
Oleh: Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D.
Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya
Gedung itu begitu memesona. Kokoh. Modern. Apalagi, kualitas bangunannya ciamik. Membanggakan. Lebih-lebih, presisi berbagai sisi bangunannya juga sangat tinggi. Bahkan, cenderung sangat profesional sekali. Lebih dari itu, di kanan-kiri gedung itu, masih ada sejumlah lahan terbuka. Di antaranya ada yang ditanami jagung. Lainnya, ada juga pepohonan nan tinggi. Dan semua itu bikin pemandangan serba hijau. Bikin aku kesengsem sejak awal memasuki area itu. Bikin aku jatuh hati sejak awal kedatangan. Singkatnya, kesan pertamaku atas gedung dan area sekelilingnya sangat positif. Semua itu bikin aku kagum.
Kekagumanku itu lebih-lebih karena aku sadar dari awal sekali. Bahwa gedung itu bukan gedung perhotelan. Juga bukan gedung perkantoran modern. Melainkan gedung kompleks pesantren. Itu yang membuatku terkagum dan terpukau lebih jauh. Ya, kala itu aku sedang memasuki kompleks gedung pesantren. Di siang itu menjelang dzuhur. Di Hari Sabtu, 11 April 2026. Bersama rombongan dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, aku memasuki hall tempat menginap. Di Pesantren Sunan Bejagung 2, Semanding, Tuban, Jawa Timur. Asuhan KH. Abdul Matin Jawahir. Kebetulan kami kala itu akan mengikuti Musyawarah Kerja selama dua hari.
Kesan pertama yang begitu memesona itu mengirimkan kesan kuat dalam sekejap. Bahwa pengerjaan pembangunan gedung itu tak asal-asalan. Bahkan bisa dibilang top sekali. Karena itu, begitu masuk ke hall itu, mataku otomatis saja mengarah ke berbagai sisi dan sudut ruangan. Satu-persatu kupelototi. Lalu tertujulah mataku ke sebuah sisi tembok. Di situ tertempel sebuah kertas putih. Kudekati kertas itu. Karena dari kejauhan, aku sudah tertarik dengan kata-kata yang dikandungnya. Melangkahlah kakiku ke arah kertas itu. Langkah demi langkah kuayunkan ke situ. Semakin mendekat, semakin kubisa membaca dan mencerna pesan teks itu lebih utuh.
Begini bunyi teks di kertas itu: Gandengane ngaji iku akhlaq. Nek akhlake bagus, ilmune gampang mlebu. Terjemahan Bahasa Indonesianya seperti ini: Pasangan belajar itu akhlak. Jika akhlak bagus, ilmu mudah masuk terserap. Begitu mendapati teks ini, aku pun langsung membuka gawaiku. Kuarahkan kamera gawaiku itu ke arah kertas putih yang ada di sisi tembok itu. Usai kupotret teks itu, aku pun mencoba mengalihkan pandangan ke sis-sisi lain dari tembok hall itu. Ahaa!!, ternyata teks dalam kertas putih dengan ukuran tulisan dan model font yang sama juga ada di sisi tembok panggung depan. Juga ada di sisi tembok lainnya di sebelah kanan dari panggung. Itu artinya, ajaran pada teks itu menjadi perhatian besar di pesantren dimaksud.

Foto: [Kiri] KH Miftachul Akhyar Saat Sambutan, [Kanan] Tulisan di Dinding Hall Pesantren (12 April 2026)
Bagiku dan tentu mungkin banyak di antara kita, teks itu layak menjadi quote belajar. Atau, mutiara hikmah pembelajaran. Atau, maqalah dalam tradisi santri. Isinya mengandung sejumlah pesan mulia. Tentu fokusnya ada pada kaitan antara ilmu dan akhlak. Namun, setting operasionalnya dalam konteks pembelajaran. Quote atau mutiara hikmah atau maqalah itu bersumber dari keagungan ajaran yang diberlakukan di Pesantren Sunan Bejagung, Tuban. Kalau selama ini kita mengenal kuat istilah al-adab fawqal ‘ilmi (seperti pada tulisan saya sebelumnya berjudul “Adab Di Atas Ilmu,” URL: https://uinsa.ac.id/adab-di-atas-ilmu), kini tulisan ini hadir dengan istilah baru: al-adab ma’al ilmi. Adab terhadap Ilmu.
Pentingnya Adab
Dalam hidup, yang baik itu tak cukup hanya ada dalam hati. Harus dipraktikkan. Memang, ada Hadits seperti berikut ini: Innama al-a’mal bi al-niyyah. Sesungguhnya perilaku itu bergantung pada niat. Hadits ini mengajarkan agar setiap kita mengelelola niat dengan baik sejak awal. Karena niat itu akan menentukan kualitas perilaku. Itu memang sebuah pesan. Tentang menata niat. Tapi, ada pesan lain yang juba bisa ditarik sebagai makna inferensial. Bahwa untuk kesempurnaan kebaikan yang dikandung, niat harus dilanjutkan dan diterjemahkan ke dalam perilaku. Karena, perilaku merupakan konkretisasi dari niat.
Hubungan antara niat dan perilaku sangat erat. Bahkan dapat memantik skema sebab dan akibat. Niat yang baik akan melahirkan perilaku yang baik. Dan sebaliknya juga, niat yang buruk akan melahirkan perilaku yang juga buruk. Dalam senyatanya, rumus itu tak pernah menyilang, seperti pada contoh berikut ini: niat yang baik akan melahirkan perilaku yang buruk. Atau, niat yang buruk akan melahirkan perilaku yang baik. Tentu saja, skema menyilang ini tak akan pernah terjadi dalam kehidupan normal manusia.
Karena itu, Hadits Nabi yang kukutip di atas mendorong kita untuk menata dan sekaligus memperbaiki niat sejak dari awal perilaku. Kepentingannya agar perilaku didasari oleh niat baik. Jika penataan niat ini sukses dilakukan sejak awal, hasilnya pun juga baik. Hal itu bukan untuk mengatakan bahwa memperbaiki niat di tengah proses atau perjalanan tindakan tak perlu dilakukan. Bukan begitu. tettp itu perlu dilakukan. Bahkan tetap bermanfaat. Krena hidup tak pernah berhenti. Selalu berproses. Tentu harud digaris dari awal sekali: niat saja tak cukup. Perlu dilanjutkan dengan praktik tindakan. Maka, menata niat adalah kebutuhan. Melanjutkannya dengan praktik perilaku adalah kebajikan.
Karena itu, membiasakan yang baik adalah keutamaan. Dan, membiasakan yang sebaliknya justeru awal keburukan. Sebab, sekecil apapun sebuah kebaikan, jika dilakukan secara konsisten akan melahirkan kebiasaan baik. Maka, jangan biasakan keburukan. Dan jangan pula sepelekan kebajikan. Sebab, saat sebuah kebaikan sudah menjadi kebiasaan, maka hidup akan berada dalam panduan kebajikan. Juga, saat kebaikan sudah menyatu dalam keseharian, maka niat dan perilaku baik itu sudah menyambung-terpadu. Hingga bisa melahirkan karakter mulia diri.
Pada titik itulah, muncul apa yang disebut dengan istilah adab. Dalam bahasa umum disebut juga dengan istilah etiket. Yakni, kebaikan yang sudah tak lagi sekadar berada dalam ranah niat, tapi sudah menyatu dan terterjemahkan ke dalam praktik keseharian. Hingga kebaikan itu menjadi urusan kebiasaan. Kerja operasionalnya sangat mekanistis. Karena, niat dan perilaku baik bukan lagi bertemu. Melainkan sudah menyambung-terpadu. Mewujud dalam praktik nyata keseharian. Maka, dapatlah disbeut bahwa adab atau etiket adalah nilai kebajikan yang sudah menjadi kebiasaan yang menyatu dalam perilaku keseharian.
Al-Adab Ma’a Kulli Syai’
Label yang disematkan kepada diri manusia sangat beragam. Seiring dengan beragamnya aspek kedirian manusia itu sendiri. Satu sisi disebut sebagai zoon politicon. Makhluk sosial. Tak bisa hidup sendirian. Tapi di sisi lain, manusia juga disebut sebagai makhluk ahsan taqwim (QS al-Tin ayat 4). Makhluk yang tercipta dengan segala “kesempurnaan” dibanding selainnya. Masih ada juga yang menyebut manusia sebagai makhluk multidimensional. Karena ada dimensi material di dalamnya. Dan juga dimensi spiritualnya. Bahkan, manusia juga disebut sebagai wakil Tuhan di bumi atau khalifatullah fil ardl (QS al-Baqarah ayat 30).
Label yang terakhir ini mengandung implikasi serius bahwa manusia tak seharusnya berorientasi secara eksklusif untuk dirinya. Posisinya sebagai penyandang status wakil Tuhan mengharuskannya untuk berkemampuan tinggi dalam mengelola kebajikan untuk semesta. Karena itu, manusia sudah seharusnya memiliki wawasan ekologi yang terjaga. Wawasan kealaman ini dibutuhkan untuk menyempurnakan wawasan kemanusiaan yang juga seharusnya kuat dimiliki. Apalagi, tuntutan sebagai hamba Tuhan juga mengharuskan manusia untuk memiliki wawasan kehambaan yang memadai. Semua wawasan itu dibutuhkan untuk menunjang kebutuhan esensialnya menjadi wakil Tuhan di bumi.
Di sinilah, lalu dikenal istilah al-adab ma’a kulli syai’. Etiket terhadap apa saja. Tak hanya kepada manusia, atau al-adab ma’a al-nas. Tapi juga ke alam raya, atau al-adab ma’a al-‘alam. Dengan ungkapan lain, bukan saja harus memiliki adab atau etiket kapada sesama manusia, atau al-adab ma’a al-akharin. Melainkan juga kepada lingkungan, atau al-adab ma’a al-bi’ah. Ini semua untuk mengatakan bahwa manusia tak boleh hanya berorientasi untuk kebaikan internal dirinya. Melainkan harus juga merujuk kepada Kebajikan di luar dirinya. Mulai dari sesama manusia hingga lingkungan.
Karena itu, muncul sejumlah rumusan untuk mengidentifikasi orang baik. Sebut saja begini: Orang yang baik adalah orang yang tak saja baik untuk dirinya, melainkan juga harus baik terhadap sesamanya. Bahkan ada rumusan lanjutan seperti ini: Orang yang baik adalah orang yang tak saja baik kepada dirinya sendiri dan sesamanya, melainkan juga baik kepada lingkungan dan atau alam raya. Karena itu, ukuran kesalehan seseorang tak bisa hanya dibatasi dalam urusan hubungannya dengan Sang Pencipta. Melainkan juga kepada sesame manusia. Dan tentu juga kepada lingkungan atau alam raya.
Maka, munculnya sejumlah varian konsep adab mendorong kebutuhan untuk memunculkan konsep payung atas adab. Sebagai misal, munculnya konsep al-adab ma’a al-nas (berbudi luhur terhadap sesama manusia) serta al-adab ma’a al-bi’ah (berbudi luhur terhadap lingkungan atau alam raya) mendorong pentingnya memunculkan konsep payung yang bisa memawahi rumusan adab yang beragam dimaksud. Maka, istilah al-adab ma’a kulli syai’ (berbudi luhur terhadap apa saja) menjadi kebutuhan untuk dilahirkan. Kepentingannya adalah untuk mengkerangkai dan sekaligus mewadahi beragam keharusan individu manusia untuk melabuhkan adab atau keluhuran budinya dalam kehidupan keseharian.
Lalu Apa Pelajarannya?
Tentu karena ajaran pada teks yang tertulis pada kertas putih di sisi tembok gedung Pesantren Sunan Bejagung 2 Tuban Jawa Timur seperti diuraikan di atas bisa menjadi quote belajar, atau mutiara hikmah pembelajaran, atau maqalah dalam tradisi santri, maka terdapat minimal tiga pelajaran mulia bagi pendidikan atau pembelajaran. Pertama, alamilah pembelajaran dengan menyertakan pikiran dan hati secara bersama. Sebab, kemuliaan ilmu harus disertai dengan keluhuran adab. Keduanya harus berimbang dan bahkan erat bertemu. Agar tercipta kemuliaan hidup.
Sebab, hidup bukan saja soal otak. Hidup juga soal budi. Pun, hidup juga bukan sekedar soal kecerdikan. Tapi juga soal keluhuran laku. Karena itu, jangan hanya pikiran semata yang ditumbuhkan. Tapi juga hati disertakan. Untuk sama-sama dikembangkan. Dalam irama yang tersinkronkan. Berkembangnya otak dan budi adalah kebutuhan esensial manusia. Tumbuhnya kecerdikan dan keluhuran laku juga menjadi keniscayaan abadi kemanusiaan. Karena itu, kesempurnaan diri manusia ditandai dengan seiringnya pertumbuhan otak dan budai dan atau perkembangan dan keluhuran laku.

Menyertakan hati dalam gerak pengembangan pikiran adalah instrumen untuk memperkuat keluhuran budi. Di sinilah akhlak menjadi begitu pentingnya dalam hidup. Secara lebih spesifik, di situlah pentingnya adab dalam hidup manusia. Karena, adab dimaksud merupakan penerjemahan dan perwujudan konkret atas akhlak dalam kehidupan keseharian. Dan untuk memenuhi kebutuhan penerjemahan dan perwujudan konkret atas akhlak dimaksud, praktik pembelajaran tak sepatutnya dengan mengandalkan penumbuhan pikiran semata. Ada hati yang juga butuh untuk disertakan dalam usaha pengembangan dalam pembelajaran.
Sebagai pelajaran kedua, hadirkanlah akhlak secara setara baik di ruang pembelajaran maupun di ruang kehidupan sosial kemasyarakatan. Jangan sampai ada ketimpangan ukuran akhlak di antara keduanya. Pula, jangan sampai ada ketidaksingkronan eksperimentasi akhlak di antara keduanya. Karena itu, jangan sampai pembelajaran sosial berjarak dari pembelajaran kelas dari, dan sebaliknya. Khususnya dalam hal peneguhan akhlak. Atau dengan ungkapan lain, jangan biarkan adanya peluang kesenjangan akhlak antara pembelajaran kelas dan pembelajaran sosial di tengah masyarakat. Kedua jenis pembelajaran itu harus diikat oleh ketersambungan akhlak. Biar tak ada kesenjangan dari sisi ukuran akhlak dan perwujudannya.
Itulah mengapa disebut bahwa akhlak penting hadir “di dalam dan di luar lapangan”. Ungkapan “di dalam dan di luar lapangan” ini adalah ungkapan pinjaman dari dunia sepak bola. Seperti diketahui, pemain bola yang baik tak hanya baik perilakunya di dalam lapangan bola, melainkan juga di luar lapangan bola. Sebab, baiknya perilaku di dalam lapangan akan berpengaruh pada praktik hidup di luar lapangan. Juga, praktik hidup di luar lapangan akan berpengaruh pada permainan di dalam lapangan. Maka, akhlak dan atau perilaku mulia harus hadir dalam praktik keseharian pemain bola, baik di dalam maupun luar lapangan.
Begitu pula yang terjadi dalam hubungan antara akhlak dan pembelajaran. Akhlak dan atau perilaku luhur harus hadir di ruang pembelajaran kelas maupun pembelajaran sosial di tengah kehidupan masyarakat luas. Apalagi, quote atau mutiara hikmah atau maqalah seperti yang diberlakukan di Pesantren Sunan Bejagung, Tuban Jawa Timur, sebagaimana diuraikan sebelumnya, mengingatkan pentingnya berakhlak luhur. Yakni, baik terhadap ilmu dan atau pembelajaran maupun di tengah kehidupan secara luas. Termasuk terhadap lingkungan dan atau alam semesta.
Lebih-lebih, oleh quote atau mutiara hikmah atau maqalah yang dituliskan pada kertas putih di sisi tembok gedung Pesantren Sunan Bejagung, Tuban Jawa Timur, dimaksud disebut begini: Nek akhlake bagus, ilmune gampang mlebu (Jika akhlak bagus, ilmu mudah masuk terserap). Tentu, ini menjelaskan adanya hubungan yang dekat nan kuat antara akhlak luhur dan suksesnya pembelajaran. Yakni, bahwa akhlak yang luhur terhadap ilmu dan atau pembelajaran maupun di tengah kehidupan secara luas, termasuk terhadap lingkungan dan atau alam semesta, diyakini akan mempermudah terserapnya ilmu itu sendiri dalam proses pembelajaran.
Karena itu, sinergi antara pembelajaran kelas dan pembelajaran sosial sangat dibutuhkan. Bagian sentral dari sinergi itu adalah ketersambungan akhlak di ruang pembelajaran kelas dan di ruang pembelajaran sosial di tengah kehidupan masyarakat. Ketersambungan akhlak itu persis seperti ilustrasi perilaku luhur “di dalam dan di luar lapangan” dalam dunia sepak bola. Pendidik sudah sepatutnya menjaga terwujudnya sinergi ini. Tentu, hal itu bisa dilakukan melalui kolaborasi yang kuat dengan orang tua siswa dan masyarakat sekitar yang menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya peserta didik.
Tantangan sinergi di atas semakin membesar dalam perkembangan terakhir. Karena itu, berakhlak mulia terhadap ilmu atau pembelajaran di era digital terasa begitu sentralnya bagi peserta didik. Sebab, kekuatan piranti digital hanya mampu melakukan akselerasi dan eskalasi ketersebaran ilmu pengetahuan. Soal akhlak? Soal adab? Soal hati? Mungkin masih ada ruang bagi kekuatan teknologi digital untuk berkontribusi pada penguatan akhlak, adab dan atau keluhuran hati. Tapi, urusan akhlak, adab dan atau keluhuran hati dimaksud tidak menjadi perhatian sentral dari produk kemajuan digital melalui berbagai aplikasi teknologi dan komunikasi digital yang tersedia. Karena itulah, ajaran untuk berakhlak mulia terhadap ilmu dan atau pembelajaran adalah bagian tak terpisahkan dari pendedaran menuju keluhuran diri.