CERIA JUSTRU KETIKA BUTA

UIN Sunan Ampel Surabaya
August 5, 2026

CERIA JUSTRU KETIKA BUTA

Catatan Jelang Endoskopi ke-11
oleh: Moh Ali Aziz

Pukul 02.00, saya tulis kisah ini setelah start puasa untuk tindakan pukul 10.00 pagi ini (5/8/26) di operational room. Terima kasih Ibu dr. Tri Asih Imro’atin SpPD, K-GEH, FINASIM yang selalu nmenyemangati saya untuk kesekian kalinya. Tidak ada yang aktual, tapi kisah berikut ini tetap penting bagi siapa pun yang sakit.

Pak Yasin dari Kabupaten Lumajang Jatim tidak bisa melihat sejak usia 40 tahun. Ia aktif mendengarkan Syiar Islam Radio El-Victor, media yang selalu menemani. Suatu saat, ia diantar tetangganya naik motor silaturrahim ke rumah saya. “Pak Yasin, silakan mengamini doa saya, semoga bisa melihat kembali,” kata saya sambil menyuguhkan secangkir teh hangat. “Mohon, saya tidak didoakan kesembuhan ustad,” pintanya. “Lho kenapa?” tanya saya kaget. Ia menjawab lembut dengan bahasa Jawa, “Sejak buta, saya bersyukur, tidak lagi berdosa lewat mata.” Saya terperanjat dan malu. Ia jauh lebih mulia dan suci dari saya yang hanya berceramah. Maka, saya bacakan doa yang berbeda, “Wahai Allah, inilah dulurku yang demi Allah saya cintai, pak Yasin, yang ikhlas dan rida dengan penyakitnya. Pertemukan ia dengan Nabi-Mu suatu saat dalam mimpinya. Ijinkan ia memandang wajah-Mu dan wajah Nabi-Mu dalam surga.” Ia mengamininya dengan khusyuk.

Ketika pamit pulang, ia bersuka cita, sebab bisa berjumpa setelah sekian tahun hanya mendengar suara saya di radio.

Inilah kekuatan berpikir positif yang merubah suatu musibah justru sebuah berkah, dan yang berat justru terasa ringan.

Pak Yasin tidak pernah membaca kisah Abu Darda’, r.a, salah satu sahabat yang dicintai Nabi SAW. Tapi, ia sudah meniru akhlaknya. Ia pernah mengatakan, “Aku menyukai kemiskinan, sebab itulah yang menjadikan aku rendah hati. Aku menyukai sakit, sebab itulah yang menghapus semua dosaku. Aku juga menyukai kematian, sebab itulah perjumpaanku dengan KEKASIH yang kurindukan.”

Dalam realita obyektif, buta, sakit, dan miskin adalah derita. Tapi dalam realita subyektif, ketiganya justru sebuah berkah jika seseorang memandangnya secara positif. Demikian kata psikolog. Orang bijak berkata,
اَلْحَيَاةُ لَيْسَتْ مَسْألَةَ اِمْتِلَاكٍ، بَلْ مَسْألَةَ إدْرَاكٍ
“Bahagia bukan masalah apa yang kita miliki, tapi bagaimana cara kita menyikapi”

Berpikir positif atau negatif adalah pilihan. Terserah, mana yang Panjenengan pilih. Monggo. (Surabaya, 5-8-2026)

Tag Post :

Categories