Dosen UINSA, Dr. Muhammad Afifudin Dimyathi, M.A. atau yang akrab disapa dengan Gus Awis, kembali menerbitkan karya tafsir. Sebagaimana kita tahu, sebelumnya beliau telah menulis Hidâyat al-Qur’ân fî Tafsîr al-Qur’ân bi al-Qur’ân, sebuah karya tafsir yang menerapkan pendekatan intratekstual, penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an. Kini setelah berselang waktu kurang lebih dua tahun, beliau menerbitkan tafsir lagi, judulnya Kunûz al-Rahmân fî Durûs al-Qur’ân.
Berdasarkan informasi yang beliau sampaikan, Kunûz al-Rahmân saat ini sedang proses dicetak di Kairo, Mesir, oleh Dâr al-Nibrâs, penerbit yang juga mempubliskan Hidâyat al-Qur’ân dan sejumlah karya Gus Awis yang lain, seperti al-Syâmil fî Balâghat al-Qur’ân, Mabâhits fî Ma‘ânî al-Qur’ân, Jam‘ul ‘Abîr fî Kutub al-Tafsîr, dan Jadâwil al-Fushûl fî ‘Ilm al-Ushûl.
Mengapa dan Bagaimana Kunûz al-Rahmân Ditulis?
Gus Awis menuturkan bahwa ketika menerbitkan Hidâyat al-Qur’ân, beberapa kalangan “menyayangkan” minimnya penafsiran-penafsiran kontekstual, lebih-lebih yang bernuansa keindonesiaan. Padahal, bagi mereka, penafsiran-penafsiran semacam ini jauh lebih dibutuhkan di tengah krisis identitas dan dekadensi moral yang melanda sebagian besar umat Islam di Indonesia. Mereka mendorong Gus Awis untuk bergerak lebih lanjut, merambah ke wilayah ini, alih-alih berhenti pada penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an yang menurut mereka terlampau rumit, sulit dijangkau oleh kebanyakan orang.
Kritik dan saran itulah yang kemudian mengilhami lahirnya Kunûz al-Rahmân fî Durûs al-Qur’ân (Perbendaharaan Sang Maha Penyayang Menyangkut Pesan-pesan al-Qur’an). Sebagaimana tersirat dari judulnya, dalam tafsir ini, Gus Awis memilih untuk tidak menyertakan analisis-analisis rumit yang kerap menyulitkan para pembaca, khususnya mereka yang tidak menekuni studi al-Qur’an dan tafsir, seperti analisis kebahasaan, makkî-madanî, nâsikh-mansûkh, asbâb al-nuzûl, dan lain sebagainya. Namun ini bukan berarti analisis-analisis tersebut tidak digunakan. Penggunaan seperangkat keilmuan tafsir tersebut tetap penting, bahkan niscaya. Hanya saja dalam Kunûz al-Rahmân, Gus Awis memilih untuk menampilkan pesan-pesan yang terekstrak dari analisis-analisis tersebut, tanpa menyertakan analisis-analisis itu sendiri.
Pendek kata, setiap uraian dalam Kunûz al-Rahmân merupakan jawaban atas satu persoalan fundamental yaitu, “Apa pesan-pesan yang dapat saya ambil dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari dari ayat ini?” Untuk menjawab persoalan ini, tentu saja Gus Awis butuh memberdayakan seperangkat keilmuan tafsir. Namun pemberdayaan tersebut tidak beliau sertakan secara eksplisit. Beliau memilih meletakkannya “di dapur”, sembari menyuguhkan “masakan siap saji”. Dengan cara ini, pembaca Kunûz al-Rahmân dapat menangkap pesan-pesan yang terkandung dalam setiap ayat al-Qur’an secara langsung, lalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Wajah Tafsir Kontekstual dalam Kunûz al-Rahmân
Sebagai jawaban atas kegelisahan akademik para pembaca Hidâyat al-Qur’ân, Kunûz al-Rahmân hadir dengan wajah yang “lebih kontekstual”. Penafsiran-penafsirannya menyentuh urat nadi masyarakat modern berikut gegat gempita dan pelbagai problematika yang mereka hadapi, termasuk masyarakat Indonesia. Namun perwajahan tafsir kontekstual ini mengambil rupa yang beragam; adakalanya nampak tegas dan lugas, di kali lain terlihat samar-samar. Di antara contoh konkret yang nampak tegas dan lugas adalah penafsiran Gus Awis terhadap surah al-Ma’idah ayat pertama.
Dalam permulaan ayat tersebut, Allah SWT berfirman yang bila dialihbahasakan kurang lebih berbunyi, “Hai orang-orang yang beriman! Penuhilah akad-akad.” Gus Awis menuliskan pesan-pesan yang terkandung dalam ayat ini, antara lain dua pesan berikut:
Memenuhi akad merupakan nilai kemanusiaan kolektif yang melampaui batas-batas budaya dan agama. Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menghimpun-mengikat seluruh negara di dunia merefleksikan orientasi kemanusiaan ini, sehingga ia wajib dipenuhi selama tidak bertentangan dengan hukum-hukum syariat. Hal ini dilakukan tidak lain dalam rangka merealisasikan terwujudnya hubungan yang saling menyempurnakan antara komitmen negara dan moralitas.
Komitmen pada Pancasila di Indonesia tidaklah bertentangan dengan prinsip memenuhi akad yang dikandung oleh ayat ini, bahkan keduanya saling menyempurnakan, sebab Pancasila turut berpartisipasi dalam membangun masyarakat yang adil dan saling bahu-membahu (bersatu padu).
Walhasil, kita berharap kehadiran Kunûz al-Rahmân semakin menambah kekayaan khazanah tafsir nusantara, membuktikan keterlibatan ulama-akademisi Indonesia dalam pemecahan isu-isu global, dan dapat menjadi wasilah terwujudnya kemaslahatan bagi seluruh umat manusia. Amin.
Penulis: Khobirul Amru