Probolinggo – Kelompok Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 138 berkolaborasi dengan Komunitas Zuperlearning menggelar kegiatan edukasi anti-perundungan (anti-bullying), perajinan kreatif, dan olahraga bersama bagi anak-anak Desa Klenanglor. Zuperlearning sendiri merupakan sebuah komunitas atau wadah edukasi lokal di Desa Klenanglor yang berfokus pada pendampingan dan bimbingan belajar bagi anak-anak desa.
Kegiatan diawali dengan sesi ice breaking yang meriah untuk mencairkan suasana dan membangun keakraban antara mahasiswa KKN 138, para penggerak Komunitas Zuperlearning, serta anak-anak Desa Klenanglor.
Memasuki agenda utama, mahasiswa KKN 138 memberikan pemaparan edukasi mengenai bahaya perundungan. Anak-anak diajak untuk mengenal bentuk-bentuk bullying, memahami dampaknya terhadap perasaan teman sebaya, serta pentingnya saling merangkul dan menghargai.
Melalui pendekatan yang interaktif dan komunikatif, anak-anak diajarkan untuk berani menolak segala tindakan perundungan serta bersama-sama menjaga ruang belajar di Zuperlearning agar bebas dari bullying.
“Melihat maraknya kasus perundungan di era sekarang, edukasi anti-bullying menjadi hal yang sangat krusial untuk ditanamkan sejak dini. Melalui sinergi bersama Komunitas Zuperlearning, kami ingin membentuk karakter anak-anak Desa Klenanglor agar saling menghargai dan menciptakan lingkungan yang aman bagi sesama,” ujar Nur Abdul Karim (koordinator Desa KKN 138).
Seusai sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan perajinan kreatif (crafting). Mahasiswa KKN 138 mengajak anak-anak mengolah limbah kantong plastik (kresek) menjadi bola kasti. Kegiatan ini mengasah kreativitas sekaligus mengenalkan pemanfaatan daur ulang sampah plastik. Puncak acara ditutup dengan permainan kasti bersama di lapangan menggunakan bola kresek buatan anak-anak. Melalui olahraga ini, anak-anak dan mahasiswa lebur dalam suasana penuh kebersamaan.
Kolaborasi antara KKN 138 dan Komunitas Zuperlearning ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi tumbuh kembang anak-anak di Desa Klenanglor. Dengan lingkungan belajar yang bebas dari perundungan, anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, kreatif, dan saling menyayangi.
Penulis: Nayla Syifa’un Najmi (Mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UINSA)