
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya
“Ah, makin lama, bisa-bisa kami para pendidik ini makin stress,” kataku siang itu. Pernyataan itu untuk mengomentari makin mudahnya kini orang untuk mendapatkan informasi dan atau pengetahuan. Mengapa begitu? “Sebab, semakin ke belakang, semakin takjub saja saya terhadap produk kemajuan teknologi artificial intelligence,” begitu alasanku menjelaskan. “Bagaimana tidak,” ujarku lebih lanjut, “hampir semua platform AI dengan begitu cepat dan detailnya memberi informasi dan atau pengetahuan kepada penggunanya.” AI di sini maksudnya adalah artificial intelligence. Kecerdasan buatan. Tentu, pengguna paling aktif nan loyal atasnya adalah anak muda.
Mendengar komentarku seperti di atas, seorang anak muda di sampingku yang berprofesi sebagai dokter melontarkan komentar menarik. Begini ujarnya: “Dulu orang bekerja keras, kini orang bekerja cerdas, he hee… .” Pernyataan ini mengena banget. Ya, nendang banget. Makjleb. Mirip-mirip sebuah quote. Atau, kata-kata hari ini. Redaksinya bak kata-kata mutiara. Rumusan kalimatnya serupa dengan kata-kata hikmah. Memang kalimat itu disampaikan sambil bercanda. Tapi substansinya sangat ilustratif. Juga efektif. Dan tentu mendasar. Hingga perbincangan ringan siang itu di Hari Rabu (19 Agustus 2026) di perjalanan menuju sebuah stasiun kereta api di kota penyangga Surabaya berjalan gayeng sekali.
Hingga, aku pun merasa bahwa materi bincang santai itu perlu diulas. Perlu diterjemahkan lebih lanjut. Perlu diuraikan sedemian rupa. Dalam bentuk tulisan ringan nan reflektif. Kepentingannya agar nilai yang dikandung oleh materi bincang santai itu tak hanya dinikmati oleh orang-orang yang berada di dekat berlangsungnya perbincangan santai di siang itu. Ya, di dua hari usai peringatan Hari Kemerdekaan RI itu. Alih-alih, nilai hidup yang mengembang dari materi perbincangan santai siang itu bisa dikonsumsi pula oleh siapa saja yang berkenan untuk menikmatinya. Dengan begitu, manfaat yang bisa lahir darinya bisa meluas.
Pertanyaannya, siapa saja yang bisa mengkonsumsi nilai hidup dari materi perbincangan santai siang itu? Tentu jawabannya, siapa saja yang menghendaki kebajikan di ruang privat dan publik. Lintas usia. Lintas generasi. Bisa siswa atau murid. Bisa pula mahasiswa. Bisa orang tua secara spesifik. Atau orang dewasa secara keseluruhan. Tentu tak kalah pentingnya adalah para pendidik di tengah masyarakat. Siapapun mereka. Sebab, substansi yang dibahas untuk menguraikan materi perbincangan santai di atas menjadi kepentingan yang harus masing-masing mereka perhatikan. Terdapat irisan kebutuhan (shared needs) yang menggelantung pada materi yang diuraikan dalam tulisan ringan ini.
Hanya, untuk kepentingan penyederhanaan dan representasi, kata “guru” memang secara partikular dirujuk dalam tulisan ini. Tapi, penyebutannya ini tak dimaksudkan untuk menunjuknya secara eksklusif dan distingtif. Melainkan sejatinya penyebutan itu justeru untuk mewakili nama-nama atau panggilan-panggilan lain dari pendidik. Maka, yang disebut dalam tulisan ini memang guru, tapi yang dimaksudkan juga meliputi dosen, pelatih, dan semua nama yang dilekatkan kepada profil pendidik. Tak kalah pentingnya, penyebutan kata “guru” itu juga menunjuk kepada profil orang tua sebagai pendidik yang semestinya.
Karena itu, tulisan ini dimaksudkan untuk menyinggung siapa saja yang dalam dirinya mengemban fungsi sebagai pendidik. Tak hanya guru seperti yang diwakili oleh kata yang ada pada judul di tulisan ini. Melainkan juga siapa saja yang melekat dalam dirinya profesi dan atau tanggung jawab sebagai guru kehidupan. Lebih dari itu, tulisan juga dalam sejumlah bagian menyebut kata “siswa”. Namun pada dasarnya, penyebutan itu juga dimaksudkan untuk meliputi istilah-istilah lain yang mengandung substansi serupa sebagai orang yang sedang dalam tahapan belajar. Bisa “murid”. Juga “santri”. Bisa pula “mahasiswa”. Penyebutan kata “siswa”, karena itu, hanya untuk mewakili saja.
Mengalami Adalah Solusi
Dalam konteks pendidikan, profil anak muda yang disebut-sebut sebagai pengguna paling aktif nan loyal atas kemajuan teknologi AI sebagaimana diuraikan di atas bisa bernama mahasiswa. Atau bisa juga bernama siswa untuk jenjang sekolah. Merekalah generasi yang kini sedang dimanjakan dengan kemajuan teknologi AI. Bahkan, bisa disebut, merekalah para penikmat fasilitasi kemajuan teknologi AIitu. Mengapa saya sebut mereka penikmat? Pertama, karena mereka sangat terfasilitasi oleh kecanggihan teknologi kecerdasan buatan itu. Khususnya dalam mengakses dan memperoleh informasi. Secara cepat dan detail pula. Sebuah fasilitasi yang tak pernah dinikmati generasi sebelumnya. Di era lama itu, generasi terdahulu itu selalu berjibaku dengan teknologi yang sederhana dan lebih-lebih cenderung manual.
Kedua, kecepatan anak-anak muda pada generasi siswa atau mahasiswa untuk bisa menggunakan dan atau memanfaatkan teknologi AI itu jauh melampaui generasi yang lebih tua. Fakta itu tak bisa dinafikan sama sekali. Bahkan, fakta itu bisa menjadi penanda besar dari profil generasi mereka. Semua itu tak lepas dari daya adaptabilitas yang tinggi mereka sebagai penyebabnya. Tak ada gagap teknologi di kalangan mereka. Tak seperti generasi-generasi yang lebih tua yang kini mereka harus melangsungkan hidup dalam derap kemajuan teknologi AI itu. Dengan demikian, mereka pada generasi siswa atau mahasiswa itu sangat menikmati fasilitasi itu dengan segala kacakapan teknisnya.
Sebagai konsekuensi logis dari kata “fasilitasi” di atas, tentu saja kemajuan teknologi AI memberikan banyak manfaat kepada penggunanya. Berbagai kemudahan dan kenyamanan hidup bisa terlahir dari kemajuan teknologi AI itu. Khususnya dalam hal mendapatkan informasi datau atau bahkan pengetahuan. Namun begitu, ada perihal mendasar yang tak boleh dilupakan sebagai tantangan yang harus dihadapi oleh pengguna. Terdapat dampak buruk yang harus diantisipasi. Agar kesempurnaan diri yang menjadi tuntutan kemanusiaan tak tereduksi dan bahkan terdegradasi oleh kemajuan teknologi AI dengan berbagai fasilitasinya itu.
Pertanyaannya, apa perihal mendasar yang menjadi tantangan di balik kemajuan teknologi AI itu? Ada tiga tantangan utama yang penting menjadi perhatian bersama. Pertama, cenderung rendahnya sosialisasi diri secara fisikal-regular di kalangan pengguna atau penikmat kemajuan teknologi AI. Mengingat kapasitasnya yang tinggi dalam fasilitasi atau menyediakan sejumlah perbantuan teknis, AI dapat membuat penggunanya terjerembab ke dalam jebakan “mager”. Males gerak. Ujung-ujungnya, jebakan “mager” itu telah membuat penggunanya enggan untuk bersosialisasi ke luar rumah atau ke komunitas sekelilingnya kecuali melalui piranti digital.
Argumentasinya sederhana. Teknologi digital membuat orang beralih dari kebutuhan fisik ke ketergantungan digital. Sosialisasi mereka tak lagi fisikal. Alih-alih, ketergantungan pada sosialialisasi di ruang digital makin tinggi. Hingga mengalahkan kebutuhan fisikal, termasuk dalam hak sosialisasi diri. Akibatnya, orang lebih kuat untuk menghabiskan dengan durasi hingga berjam-jam di depan layar gawai atau laptop. Praktik itu, bahkan, mengalahkan keharusan mereka untuk bersosialisasi bersama dengan lingkungan terdekatnya, sebagaimana masa-masa sebelum kuatnya dominasi teknologi digital.
Kedua, cenderung lemahnya pengguna atau penikmat kemajuan teknologi AI untuk menjadikan ikhtiar sebagai modal kemanusiaan untuk mencapai sesuatu. Fakta ini berbanding terbalik dengan kuatnya dorongan pada diri mereka untuk hanya mencukupkan diri dengan menikmati hasil semata. Padahal, dampak buruk sudah pasti di hadapan saat seseorang hanya berfokus pada menikmati hasil. Minimal, dia tak akan pernah mengerti tentang makna perjuangan. Tak pernah paham makna sebuah usaha. Padahal, kala seseorang tak mengerti makna sebuah usaha, dia pasti tak akan pernah paham tentang arti sebuah keberhasilan. Bagian integral dengan praktik itu adalah lemahnya sikap berhati-hati dalam pemanfaatan hasil capaian.
Padahal, kita semua diingatkan oleh maqalah dalam Bahasa Arab berikut: Al-ajru ‘ala qadri al-masyaqqah. Pahala bergantung tingkat kesulitan. Semakin tinggi tingkat kesulitan, semakin besar pahala yang akan dirasakan. Atau dalam rumusan lainnya, terdapat maqalah begini: Al-ajru ‘ala qadri al-ta’ab. Pahala bergantung tingkat kepayahan. Semakin tinggi tingkat kepayahan, semakin besar pahala yang akan didapatkan. Pertanyaannya, mengapa muncul ungkapan dalam rumusan seperti pada kedua maqalah dimaksud? Sederhana sekali penjelasannya. Kesulitan akan membuat seseorang menghargai jerih payah. Kepayahan akan membuat seseorang menghormati usaha yang dilakukan. Maka, agar setiap diri dapat menghormati sebuah hasil, dia harus bisa melaksanakan sebuah proses. Itu penting agar dia bisa menghargai sebuah proses.
Ketiga, dampak lanjutan dari dua poin di atas adalah mudahnya rapuh diri di kalangan pengguna atau penikmat kemajuan teknologi AI. Peneliti big data analytics, Mubasyier Fatah, dalam bukunya Data, Dosa, dan Dunia Digital: Manusia, Keamanan Siber, dan Moralitas di Era Tanpa Batas (Jakarta: CV. Pelita, 2026, halaman 32) mengingatkan: “Seseorang bisa memiliki ribuan pengikut tetapi tetap merasa kesepian.” Dia lebih lanjut menyatakan begini: “Seseorang bisa tampak sangat bahagia secara digital tetapi merasa kosong dalam kehidupan nyata.” Mengapa kerapuhan seperti ini bisa mengemuka di era kemajuan teknologi AI? Mubasyier datang dengan rumusan jawaban yang disebut-sebut sebagai ironi di era media sosial sebagaimana berikut: “manusia semakin mudah terlihat, tetapi semakin sukit dikenal secara mendalam.”

Nah, untuk memitigasi risiko agari jatuhnya tidak lebih atau semakin berat, dan sekaligus untuk menyediakan solusi atas tiga tantangan di atas, maka rumus berikut ini penting diterapkan: Mengalami adalah solusi. Kuncinya adalah mengalami. Tanpa mengalami, seseorang tak akan bisa memahami arti sebuah usaha. Tanpa mengalami, seseorang juga tak akan bisa menghargai pentingnya arti sebuah usaha. Karena tak tahu arti sebuah usaha, maka dia akan ceroboh terhadap hasil yang berada di hadapan. Sebab, hasil yang ada di hadapan itu akan dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja. Hadirnya keberhasilan, bahkan, akan dipahami sebagai kebetulan semata, dan bukan hasil kerja keras.
Prompt, Seni Bertanya
Untuk memperkuat dan mempercepat terwujudnya rumus mengalami adalah solusi sebagaimana dijelaskan di atas, maka langkah strategis pertama yang harus diperhatikan adalah: perkuat seni bertanya di kalangan peserta didik. Sebab, isu utama pendidikan di balik kemajuan teknologi informasi, khususnya AI, itu bukan pada bagaimana dengan cepat mendapatkan informasi dan atau bahkan pengetahuan. Sebab, kecepatan itu sudah menjadi bagian sentral dari profil teknologi digital yang melekat pada AI. Alih-alih, yang menjadi isu mendasar adalah bagaimana AI bisa memberi jawaban yang detail dan relevan dengan kebutuhan atas informasi tertentu. Sebab, kecepatan sudah bukan lagi menjadi isu utama di balik kemajuan teknologi AI.
Karena itu, setiap pendidik penting untuk melatih peserta didiknya untuk berlatih bertanya setinggi mungkin. Mengapa penting? Sebab, kini dengan kemajuan teknologi digital, khususnya AI, siswa sudah bisa mencari informasi sendiri. Bahkan, informasi itu kerap datang sendiri. Tanpa perlu diminta dan diharapkan. Maka, dalam perkembangan seperti ini, yang patut dikembangkan pada diri siswa adalah kecakapan bertanya. Bahasa lainnya, kecakapan merumuskan pertanyaan. Sebab, jawaban yang didapatkan melalui kemajuan teknologi digital, khususnya AI, sangat bergantung pada pertanyaan yang dirumuskan. Untuk itu, kemampuan bertanya siswa sudah seharusnya dikembangkan sedemiian rupa.
Dalam bahasa teknisnya, jika seorang siswa mampu dan terbiasa membuat pertanyaan yang baik, maka dia akan sampai kepada kecakapan untuk menyusun prompt yang baik pula dalam pemanfaatan teknologi AI. Seperti mungkin sudah jamak diketahui, prompt dalam teknologi AI merupakan wujud dari instruksi, dan atau pertanyaan yang dituliskan dengan secara untuk diarahkan ke AI untuk mendapatkan jawaban sesuai keinginan yang diharapkan. Prompt ini penting disusun dengan baik karena akan dapat menarahkan jawaban yang akan disediakan oleh AI.
Karena itu, cakap bertanya merupakan modal penting untuk dapat menyusun prompt yang baik. Dan hasilnya, jawaban yang akan diberikan oleh AI juga akan semakin sesuai dengan yang diinginkan penanya. Semakin detail rumusan yang disampaikan dalam prompt, semakin detail pula jawaban yang akan disediakan oleh AI. Dengan begitu, bisa disimpulkan: kecakapan bertanya akan menentukan kecakapan perumusan prompt. Lebih lanjut, kecakapan perumusan prompt akan menentukan akurasi dan relevanis jawaban yang akan disediakan.
Karena itu, pembelajaran berbasis penyelidikan (inquiry-based learning) menjadi penting untuk diterapkan. Sebab, pembelajaran yang demikian ini diawali dengan penyampaian pertanyaan (questions) atau masalah (problems) tertentu yang mengundang keterlibatan aktif siswa untuk meresponnya secara memadai. Juga, pembelajaran dimaksud bisa hadir dengan skenario kegiatan atau tugas tertentu yang harus diikuti oleh siswa secara aktif. Hanya, saja pembelajaran model ini harus disesuaikan dengan kebutuhan spesifik materi pembelajaran dan sekaligus karakter peserta didik.
Lalu, bagaimana caranya? Ada sejumlah langkah konkret. Pertama, berikan di awal pembelajaran sejumlah tantangan akademik kepada peserta didik. Konkretnya, tantangan-tantangan itu berupa pertanyan dan atau kuis yang memantik rasa ingin tahu besar para peserta didik. Kedua, berikan ruang seleluasa mungkin kepada peserta didik untuk mengeksplorasi segala kemungkinan yang bisa menjadi jawaban atas tantangan yang diberikan. Ketiga, hendaknya menjauhi ucapan atau tindakan yang bisa mendemotivasi peserta didik untuk terus melakukan pelacakan atau pencarian jawaban atas tantangan yang diberikan. Sebab, demotivasi itu awal lemahnya atau bahkan tiadanya prestasi.
Lalu Apa Pelajarannya?
Ada tiga pelajaran utama yang bisa dipetik dari uraian di atas. Pertama, guru hendaknya selalu adaptif terhadap teknologi. Kemajuan cepat teknologi memang mengharuskan setiap guru untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan terkini itu. Sikap adaptif terhadap teknologi ini harus diterjemahkan lebih konkret melalui praktik pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Memang ada perbedaan antara kreatif dan inovatif. Kreatif berarti melakukan sesuatu yang baru meskipun sebelumnya sudah ada contohnya. Inovatif berarru melahirkan yang baru meskipun sebelumnya belum ada contohnya. Terlepas dari perbedaan yang ada, keduanya sama-sama mendorong guru untuk menyajikan materi dengan cara baru yang mudah dipahami oleh muridnya.
Kedua, hendaknya guru tidak membiarkan peserta didik hanya menikmati hasil. Alih-alih, memberikan mereka ruang untuk mengalami sendiri. Bahkan lebih-lebih, guru hendaknya mendorong mereka untuk mengalami sendiri secara langsung. Karena mengalami sendiri nan langsung akan memberi mereka deep insight atau wawasan mendalam atas kehidupan yang dijalani. Lebih dari itu, pengalaman langsung akan memberi mereka kekuatan untuk melangsungkan kehidupan dengan berbagai romantikanya. Sebaliknya, berperilaku tinggal menikmati hanya akan membuat mereka terjebak pada nostalgia kenikmatan yang diwariskan oleh lingkungan terdekatnya pada satu sisi, dan membuat mereka terjerembab pada kerapuhan mentalitas pada sisi lain.
Enak atau tidak enak hanya soal respon sesaat. Untuk jangka panjang, belum tentu yang terasa enak akan selalu dan terus terasa enak yang sama. Sebaliknya, untuk keberlangsungan jangka panjang juga, belum tentu yang terasa tidak enak pada saat tertentu akan berlangsung terus dan selalu tidak enak pada perkembangan selanjutnya. Ibarat kopi, pahit saat diminum, tapi akan menyehatkan untuk jangka panjang ke depan. Karena itu, kesulitan dan tantangan jangan sampai dihindari oleh anak. Orang tua, guru dan pendidik pada umumnya seyogyanya tak selalu menjauhkan anak didiknya dari kesulitan dan tantangan. Alih-alih, perlu sekali untuk membawa mereka untuk siap menghadapi setiap kesulitan dan tantangan yang hadir di hadapan.

Ketiga, hendaknya guru dalam proses pembelajaran mendorong peserta didik untuk mengembangkan daya nalar dan investigasi yang tinggi. Membuka ruang kepada mereka untuk meneliti atau melakukan penyelidikan secara umum dan bertanya secara khusus adalah langkah penting dalam mendorong, mengembangkan, dan atau meningkatkan daya nalar dan investigasi peserta didik dimaksud. Apa yang selama ini disebut-sebut sebagai pembelajaran berpusat pada siswa (students-centred learning) atau pembelajaran berbasis penyelidikan (inquiry-based learning), pada hakikatnya, adalah ikhtiar untuk teknis dalam menjadikan pembelajaran sebagai instrument untuk mengembangkan daya nalar dan investigasi yang tinggi pada diri peserta didik.
Akhirnya tak bisa dimungkiri, guru di era terkini seyogyanya tampil adaptif terhadap kemajuan hidup yang terkini pula. Sebab, kehadiran guru justeru untuk menyediakan pengalaman terbaik hari ini kepada seluruh peserta didik. Pengamalan terbaik hari ini bisa menjadi medium yang efektif untuk mengkonservasi kebajikan yang diwariskan oleh masa lalu pada satu sisi, dan sekaligus menyiapkan generasi terkini untuk menyambut kehidupannya secara baik di masa mendatang. Karena itu, tak berlebihan jika guru disebut sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini. Dan atas dasar itu pula, nilai adaptif yang dintuntutkan kepada guru harus diwujudkan dalam bentuk praktik pembelajaran yang kreatif dan inovatif sesuai dengan perkembangan terkini.