Bahagia Itu Bersamanya

UIN Sunan Ampel Surabaya
July 3, 2026

Bahagia Itu Bersamanya

Oleh: Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D.
Plt Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya

Setiap diri berhak untuk bahagia. Itu prinsipil sekali. Tak boleh ada yang membelakangi. Bahkan tak boleh pula ada yang menghalangi. Karena memang, bahagia itu hak setiap diri. Tapi pertanyannya selalu sederhana seperti berikut ini: Apa yang membuat seseorang bahagia? Dan, sering kata “apa” ini berimpitan dengan kata “siapa”. Hingga muncul ungkapan pertanyaan lanjutannya seperti ini: Siapa yang membuat seseorang bahagia? Nah, pertanyaan tentang apa dan siapa yang bisa membuat seseorang bahagia ini membuka diskusi lanjutan mengenai alasan di balik apa dan siapa yang bisa membuat seseorang bahagia itu.  

Rangkaian kata dalam judul tulisan ini, yakni “Bahagia Itu Bersamanya”, sengaja kususun sedemikian rupa untuk menjawab pertanyaan tentang apa dan siapa yang bisa membuat seseorang bahagia di atas. Kata ganti “nya” yang menempel di akhir kata “bahagia” tentu tidak dimaksudkan untuk menunjuk ke Tuhan. Karena huruf “n” pada awal kata ganti itu dibiarkan kecil. Itu artinya, sekali lagi, tentu saja bukan Tuhan. Melainkan merujuk kepada sesama. Ya, sesama manusia. Tentu, setiap diri akan bisa menyebut, menunjuk, dan sekaligus memberi makna atas kata ganti “nya” itu. Keberagaman penunjukan dan pemberian makna di sini menandakan ketidakserupaan dalam pengalaman.

Di tengah keberagaman penunjukan dan pemberian makna atas kata ganti “nya” di atas, rasanya penting menelaah secara dekat perspektif Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA., mengenai hal itu. Kepentingannya sederhana. Yakni, sebagai contoh eksklusif. Dengan contoh partikular itu, kita akan perluas diskusi dan kembangkan telaah. Harapannya, kita akan segera paham tentang bagaimana menempatkan apa dan siapa di balik lahirnya rasa bahagia pada diri seseorang. Dari situ, kita akan segera dapat mencerna dengan baik sekali berbagai alasan mengapa seseorang bahagia. Alasan-alasan ini memberi setiap kita kesempatan untuk belajar dari sesama dalam membangun dan meraih rasa bahagia itu.

Lalu, apa kata Menteri Agama, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA., sendiri mengenai bahagia itu? Begini pernyataannya: “Saya menemukan kebahagiaan saat bertemu dengan tiang pancang agama.” Pernyataan ini dia sampaikan kala bersama al-mukarram KH. Anwar Manshur, pengasuh utama Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Kebersamaan itu terjadi kala Menteri Agama itu sowan dan melakukan silaturahim kepada kyai sepuh yang juga menjadi panutan banyak umat itu. Acara silaturahim itu sendiri terjadi di sebuah pagi. Di Hari Sabtu, 20 Juni 2026 yang lalu.

Silaturahim itu berlangsung di ndalem kasepuhan Lirboyo. Al-mukarram KH. Anwar Manshur selaku shohibul bayt menemui Menteri Agama dan rombongan di ruangan yang kerap menjadi saksi pertemuan-pertemuan mulia di kalangan para kyai ternama tanah air itu.  Dalam pertemuan kala itu, sang kyai sepuh itu kebetulan didampingi sejumlah putera dan puterinya. Kebetulan pula, sang puteri bernama Neng Aina (Dr. Nyai Hj. Aina ‘Ainaul Mardliyah Anwar, S.H.I., M.Pd.I) yang menjadi pengasuh utama Pesantren Ar-Risalah yang menjadi bagian dari pesantren induk Lirboyo adalah alumni Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jakarta. Menteri Agama sendiri kebetulan juga memiliki afiliasi khusus dengan kampus para pengkaji al-Qur’an itu.   

Damai Bersamanya

Memang sejumlah alasan bisa saja mengemuka tentang apa dan siapa yang bisa membuat seseorang bahagia. Dan masing-masing memiliki konteksnya tersendiri. Termasuk latar belakang yang mendasari. Itu semua menjadi bagian dari sejarah hidup yang masing-masing alami. Biasanya antara satu dan lainnya tak selalu sama dan menyerupai. Prinsip itu berlaku bagi siapa saja yang mengalami. Termasuk bagi Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Namun, tetap saja ada yang spesifik dari pernyataan Menteri Agama tentang apa dan siapa yang membuatnya bahagia itu. Dan, itu yang patut ditelaah lebih jauh nan seksama.

Dari pernyataan yang dia kemukakan seperti di atas, ada dua poin penting yang bisa dimaknai sebagai alasan yang membuat Menteri Agama itu bahagia. Pertama, kebersamaan dengan figur kekuatan telah melahirkan kebahagiaan. Hal itu terlihat kala Menteri Agama itu menyebut kyai sepuh dengan istilah “tiang pancang agama”. Sebagai tiang pancang, kyai sepuh dipandang begitu pentingnya bagi keberadaan agama dalam kehidupan individu-individu warga masyarakat. Karena itu, berada bersama pemuka agama yang dinilai sebagai pilar penting sebagaimana diilustrasikan dengan tiang pancang agama dimaksud tampak membuatnya bahagia. Itu tercermin sekali dari penyataan lengkapnya, sebagaimana diuraikan sebelumnya.

Kedua, keterkaitan dan keterikatan atas dasar kesamaan visi, misi dan tugas suci tampak menjadi basis lahirnya kebahagiaan. Menteri Agama dalam pertemuan di atas tampak menemukan kesamaan dalam hal visi, misi dan tugas suci dengan figur KH. Anwar Manshur. Yakni, sama-sama sebagai tokoh agama. Artinya, kebersamaan dalam pertemuan itu dinilai dan dirasakan telah memperkuat menyatunya visi, misi dan tugas suci keduanya dalam menjalankan amanah sebagai tokoh agama. Atas alasan itu, kebersamaan yang diikat oleh kebajikan yeng berasal dari kesamaan visi, misi dan tugas suci dengan kyai sepuh itu tampak membuat sang Menteri merasa bahagia.  

Memang, jika seseorang ditanya mengapa dia bahagia bersama seseorang selainnya, jawabannya bisa macam-macam. Ada yang menjawab: “Aku nyaman dengannya.” Yang lain mungkin menyatakan: “Aku adem bersamanya.” Bahkan yang lain lagi bisa mengutarakan begini: “Aku damai bersamanya.” Dan bahkan jika seribu orang ditanya dengan pertanyaan serupa, mungkin jawabannya juga sebanyak jumlah orang yang ditanya itu. Isinya bisa mirip-mirip. Bisa pula berbeda. Bergantung pada situasi batinnya. Juga bergantung pada pengalamannya. Situasi batin dan pengalaman itu membentuk rumusan ekspektasi tersendiri atas rasa bahagia itu.

Jawaban-jawaban yang beragam di atas menunjukkan bahwa seseorang pasti punya alasan untuk bahagia. Hanya karena situasi batin dan pengalaman yang dimiliki tak serupa satu sama lain, seperti diuraikan di atas, maka sudah barang tentu alasan yang dikemukakan juga tak seragam. Tapi, fakta itu bukan berarti bahwa bahagia hanya milik segelintir orang saja. Atau milik sekelompok orang semata. Atau, bahwa bahagia itu pasti dengan alasan yang memenuhi standar tertentu yang dibikin oleh sekelompok orang saja. Tentu tidak begitu. Tentu tidaklah sedemikian itu. Sebab, bahagianya seseorang tak selalu dengan alasan yang sama dengan selainnya dalam mencapai rasa bahagia itu.

Komunitas Kebahagiaan  

Harus disadari bahwa bahagia bisa tampak serupa. Tapi, alasannya tak selalu sama. Juga, bahagia bisa saja tampak sama. Tapi, yang melatarbelakanginya bisa pula tak serupa. Lebih-lebih, mereka yang dapat merasakan, atau dengan kata lain berhasil mencapai, rasa bahagia juga tak didominasi oleh kalangan tertentu saja. Apalagi, untuk bisa mencapai rasa bahagia itu tak harus dengan alasan yang sama. Berlaku juga rumus begini: untuk bisa bahagia tak harus kaya dulu. Kaya dan seterusnya itu hanya contoh saja. Ya, contoh tentang alasan bahagia dan sekaligus tentang basis kebahagiaan untuk bisa diperoleh.     

Tapi, saat kebahagiaan dirasakan di kala berada dalam kumpulan tertentu dari individu-individu, hal itu berarti bahwa rasa bahagia bukan saja diderek oleh individu semata, melainkan juga oleh komunitas yang mewadahi kumpulan individu-individu itu. Tentu, lazimnya, terwadahinya individu-individu dalam komunitas itu diikat oleh kesamaan visi, misi dan tugas suci. Bentuknya adalah kesamaan pikiran terhadap sesuatu yang diinginkan bersama. Kesamaan pikiran dimaksud lalu berlanjut hingga ke kesamaan praktik keseharian. Kesamaan-kesamaan yang demikian ini menjadi dasar bagi lahirnya komunitas dimaksud.

Itulah yang dalam konteks pembahasan ini disebut dengan konsep komunitas kebahagiaan (community of happiness). Yakni, komunitas yang mencerminkan ungkapan kebahagiaan yang dirasakan secara bersama-sama oleh sebuah kelompok individu, dan rasa itu dibagi secara sama pula oleh individu-individu yang berada di dalamnya. Dasar pembentuknya adalah keterwakilan gagasan seseorang yang disambut oleh selainnya dalam hubungan sosial atau kelompok tertentu. Penyambutan ini lalu mendorong dilakukannya perjuangan bersama untuk menegakkan dan menyebarluaskan gagasan tersebut ke individu atau kelompok sosial lainnya secara lebih luas.

Jadi, komunitas kebahagiaan lahir dari kesamaan gagasan. Oleh dan di antara individu-individu yang ada di dalam kelompok sosial tertentu. Lalu, kesamaan gagasan itu diperjuangkan menjadi sebuah misi mulia. Tak berhenti di situ, kesamaan itu lalu menggerakkan individu-individu dalam kelompok sosial yang terbangun atas dasar kesamaan dimaksud untuk melahirkan tindakan konkret dalam menegakkan dan menyebarluaskannya. Kala kesamaan gagasan hingga praktik tindakan itu makin menguat, maka komunitas kebahagiaan itu juga makin terjaga secara kuat pula.

Nah, semakin intensnya pertemuan membuat individu-individu dalam komunitas kebahagiaan itu makin menguat pula. Di sinilah konsep silaturahim yang diajarkan oleh agama menjadi instrumen penguat yang penting atas komunitas kebahagiaan dimaksud. Dalam kaitan inilah, bertemunya individu-individu yang diikat oleh kesamaan gagasan dan praktik tindakan keulamaan melalui instrumen silaturahim menjadi contoh eksemplar dari penguatan komunitas kebahagiaan dimaksud. Itulah mengapa bisa dipahami Menteri Agama RI Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA menyatakan kala bersama dengan KH Anwar Manshur dengan pernyataan “Saya menemukan kebahagiaan saat bertemu dengan tiang pancang agama” sebagaimana disebut di atas.    

Singkatnya, mengapa bertemunya figur-figur sesama komunitas secara partikular bisa memunculkan rasa bahagia? Satunya pikiran mereka yang sevisi itu menjadi faktor utamanya. Chemistry pun segera dengan mudah tercipta. Satu rasa menjadi konsekuensinya. Saat satu rasa sudah mengemuka, dampak lanjutannya memunculkan praktik perilaku atas nama pikiran dan perasaan yang sama itu. Bahagia pun hanya menjadi akibat selanjutnya. Itulah penjelasan mengapa Menteri Agama di atas menemukan kebahagiaan kala bersama dengan kyai sepih yang disebutnya sebagai tiang pancang agama,

Bahagianya Kyai

Contoh menarik telah kita dapatkan secara partikular. Yakni, dari figur Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Poin eksemplarnya adalah bahwa Menteri Agama itu telah menemukan kebahagiaan kala bersama kyai sepuh. Tentu ini hanya sekadar contoh saja. Dan, contoh itu bisa digunakan untuk memahami alasan di balik apa dan siapa yang membuat seseorang bahagia. Dalam kaitan itu, Menteri Agama itu menemukan kebahagiaan saat berada dalam kebersamaan dengan kyai sepuh. Itulah, sekali lagi, contoh partikular untuk memahami dan sekaligus menjawab secara partikular pertanyaan tentang apa dan siapa yang membuat seseorang bahagia.

Dari contoh di atas, tentu kita segera bisa paham alasan seseorang bahagia. Tak harus sama. Tak mesti serupa. Sebab, kebahagiaan hadir kapan saja. juga di mana saja. Termasuk juga pada siapa saja. Apalagi, bahagia itu milik siapa saja. Karena prinsipnya, setiap diri berhak untuk bahagia. Itu adalah prinsip seperti yang dibahas di awal tulisan ini. Karena itu, jika seseorang mendapati alasan yang membuat sesamanya bahagia, yakinlah itu absah. Tak perlu dipertanyakan. Apalagi digugat keberadaannya. Sebab, masing-masing pasti punya alasan yang membuatnya sampai kepada rasa bahagia yang sedang dinikmati.    

Hanya, tentu saja, bahagianya kyai, sebagai misal, bisa saja tak sama dengan selainnya. Bahagianya kyai justeru lebih kuat didorong oleh kesamaan visi, misi, dan tugas suci yang diemban oleh sesama kyai sebagai pilar bangsa. Bahagianya guru, sebagai contoh lain, bisa saja kala mereka bisa bertemu dan berbagi rasa dan pikiran bersama teman sejawat guru. Artinya, kesamaan visi, misi dan tugas suci memantik rasa bahagia. Karena, masing-masing dalam kesamaan itu ingin mengatakan begini: We are in the same board! Kita sama-sama berada dalam perahu yang sama. 

Dan, rumus kesamaan visi, misi dan tugas suci menjadi pemantik dan sekaligus pengembang rasa bahagia di antara mereka yang berada di bawah titik kesamaan itu. Konsep komunitas kebahagiaan mengandung arti bahwa kebehagiaan itu bukan hanya dirasakan atau dialmi oleh seorang individu, melainkan sudah meluas utuk menjadi kebahagiaan bersama dari kelompok individu yang disatukan oleh visi, misi, dan tugas suci yang melekat pada keleompok sosial itu.

Maka, bahagianya komunitas kyai lahir karena ikatan kesatuan visi, misi, dan tugas suci yang kuat di internal komunitas kyai itu. Kebersamaan yang lahir karena sebuah momentum silatirahim yang tercipta di antara mereka semakin memperkuat ikatan kesatuan dimaksud. Kondisi inilah yang mengantarkan seorang kyai sampai pada kebahagiaan tertentu akibat momen kebersamaan dimaksud. Dan di titik dan konteks inilah, kita segera bisa memahami mengapa orang seperti Menteri Agama RI , Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA., merasa telah menemukan kebahagiaan kala bersama kyai sepuh semisal al-mukarram KH. Anwar Manshur, pengasuh utama Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Foto: Menag RI Bersama KH Anwar Manshur dan Putera-Puteri di PP Lirboyo Kediri (20 Juni 2026)

Konsep komunitas kebahagiaan di atas tak hanya berlaku kepada kelompok sosial tertentu seperti yang dialami oleh kedua kyai di atas. Alih-alih, konsep itu dapat berlaku efektif bagi komunitas sosial apa saja. Jika seseorang berprofesi sebagai guru, maka konsep itu juga bisa berlaku efektif bagi komunitas guru. Bahkan, konsep itu tak hanya berlaku pada kelompok sosial berbasis profesi. Melainkan juga bisa efektif bagi individu-individu yang ada di tengah-tengah masyarakat yang diikat oleh kesamaan visi, misi dan tugas suci.

Komunitas ibu-ibu menyusui bisa menjadi contoh partikular yang bisa disebutkan di sini dan dalam kaitan ini. Inilah mengapa di masyarakat Barat, ada yang disebut dengan community centre. Ya, terjemahannya semacam pusat kegiatan masyarakat. Ada miripnya dengan Puskesmas di Indonesia, karena memang di community centre itu terdapat layanan kesehatan bagi ibu-ibu dan anak bayinya. Juga ada miripnya dengan counselling centre. Karena memang di dalama community centre itu terdapat layanan konseling keyahbundaan (parenting) bagi ibu-ibu di lingkungan komunitas itu.      

Dalam konteks pembahasan inti dari tulisan yang ada di hadapan pembaca ini, konsep komunitas kebahagiaan menjadi instrumen untuk saling menguatkan di antara mereka yang berada di bawah kesamaan visi, misi dan tugas suci yang ada. Karena ada fungsi saling menguatkan itu, maka lahirnya kebahagiaan bersama hanyalah konsekuensi logis semata dari semakin bertemunya kesamaan visi, misi dan tugas suci dimaksud. Level kebahagiaan bersama itu akan semakin meninggi kala diikat oleh kebersamaan yang tercipta dari silaturahim yang dilakukan di antara anggota komunitas itu. Dalam kebersamaan itu seakan ada proses spiritual charging (pengisian ulang energi spiritual) di antara kelompok sosial di komunitas kebehagaain itu. Proses inilah yang memperkuat munculnya kebahagiaan bersama itu.       

Lalu Apa Pelajarannya?

Uraian mengenai apa dan siapa yang membuat seseorang bahagia di atas memunculkan dua pelajaran utama. Pertama, berbahagialah walau dengan alasan yang sederhana. Tak perlu menunggu yang mewah datang. Tak perlu mengharap yang mahal lebih dulu hadir. Sebab, saat engkau bisa menemukan bahagia versi diri sendiri, engkau pada saatnya akan bertemu dengan orang-orang yang merasakan bahagia dengan alasan versi dirinya. Mungkin awalnya juga sama-sama dengan alasan yang sederhna. Tapi, akan ada titik temu untuk saling berbagi kebahagiaan walaupun awalnya dengan alasan yang sederhana itu. Karena itulah, mengeluh menjauhkan diri dari bahagia.   

Kedua, perkuatlah silaturahim untuk membentuk dan meningkatkan capaian kebahagiaan. Sebab, silaturahim akan membuat setiap diri saling menguatkan. Satu sama lain. Itu tak lain  akibat kesamaan rasa yang ada pada masing-masingnya. Maka, bahagiakanlah diri dengan berada dalam kebersamaan dengan mereka yang satu pikiran dan satu perasaan dalam kebajikan. Bahasa lainnya: satu visi, satu misi dan satu tugas suci. Ya, kebajikan menjadi prasyaratnya. Sebab, kebajikan saat bertemu dengan kebajikan akan membuat kebajikan-kebajikan itu mengalami penguatan. Bahkan, penguatan dimaksud bisa mewujud dalam bentuk kebajikan baru. 

Bahagia memang hak setiap diri. Tapi, bahagia tak begitu saja datang sendiri. Juga tak begitu saja hadir menghampiri. Bagaimanapun, bahagia harus dijemput dan diraih. Maka, membangun bahagia di internal diri sendiri adalah awal yang terpuji. Sisanya adalah membangun komunitas kebahagiaan bersama orang-orang yang memiliki kesamaan visi, misi dan tugas suci. Silaturahim adalah instrumen untuk memperkuat kebahagiaan diri. Inilah mengapa Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA., di atas merasa telah menemukan kebahagiaan tersendiri. Ya, itu kala bersama kyai sepuh al-mukarram KH. Anwar Manshur dari Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Dalam acara silaturahim yang kuuraikan dalam tulisan ini. Itulah sebuah contoh baik yang patut diteladani. Tentang apa dan siapa yang bisa membuat seseorang sampai kepada kebahagiaan diri.

Tag Post :

Rector Insights

Categories