Belajar dari Praktik Baik UINSA, FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dalami Skema Joint Degree Internasional

Pusat Layanan Internasional
June 12, 2026

Belajar dari Praktik Baik UINSA, FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dalami Skema Joint Degree Internasional

Surabaya, 11 Juni 2026 — UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya kembali menjadi rujukan dalam pengembangan program internasional perguruan tinggi. Bertempat di International Office UINSA, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melakukan kunjungan benchmarking untuk mempelajari pengelolaan program Joint Degree yang telah dijalankan oleh Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris UINSA bersama Master of Teaching English to Speakers of Other Languages (TESOL), University of Canberra (UC), Australia.

Kunjungan ini menjadi ajang berbagi pengalaman sekaligus diskusi strategis mengenai pengembangan program pendidikan internasional yang mampu memberikan kesempatan lebih luas bagi mahasiswa dan dosen Indonesia untuk memperoleh pengalaman akademik global.

Dalam sesi diskusi, tim International Office UINSA menjelaskan bahwa program Joint Degree tersebut merupakan tindak lanjut dari kerja sama resmi antara UIN Sunan Ampel Surabaya dan University of Canberra. Program ini juga mendapat dukungan dari Australia Awards Indonesia (AAI) sebagai institusi mitra yang berperan dalam pendanaan dan penguatan kapasitas program.

Salah satu hal yang menarik perhatian peserta kunjungan adalah mekanisme pendanaan program yang menerapkan skema co-sharing. Dalam skema tersebut, Australia Awards Indonesia memberikan dukungan sebesar 70 persen, sedangkan 30 persen lainnya didukung oleh Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama (PUSPENMA) dan Pendidikan Keagamaan di bawah Sekretariat Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia.

Tim UINSA juga memaparkan tahapan penting yang harus dilalui sebelum sebuah program Joint Degree dapat dilaksanakan. Proses tersebut diawali dengan identifikasi universitas mitra yang potensial, dilanjutkan dengan penyusunan dan penandatanganan dokumen kerja sama berupa MoU dan MoA antara kedua perguruan tinggi.

Selain itu, diperlukan pula kerja sama antara universitas mitra dengan kementerian terkait. Dalam program yang dijalankan UINSA, University of Canberra turut menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia untuk mendukung keberlangsungan program.

Keberhasilan penyelenggaraan Joint Degree juga ditentukan oleh kesepakatan kedua institusi mengenai bentuk program yang akan dijalankan, apakah menggunakan skema Joint Degree maupun Double Degree. Seluruh bentuk kerja sama dan program yang akan dilaksanakan harus tercantum secara jelas dalam dokumen kerja sama yang masih aktif selama program berlangsung.

Tahapan berikutnya meliputi penyusunan Letter of Intent (LoI), pengunduhan dan pengisian dokumen Split Site Master Program (SSMP), hingga penyusunan proposal bersama yang diajukan kepada PUSPENMA. Proposal tersebut memuat rincian kesiapan program, termasuk pembagian komponen pembiayaan yang akan ditanggung oleh masing-masing pihak.

Pada program yang dijalankan UINSA dan University of Canberra, pembiayaan studi selama satu tahun di Indonesia didukung oleh PUSPENMA. Selanjutnya, PUSPENMA mengajukan dukungan pendanaan kepada Australia Awards Indonesia untuk proses seleksi dan penetapan penerima program.

Suasana diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta dari FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tidak hanya memperoleh gambaran teknis mengenai penyelenggaraan Joint Degree, tetapi juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya membangun kemitraan strategis yang berkelanjutan dengan perguruan tinggi internasional.

Kunjungan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal lahirnya lebih banyak program internasional yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan tinggi keagamaan Islam di Indonesia sekaligus memperluas akses mahasiswa dan dosen terhadap pengalaman akademik bertaraf global.

Dari praktik baik yang dibagikan UIN Sunan Ampel Surabaya, terdapat beberapa pelajaran penting yang dapat diambil. Pertama, keberhasilan program internasional tidak hanya bergantung pada kerja sama antaruniversitas, tetapi juga membutuhkan dukungan pemerintah dan lembaga pendanaan yang kuat. Kedua, perencanaan yang matang melalui dokumen kerja sama, penyusunan skema program, dan kesiapan anggaran menjadi faktor kunci keberhasilan implementasi. Ketiga, kolaborasi internasional yang berkelanjutan dapat membuka peluang yang lebih luas bagi mahasiswa dan dosen untuk meningkatkan kompetensi akademik, memperluas jejaring global, serta memperkuat daya saing perguruan tinggi Indonesia di tingkat internasional.

N_HM_

A_

Tag Post :

Categories