Pohgading, 1 Juli 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 119 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya melaksanakan kegiatan penguatan wawasan kewirausahaan berbasis potensi desa bersama Hamzah, pemuda asal Desa Pohgading yang berhasil mengembangkan usaha budidaya jamur tiram hingga menjadi salah satu pemasok di berbagai kota di Jawa Timur.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya KKN dalam mengenalkan potensi ekonomi lokal sekaligus mendorong semangat pemberdayaan masyarakat melalui usaha yang berkelanjutan. Dalam kesempatan tersebut, Hamzah membagikan pengalaman sekaligus proses panjang yang ia lalui dalam membangun usahanya. Berbekal ketekunan dan semangat belajar, ia telah mencoba membudidayakan hampir seluruh jenis jamur. Namun, setelah mempertimbangkan peluang pasar, ia akhirnya memutuskan untuk memfokuskan usahanya pada budidaya jamur tiram.
Keputusan tersebut terbukti tepat. Saat ini, hasil panennya telah didistribusikan ke berbagai kota di Jawa Timur. Di antara daerah pemasarannya, Probolinggo, Porong, dan Pandaan menjadi wilayah dengan permintaan tertinggi, yakni mencapai sekitar lima kuintal jamur setiap hari. Harga jual jamur tiram di tingkat pemasaran berkisar mulai dari Rp15.000 per kilogram.
Meski kini usahanya berkembang pesat, Hamzah mengungkapkan bahwa perjalanan merintis usaha tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar yang dihadapinya pada masa awal adalah ketersediaan bahan baku, terutama serbuk kayu sebagai media tanam jamur. Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia menjalin kerja sama dengan sejumlah pabrik pengolahan kayu. Limbah serbuk kayu yang sebelumnya tidak lagi dimanfaatkan kemudian diolah kembali menjadi media tanam jamur. Selain memberikan nilai ekonomi, pemanfaatan limbah tersebut juga menjadi salah satu bentuk pengelolaan sumber daya yang lebih ramah lingkungan karena mampu mengurangi sisa limbah industri kayu yang tidak terpakai. Seiring berkembangnya usaha, semakin banyak pihak yang mulai percaya dan berinvestasi dalam pengembangan budidaya jamur yang dikelolanya.
Dalam sesi berbagi pengalaman, Hamzah menjelaskan bahwa proses budidaya jamur dimulai dari pencampuran serbuk kayu murni dengan beberapa bahan pendukung, yaitu bekatul atau dedak yang masih baru serta kapur bangunan yang berfungsi untuk menetralkan tingkat keasaman (pH) media tanam. Seluruh bahan tersebut kemudian dikomposkan sebelum masuk ke tahap pengemasan menggunakan mesin packing.

Dengan bantuan mesin tersebut, proses pengemasan dapat menghasilkan sekitar 400 baglog dalam waktu satu jam. Setelah selesai dikemas, baglog kemudian memasuki tahap sterilisasi menggunakan oven berkapasitas sekitar 1.250 baglog. Proses sterilisasi berlangsung kurang lebih selama 10 jam, bergantung pada jumlah baglog yang diproses dalam satu kali produksi.
Tahapan berikutnya adalah pembibitan. Baglog yang telah steril dipindahkan ke ruang pembibitan untuk ditumbuhi miselium jamur. Proses ini membutuhkan waktu sekitar satu bulan hingga media tanam dipenuhi oleh miselium. Hamzah juga menjelaskan bahwa bibit jamur yang digunakan diproduksi secara mandiri, dengan salah satu bahan utamanya berasal dari jagung. Ia menambahkan bahwa ruang pembibitan harus benar-benar terjaga kondisinya dan tidak boleh terkena paparan sinar matahari secara langsung. Kebersihan ruang serta kondisi lingkungan yang stabil menjadi faktor penting untuk mencegah kontaminasi sehingga pertumbuhan miselium dapat berlangsung secara optimal.
Di hadapan mahasiswa KKN 119 UIN Sunan Ampel Surabaya, Hamzah menekankan bahwa keberhasilan budidaya jamur sangat bergantung pada kualitas proses sterilisasi.
“Kunci budidaya jamur agar hasilnya baik adalah sterilisasi. Kalau proses sterilisasinya baik, maka hasil jamurnya juga akan baik,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN 119 UIN Sunan Ampel Surabaya memperoleh pengalaman lapangan mengenai pengembangan usaha berbasis potensi lokal yang memadukan aspek ekonomi, inovasi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk memanfaatkan potensi desa secara produktif, sekaligus menunjukkan bahwa pengelolaan limbah dan penerapan proses budidaya yang higienis dapat mendukung terciptanya lingkungan yang lebih sehat serta meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat.
Penulis: Abdul Hakim Masdar Hikam
Mahasiswa Prodi Tasawuf dan Psikoterapi FUF