Dekatilah Daku, Kau Kutangkap

UIN Sunan Ampel Surabaya
April 10, 2026

Dekatilah Daku, Kau Kutangkap

Oleh: Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D.
Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya

Belajar itu mengasyikkan. Ia bisa dilakukan kapan saja. Baik saat muda. Ataupun juga saat usia sudah tua. Juga, belajar bisa dilakukan di mana saja. Kepada siapa saja. Juga tentang apa saja. Mulai tentang alam sekitar hingga kondisi diri pribadi manusia. Termasuk dalam kegiatan yang terakhir adalah hubungan seorang individu dan individu lain di tengah gugusan warga masyarakat. Secara partikular, soal bagaimana menyampaikan gagasan adalah contoh yang paling mendesak untuk dibahas. Karena, menyampaikan gagasan merupakan salah satu tantangan terberat dalam menyebarluaskan ilmu pengetahuan.

Menyampaikan gagasan di tengah audiens besar memberikan pengalaman dan sekaligus kesadaran kematangan tertentu. Contoh yang bisa diturunkan adalah ceramah umum. Selain pendengarnya sangat besar jumlahnya, ragamnya pun juga sangat heterogen. Belum lagi soal pengelolaan forum. Termasuk penguasaan perhatian yang hadir secara keseluruhan. Karena di situ dibutuhkan jam terbang. Pengalaman panjang. Di sinilah, secara pribadi, aku sungguh beruntung. Dan pelajaran itu kuterima sore itu. Kala itu, ada acara Buka Bersama dan Pelantikan Pengurus Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (Dekopimwil) Jawa Timur masa bakti 2025–2030. Di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Minggu, 15 Maret 2026.

Hadir di acara itu seluruh pengurus Dekomwil Jatim serta kabupaten/kota. Di antara mereka ada Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, yang dikenal luas sebagai penggerak koperasi. Di hadapan para pimpinan koperasi se-Jawa Timur itu, bertindak sebagai kyai pemberi materi dalam ceramah buka puasa di atas adalah Prof. Dr. KH Ali Aziz, M.Ag. Dia adalah Guru Besar UINSA Surabaya. Di penghujung puasa hari itu petang itu, dia menyampaikan ceramahnya secara tepat dan sangat kontekstual dengan urusan koperasi dan cara kerja pengurusnya.

Dia awali ceramahnya itu dengan sebuah kalimat pertanyaan. Diselingi dengan canda yang bikin suasana segar dan ringan. Hadirin pun dalam ceramah itu tampak dilibatkan. Melalui proses tanya jawab yang menarik perhatian. “Pak Bupati, silakan Bapak ke sebuah dusun di Tulungagung,” ujar Prof. Ali Aziz mencoba melibatkan salah seorang peserta dengan sebuah pengandaian. Dia adalah Bupati Tulungagung, sebagaimana namanya kusinggung sebelumnya. Dia diajak berdialog oleh sang penceramah yang juga Imam Besar Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) itu. “Bapak lalu silakan bilang ke warga di dusun itu,” pinta sang kyai lebih lanjut, “tolong bacakan Surat al-Ikhlash.”

Foto: Prof. Ali Aziz Sedang Berceramah di Grahadi (15 Maret 2026)

Tanpa menunggu lama respon peserta, Prof Ali Aziz itu langsung menindaklanjuti pertanyaan pengandaian yang dilontarkan di atas dengan jawaban yang sudah dia siapkan sendiri. Itu, karena, dialog yang menyertakan tanya-jawab itu lebih cenderung retorik. Begini rumusan jawaban yang dia sampaikan itu: “Pertanyaan itu, lalu akan segera dijawab oleh para warga dusun itu siang itu dengan kalimat seperti ini: “Saya nggak hafal, Pak.” Lalu, Prof Ali Aziz itu pun meneruskan pengandaiannya lebih jauh. “Tapi sebaliknya, kalau Pak Bupati nanya, tolong Bapak bacakan Qul hu, mereka pun,” dalam penjelasan sang kyai itu, “akan menjawab: Nah Bapak jangan ganti ganti nama Surat gitu dong Pak.” Komentar lanjutan pun meluncur dari mulut para warga dusun itu: “itu, namanya Qul hu Pak, bukan al-Ikhlas.”

Makna di Balik Kisah

Kisah di atas mengirimkan pesan penting: dekatilah daku, kau kutangkap. Kalimat pada pesan ini kuambil sebagai ungkapan pinjaman, atau dalam bahasa ’ilmu al-balaghah dikenal dengan istilah iqtibas, dari judul film tahun 1986. Judul persis film dimaksud begini: kejarlah daku, kau kutangkap. Ini film komedi terkenal. Dibintangi oleh pemain film ternama, Deddy Mizwar, Lidya kandow, dan Ully Artha. Atas apiknya akting para pemainnya, film dimaksud tercatat telah berhasil menyabet penghargaan sebagai film terlaris kelima di tahun itu. Hingga akhirnya di tahun 2012, film itu diangkat ke layar televisi sebagai serial sinetron 12 episode.

Tentu makna kalimat kutangkap dalam pesan dari ungkapan di atas tak sama dengan kutangkap dalam judul film itu. Jika dalam konteks film dimaksud, makna kutangkap lebih cenderung fisikal-material, dalam konteks pesan kalimat di atas, makna kutangkap berarti terterima dan terpahaminya dengan baik isi pesan yang terkirimkan. Karena itu, kalimat dekatilah dalam rangkaian utuh ungkapan lengkapnya dekatilah daku mengandung makna kiasan yang bisa berarti: rengkuhlah pikiranku. Atau, raihlah hatiku. Atau, kenalilah budayaku. Atau juga, selamilah kemampuanku.

Jadi, ungkapan dekatilah daku dalam kalimat awal yang menjadi judul tulisan ini bukan dalam arti fisik nan sesungguhnya. Yakni, memeluk erat tubuh pasangan. Bukan. Melainkan, dalam konteks cakupan makna komunikasi publik. Bentuknya, mendekatkan isi pembicaraan dengan segala latar belakang sasaran komunikasi umum itu. Dengan begitu, pesan yang menjadi pembahasan tulisan ini tentu dalam konteks strategi penyelenggaraan komunikasi publik. Ceramah adalah bagian dari ruang berlangsungnya komunikasi publik itu. Ilustrasi yang disampaikan oleh Prof. Ali Aziz sebagaimana diuraikan di atas adalah cara berkomunikasi publik dalam bentuk ceramah umum di audiens besar.

Di luar ceramah umum oleh Prof. Ali Aziz itu, mungkin masih banyak lagi jumlah contoh komunikasi publik yang bisa diturunkan. Mungkin di antara kitab isa menjumpai contoh-contoh itu. Tetapi, izinkan aku menelaah kisah yang kudapati langsung di Gedung Negara Grahadi di atas sebagai kasus pembahasan. Karena, materinya menarik. Isinya sarat makna. Strateginya pun juga menawan. Akhirnya, hadirin pun kutangkap bisa menyerap isi ceramah itu dengan demikian baiknya. Karena itu, konteks partikular dari pembahasan komunikasi publik di Gedung Negara Grahadi di atas memang tentang ceramah agama. Tapi substansi komunikasi publik itu sejatinya bisa mengenai apa saja. 

Atas dasar itulah, pembahasan strategi dan isi ceramah di atas memang penting dipahami. Khususnya oleh mereka yang bergelut dengan dunia komunikasi publik. Tapi, tulisan ini juga mengajak para guru, dosen, pelatih, dan tentu siapa saja yang sedang dalam tugas menyampaikan materi nilai ke audiens besar untuk menjadikan strategi dan isi ceramah oleh Prof. Ali Aziz di atas sebagai pelajaran inspiratif dalam berkomunikasi publik. Mengajar adalah bagian dari seni berkomunikasi publik itu. Karena itulah, guru, dosen, pelatih, dan tentu siapa saja yang sedang dalam tugas menyampaikan materi nilai ke audiens besar patut mengambil pelajaran dari kisah di atas. Tentu, inspirasi bisa didapatkan dari sumber mana saja. Tapi, tulisan ini menjadikan kisah ceramah agama oleh Prof. Ali Aziz dimaksud sebagai pemantik materi yang terdekat dengan kehidupan keseharian kita.

Yang Lazim dan Yang Sahih

Surat al-Ikhlas adalah salah satu bacaan paling popular di kalangan anggota masyarakat luas.  Ia masyhur karena jumlah ayatnya sangat pendek. Hanya empat (4) ayat saja. Pendek-pendek pula masing-masingnya. Hingga ingatan pun mudah menyimpannya. Karena pendek dan mudah diingat itu, maka Surat al-Ikhlas kerap dibaca dalam setiap rakaat shalat. Bahkan dibaca hampir di setiap shalat lima waktu dalam sehari. Akhirnya, Surat itu begitu popular bersama dua surat lainnya. Yakni, al-Falaq dan al-Nas. Ketiganya akhirnya sangat akrab di telinga dan dalam ingatan hampir semua individu Muslim.

Menyebut Surat al-Ikhlas sebagai nama salah satu Surat pendek dalam al-Qur’an adalah sahih. Benar. Valid. Terkonfirmasi. Oleh nama yang memang tercantum, minimal, dalam mushhaf al-Qur’an yang tercetak. Banyak memang nama mushaf, tapi semua mencantumkan al-Ikhlas sebagai nama Surat itu. Karena itulah, menyebut Surat itu dengan nama al-Ikhlas adalah benar adanya. Meskipun begitu, bukan berarti setiap individu pasti mengenal nama Surat itu secara benar. Alih-alih, banyak di antara mereka yang justru mengenalnya dengan nama Qul hu. Mereka lazim menyebutnya dengan nama itu. Bukan nama al-Ikhlas. Nama Qul hu itu secara asal terambil dari awal ayat pertama. Yakni, Qul huwa Allahu ahad.

Maka, menyebut Surat Qul Hu adalah lazim. Penyebutan itu begitu popular dan beredar luas. Meskipun itu tidak valid. Penyebutan itu, bahkan, lama menjadi ingatan hampir setiap individu Muslim. Karena popular, beredar luas, dan masuk menjadi ingatan kolektif, maka yang lazim tampak seakan-akan bahwa itulah yang sahih. Itulah kekuatan popularitas. Itulah kelebihan kelaziman. Walaupun hal itu tidak selalu sahih. Walaupun itu tidak selalu valid. Kelaziman membuat memori publik kuat tertanam untuk mengingatnya. Apalagi, tak selalu setiap individu memiliki kapasitas untuk melakukan verifikasi dan validasi.

Dalam kehidupan, memang tak jarang antara yang sahih (atau the truth) dan yang lazim (atau the commonship) berhimpitan. Atau bahkan berdampingan. Dalam keseharian, sebagai misal lain, banyak di antara kita sudah tak lagi merasa perlu melakukan koreksi atas penggunaan dua istilah berikut ini: air mancur dan air muncrat. Lihatlah di sejumlah sudut kota di berbagai daerah. Saat di sana ada air yang sengaja dialirkan-disemprotkan ke atas untuk memunculkan pemandangan menarik, pasti memori publik akan menyebutnya dengan nama air mancur. Padahal, kata mancur itu harusnya bergerak dari atas ke bawah. Bukan dari bawah ke atas.

Lalu, mengapa fasilitas pemandangan berbasis semburan air ke atas itu dikenal dengan air mancur, padahal pada hakikatnya adalah air muncrat? Bukankah, kalau dari bawah ke atas, itu namanya muncrat, bukan mancur? Itulah ilustrasi nyata relasi antara yang sahih dan yang lazim. Penyebutan fasilitas pemandangan berbasis semburan air ke atas dengan istilah air mancur itu karena kelaziman. Karena kebiasaan. Walaupun yang sahih seharusnya adalah air muncrat. Maka, dalam konteks ini, penyebutan air mancur bisa disebut dengan yang lazim. Dan istilah air muncrat itu dinamakan yang sahih.       

Nah, dalam komunikasi publik, yang sahih dan yang lazim itu harus selalu didialogkan. Dijembatani. Bahkan juga didekatkan. Kepentingannya adalah agar materi yang disampaikan lebih cepat ditangkap oleh audiens. Memang bagaimana pun, yang sahih harus diedukasikan kepada audiens. Tetapi, itu bukan berarti bahwa yang lazim selalu harus menjadi “pemenang” atas yang sahih.  Bukan. Bukan juga begitu. Selama yang lazim itu tak merusak substansi dasar dari yang sahih, maka yang lazim patut dipertimbangkan untuk diinsersi ke dalam praktik komunikasi publik.

Itu semua supaya di sana tidak ada kesenjangan. Kesenjangan apa saja? Ada dua jenis kesenjangan dalam hal ini. Pertama, kesenjangan materi komunikasi antara yang disampaikan oleh komunikator dengan basis kognitif audiens. Sebab, bagaimanapun, basis kognitif publik itu terbangun dari kelaziman. Apa yang lazim dalam keseharian mereka akan dianggap seperti ini: itulah justru yang sahih! Kedua, kesenjangan basis kultural antara komunikator dan audiens. Bagaimanapun, sesuatu yang lazim cenderung menjadi kebiasaan. Saat berlanjut dalam kesinambungan kuat, kebiasaan dimaksud lalu bergerak menjadi kultur yang hidup (the living culture). Nah, merujuk kepada potensi dua kesenjangan ini, maka supaya sukses dan efektif, komunikasi publik harus mempertimbangkan betul apa yang disebut dengan yang lazim ini. 

Proximity Sebagai Prinsip

Upaya untuk menghindari dua kesenjangan di atas, maka prinsip proximity (kedekatan) penting mendasari komunikasi dan atau penyampaian gagasan. Proximity itu memang strategi mendekatkan materi komunikasi dengan penerimanya. Titik tekannya agar tidak ada jarak antara materi yang materi yang disampaikan dengan basis kognitif dan sosial budaya penerimanya. Maka, proximity adalah bagian dari langkah strategis untuk meredupkan level kesenjangan pada satu sisi, dan sekaligus secara perlahan namun pasti menghapus kesenjangan dimaksud pada sisi lain.

Pesan dekatilah daku, kau kutangkap yang disebut sebelumnya di atas sejatinya merupakan terjemahan konkret dari prinsip proximity ini. Pesan berbasis prinsip ini menunjuk pentingnya kedekatan substansi yang melingkupi hubungan antara komunikator dan audiens. Itu di satu sisi. Di sisi lainnya, pesan dimaksud menjauhkan komunikasi dari kesenjangan yang sangat mungkin timbul dan terjadi antara komunikator dan audiens. Maka, keberhasilan mempraktikkan prinsip proximity menjadi awal dari suksesnya komunikasi publik atas gagasan yang sedang dibangun dan dikembangkan.

Munculnya banyak tantangan atas cerita sukses komunikasi tak jauh-jauh dari faktor kesalahpahaman. Kesenjangan saja sudah pasti menimbulkan masalah dalam suksesnya komunikasi, apalagi kesalahpahaman. Karena itu, pesan dekatilah daku, kau kutangkap seperti yang dicontohkan dalam ceramah agama kepada audiens cukup besar oleh Prof. Ali Aziz di Gedung Negara Grahadi di atas harus menjadi inspirasi untuk menyemangati penyelenggaraan komunikasi publik. Proximity yang menjadi prinsip dari pesan dimaksud mengkerangkai agar kesalahpahaman dan kesenjangan di atas tak pernah terjadi dalam penyelenggaraan komunikasi publik.

Lalu Apa Pelajarannya?

Apa yang dibahas di atas, mulai dari makna di balik kisah hingga proximity sebagai prinsip, memang bagian dari pembahasan dalam komunikasi publik. Namun, diskusi mengenai komunikasi publik ini tak boleh hanya berhenti dalam pemaknaan ke dalam contoh partikular seperti ceramah agama, melainkan juga harus bisa direlevansikan dengan tugas-tugas komunikator lainnya. Termasuk di sana ada figur guru sebagai penyampai materi dan nilai pembelajaran kepada peserta didik. Juga ada komunikator materi serupa lainnya, mulai pelatih hingga penyuluh.

Karena itu, figur seperti guru, pelatih, dan penyuluh pun juga harus bisa mengambil inspirasi pelajaran dari yang kuceritakan di atas. Minimal, ada dua pelajaran utama yang bisa dipetik. Pertama, jadikan murid atau peserta didik dari pembelajaran/pelatihan/penyuluhan sebagai sumbu dari komunikasi pembelajaran. Ini berarti bahwa seluruh proses dan atau bahkan materi yang disampaikan harus mempertimbangkan betul kondisi dan situasi yang ada dan dihadapi oleh peserta didik dari pembelajaran/pelatihan/penyuluhan. Hal ini bisa dilakukan mulai dari respon terhadap tuntutan kedalaman materi hingga tingkat kesulitan yang mungkin timbul di ruang pembelajaran atau pelatihan dimaksud.

Jangan jadikan diri guru atau pelatih sebagai sumbu. Lalu, aspek teknis penyelenggaraan pembelajaran dilakukan dengan tanpa mempertimbangkan kondisi dan situasi peserta didik dari pembelajaran/pelatihan/penyuluhan. Sebab bagaimanapun, suksesnya pembelajaran atau pelatihan atau penyuluhan di antaranya diukur dari indikator berikut ini: keterserapan materi oleh peserta didik dari pembelajaran/pelatihan/penyuluhan bisa maksimal. Apa yang disebut dengan istilah belajar tuntas mempersyaratkan keterserapan materi yang dibelajarkan. Begitu pula yang seharusnya terjadi pada pelatihan dan penyuluhan. Maka, jadikan peserta didik dari pembelajaran/pelatihan/penyuluhan sebagai sumbu, dan jangan sebaliknya, guru atau pelatih atau penyuluh sebagai sumbu atau sentral.

Kedua, lakukan analisis konteks atas diri peserta didik beserta latar belakang sosial ekonominya. Jangan tempatkan mereka semua dalam satu keranjang yang sama. Hormati kelebihan dan kekurangan masing-masing. Prinsip respectful treatment (perlakuan hormat) menjadi penting diperhatikan.  Yakni, memberikan perlakuan hormat terhadap para peserta didik dengan cara melakukan dua hal penting, mengenali (recognizing) dan menghargai (valuing) kehormatan, martabat, atau marwah masing-masing dari mereka. Dalam praktiknya, prinsip ini mengharuskan guru untuk memastikan bahwa masing-masing peserta didiknya bisa merasa dihargai dan diperlakukan dengan segala kehormatan, martabat, atau marwah yang ada pada dirinya serta penuh kesopanan.

Mengesampingkan prinsip respectful treatment hanya akan membuat guru cenderung mengabaikan perbedaan yang ada pada diri murid. Mengapa begitu? Karena semua murid dianggap sama. Perilaku kepada mereka juga akhirnya dibuat sama pula. Akibatnya lanjutannya, tak ada lagi pengakuan dan penghormatan terhadap adanya individual differences (perbedaan yang melekat pada masing-masing individu) pada diri murid. Padahal, dalam senyatanya, perbedaan latar belakang sosial ekonomi membuat mereka berbeda pengalaman pula. Bahkan, individual differences bisa berangkat dari perbedaan potensi diri masing-masing murid.

Lebih-lebih, di sana masih ada perbedaan yang dilatarbelakangi oleh faktor budaya dan etnis. Dalam satu etnis yang sama saja, ekspresi budaya yang mengemuka tidak tunggal. Apalagi, Indonesia dihuni oleh warga bangsa dengan beragam etnis yang memiliki kedudukan yang sama di negeri ini. Maka, bisa dipastikan, di tengah masyarakat yang multikultural dan multietnis seperti Indonesia serta multikedirian masing-masing murid, serangkaian perbedaan bisa dipastikan mewujud dalam realitas sekolah. Karena itu, tak ada cara lain kecuali memberikan respectful treatment atau perlakuan hormat kepada murid, sebagaimana dimaksud di atas.

Tag Post :

Rector Insights

Categories