*Wahyu Ilaihi, MA. Ph.D., Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSA Surabaya

Rangkaian diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) yang di selengarakan oleh tim peneliti MORA UIN Sunan Ampel Surabaya mengenai kehidupan perempuan masyarakat di kawasan pesisir Pulau Madura memasuki sesi kedua dengan membedah secara mendalam dinamika kehidupan perempuan dari empat kabupaten, yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Forum ini menjadi ruang refleksi bersama bagi berbagai elemen perempuan pesisir—mulai dari pengusaha rajungan, petani garam dan tembakau, guru, ibu rumah tangga, pekerja pemilah (villed) ikan, pengusaha ikan asin, hingga pemilik kapal—untuk mendefinisikan kembali identitas, tantangan, serta kepemimpinan mereka di tengah arus perubahan zaman.

Secara etnografis, forum yang berlangsung hangat ini mengambil tempat di berbagai ruang aktivitas warga yang beragam, seperti rumah tokoh masyarakat lokal, sawung (saung) di tepi pantai, hingga area usaha pengolahan ikan. Pemilihan lokasi yang dekat dengan denyut keseharian ini membuat atmosfer diskusi berlangsung sangat cair dan alami. Sepanjang sesi berlangsung, para peserta menunjukkan antusiasme yang luar biasa; mereka sangat aktif mengemukakan pendapat, saling bersahutan membagikan pengalaman, dan dengan lugas merefleksikan realitas hidup mereka dalam bahasa Madura yang khas. Di tengah obrolan yang interaktif tersebut, para peserta membagikan pengalaman harian mereka yang beririsan erat dengan aktivitas keagamaan dan ruang digital. Nama-nama figur agama yang populer dalam kajian digital seperti Kyai Khalil Yasin, Hanna Attalid, kyai dan ustadzah lokal menjadi referensi yang sangat familiar bagi mereka saat mengakses ngaji online maupun membangun jejaring komunitas. Melalui ruang-ruang tersebut, para perempuan pesisir merefleksikan diri sebagai sosok yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga memiliki resiliensi mental yang kuat.

Hasil penggalian data kualitatif ini merekam bahwa keterlibatan perempuan pesisir Madura mencakup hampir seluruh rantai nilai ekonomi. Saat para suami pergi melaut, para istri bahu-membahu mengolah hasil tangkapan, memilah kualitas ikan, hingga mengantre di pengepul kota demi memastikan produk perikanan bernilai jual. Lebih dari itu, seiring berkurangnya sumber daya manusia di sektor kelautan, para perempuan ini menjadi pelopor diversifikasi usaha keluarga dengan membuka warung makan khas Madura maupun toko kelontong, baik di tanah kelahiran mereka maupun di kota perantauan seperti Surabaya dan Jakarta.
Perubahan sosial juga terlihat signifikan pada aspek pendidikan dan tata kelola keluarga. Kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi perempuan pesisir kini meningkat pesat, ditandai dengan makin banyaknya generasi muda perempuan yang meraih gelar sarjana melalui dukungan beasiswa seperti Bidikmisi. Meskipun pandangan tradisional yang mempertanyakan manfaat pendidikan tinggi bagi perempuan masih kadang terdengar, para peserta menegaskan bahwa pendidikan justru memperkuat kapasitas mereka dalam mengelola rumah tangga dan usaha. Uniknya, di balik beban ganda pekerjaan domestik yang mereka emban, peran pengelolaan keuangan keluarga sepenuhnya dipercayakan di tangan istri, mulai dari pengalokasian hasil melaut hingga keputusan mengenai pendidikan dan pembinaan karakter anak.

Melalui pendokumentasian tradisi lokal seperti syukuran petik laut hingga pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran produk UMKM, para peserta membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan pesisir tumbuh secara alami dari ruang-ruang komunitas. Pelaksanaan FGD sesi kedua di Pulau Madura ini sekaligus secara resmi menandai selesainya seluruh rangkaian putaran ketiga penggalian data lapangan. Capaian ini menjadi pijakan penting dalam memetakan potensi, aspirasi, serta arah penguatan kapasitas perempuan pesisir Madura secara berkelanjutan ke depan.
Tuntasnya sesi kedua di Pulau Madura ini melengkapi seluruh materi rekaman audio, catatan etnografis harian, foto kegiatan, serta lembar refleksif warga yang dikumpulkan sepanjang proses penggalian data putaran ketiga. Tim peneliti berhasil menjaring keragaman suara dari berbagai komunitas pesisir di Bangkalan, Sampang, Pamekasan, hingga Sumenep. Seluruh data mentah dari berbagai latar belakang profesi perempuan pesisir tersebut kini telah terdokumentasi secara utuh dan sistematis.
Penggalian data yang komprehensif ini menjadi fase krusial sebelum tim melanjutkan ke tahapan pendataan berikutnya. Pendekatan lapangan yang dekat dan berakar dari pengalaman warga memastikan bahwa data yang terhimpun memiliki tingkat keandalan (authenticity) serta kedalaman informasi yang tinggi mengenai realitas hidup masyarakat pesisir Madura. Capaian putaran ketiga ini memperkuat basis data etnografis yang telah terkumpul sebelumnya. Selanjutnya, tim riset akan terus melanjutkan agenda pengumpulan data melalui kombinasi interaksi langsung di lapangan serta penjaringan data secara digital (digital forms) guna melengkapi spektrum informasi secara holistik.[]