Khususnya, tatkala teknologi digital telah melingkupi hampir semua lini kehidupan. Untuk itulah, setiap pendidik penting untuk belajar, minimal, dari inspirasi kehidupan keseharian. Langkah maksimalnya adalah tak pernah berhenti berikhtiar secara inovatif dalam melangsungkan pembelajaran.